.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Terbakarnya Pram

      Oleh HIKMAT GUMELAR


      TIDAK ada pengarang yang tidak berutang. Tidak terkecuali Pramoedya Ananta Toer. Antara lain ia mengaku, tentu dengan caranya bertutur, berutang kepada penyair yang namanya begitu lekat dengan Aku. "Dalam sikap, saya me-ngagumi Chairil Anwar. Ketika orang harus menjadi ternak pada zaman Jepang, ia mengatakan 'Aku ini binatang jalang dari kumpulan yang terbuang1. la dianiaya kempei karena sajak ini. Inilah ki-ranya yang ikut membentuk pribadisaya."

      Demikian aku Pram kepada Suara Independen. Tetapi Chairil sudah dijemput maut ketika umurnya belum lagi genap 28 tahun. Sementara Pram yang lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 6 Februari 1925, hingga kini masih bisa mendengarkan cucu-cucunya bermain gitar melantunkan lagu-lagu ngak ngik ngok antara lain buatan Peterpan. Memang tak sedikit orang yang jantungnya terus berdenyut walau umurnya sudah berkepala sembilan. Malah ada yang tetap piawai bersiul walau umurnya sudah lewat seratus tahun. Tetapi mencapai usia 81 tahun bagi Pram, niscaya tak semudah meniup nyala 81 lilin. Hidup baginya, seperti pernah disinggung Goenawan Mohamad, bukan pasar malam. Hidup baginya, sebagai rangkaian upaya keras keluar dari bubu.

      Kita ingat tanggal 21 Juli 1947 meledak aksi militer pertama. Ketika itu, setelah mengundurkan diri dari tentara dengan pangkat terakhir letnan dua, Pram tengah kerja di The Voice of Free Indonesia. Dua hari setelah itu, anak su-lung dari sembilan bersaudara ini, disergap, ditangkap dan disiksa satu peleton marinir Belanda. Ia dijebloskan dalam bui marinir di Gunung Sahari, Jakarta. Dipindah ke bui Polisi Militer di Jaga Monyet, Jakar­ta. Dipindah lagi ke bui BuMt-duri, Jakarta. Di sini, selain disekap dalam "bilik asap" selama sepekan dan tak diberi makan selama 4 x 24 jam, anak yang sedemMan hormat dan mencintai bundanya ini, berkali-kali diwajibkan kerja paksa di Pulau Damar. Yang membuatnya demikian adalah karena ia mematuhi perintah atasannya: mencetak dan menyebarkan pamplet dan majalah perlawanan. Bersama tujuh tawanan lain, ia baru dikeluarkan dari Bukitduri tanggal 3 Desember 1949.

      Pada tahun 1960, Pram di-panggil Penguasa Perang Tertinggi. la diwawancarai Mayor Sudarmono, orang yang ke­mudian sempat jadi wakil presiden dan belum lama meninggalkan kita. Polisi Militer lantas mengurung anak dari seorang ayah yang ter­akhir bekerja sebagai Direktur Insn'tut Budi Utomo (IBO) Blora, ini, di bui militer Budi Utomo, Jakarta. Tiga bulan kemudian ia dipindah ke bui Cipinang, Jakarta. Perlakuan demikian merupakan upah atas Hoakian di Indonesia, buku yang semula berupa surat-suratnya untuk Chen Xi-an, seorang perempuan pener-jemah sastra Indonesia yang tinggal di Beijing, yang dikenalnya saat Pram mengunjungi Cina, yang terbit di koran mingguan Bintang Minggu, sejak November 1959 hingga awal Maret 1960.

      Kemudian pada malam 13 Oktober 1965, seperti sudah kerap juga kita dengar, setelah rumahnya yang lalu disita dihujani batu, Pram disergap dan ditangkap para serdadu. la diangkut dengan truk dan berkali digubuk popor senapan hingga ia hampir hilang kesadarannya. Setelah empat penyair tangguh Sapardi Joko Damono. Menurutnya, dari se-jak mula hingga periode Buru, gaya penulisan prosa Pram tidak berubah. Tetap konvensional. Malah novel-novelnya yang panjang, tegasnya, memr perlihatkan kelemahannya, "longgar dan tidak ekspresif.

      Ignas Kleden melontar hal senada. Menurutnya, penulisan novel Pram tidak menampilkan kebaruan. Tapi kebaruan, tambahnya, tidak identik dengan kualitas. Novel konvensional bisa juga mutu-nya jitu. Novel-novel Buru Pram dinilai demikian oleh Ig­nas .Hal itu karena data-data sejarah yang dikaisnya, dan lensa yang dipakai untuk melihatnya. Sapardi sendiri tak cuma meniupkan tafsir miring. Dia pun mengaku kagum pada konsistensi Pram menulis dengan gaya realismenya yang lantas menjadikan karya-karya sastra Pram "menduduki tempat tersendiri". A. Teeuw lebih lagi. Kritikus yang oleh banyak sastrawan Indonesia disan-jung sebagai juru tasbih ini tegas menyebut bahwa Pram adalah seorang "pengarang prosa Indonesia nomor wahid, tanpa saingan, dalam abad ini (abad XX-HG)".

      Tentang pendapat-pendapat seperti itu, tentu kita bisa berbincang seru. Tapi, saya kira, ada hal yang membuat kita satu, yakni soal penghargaan. Kita semua tahu bahwa Pram tak cuma pernah dihujani batu-batu. Pram juga seorang yang dihujani beragam peng­hargaan, termasuk sudah berulang ia dicalonkan seba­gai pemenang Nobel sastra. Malah sampai ketika di tahun 1995, Pram diberi penghar­gaan Ramon Magsaysay un­tuk kategori Jurnalistik, Sas­tra, dan Seni Komunikasi Kreatif, yang terjadi di kita bukan saja masuknya uang yang lumayan besar ke sakunya, tapi pun ingamya polemik mengenainya di pelbagai media massa. Diskusi yang memperkarakannya di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, yang sebagian besar dihadiri mereka yang pro dan kontra terhadap pemberian penghar­gaan itu kepada Pram, dan terbitnya satu buku yang merupakan artefak kehingaran itu.

      Kita juga sama tahu bahwa puluhan tahun Pram sudah sebagai selebritis. Banyak hal yang dilakukannya menjelma jadi berita-berita di pagina-pagina media massa. Terlebih setelah Soeharto tumbang. Media massa memiliki keleluasaan yang sedemikian besar untuk memberitakannya. Dan pemberitaan-pemberitaannya, setidaknya yang sempat saya baca, sebagian besar bertolak dari pemaknaan akan Pram sebagai oposan dan korban yang belum sudah.

      Selain hal tersebut mungkin menguntungkan pihak media, juga memang lumrah. Sebab Pram, kita insyaf, oleh rezim Orde Baru, terus-menerus di-reproduksi sebagai oposan dan korban. Pelarangan demi pelarangan buku-bukunya, baik yang ditulisnya maupun yang disuntingnya, hemat saya merupakan salah satu contohnya. Dan, celakanya atau untungnya, mekanisme pelarangan di kita, seperti ju­ga dikatakan Pram, tidaklah bersifat preventif, melainkan represif. Pelarangan sebuah buku tidak dilakukan sebelum ia terbit.

      Pelarangannya selalu di­lakukan setelah ia beredar. Demikian pun dengan buku-buku Pram yang terbit (ulang) di era Orde Baru. Misalnya, Bumi Manusia. Novel perta-ma dari tetralogi Buru ini resmi dilarang tahun 1981. Tapi jatuhnya larangan ini setelah Bumi Manusia beredar dan teijual sampai 60.000 eksem-pelar lebih dalam tempo satu semester dan beragam tang-gapan atasnya bermunculan di pagina-pagina media mas­sa. Maka praktis larangan ini malah membuatnya jadi buruan di pasar gelap. la jadi beroleh nilai tambah hingga lumrah, sepengetahuan saya, jika tak sedikit orang yang tempo itu sampai berani membeli jauh di atas harga toko. Pram sendiri keruan kembali laris sebagai bahan gunjingan pelbagai kalangan. Peristiwa seperti ini terjadi berkali-kali di sepanjang Soe­harto berkuasa.

      Karena hal-hal seperti itulah, hemat saya, Pramoedya Ananta Toer, seorang yang ketika sekolah di sebuah sekolah rakyat di Blora, menem-puh kelas 1, 2, dan 3 selama 6 tahun, ini, tumbuh jadi se­buah mitos. Pram sendiri seo­rang penulis prosa yang kon-sisten memusuhi mitos. Dan ekspresi permusuhannya yang konsisten ini dalam banyak prosanya rasa-rasanya hadir dengan indah, lugas, menge-jutkan serta meyakinkan. Tapi tidak begitu halnya dalam se­bagian tulisan nonfiksi dan wawancaranya.

      Dalam teks-teksnya yang demikian sering saya temukan ia suka menyederhanakan kenyataan-kenyataan, mende-sakkan pernyataan-pernya-taan yang kuat meruapkan aroma nafsu berkuasa dan topangannya nyaris hanya lantangnya volume suara. Per­nah dalam satu tulisannya, misalnya, lantang nian Pram bilang bahwa Doktor Zhivago adalah sebuah novel pengkhinatan. Maka bukan saja karya Boris Pasternak ini dianjurkan untuk diberangus di Indone­sia, penerjemahnya pun disebut sebagai kontra revolusi, sebuah stigma yang di era Soekarno bisa berarti mala-petaka bagi siapa yang dilekatinya.

      Dalam tulisan lain, Pram tak cuma menyingkat Manifes Kebudayaan dengan maksud mencela jadi Manikebu, tapi pun lantang menyatakan dan tanpa bukti bahwa Manifes Kebudayaan adalah boneka CIA dan bertujuan menghancurkan persatuan Indonesia. Karena itu, ia teriak meminta yang berkuasa saat itu untuk memberangusnya dan sekaligus mengampanyekan untuk memberhentikan para pen-dukung Manifes Kebudayaan dari jawatan-jawatan tempat mereka bekerja. Juga meneriakkan agar tulisan-tulisan mereka ditolak oleh media-media massa saat itu.

      Tahun dikurung di beberapa bui di Jakarta dan Nusakam-bangan, bersama 499 tawanan lain, Pram diangkut kapal laut ke Pulau Buru. Sebagai kelom-pok pertama yang dibuang ke itu pulau tandus, mereka dipaksa membangun jalan sepa-njang 170 kilometer. Dari sini, sebagai bagian dari kelompok terakhir, Pram baru beranjak di tahun 1979. Tapi di Jakarta, sekali sepekan Pram wajib lapor ke Kodim terdekat. Setelah dua tahun, berkurang jadi sekali sebulan. Wajib lapor ini ditentang Pram pada tahun 1992. Sejak itu giliran petugas mengunjiuiginya sekali sepekan.

      Meski begitu, di bui-bui itu, sebagai penulis Pram tidak re-muk. Di Bukitduri, ia berhasil menulis sejumlah cerpen dan beberapa novel seperti Keluar-ga Gerilya dan Perburuan. Di Buru, Pram antara lain menulis BumiManusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Dan apa-apa yang ditulisnya selama di bui itu, bukan saja menambah jumlah karyanya. Tapi pun meneguhkan dirinya sebagai penulis prosa berkua-litas dan terkemuka. Memang ada yang memerkarakan gaya penulisan Pram. Misataya, Kecenderungan sebegitu saya temnkan kembali dalam Saya TerbakarAmarah Sendirian, sebuah buku yang berisi wawancara Pram de-ngan Andre Vitcek dan Rossie Indira. Keduanya mewawan-carai Pram tidak sebagaimana para wartawan yang diburu waktu, dan sadar akan ter-batasnya ruang untuk pemu-atan hasil wawancaranya. Ke­duanya mewawancarainya "dalath kurun waktu empat bulan, Desember 2OO3-Maret 2004".

      Dan sejak mula wawancara niereka diniatkan untuk dis-usun dalam bentuk buku yang pula akan diterbitkan dalam bahasa Inggris. Hal ini keruan atas sepengetahuan dan kesepakatan Pram juga. Maka memang pas jika buku ini dikatakan oleh mereka sebagai buku yang ditulis mereka bertiga.

      Dalam buku yang menghiasi dirinya dengan pengantar dari Cris GoGowilt, Profesor Bahasa Inggris dan Perbandingan Sastra di Fordham University, ini, Pram bicara dengan leluasa tentang Demokrasi Terpimpin, Kudeta 65, kebudayaan Jawa, kebu-"dayaan Aceh, Timor Leste, agama, dan sastra. Tak sedikit dari perkataannya yang me­mang penting dan relevan. Misalnya, ia bilang bahwa "tanpa kreasi", tak ada "produksi". Dan "tanpa produksi", takmungkin ada "karakter".

      Mungkin ada dari kita yang menganggap perkataan sedemikian sebagai hal yang basi. Namun ini kali, saya kira, kita memang tengah digerus arus konsumerisme yang kian hari Man gila. Ini seperti pabrik yang tengah gencar menggiling dan men-cetak kita hingga anjlok men-jadi konsumen semata. Dan ini bisa mem-bikin kita jadi zombie atau manekin. Karena itu, seperti telah disebut, bagi saya perkataan Pram itu, penting dan relevan.

      Tapi ruang dalam buku 130 halaman ini, sayangnya berke-san tak diolah sebagai lahan untuk melontarkan dan mengeksplorasi perkataan seperti itu. Di dalamnya, ada cukup banyak perkataan Pram yang semodel dengan banyak perkataan Pram di saat ia memegang "Lentera", lembar budaya Bintang Timur. Misalnya, Pram bilang bahwa ia menerima banyak penghargaan dari luar negeri. Tapi di dalam negeri, ia tidak pernah menerimanya. Sepengetahuan saya, saat Pram dikurung di bui di Buk-itduri, Prof. Mr. Resmkmem bawa apa yang ditulis Pram di sana. Salah satunya Perburu-an. Oleh Resink, novel ini diberikan ke HB Jassin. Oleh Jassin, novel ini disertakan dalam semacam lomba yang diadakan Balai Pustaka. Oleh Balai Pustaka, novel ini dino-batkan sebagai pemenang pertama. Oleh Pram, hadiahnya, uang 1000 gulden, digunakan untuk membiayai pernikahannya yang pertama pada tahun 1950. Setelah itu, Pram juga beroleh penghar­gaan dari BMKN. Juga dari Yamin Foundation yang ditolaknya.

      Pram juga bilang bahwa kebudayaan yang ada di kita kini hanyalah kebudayaan-kebudayaan daerah. Me­mang sastra Indonesia di-akuinya sebagai kebudayaan Indonesia. Tapi ini hanya karena ia menggunakan ba­hasa Indonesia. Artinya, sas­tra Indonesia pun di matanya sebegitu buruk. Tapi Pram mengaku hanya membaca karya Seno Gumi-ra Ajidarma. Ini pun hanya satu cerpennya!

      Pram juga bilang bahwa agama melumpuhkan individualitas. Menurutnya, "aga­ma hanya mengajarkan orang untuk mengemis, karena berdoa kan sama saja dengan mengemis". Tapi Pram mengaku bahwa kertas • yang dipakahiya ifieiitfliS ketika di Buru didapatnya dari gereja. Orang gereja ju­ga yang menyelundupkan karya-karya Burunya ke Eropa, dan karenanya menjadi tersebar di sana. Orang gereja juga yang turut berpe-ran memungkinkan dirinya tidak ditanam di Nusakambangan ketika pulang dari Bu­ru seperti yang direncanakan rezim Orba. Dan Pram juga mengakui bahwa satu-satu .masyarakat di Indonesia yang dihormatinya adalah kebu­dayaan Aceh. Ini karena orang Aceh dinilai memiliki individualitas. Tapi kenapa Pram tidak menyinggung sama sekali hubungan antara Islam yang begitu kuat di Aceh de­ngan individualitas masya­rakat Aceh?

      Perkataan Pram yang seperti itu masih berserak dalam pagina-pagina Saya TerbakarAmarah Sendirian. Tapi itu saja, hemat saya, ki-ranya sudah cukup membuktikan bahwa Pram memang konsisten. Pun dalam hal kesukaannya membuat mitos.

      Termasuk mitos mengenai dirinya. Bagi saya pribadi, ini sesuaru yang mengiris. Tapi, soalnya, kenapa sampai? Apa ini karena tangan Pram sendiri? Atau karena tangan siapa, mungkin termasuk kita juga, yang membuatnya seakanT jdup terus dalam uuiT"Atau gabungaii dari kc-duanya? Atau?***

      Penulis, sutradara Teater Prung dan aktifdi Institut Nalar Jatinangor.

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 401 clicks
      • Average hits: 4.5 clicks / month
      • Number of words: 7221
      • Number of characters: 60229
      • Created 7 years and 6 months ago at Thursday, 10 May 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 78
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9125012
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC