.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      TANGISAN BUKU INDONESIA
      Page 2
      Page 3
      All Pages

      Sekarang saya dihadapkan kepada sebuah kenyataan yang menyesakkan hati. Kadang saya tidak habis pikir di lembaga-lembaga pendidikan pun saya dianggap bukan makhluk penting, sehingga berubahlah lembaga-lembaga pendidikan menjadi semacam perusahaan atau pabrik yang mencetak manusia-manusia dagangan sesuai dengan pesanan industri. Tanpa bersentuhan dengan saya, para pelajar dan mahasiswa datang ke lembaga pendidikan bukan untuk mencari ilmu, akan tetapi hanya mencari selembar ijazah sebagai pasport memasuki dunia kerja. Pembaca bisa melihat sendiri kualitas mereka sekarang ini, seperti buih yang tidak berbobot dan mudah terbawa arus. Maka tejadilah apa yang disebut oleh Ki Supriyoko dengan ” Tragedi Pendidikan” (Media Indonesia, 21 Agustus 2007) Tragedi ini terjadi selain oleh perhatian yang kurang dari pemerintah, juga karena substansi atau paradigma pendidikan yang keliru kata Mohammad Yunus (Media Indonesia, 12 Agustus 2007), pemenang nobel perdamaian. Dari paradigma yang keliru ini pula maka akan melahirkan ” Pendidikan yang Tak Membebaskan” seperti yang dikatakan Moh. Mahfud MD (Seputar Indonesia, 20 September 2007) atau tumbuhnya ”Budaya gincu bukan budaya Ilmu ” dan tentu saja tidak akan melahirkan para ”Guru Inspiratif” seperti ditulis Rhenald Kasalai (Kompas, 29 Agustus 2007)

      Yang lebih parah dari itu adalah menganggap pendidikan sebagai komoditas, sehingga muncullah kebijakan berupa komersialisasi pendidikan, Karena itu tidak heran apabila Daoed Joesoef mengusulkan supaya Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) diganti menjadi ”Departemen Perdagangan Pendidikan (Depdagpen). Atau demi efisiensi, lanjut beliau, menutup Depdiknas, semua kegiatan ditransfer ke Departemen Perdagangan, menjadi ”Direktorat Jendral Perdagangan Pendidikan”. Dengan demikian, pemerintah menghemat pengeluaran untuk gaji dan fasilitas, menteri, dirjen, direktur, dan lainnya (Kompas, 29 Agustus 2007)

      Orang Indonesia tidak mau belajar dari negara maju atau negara tetangga dekat kita, Malaysia misalnya. Ah... Malaysia. Dulu mereka menimba ilmu dari Indonesia, pada hari ini orang Indoneisa berbondong-bondong ke Malaysia, bukan saja untuk belajar tapi juga untuk mengais rezeki, menjadi PRT dan buruh kasar lainnya. Maka tidak heran apabila negeri jiran itu sekarang berani bertolak pinggang di hadapan Indonesia.

      Di Malaysia sekolah-sekolah berbasis perpusakaan. Sejak SMP para murid sudah diajarkan library skill, sebuah keahlian yang mengajarkan bagaimana supaya para murid akrab dan bergaul dengan saya. Mohd Sharif Mohd Saad (2006), staf pengajar Fakultas Manajemen Informasi MARA, menuturkan bahwa linerasi informasi menjadi pendorong utama terciptanya personal empowerment dan student’ freedom to learn. Ketika para murid mengetahui bagaimana cara menemukan dan menerapkan informasi, mereka dapat belajar sendiri apa yang mereka perlukan untuk belajar dan yang paling penting mereka dapat mempelajari bagaimana seharusnya belajar. Dengan literasi informasi ini memungkinkan mereka untuk menjadi pembelajar seumur hidup dan menjadi warga negara yang berguna dalam sebuah masyarakat yang sedang berubah. Salah satu prinsip dasar yang tertera dalam The Malaysian Smart School Conceptual Blueprint adalah para siswa dapat belajar memproses dan memanipulasi informasi, dan mereka pun dilatih untuk berpikir kritis. Beliau juga mengatakan bahwa semua sekolah di Malaysia dilengkapi dengan resources centre (perpustakaan sekolah) untuk menunjang proses belajar mengajar. Perpustakaan sekolah ini dikelola secara profesional oleh guru-pustakawan. Melalui guru-pustakawan inilah resources centre menjadi bagian yang terintegrasi dengan kurikulum sekolah. Mentri Pendidikannya pun mengatakan bahwa perpustakaan sekolah merupakan bagian yang sangat penting untuk merealisasikan strategi jangka pendek dan jangka panjang untuk literasi, edukasi, dan pembelajaran seumur hidup dan mencetak para siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan menjadi pengguna perpustakaan dan informasi yang efektif. Kenyataan hari ini membuktikan bagaimana Malaysia dapat berada pada urutan jauh di atas Indoneisa dalam IPM (Indeks Pembangunan Manusia).



      Comments
      Hadi Sardini   |2009-11-01 17:50:45
      Artikel2 nya menarik sekali bwt bhn referensi diskusi
      edi sependi   |2009-12-12 21:52:00
      artikelnya memberi pengetahuan baru bagi saya, terimakasih.
      Sudia   |2010-03-23 16:36:54
      masih ada waktu, kami (bangsa Indonesia) sedang akan memperbaiki hubungan
      denganmu (buku)
      susilo   |2010-06-16 20:42:31
      Ah masak sih?
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 6490 clicks
      • Average hits: 51.9 clicks / month
      • Number of words: 2250
      • Number of characters: 16931
      • Created 11 years and 5 months ago at Tuesday, 02 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 128
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9125291
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC