.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      RABU, 17JUN12009 I MEDIA INDONESIA

      Riana Helmi

      Menjadi Dokter diUsia 17 Tahun

      Riana hanya memerlukan tiga tahun enam bulan untuk menyelesaikan kuliah. Itu lebih cepat daripada mahasiswa fakultas kedokteran mana pun.


      Agus Utantoro


      GAYA bicara putri pasangan Ajun Komisaris Helmi dan Rofiah ini selalu ceplos-ceplos seperti gaya anak baru gede (ABG) jaman sekarang. Maklum, usianya juga belum 18 tahun. Namun jangan salah, genap pada usia 17 tahun 11 bulan, Mei lalu, Riana Helmi diwisuda setelah lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada. Benar, Anda tidak salah baca. la sudah menjadi dokter.

      Riana pun meraih prestasi tidak tanggung-tanggung. Indeks prestasi kumulatif (IPK) yang dicapainya juga tinggi, 3,67 atau sangat memuaskan.

      Wisuda yang dijalaninya di Grha Sabha Pramana (GSP) Universitas Gadjah Mada itu menempatkan Riana Helmi sebagai pemegang rekor dokter termuda di Indonesia. Di depan ribuan wisudawan dan keluarganya, Rektor Uni­versitas Gadjah Mada Prof Ir Soedjarwadi M Eng PhD pun tidak segan-segan memuji pres­tasi yang diukir Riana Helmi.

      Bahkan, Rektor dalam pidatonya secara khusus memberikan ucapan selamat kepada gadis kelahiran Banda Aceh, 22 Maret 1991 itu serta memintanya berdiri.

       

      Saat Riana berdiri, tidak se­perti upacara wisuda biasanya, tepuk tangan gemuruh pun membahana di auditorium tersebut Namun, saat rektor mengumumkan nama itu, banyak keluarga wisudawan yang duduk di,balkon mencaricari nama yang dipanggil rektor.

      Meski duduk di deretan pa­ling depan, Riana tidak mudah terithat. la tampak kecil bila dibandingkan dengan rekan-rekannya. Tubuh mungil Riana yang dibalut dengan busana toga wisuda menyulitkannya untuk terlihat dari pandangan hadirin.

      Setelah menyapu pandangan ke kiri dan kanan secara sak-sama, barulah sosok yang dipersilakan berdiri oleh rektor itu terlihat.

      Percepatan

      Riana masuk ke Universitas Gadjah Mada melalui jalur penelusuran bakat skolastik (PBS) pada September 2005. Jauh sebelum itu, ia selalu mencapai prestasi dengan cara tidak biasa.

      Pada setiap jenjang pendidikan sejak tingkat sekolah dasar hingga SMA, ia selalu lulus se­telah melewati masa percepatan. Artinya, untuk SD tidak ditempuh enam tahun, tetapi lebih cepat, demikian pula pada jenjang berikutnya. Maka tidak mengherankan ketika anak-anak seusianya masih duduk di kelas II bangku SMP, Riana yang berusia 14 tahun lewat tiga bulan, sudah bergulat untuk menyelesaikan administrasi untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Universi­tas Gadjah Mada.

      Saat masuk ke Universitas Gadjah Mada, Riana membayar uang sumbangan peningkatan mutu akademis (SPMA) sebesar Rp80 juta. Keinginannya masuk ke fakultas kedokteran itu mendapat dukungan dari ayah bundanya.

      "Ayah dan ibu juga menyarankan untuk masuk ke fakul­tas kedokteran karena prospeknya cerah," katanya. Yang lebih mengagumkan lagi, setelah menjadi maha­siswa termuda di Universitas Gadjah Mada tidak saja di Fakultas Kedokteran Riana ternyata sangat cerdas.

      Karena itu, ia hanya memer­lukan waktu tiga tahun enam bulan untuk menyelesaikan kuliahnya. Bahkan lebih cepat dari rata-rata mahasiswa fakul­tas kedokteran di mana pun. Usia para mahasiswa lain se-angkatannya rata-rata empat tahun lebih iua jika dibanding­kan dengan usianya.

      Perawakannya yang kecil pun membuatnya tampak pa­ling imut di antara kawan-kawan. Namun, itu tidak berarti ia tidak bisa mengikuti seluruh mata kuliah dengan baik. Bahkan, Riana bisa memahami lebih cepat jika dibandingkan dengan rekan-rekannya.

      Selama menjalani masa ku­liah, Riana mengaku biasa saja. Menurutnya, selama belajar di kampus, ia tidak banyak menghadapi kendala, termasuk saat menghadapi teman-teman kuliahnya yang rata-rata berbadan lebih besar dan lebih tinggi daripada dia.

      "Saya menganggap mereka itu kakak-kakak saya. Mereka baik," akunya. Riana juga tidak banyak mengeluh saat meng­hadapi banyak tugas dari para dosen yang harus diselesaikan. Meski bisa lancar, Riana me-ngaku juga sesekali memang ada kesulitan. "Tapi Alhamdulillah, bisa diatasi."

      Setelah lulus, Riana mengaku akan meneruskan jenjang pendidikannya untuk bisa meraih spesialis. la memilih spesialis kandungan.

      "Karena saya memang bercita-cita jadi dokter kandungan imoun imusan SMA Negeri III Sukabumi itu. jl vS Membaca Orang tua Riana mengatakan kecerdasan Riana sudah terlihat sedari masih kecil. Sejak usia tiga tahun, kata Helmi-ayah Riana Riana sudah lancar membaca. Tidak hanya itu, kata perwira Polri pengajar pada SPN Lido, Sukabumi, Jawa Barat itu, rasa ingin tahu Riana juga besar.

      Riana juga berbeda dengan anak-anak sebayanya. Ketika anak-anak yang lainnya masih menyukai boneka, Riana banyak menghabiskan waktunya untuk membaca. Bahkan, Riana cenderung takut dengan bone­ka. Dengan bekal kemampuannya membaca, pada usia 4 tahun, Riana sudah masuk ke SD. Ia diterima di sekolah dasar di Garut. "Kalau ditanya cita-cita-nya, sejak kecil Riana selalu menjawab ingin jadi dokter," ungkap Helmi.

      Cita-cita itu agaknya melekat pada diri Riana dan terus ter-bawa sehingga ketika mendapat kesempatan, Riana pun memilih Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada.

      Helmi menambahkan, saat masuk SD, Riana pun terlihat mungil. Karena memang usia-nya belum genap empat tahun. Pada awalnya, Riana masuk ke SD Ciwaringin 4, Garut, Jawa Barat. Namun, karena ayahnya pindah tugas, ia ikut pindah dan masuk ke SD Sriwedari, Sukabumi. Jenjang SD hanya dijalaninya selama lima tahun dengan program akselerasi.

      Dari SD, Riana kemudian masuk ke SMP Negeri 1. Pendi-dikan SMP diselesaikannya hanya dalam waktu dua tahun dan kemudian masuk ke SMA Negeri 3 Sukabumi. Lagi-lagi Riana menggunakan akselerasi sehingga dalam waktu dua ta­hun pula ia selesaikan pendidikannya di SMA. "Di SMP hanya dua tahun, enak karena bisa irit waktu. SMA juga dua tahun," katanya.

      Penyuka mata pelajaran matematika ini mengaku me­mang tidak terlalu menyukai pelajaran yang berbau hafalan. "Daripada hafalan, saya lebih suka yang eksak," ujarnya.

      Anak sulung dari tiga bersau-dara ini mengatakan selain menjadi dokter spesialis, ia juga ingin menjadi dosen. Dengan menjadi dosen, ia bisa terus belajar dan sekaligus mengajar sehingga bisa terus menambah ilmu. (SO/X-9)


      This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 09 March 2012 08:19  

      Items details

      • Hits: 3258 clicks
      • Average hits: 35.4 clicks / month
      • Number of words: 5385
      • Number of characters: 45723
      • Created 7 years and 8 months ago at Friday, 09 March 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 8 months ago at Friday, 09 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 275
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124896
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC