.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 6 OKTOBER 2008

       

      Tegallinggah

      Pengalaman berhari raya merupakan bagiah dari pengalaman pendidikan yang dialami kebanyakan anak-anak Indonesia. Setiap hari besar keagamaan, sekolah selalu libur. Itu artinya ada penghargaan luar biasa terhadap hari raya keagamaan. Yang tidak luar biasa adalah jika kita tidak mampu menarik pelajaran berharga dari setiap momen hari raya karena kita terlalu menganggap biasa saja peristiwa tersebut tanpa detak kontemplatif rasa dan pikiran kita. Lebih konyol lagi jika hari yang sakral tersebut hanya menjadi semacam ritual biasa, liburan, dan bebas dari sekolah. Seakan sekolah adalah momok dan hari raya adalah kebebasan. Artinya, sekolah seperti tak punya ruang khusus untuk menghargai dan menyediakan kebebasan.

      Kesadaran kontemplatif dari peristiwa hari besar keagamaan, seperti Idul Fitri terlihat jelas pada masyarakat Tegallinggah, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Bali. Sebuah desa muslim di tengah-tengah perkampungan Hindu ini adalah salah satu prototipe desa yang kental dengan warna Islam Indonesia.

      Sebagai warga minoritas, umat Islam Desa Tegallinggah sangat menjaga sistem kekerabatan yang dianut masyarakat mayoritas Hindu Bali. Tenggang rasa bukanlah barang mewah dan mahal di desa ini. Dalam pergaulan keseharian sangat biasa dijumpai praktik perniagaan bersama, bahkan sampai pengelolaan pengairan sawah yang dikenal dengan sistem subak juga dianut dan ditaati warga muslim Tegallinggah.

       

      Perasaan 'minoritas' bagi warga muslim Desa Tegallinggah sungguh merupakan suatu berkah. Mereka tak sulit untuk beiajar berempati jika ada konflik mayoritas-minoritas di mana pun di belahan bumi Indonesia.

      Warga muslim Tegallinggah sangat paham makna minoritas dan keharusan mereka berperilaku yang sesuai dengan konteks budaya lokal. Bahkan nama-nama mereka sebagian diambil dari idiom Bali. Karena itu, tak aneh jika ada sebutan 'Komang' untuk Sulaeman, 'Manise' untuk Muhammad Isa, Nyoman Fathurraji, Ketut Jamil, dan lain-lain. Meskipun ada campuran keturunan pejuang Blambangan dan pendatang asal Bugis yang diminta Raja Bali ketika perang Puputan, warga muslim Tegallinggah sangat pandai dan paham bagaimana mengartikan kata toleransi.

      Lebih dari 5 generasi mereka menyatu dengan warga Hindu Bali dalam pergaulan sehari-hari tanpa sedikit pun gesekan berarti. Bahkan anak-anak Desa Tegallinggah yang bersekolah di SD, SMP, maupun SMA Negeri dengan suka cita menerima kenyataan bahwa libur Hari Raya Idul Fitri hanya diberlakukan 2 hari oleh pemda setempat.

      Kalender akademis di Bali memang 100% mengikuti pola tradisi keagamaan Hindu yang mengambil dan memanfaatkan hari raya yang jumlahnya cukup banyak sebagai hari libur. Sebut saja, misalnya perayaan hari Galungan, Kuningan, Nyepi, dan sebagainya.

      Sangat menyenangkan bisa merayakan Idul Fitri di daerah 'minoritas' seperti Tegallinggah. Mereka sungguh pandai memaknai Idul Fitri secara budaya dan kekerabatan de­ngan, misalnya, mengundang aparat kepolisian dan pemangku adat untuk hadir pada saat pelaksanaan salat id meski hanya duduk di muka masjid. Selesai salat mereka ikut saling bersalaman dan memakan ketupat Lebaran bersama-sama. Kabarnya menurut para pinisepuh desa, tradisi itu telah ada sejak 4 generasi sebelum ini. Jika tradisi kita arrikan sebagai cultural continuity in social attitudes and customs, apa yang dilakukan warga muslim Tegallinggah perlu disimak dan dicontoh.

      Memaknai Idul Fitri sebagai pengembalian kesucian hari juga tetap dipegang teguh warga Tegallinggah. Karena, jumlah warga muslim tak lebih dari 850 kepala keluarga dan bertempat tinggal dalam radius dua kilometer, prosesi silaturahim dapat dilakukan hanya dalam tiga jam dan semua warga pasti dapat tersambangi ketika bersilaturahim di hari raya. Selain bermaaf-maafan setelah salat, makna 'kembali' (id) juga mereka simbolisasikan dengan pergi ke kubur untuk ziarah. Tradisi itu sebenarnya cukup biasa bagi warga muslim di mana pun di Indonesia.

      Yang tidak biasa adalah cara mereka melakukannya tepat di hari raya. Biasanya orang berziarah saat akan memasuki awal puasa atau di tengah berpuasa. Namun, tidak bagi warga Tegalinggah. Bagi mereka, pada saat Hari Raya Idul Fitri hanya ada 2 tempat untuk bersilaturahim. Pertama masjid, kedua kuburan. Kuburan adalah simbol 'kembali' kepada Tuhan sebagaimana diyakini warga muslim Tegallinggah.

      Minal Aidin walfaizin, kullu aamin waantum hi khair.

      (Ahmad Baedowi)



       


       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 07:31  

      Items details

      • Hits: 889 clicks
      • Average hits: 11 clicks / month
      • Number of words: 1644
      • Number of characters: 13083
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 155
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091307
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC