.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Terorisme Global

      BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE

      Mantan Presjden Republik Indonesia



      Terorisme adalah tindakan teror atau tindakan keke­rasan yang dilaksanakan secara sistematik dan tidak dapat diperhitungkan (unpredictable), yang dila-kukari terhadap negara, terhadap penyelenggara pemerintahan baik eksekutif maupun legislatif. Bahkan, terhadap warga elite sosial-politik, terhadap perseorangan dalam negara, untuk memperjuangkan sasaran politik teroris.

      Sejarah membuktikan, baik organisasi politik "kanan" maupun "kiri", organisasi nasional, organisasi etnik, organisasi agama, bahkan organisasi angkatan bersenjata, dan organisasi polisi rahasia negara pun pernah melakukan tindakan terorisme. Perkembangan teknologi canggih dalam bidang informasi, bidang komunikasi, bidang peledak (ex­plosive), dan bidang transportasi telah meningkatkan dampak dan keberhasilan aksi terorisme.

      Banyak aktivitas teroris di dunia diilhami dan dipengaruhi oleh gerakan kelompok teroris pada abad ke-19 di Eropa, yang memiliki sasaran politik radikal. Gerkan tersebut juga tidak memihak pada kepentingan masyarakat luas dan anarkistis.

      Pemberitaan mengenai kekerasan terorisme di seluruh dunia bisa disaksikan melalui jaringan televisi, radio, dan jaringan sosial YouTube, facebook, twitter, dan sebagainya dalam tempo yang cepat dan tepat waktu (siaran langsung). Hal itu akan diikuti oleh jutaan manusia yang memperhatikan "pandangan, tuntutan, dan sasaran poli­tik teroris". Kondisi ini memperlihatkan bahwa melalui aksi teror, perhatian masyarakat pada "tuntutan teroris" secara efisien dapat ditingkatkan.

       

      Perbedaan antara terorisme masa kini dan terorisme masa lalu adalah bahwa sekarang korban masyarakat sipil lebih banyak dan luas. Hal itu terjadi karena teroris dengan sengaja me-rekayasa dan melaksanakan teror secara acak, di mana perilaku teror akan memberi perhatian utama pada lokasi dengan kesibukan yang tinggi atau yang dipadati banyak orang. Karena teroris tidak me­miliki banyak pendukung atau massa maka tindakan kekerasan berupa pen-culikan, pengebomah, sandera laut (pi­rate) dan sandera udara menjadi cara mereka untuk meudapat perhatian tun­tutan.

      Pada abad ke 20, terjadi perubahan dan perkembangan terkait motif dan cara terorisme. Terorisme menjadi pra-sarana gerakan atau rentetan tuntutan organisasi politik dari hampir semua spektrum aliran, seperti yang terjadi di Eropa, Timur Tengah, Asia, dan Amerika Utara. Perkembangan teknologi, seperti

      senjata dan sistem persenjataan serba otomatis, bahan ledakan yang sangat kompak dengan pengendalian jarak jauh, akan memperkuat mobilitas, ke-tepatan waktu dan kedahsyatan keru-.sakan akibat tindakan kekerasan beren-cana oleh teroris.

      Biasanya, terorisme dimanfaatkan oleh gerakan kelompok perorangan atau institusi politik yang menghendaki destabilisasi pemerintahan atau sistem pemerintahan yang ada dengan sasaran perubahan konstitusi. Baik para pelaku sistem pemerintahan. maupun rezim yang ada dan mereka yang mau mengubahnya telah me'manf aatkan terorisme sebagai prasarana.

      Dari kacamata pemerintah yang sah, gerakan yang memiliki program "per­ubahan total" melalui kekerasan dan tidak melaui jalan yang telah diatur dalam UUD negera tersebut, diberi nama "terorisme". Namun, dari kacamata "pengubah atau pembrontak", dianggap sebagai suatu proses perjuangan dengan segala dampaknya.

      Sebagai contoh, terorisme dalam arti yang luas yang terjadi pada abad ke-20 dan 21. Di antaranya, gerakan antikolo-nialis (Indonesia-Belanda, Vietnam-Per-ancis, Algeria-Perancis, Irlandia-Inggris, Vietnam-USA); permasalahan antarke-lompok etnik, masalah keadilan dan wilayah (Palestina-Israel, Spanyol-Bask, India-Pakistan); konflik antara aliran keyakinan agama (Katholik-Protestan di Irlandia Utara atau Islam radikal di Irak, Al-Qaida, Taliban); dan penyelesai-an pertentangan radikal dalam suatu masyarakat (Malaysia, Indonesia, Fili-pina. Iran, Iraq, Nikaragua, El Salvador, Argentina).

      Kelompok revolusioner Baader-Mein-hof di Jerman, kelompok "Red Army" di Jepang, Brigade Merah di Italia, al-Fatah, Hamas, Taliban dan Alqaidah, Zwickauer Neo-Nazi (Trio di Jerman), serta gerakan ekstrim kanan anti-Islam (Anders Behring Breivik di Norwegia) adalah beberapa contoh terorisme radi­kal dan revolusioner yang memanf aatkan teknologi sebagai prasarana teror yang paling canggih pada akhir abad ke-20 dan awai abad ke-21.

      Pemanfaatan teknologi mutakhir dan canggih ternyata tidak hanya bermanfaat untuk meningkatkan kualitas kesejahteraan dan kehidupan suatu ma­syarakat, tetapi dapat pula disalahgu-nakan oleh teroris dan penjahat yang merugikan umat manusia.

       

      Terorisme Global 2

      BACHARUDDIN JUSUF HABIBIE

      Mantan Presiden Republik Indonesia



      Dalam melakukan aksi-nya, para teroris itu melakukan berbagai upaya kerja sama re­gional dan internasional. Mereka menyalahgunakan proses globalisasi untuk mengembangkan jaringan organisasi kriminal dan teror internasional, yang merugikan kualitas ketenteraman, kualitas kesejahteraan, dan kualitas hidup umat manusia (Alqaidah, IRA, Brigade Merah, dan lainnya).

      Untuk menghadapi semua ini dibu-tuhkan pendekatan, pemikiran, dan strategi yang baru dan canggih dengan memanfaatkan teknologi yang palingtepat dan berguna. Hanya dengan meningkatkan kerja sama internasional atau global dalam memerangi kejahatan dan terorisme, kita dapat mengembangkan dunia yang lebih tenteram, sejahtera, dan damai.


      Diperlukan pemikiran dan penin-jauan kembali bentuk dan konsep "pertahanan dan keamanan negara", baik menyangkut sistem inaupun lembaganya. Kalau pada saat ini sistem pertahanan dan keamanan cenderung lebih diarahkan pada skenario perang dan gangguan keamanan yang "klasik konvensional apakah tidak perlu ditambahkan perhatian pada masalah keten­teraman (human security).


       

      Di samping itu, akibat ancaman yang semakin kompleks, tidak jelas dan tidak nyata "musuh" yang dihadapi, maka diperlukan teknologi sistem persenjataan dengan struktur dan platform baru yang disesuaikan dengan taktik. Yaitu, dengan menciptakan metode dan cara perang terorisme dan kejahatan pada tingkat nasional, regional, dan global.

      Kerja sama internasional dan regio­nal sangat penting dilaksanakan dengan prasyarat peningkatan ketahanan na­sional sebagai andalan utama dalammenghadapi terorisme global yang beroperasi nasional. Indonesia tidak terkecuali.

      Bangsa Indonesia adalah masyarakat pluralistis atau masyarakat bineka yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya. Kebinekaan dapat disalah-gunakan menjadi suatu "ketidak-cocokan" atau uncompatbility antara golongan, suku, dan etnik. Keadaan demikian dapat bersinergi dengan gerakan sejenis di mancanegara melalui jaringan internasional dan regional. Kelompok ekstrem dan radikal dapat menyalahgunakan "ketidak-cocokan" menjadi terorisme dengan memanfaatkan segala prasarana teror untuk menyukseskan pelaksanaan program atau ideologi kelompok kecil melalui destabilisasi pemerintah yang sah dan mengganggu ke­tenteraman masyarakat luas.

      Namun sebaliknya, jikalau "kebinekaan" dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan kerja sama atau sinergi positif antara golongan, suku, dan etnik maka produktivitas dan daya saing masyarakat dapat ditingkatkan. Hal tersebut telah terbukti pada masyarakat Amerika Serikat sejak awal berdirinya USA dan pada masyarakat Jerman sejak 50 tahun yang lalu.

      Kelompok radikal kanan di Indo­nesia telah beberapa kali berusaha me­manfaatkan terorisme untuk memperjuangkan cita-cita yang secara damai tidak dapat mereka eapai. Pemboman di Hotel Mariot di Jakarta pada 2003 dan di Bali pada 2005 adalah salah satu contoh kerja sama teroris regional Hambali alias Riduan Isamuddin dengan te­roris nasional.

      Karena kegagalan hegemoni kiri du­nia, kekuatan teroris "radikal ekstrem kiri" tak dapat diandalkan lagi oleh kelompok "radikal ekstrem kiri" di manasaja mereka beroperasi secara nasional, termasuk di Indonesia. Karena itu, hanya kelompok radikal ekstrem kanan atau kelompok radikal etnik saja yang pada waktu ini dapat menyalahgunakan ke-bebasan pemanfaatan teknologi canggih untuk tindakan teror mereka.

      Terorisme adalah akibat tindakan manusia yang secara radikal dan kekerasan hendak memaksakan kehendak. Oleh karena itu, kualitas hidup, sikap,dan produktivitas sumberdaya manusia (SDM) yang pada akhirnya sangat menentukan. Kualitas pendidikan, pem-budayaan, dan lapangan kerja merupakan prasarana "antiterorisme" yang pa­ling handal.

      Pesantren dan para kyai dapat sangat membantu upaya pencegahan terorisme dengan cara peningkatan iman dan tak­wa (imtak) melalui sistem pembudayaan yang menonjolkan "cinta" dalam arti yang luas. Cinta dalam arti yang luas berarti cinta antardua manusia, antarse-sama manusia, antara manusia dan ling-kungannya, dan cinta manusia kepada tugas, karya, serta keterampilannya me­lalui penguasaan Iptek.

      Bukankah Allah SWT yang mencip­takan seluruh alam semesta, termasuk semua kehidupan di dalamnya? Apakah mungkin Allah SWT membenci karya dan ciptaan-Nya sendiri?

      Dari kedua pertanyaan tersebut, dapat kita mengambil kesimpulan untuk secara sistematik mengembangkan SDM secara sempurna sehingga dapat mencegah berkembangnya terorisme di mana saja sepanjang masa. Harapan saya, pa­ra ulama pesantren dapat memberikan saran dan masukan mengenai bagaimana cara "pembudayaan dan pendidikan" yang harus dikembangkan dan dilaksa­nakan di pesantren. Insya Allah.

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 15 May 2012 10:54  

      Items details

      • Hits: 617 clicks
      • Average hits: 7.9 clicks / month
      • Number of words: 4138
      • Number of characters: 36336
      • Created 6 years and 6 months ago at Tuesday, 01 May 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 6 months ago at Tuesday, 15 May 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 139
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091491
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC