.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Tujuan Membaca

      Oleh:

      Suherman

      Tidak ada membaca demi membaca itu sendiri. Sebagai makhluk rasional, seseorang membaca pasti mempunyai tujuan tertentu. Apabila dikelompokkan maka secara garis besar ada tiga macam tujuan membaca, yaitu membaca untuk rekreasi atau kesenangan, membaca untuk hanya sekedar mengetahui atau informasi, dan membaca untuk memahami. Apabila membaca buku dianggap sebagai salah satu bentuk pembelajaran maka bisa dikatakan bahwa membaca buku adalah proses pembelajaran tidak langsung. Belajar dengan guru disebut dengan learning by intruction sedangkan belajar dengan membaca buku disebut dengan learning by discovery. Bisa juga disebut belajar dengan seorang guru adalah belajar dengan mendengarkan, sedangkan membaca merupakan belajar dengan tidak dihadiri oleh guru.[1] Apabila dirinci maka seseorang membaca memiliki tujuan sebagai berikut[2]:

      1. Membaca untuk memperoleh perincian-perincian atau fakta-fakta (reading for details or facts).

      2. Membaca untuk memperoleh ide-ide utama (reading for main ideas).

      3. Membaca untuk mengetahui urutan atau susunan, organisasi cerita (reading for sequence or organization).

      4. Membaca untuk menyimpulkan, membaca inferensi (reading for inference).

      5. Membaca untuk mengelompokkan, membaca untuk mengklasifikasikan (reading to classify).

      6. Membaca menilai, membaca evaluasi (reading to evaluate).

      7. Membaca untuk memperbandingkan atau mempertentangkan (reading to compare or contrast).

      Dalam setiap proses membaca maka akan terjadi dialog antara pembaca dan penulis. Sebenarnya dialog yang tidak seimbang ditambah tidak ada moderator yang dapat menengahi menakala terjadi perdebatan antara penulis dan pembaca. Penulis berada dalam posisi tidak bisa membela diri dari hantaman kritik bahkan cercaan dari pembaca. Pembaca sangat mungkin tidak bisa memahami, memilki pahamahan yang berbada, bahakan memliki pemahaman yang melampaui penulisnya. Malah ada filususf yang mengatakan bahwa pada saat sebuah karya tulis dipublikasikan maka pada saat itu pula si penulis atau pengarang sudah mengalami kematian. “Kelahiran pembaca harus diimbangi dengan kematian pengarang” kata R. Barthes. Pembaca adalah orang tanpa sejarah, tanpa biografi, tanpa psikologi, ia hanyalah seseorang yang memegang dalam medan yang sama semua jalur darimana tulisan dibuat. Tapi di sisi lain Barthes juga mengtakan bahwa pembaca harus memahami bahwa suatu teks terdiri bukan hanya barisan kata-kata yang yang melepaskan pesan dari pengarangnya, tetapi suatu ruang multideminesi dimana telah dikawinkan dan dipertentangkan beberapa tulisan, tidak ada yang asli darinya. Teks adalah suatu tenunan dari kutipan, berasal dari seribu sumber budaya. [3]

      Pendapat Bartses berlawanan dengan pendapat dari Michael Foucault yang mengatakan,“tidak cukup mengatakan bahwa kita dapat meniadakan pengarang dan mempelajari karyanya secara teersendiri. Kata “karya” dan entitas yang dinyatakannya mungkin sama rumit penjelasannya seperti status individu pengarang. Teks selalu mengandung sejumlah tanda yang menunjukkan pengarangnya. Jadi tidak selalu benar dengan perkataan “Tidak menjadi soal siapa yang berbicara”.[4] Karena menurut pujangga “kata adalah sepotong jiwa.”

      Selain harus memperhatikan pengarangnnya, dalam membaca sebuah karya, Jean Paul Sartre mengingakan pada kita bahwa teks tidak bisa lepas dari konteksnya. Suatu karya adalah anak kandung zaman. Sebuah buku punya kebenaran mutlak dalam zamannya. Buku muncul dari inter-subjektivitas, ikatan hidup nafsu amarah, kebencian atau cinta antara orang-orang yang menghasilkannya dan orang-orang yang menerimanya...membaca buku berarti menulisnya kembali...... Kelak kemudian hari, ketika zaman telah berakhir, buku itu masuk ke dalam alam relatif, dan menjadi sebuah pesan.[5]

      Untuk lebih memahami lagi buah pikiran filusuf dan sastrawan di atas namapaknya kita harus memakai pendekatan hermeneutika. Dalam perspektif hermeneutika tugas utama pembaca adalah memahami teks. Oleh karena itu, dalam hermeneutika, membahas pengertian tentang teks secara lengkap menjadi sangat sentral. Hal ini dikemukakan secara mendasar oleh Paul Ricoeur yang mengatakan bahwa teks adalah “any discourse fixed by writing.Discourse adalah bahasa ketika ia digunakan untuk berkomunikasi. Dalam hal ini, menurutnya ada dua jenis artikulasi discourse yaitu bahasa lisan dan bahasa tulisan. Yang pertama membentuk komunikasi langsung di mana metode hermeneutika tidak terlalu diperlukan, sedangkan teks atau bahasa tulisan merupakan sebuah korpus yang otonom (Permata, 2003). Sifat keotonoman ini ada tiga jenis: (1) otonom terhadap maksud pengarang, (2) otonom terhadap lingkup kebudayaan asli tempat teks itu ditulis, dan (3) otonom terhadap khalayak.

      Atas dasar otonomi ini, maka teks dapat melakukan “dekontekstualisasi”, baik dari sudut pandang sosiologis maupun psikologis, serta untuk melakukan “rekontekstualisasi” secara berbeda di dalam tindakan membaca. Yang dimaksud dengan “dekontekstualisasi” adalah materi teks “melepaskan diri” dari cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya. Sedangkan ‘rekontekstualisasi’ berarti teks membuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas, di mana pembacanya selalu berbeda-beda atau heterogen. Dari sisi lain, Ricoeur mengatakan bahwa hubungan dengan dunia teks terletak di dalam hubungan dengan subjektivitas pengarangnya dan pada saat yang sama persoalan subjektivitas pembaca ditinggalkan. Untuk memahami sebuah teks seseorang tidak perlu memproyeksikan diri ke dalam teks, melainkan membuka diri terhadapnya (Arifin, 2003).

      Dengan membuka diri terhadap teks ini berarti, kata Ricoeur, “mengizinkan teks memberikan kepercayaan kepada diri kita” dengan cara yang objektif. Maksudnya adalah proses meringankan dan mempermudah isi teks dengan cara menghayatinya. Dalam interpretasi terhadap teks, tidak perlu berisitegang dan bersikap seakan-akan menghadapi teks yang beku, tetapi harus dapat “membaca ke dalam” teks itu selain harus juga mempunyai konsep-konsep yang diambil dari pengalaman-pengalaman sendiri yang tidak mungkin dihindarkan keterlibatannya, sebab konsep-konsep ini dapat diubah atau disesuaikan tergantung pada kebutuhan teks (Sumaryono, 2002).

      Dengan demikian, apabila pengertian hemeneutika ini dikaitkan dengan proses interpretasi teks, maka objek hermeneutika terkait dengan masalah-masalah yang timbul di seputar apa yang dikenal sebagai “problem hermeneutis.” Problem semacam ini biasanya timbul ketika seseorang disodori teks yang masih asing dan berusaha ia pahami. Pada kondisi demikian maka terjadilah kesenjangan pemahaman yang diakibatkan oleh perbedaan latar belakang antara teks dengan pembacanya yang disebabkan oleh perbedaan jarak, waktu, dan kebudayaan yang melingkupi keduanya. Menurut Bleicher “Problem hermeneutis muncul ketika seseorang berusaha memahami ekspresi-ekspresi manusia yang bermakna dan pada bagaimana menerjemahkan narasi-narasi yang bermakna subjektif tersebut menjadi objektif, sementara dalam kenyataannya, ia dimediasi oleh subyektivitas penafsir.” (Saenong, 2002:32)

      Berdasarkan pandangan Bleicher tersebut, ada beberapa persoalan penting yang perlu diperhatikan. Pertama, terdapat bentuk-bentuk ekspresi manusia yang bermakna. Ekspresi tersebut, menurut hermeneutika, biasanya tertuang dalam teks, apa pun bentuknya. Kedua, ada upaya menafsirkan ekspresi yang terdapat dalam teks yang masih subjektif ke dalam bahasa yang lebih objektif sehingga dapat dikomunikasikan dan dipahami orang lain. Ketiga, proses penafsiran yang dilakukan oleh seorang penafsir senantiasa diprasuposisikan oleh prapaham atau cakrawala mengenai pemirsa (audience) di mana penafsiran tersebut ditujukan. Artinya, sebuah penafsiran senantiasa terkait dengan persoalan “mengapa teks ditafsirkan, untuk kepentingan apa, dan bagi siapa.”

      Menurut Van A. Harvey kegiatan penafsiran selalu berkaitan dengan adanya tiga unsur dalam interpretasi: pertama, tanda, pesan, atau teks dari berbagai sumber; kedua, seorang mediator yang berfungsi menerjemahkan tanda atau pesan sehingga dapat dengan mudah dipahami; ketiga, khalayak yang menjadi tujuan sekaligus memprasuposisikan penafsiran (Saenong, 2002: 33)

      Dari landasan teoritis di atas dapat ditegaskan bahwa pertama, setiap teks selalu merupakan refleksi realitas sosial terentu. Teks merupakan penulisan semangat zaman yang terungkap dalam pengalaman individu dan masyarakat pada banyak sistuasi. Teks bukan semata-mata sebagai gambaran internal gagasan penulisnya, tetapi teks juga merupakan sarana pembentuk kesadaran akan realitas tertentu yang terefleksi dalam teks. Kedua, ternyata bahwa interpretasi seseorang ditentukan oleh berbagai variabel yang sifatnya tidak tunggal. Interpretasi seseorang terhadap teks atau realitas sosial ditentukan oleh berbagai variabel, di antaranya adalah: 1) Terpaan media akan menentukan interpretasi seseorang terhadap teks dan konteks (realitas sosial). 2) Setting sosial atau latar belakang dan peranan sosial bisa menentukan interpretasi seseorang terhadap pesan, terutama dalam menentukan pentingnya fokus dan agenda masalah. 3) Latar belakang ideologi dan disiplin ilmu yang dikuasai akan menentukan cara dan analisis seseorang dalam melakukan proses interpretasi pesan. 4) Perubahan sosio-kultural dan politik-ekonomi akan menentukan proses interpretasi seseorang terhadap pesan.

       



      [1] Mortimer Adler dan Charies van Dore. Meraih Kecerdasan: Bagaimana seharusnya Anda meraih manfaat hebat dari bacaan?. Bandung: Nuansa, 2011)

      [2]Henry Guntur Tarigan. Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa, 2008, hal. 9-11):

      [3] R. Barthes. “ Kematian Sang Pengarang.” Dalam Hidup Matinya Sang Pengarang: Esai-Esai Tentang Kepngarang Oleh Sastrawan dan Filusuf. Jakarta: Yayasan obor Indonesia, 2000, hal. 179-205

      [4] Michael Foucault. “Siapa Itu Sang Pengarang ?“ dalam Hidup Matinya Sang Pengarang... Op. Cit., hal. 219-248

      [5] Jean Paul Sartre. “Menulis Untuk Zamannya Sendiri” dalam Hidup Matinya Sang Pengarang... Op. Cit., hal. 206-218

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 375 clicks
      • Average hits: 17.9 clicks / month
      • Number of words: 5173
      • Number of characters: 45623
      • Created one month and 9 months ago at Thursday, 23 February 2017 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Google+ Facebook Twitter mail SC