.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS, 2 SEPTEMBER 2008

       

       

      Transisi Demografis dan Epidemiologis

      Oleh Ali Khomsan

      Kebijakan otonomi daerah menyebabkan institusi Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional tidak lagi sekuat di zaman Orde Baru. Dampaknya, ledakan pendu­duk akibat baby booming, tahun 2015, populasi Indone­sia akan menjadi 273 juta jiwa.

      Pertambahan penduduk akan memengaruhi kemampuan bangsa menyediakan pangan, layanan kesehatan, dan pendidikan. Karena itu, seluruh elemen bangsa harus bersiap menyambut lahirnya bayi-bayi baru yang mungkin akan mewarisi kemiskinan dan segala keterbelakangan yang kini melanda kita.

      Populasi

      Mencermati transisi demografis yang terjadi global, kita tahu sampai tahun 1800 total populasi dunia satu miliar. Hingga abad ke-18, penduduk dunia mempunyai laju pertambahan yang amat lambat. Hal ini disebabkan kematian yang tinggi akibat perang, wabah, dan kelaparan.

      Pada masa itu, industri belum menjadi tulang punggung ekonomi negara, pertanian belum modern, dan pelayanan kesehat­an masih amat kurang. Produksi pangan sering tidak mencukupi kebutuhan manusia sehingga ke­laparan terjadi. Sampai-sampai Malthus pesimistis terhadap nasib manusia karena pertumbuhan penduduk mengikuti deret ukur, sementara produksi pangan mengikuti deret hitung.

       

      Fase awal transisi demografis juga ditandai tingginya angka kelahiran. Keluarga berencana be­lum muncul, tiap orang berpikir beranak banyak agar ada yang tersisa hidup sampai dewasa, menggantikan orangtuanya. Dengan angka kelahiran dan kematian yang tinggi, pertumbuhan penduduk relatif lambat.

      Memasuki abad ke-19, laju kematian dapat ditekan. Kemajuandi bidang kesehatan dapat me-ngurangi kematian akibat wabah maupun infeksi. Negara-negara Eropa dan Amerika lebih dulu memasuki fase kedua ini, semen­tara negara-negara sedang berkembang agak tertunda. Pada periode ini, laju kelahiran masih amat tinggi sehingga pertambahan penduduk berlangsung cepat. Diperkirakan tahun 1900 populasi dunia 1,7 miliar jiwa.

      Tahap ketiga adalah angka ke­lahiran mulai rendah, berbagai penyakit infeksi dapat dikendalikan, tetapi mulai muncul penyakit-penyakit degeneratif, se­perti penyakit jantung, diabetes, hipertensi, stroke, dan kanker. Penyakit-penyakit ini juga menyebabkan kematian.

      Fase terbaru nantinya adalah ditemukannya berbagai obat un­tuk mengatasi penyakit degene­ratif dan mulai bermunculan gaya hidup sehat yang mendorong peningkatan kualitas hidup. Ketika fase ini terjadi, angka kelahiran dan kematian telah stabil pada tingkat rendah, usia harapan hi­dup kian meningkat sehingga populasi lansia akan semakin banyak, sementara populasi anak balita agak mengerucut dalam jumlah relatif rendah.

      Jadi, transisi demografis yang terjadi di berbagai belahan dunia adalah wujud pergeseran angka kematian dan kelahiran yang memicu tinggi rendahnya laju pertumbuhan penduduk. Sementara itu, transisi epidemiologis lebih menyoroti aspek pergeseran pola penyakit yang diawali wabah dan aneka penyakit infeksi bergeser ke penyakit degeneratif.

      Indonesia sebenarnya telah memasuki fase ketiga dengan berhasilnya jajaran kesehatan menekan angka kematian akibat infeksi. Namun, kita bisa mundur lagi ke fase sebelumnya manakala laju pertumbuhan penduduk tidak terkendalikan dan cenderung naik karena kegagalan KB.

      Fakta menunjukkan, kita melalaikan program KB. Jumlah penyuluh lapangan KB yang pada zaman Orde Baru mencapai 35.000 petugas kini menjadi 21.000 orang. Institusi BKKBN di tingkat daerah digabung dengan kantor lain.

      Usia harapan hidup

      Usia harapan hidup (UHH) bangsa kita membaik Contoh, untuk wanita, tahun 1980 UHH sekitar 54 tahun, meningkat menjadi 65 tahun (1995) dan mencapai 70 tahun (2000). Usia harapan hidup lelaki umumnya lebih rendah 2-3 tahun. Dalam waktu dekat, ada 20 juta lansia yang memerlukan layanan ke­sehatan lebih baik seiring kian kompleksnya jenis penyakit yang dihadapi. Puskesmas dianggap tidak memadai untuk memberikan layanan kesehatan yang baik bagi lansia.

      Baby booming akibat tidak optimalnya BKKBN pascaotonomi daerah akan kian merepotkan pemerintah dengan aneka masalah, seperti gizi buruk, diare, serta angka kematian bayi dan anak balita. Hingga kini relatif lambat upaya menekan angka kekurangan gizi. Tahun 2007 ada 4 juta anak balita menderita kekurangan gizi, 700.000 di antaranya adalah penderita gizi buruk

      Baby booming dalam situasi ekonomi negara seperti saat ini akan menjadikan generasi muda mendatang kian tidak berkualitas, tidak mampu bersaing, dan berotak kosong karena kurang gizi. Program gizi yang sudah mapan, seperti posyandu, harus direvitalisasi. Disinyalir 50 persen dari 250.000 posyandu yang tersebar di seluruh Indonesia ti­dak aktif.

      Penyakit degeneratif sebagai penyebab kematian utama di In­donesia mengindikasikan kurang sadarnya bangsa ini akan gaya hidup sehat Jika tahun 1970-an kematian akibat penyakit jantung hanya lima persen dari kematian total, tahun 2000 kontribusinya mencapai 25 persen. Suatu peningkatan yang bermakna dan menekankan terjadinya transisi epidemiologis yang sedang ber­langsung.

      Kemodernan suatu bangsa dicirikan rendahnya pengeluaran energi tubuh untuk gerak karena pekerjaan yang mengandalkan otot kian berkurang (sedentary life styles). Di sisi lain, pola makan kaya lemak dan kaya energi men­jadi gaya hidup baru. Istilah communicational diseases sering digunakan untuk menggambarkan pola hidup yang hanya meniru Barat, yang diperkenalkan ke ne­gara-negara berkembang dengan iklan-iklan menarik. Kita menutup mata atas dampak pola ma­kan tak seimbang, yang memicu berbagai penyakit kronis. Kita ti­dak mau mengerti, penyakit yang kini dihadapi bangsa Barat adalah akibat pola makan dan gaya hidup yang telah mereka praktikkan selama ini.

      ALI KHOMSAN

      Guru Besar Departemen Gizi

      Masyarakat IPB

       

       

      Comments
      Ichda   |2013-02-25 04:20:36
      bacaannya cukup bagus
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:37  

      Items details

      • Hits: 3635 clicks
      • Average hits: 44.9 clicks / month
      • Number of words: 2162
      • Number of characters: 17233
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 114
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091242
      bacalah.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC