.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Tantangan dan Harapan Demokrasi

      R William Liddle

      Profesor Emeritus llmu Politik The Ohio State University

      Di mana-mana dewasa ini, demokrasi mengecewakan banyak orang. Tiga tahun lalu, Presiden Barack Obama menjanjikan sebuah permulaan baru buat Amerika, negara demokratis tertua di dunia, namun dia belum berhasil rriengabulkan semua tuntutan masyarakatnya. Usaha pre-siden langsung direspons pemberontakan Tea Party ("Partai Teh"). Partai Teh terdiri atas aktivis kanan yang ingin menciutkan peran pemerintah, membebaskan pebisnis dari apa yang mereka anggap belenggu peraturan ne­gara, serta menjatuhkan Obama.

      Baru-baru ini, Obama dipukul lagi oleh Occupy Wall Street ("Menduduki Wall Street"), pemrotes kiri yang justru ingin mengencangkan peraturan tersebut dan mengutuk Obama selaku kaki-tangan pebisnis dan bankir besar. Di Indonesia, dua tahun lalu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dipilih kembali dengan mayoritas mutlak suara pemilih. suatu prestasi yang luar biasa. Na­mun, setelah itu, dukungan rakyat merosot terus menurut hasil survei pendapat umum. Di Jakarta, Yudhoyono kini diserang dari segala penjuru angin. Para aktivis kiri menganggapnya antek kapitalis Barat atau "neoliberal", sementa­ra aktivis propasar mengeluh atas keengganannya menurunkan subsidi bahan bakar minyak. Begitu juga lainnya yang menuntut pemerintahan SBY-Boediono untuk mundur.

      Mengingat keadaan ini, apa yang harus kita perbuat untuk memperbaiki mutu demokrasi? Bagi saya dan banyak pengamat lain, hambatan utama terhadap perbaikan demokrasi di negara modern adalah kapitalisme pasar, suatu sistem ekonomi yang cenderung menciptakan ketidaksetaraan dalam pembagian hasil pertumbuhan.

      Tentu saya memaklumi bahwa serangan paling terkenal terhadap kapitalisme selama ini diluncurkan oleh teoretikus sosial Karl Marx pada pertengahan abad ke-19. Namun, Marx dan pengikutnya sampai abad ke-21 tidak banyak membantu kita untuk mengerti apa yang harus kita buat untuk memperbaiki demokrasi. Justru sebaliknya, mereka cenderung menyuruh kita untuk membuang sang bayi, demokrasi, bersama bak mandinya, kapitalisme, sekalian (throw out the baby with the bathwater).

      Padahal, kedua-duanya perlu diselamatkan. Dalam usaha penyelamatan itu, ide-ide Niccolo Machiavelli, filsuf politik abad ke-16, sangat bermanfaat. Machi­avelli terkenal selaku teoretikus kejahatan politik dan reputasi buruk itu wajar belaka. Namun, yang lebih pokok dan penting. pendekatannya terfokus pada pe­ran individu sebagai aktor mandiri yang memiliki, menciptakan, dan memanf aatkan sumber daya poli­tik. Pendekatan ini berbeda sekali dengan fokus Marx dan pengikut­nya pada pergolakan dan perben-turan kelas yang amat membatasi atau malah menafikan peran individu selaku penyebab peruba-han sosial.

      Lepas dari kontribusi Machi­avelli beserta penerus modernnya, kita perlu pula membicarakan langsung masalah penciptaan, distribusi, dan pemerataan sumber daya politik demi tercapainya de­mokrasi yang bermutu tinggi di rnasa depan. Penelitian yang pa­ling menjanjikan tentang masalah itu sedang dilakukan atas nama "pendekatan kemampuan" (capa­bilities approach) oleh sejumlah kecil ekonom dan filsuf. Perintis-nya adalah Amartya Sen dan Martha Nussbaum.

      Perhatian saya kepada perlu-nya teori tindakan diilhami penga-laman saya selaku pengamat up close, dari dekat, politik Indonesia. Ketika saya masih pengamat mu-da, Nurcholish Madjid (Cak Nur), sangat memengaruhi pemikiran saya (Liddle 1996, khususnya Bab 5;Mujani dan Liddle 2009).

      Pada 1960-an, teori-teori ma-pan mengenai negara-negara se­dang berkembang yang saya pelajari di Amerika terasa sulit diterapkan di Indonesia. Misalnya, ramalan teori modernisasi tentang susutnya peran agama dalam poli­tik modern tidak dibenarkan penelitian saya di Sumatra Utara. Teori dependencia, ketergantungan, yang popular di Amerika Latin pada dasawarsa 1960-an hingga 1980-an, juga kurang tajam seba­gai pisau analitis untuk menguraikan keberhasilan pembangunan ekonomi di Indonesia waktu itu.

      Terdorong rasa kecewa saya dengan teori-teori mapan, saya mencoba membuka mata dan otak saya kepada ide dan wawasan baru setiap kali saya kunjungi Indonesia. Akhirnya, saya temuskan beberapa aktor penting, individu-individu di dunia politik, yang secara sadar memilih, bertindak, dan berdampak luas pada masyarakat. Dalam sejumlah tulisan, saya berusaha menguraikan pilihan dan tindakan Presiden Soeharto (Liddle 1996).

      Menurut analisis saya, dampak pilihan dan tindakan tersebut pada masyarakat Indonesia jauh berbeda dengan apa yang dialami masyarakat Burma di bawah Jendral Ne Win atau masyarakat Filipina di bawah Presiden Ferdinand Marcos. Dari hampir awal Orde .Baru, Cak Nur termasuk aktor penting yang memilih, bertindak, dan ber­dampak luas pada masyarakat Indonesia.

      Berikut ringkasan analisis saya: "Bagi banyak orang Muslim In­donesia, dunia berubah pada 2 Januari 1970 Nurcholish secara kreatif mendefinisikan kembali hubungan antara akidah dan ibadah dalam Islam demi memenuhi keperluan duniawi dan ukhrawi sebagian masyarakat yang berpotensi luar biasa besar." (Mujani dan Liddle 2009:586).

      Kemudian, lama-kelamaan, di Columbus, pendekatan baru saya dibentuk oleh lima penulis yang saya anggap sekaligus ilmuwan, aktivis politik, serta panutan: Nic­colo Machiavelli (2008 [1527]); Richard E Neustadt (1990 [I960]); James MacGregor Burns (2010 [1978]); John W Kingdon (1995 [1984]); dan Richard J Samuels (2003). Kecuali Machiavelli, mere­ka adalah ilmuwan politik rnasa kini setelah Perang Dunia Ke Dua di Amerika.

      Sumbangan Dahl

      Menurut Robert Dahl, tantangan terbesar terhadap demokrasi yang bermutu tinggi di masyara­kat modern terdiri atas pembagian sumber daya politik yang tidak merata. Secara ideal, setiap warga negara memiliki kemampuan yang sama untuk menentukan kebijakan-kebijakan penting yang diambil negaranya.

      Setidaknya, demokrasi dimaknai sebagai political equality, ke-setaraan politik antara semua warga negara. Sayangnya, cita-cita itu sulit di wujudkan di masya­rakat ekonomi bersistem kapitalis­me pasar (capitalist market econo­mies), baik yang maju seperti Amerika maupun yang sedang berkembang seperti Indonesia.

      Menjelang akhir kariernya, dalam On Democracy (199.8), Dahl meringkaskan lima kesimpulan tentang hubungan antara kapitalis­me pasar dan demokrasi. Ring­kasan itu merupakan sekaligus penjelasan paling canggih menge­nai hubungan ini dan titik berangkat yang penting bagi semua usaha serius untuk memperbaiki mutu , demokrasi pada zaman kita.

      Pertama, sepanjang sejarah modern, demokrasi hanya bertahan di negara-negara dengan eko­nomi kapitalis pasar serta belum pernah bertahan di negara-negara dengan ekonomi nonpasar. Kedua, akrabnya hubungan empiris itu


      beralasan. Dalam ekonomi pasar, aktor-aktor utama sebagian besar terdiri atas individu-individu dan perusahaan-perusahaan swasta yang bergerak sendiri, didorong oleh insentif untung-rugi, tanpa arahan sebuah pusat.

      Ketiga, demokrasi dan kapi­talisme pasar berseteru terus sambil saling mengubah sifatnya masing-masing. Di Inggris menjelang pertengahan abad ke-19, kapital­isme dalam bentuk ideologi laissez faire (propasar bebas murni) ber­hasil menaklukkan semua pesaingnya.

      Keempat, kesimpulan Dahl bahwa potensi demokrasi bermutu tinggi di sebuah negara dibatasi kapitalisme pasar yang mencipta­kan beberapa ketidaksamaan penting dalam distribusi sumber daya politik. Sumber daya politik didefinisikan sebagai "semua hal yang bisa digunakan untuk memenga­ruhi, langsung atau tidak lang­sung, perilaku orang lain."

      Kesimpulan kelima dan terakhir Dahl mengemukakan tensi tak terelakkan di masa kini dan depan yang juga merupakan ironi besar. Pada satu segi, terciptanya lembaga-lembaga demokrasi sa­ngat dimungkinkan dan dibantu oleh kapitalisme pasar.

      Di mana-mana selama ber-abad-abad, negara-negara otoriter diruntuhkan ketika kelas-kelas tuan tanah (yang menguasai ham­pir semua sumber daya politik dalam masyarakat pramodern) dan petani (yang kurang sekali sumber daya politiknya) digan-tikan dengan struktur kelas yang lebih rumit.

      Tugaskita

      Menurut saya, Dahl telah menunjukkan secara implisit namun jelas dua tugas pokok kita, baik di Amerika maupun di Indonesia sebagai anggota bangsa modern. Pertama, kita dianjurkan untuk bertindak selaku full citizens, war­ga negara penuh, sambil menya-dari bahwa sementara ini sumber daya politik di tangan kita bersif at amat terbatas. Kita harus ikut main di lapangan politik mesMpun kita tahu bahwa lapangan itu ti­dak datar melainkan curam. Segelintir pemain mengungguli pe-main lain dalam jumlah dan bobot sumber daya politik yang dikuasainya.

      Kedua, kita dianjurkan secara implisit oleh Dahl untuk mengem-bangkan dan menyebarluaskan berbagai macam sumber daya po­litik menuju distribusi yang lebih merata dan demokratis. Hal ini tidak sederhana sebab kita belum punya kerangka konseptual yang memadai tentang makna dan per-, incian konsep sumber daya politik. Jadi, tugas ini bersifat lebih menyeluruh (jangka panjang).

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 1354 clicks
      • Average hits: 17.4 clicks / month
      • Number of words: 4226
      • Number of characters: 36209
      • Created 6 years and 6 months ago at Tuesday, 01 May 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 145
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091492
      DSCF8794.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC