.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      TANGISAN BUKU INDONESIA
      Page 2
      Page 3
      All Pages

      TANGISAN BUKU INDONESIA

       

      Saya adalah sebuah buku, saya tidak berjenis kelamin, saya pun tidak memiliki kewarganegaraan. Saya bagaikan udara, air, tanah, atau api karenanya saya ini adalah milik siapa saja. Sebetulnya saya adalah sumber kekuatan budaya dan fondasi kemajuan peradaban manusia. Seperti dikatakan oleh Barbara Tuchman (1989) saya ini adalah pengusung peradaban. Tanpa kehadiran saya sejarah akan diam, sastra bungkam, sains lumpuh, dan pemikiran macet. Saya adalah mesin perubahan, jendela dunia, mercusuar yang dipancangkan di samudera waktu. Thomas Jefferson (1815) mengatakan bahwa dia tidak bisa hidup tanpa kehadiran saya. Malah saya ini dijadikan wanita piaraan oleh S.J. Adair Fitzgerald. Frank Gruber (1944) menganggap saya ini sebagai benda luar biasa. Katanya lagi saya ini seperti taman yang indah penuh dengan bunga aneka-warna, seperti permadani terbang yang sanggup melayangkan manusia ke negeri-negeri yang tak dikenal sebelumnya. Oleh Frank Kafka (1883-1924) saya ini harus dijadikan kampak untuk menghancurkan lautan beku di dalam diri manusia.

      Masih banyak lagi komentar-komentar yang membuat hati saya berbunga-bunga. Tapi saya pun merasa sedih karena belum mendengar komentar yang indah dari orang-orang besar Indonesia. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya ingin menumpahkan segala perasaan saya selama berada di Indonesia

      Berbeda dengan di negara lain, di Indonesia saya tidak memiliki asal-usul atau sejarah. Kapan saya dibuat dan oleh siapa tidak ada yang tahu. Tapi sudahlah, ini takdir saya dilahirkan di Indonesia.

      Di negara ini, setiap saat saya merasa menggigil kesepian karena saya jarang sekali disapa, disentuh, dielus apalagi dicumbui. Saya benar-benar dianggap makhluk asing yang berbahaya, lebih berbahya dari sampar, HIV, atau penyakit menular lainnya sehingga lebih baik dijauhi.

      Sebetulnya saya sangat rindu terhadap jari-jemari yang membuka halaman-demi halaman. Akan tetapi apa yang terjadi? Budayawan Ajip Rosidi mengatakan bahwa sejak Indonesia merdeka tidak ada satu pun pemerintahan yang menunjukkan perhatiannya yang serius kepada saya. Jarang ada pejabat yang peduli pada dunia saya, bahkan masih ada beberapa kota provinsi yang tidak mempunyai perpustakaan, tempat saya berada. Selanjutnya Kang Ajip bermain angka. Penerbitan saya di Indonesia saat ini sekitar 12 ribu judul setiap tahun dengan oplah hanya dua sampai tiga ribu setiap judul. Bagi bangsa dengan penduduk 225 juta niscaya tidak berarti apa-apa. Itu pun pada kenyataan banyak penerbit yang mencetak saya hanya 500 eksemplar."Coba saja hitung, 12 ribu x 5 ribu kita naikkan angkanya, jumlahnya hanya 60 juta," kata Ajip. "Dengan demikian, setiap orang hanya kebagian membaca 60 juta berbanding 225 juta = 0,27 judul dalam setahun!" Apa pula itu artinya? la pun terus menghitung. Kalau saya rata-rata tebalnya 100 halaman, maka dalam 365 hari setiap orang Indonesia hanya membaca 27 halaman. Atau setiap halaman dibaca selama hampir dua minggu. "itu pun angkanya sudah dibesarkan, maka tentu saja kenyataan yang terjadi lebih menyedihkan dari itu," keluh Ajip. (Radar Bandung, 24 September 2006)

      Kenyataan pahit di atas ditambah lagi dengan hasil eksplorasi Taufiq Ismail di sekolah menengah atas (SMA) Indonesia. Ia mengatakan bahwa di Indonesia telah terjadi apa yang disebut dengan ”Tragedi Nol Buku”. Artinya di SMA Indonesia tidak ada kewajiban untuk membaca saya disekolah. Keadaan ini sudah berlangsung selama 62 tahun atau semenjak negara ini sudah sepenuhnya di tangan sendiri. Beliau mengatakan sebab utama penyakit kronis ini terletak sejak dari hulu samapai hilir aliran sungan lembaga pendidikan kita, yaitu terlantarnya kewajiban membaca buku sastra di sekolah-sekolah kita.

      Bagaimana saya tidak sering menangis meretapi nasib saya di negeri ini seperti diceritakan para budayawan di atas. Namun, saya memiliki kenangan manis bersama para pahlawan negeri ini, Bung Hatta misalnya. Saya masih teringat waktu bersma beliau, saya dicantai lebih dari apa pun. Saya dicintainya melebihi cinta beliau pada Ibu Rahmi, Saya adalah istri pertama Bung Hatta. Pada saat beliau akan dibuang ke Digul saya dibawaserta dimasukkan kedalam sepuluh peti ukuran 2X2 meter.

      Yang paling menggelikan adalah pada saat Moh. Hatta meminang Ibu Rahmi sebegai istri, saya dijadikan mahar, mungkin ini peristiwa langka, belum pernah ada lagi seorang pejabat tinggi negara yang menjadikan saya sebagai mahar, waktu itu saya dikarang sendiri oleh beliau dan diberi nama Alam Pikiran Yunani. Saya sangat rindu terhadap orang seperti Bung Hatta.

      Selain Bung Hatta, saya pun masih ingat bagaimana Tan Malaka—”sang revolusioner yang kesepian” kata almarhum Alfian--memperlakukan saya di negeri Belanda. Beliau mencumbui saya sampai dinihari tidak tidur, ibu kostnya mengatakan waktu itu ”sampai warna pipi Iep (panggilan Tan Malaka) seperti berbarna hijau” karena terlalu lamanya bercumbu dengan saya.

      Atau kalau saya mengenang lebih jauh pada zaman keemasan Islam, saya pun diperlakukan luar biasa. Misalnya al-Zuhri (wafat 742 M), beliau menghimpun kami sedemikian banyaknya, sehinga hampir tidak ada ruang bagi yang lain di rumahnya. Keasyikannya menghimpun dan mempelajari kami telah menyita sedemikain banyak waktunya, sampai-sampai istrinya mengeluh ”demi Allah buku-buku ini telah menjengkelkan aku, daripada tiga istrimu yang lain.” Sehingga saya tidak heran pada saat tentara Turki berhasil menaklukkan Khalifah di Kairo, sebagian besar kami dibuang ke kolam air di halaman rumahnya yang luas, karena sang istri dendam dan cemburu pada almarhum suaminya yang lebih mencinatai kami (buku) daripada dirinya. Ah..., itu kenangan manis yang telah berlalu.


      Sekarang saya dihadapkan kepada sebuah kenyataan yang menyesakkan hati. Kadang saya tidak habis pikir di lembaga-lembaga pendidikan pun saya dianggap bukan makhluk penting, sehingga berubahlah lembaga-lembaga pendidikan menjadi semacam perusahaan atau pabrik yang mencetak manusia-manusia dagangan sesuai dengan pesanan industri. Tanpa bersentuhan dengan saya, para pelajar dan mahasiswa datang ke lembaga pendidikan bukan untuk mencari ilmu, akan tetapi hanya mencari selembar ijazah sebagai pasport memasuki dunia kerja. Pembaca bisa melihat sendiri kualitas mereka sekarang ini, seperti buih yang tidak berbobot dan mudah terbawa arus. Maka tejadilah apa yang disebut oleh Ki Supriyoko dengan ” Tragedi Pendidikan” (Media Indonesia, 21 Agustus 2007) Tragedi ini terjadi selain oleh perhatian yang kurang dari pemerintah, juga karena substansi atau paradigma pendidikan yang keliru kata Mohammad Yunus (Media Indonesia, 12 Agustus 2007), pemenang nobel perdamaian. Dari paradigma yang keliru ini pula maka akan melahirkan ” Pendidikan yang Tak Membebaskan” seperti yang dikatakan Moh. Mahfud MD (Seputar Indonesia, 20 September 2007) atau tumbuhnya ”Budaya gincu bukan budaya Ilmu ” dan tentu saja tidak akan melahirkan para ”Guru Inspiratif” seperti ditulis Rhenald Kasalai (Kompas, 29 Agustus 2007)

      Yang lebih parah dari itu adalah menganggap pendidikan sebagai komoditas, sehingga muncullah kebijakan berupa komersialisasi pendidikan, Karena itu tidak heran apabila Daoed Joesoef mengusulkan supaya Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) diganti menjadi ”Departemen Perdagangan Pendidikan (Depdagpen). Atau demi efisiensi, lanjut beliau, menutup Depdiknas, semua kegiatan ditransfer ke Departemen Perdagangan, menjadi ”Direktorat Jendral Perdagangan Pendidikan”. Dengan demikian, pemerintah menghemat pengeluaran untuk gaji dan fasilitas, menteri, dirjen, direktur, dan lainnya (Kompas, 29 Agustus 2007)

      Orang Indonesia tidak mau belajar dari negara maju atau negara tetangga dekat kita, Malaysia misalnya. Ah... Malaysia. Dulu mereka menimba ilmu dari Indonesia, pada hari ini orang Indoneisa berbondong-bondong ke Malaysia, bukan saja untuk belajar tapi juga untuk mengais rezeki, menjadi PRT dan buruh kasar lainnya. Maka tidak heran apabila negeri jiran itu sekarang berani bertolak pinggang di hadapan Indonesia.

      Di Malaysia sekolah-sekolah berbasis perpusakaan. Sejak SMP para murid sudah diajarkan library skill, sebuah keahlian yang mengajarkan bagaimana supaya para murid akrab dan bergaul dengan saya. Mohd Sharif Mohd Saad (2006), staf pengajar Fakultas Manajemen Informasi MARA, menuturkan bahwa linerasi informasi menjadi pendorong utama terciptanya personal empowerment dan student’ freedom to learn. Ketika para murid mengetahui bagaimana cara menemukan dan menerapkan informasi, mereka dapat belajar sendiri apa yang mereka perlukan untuk belajar dan yang paling penting mereka dapat mempelajari bagaimana seharusnya belajar. Dengan literasi informasi ini memungkinkan mereka untuk menjadi pembelajar seumur hidup dan menjadi warga negara yang berguna dalam sebuah masyarakat yang sedang berubah. Salah satu prinsip dasar yang tertera dalam The Malaysian Smart School Conceptual Blueprint adalah para siswa dapat belajar memproses dan memanipulasi informasi, dan mereka pun dilatih untuk berpikir kritis. Beliau juga mengatakan bahwa semua sekolah di Malaysia dilengkapi dengan resources centre (perpustakaan sekolah) untuk menunjang proses belajar mengajar. Perpustakaan sekolah ini dikelola secara profesional oleh guru-pustakawan. Melalui guru-pustakawan inilah resources centre menjadi bagian yang terintegrasi dengan kurikulum sekolah. Mentri Pendidikannya pun mengatakan bahwa perpustakaan sekolah merupakan bagian yang sangat penting untuk merealisasikan strategi jangka pendek dan jangka panjang untuk literasi, edukasi, dan pembelajaran seumur hidup dan mencetak para siswa untuk menjadi pemikir yang kritis dan menjadi pengguna perpustakaan dan informasi yang efektif. Kenyataan hari ini membuktikan bagaimana Malaysia dapat berada pada urutan jauh di atas Indoneisa dalam IPM (Indeks Pembangunan Manusia).


      Memang saya akui, telah banyak para cendekiawan yang berteriak tentang pentingnya saya buat kemajuan bangsa. Hampir semua cendekiawan di negeri ini telah mengatakannya, di antaranya mereka mengatakan bahwa saya ini adalah sebagai kekutan budaya (Jalaluddin Rakhmat), sarana keunggulan bangsa (Mohammad Sobary), pembentuk identitas individu dan bangsa (Azyumardi Azra), indikataor kualitas bangsa (Ki Supriyoko), kunci perubahan dunia ( A.M. Fatwa), tetapi suara mereka semuan bagaikan ”anjing menggonggong kafilahpun tetap berlalu.”

      Kadang, di negeri ini, saya sangat iri pada nasib makanan, minuman, dan pakaian. Mereka semua hidup dengan penuh sanjungan dan kemuliaan. Di manapun mereka berada selalu menjadi pusat perhatian dan ditempatkan pada singgasana di sanubari masyarakat. Malah, kalau kita perhatikan hampir sebagian besar penduduk hidup kesehariannya hanya untuk memperebutkan mereka semua.

      Di sepanjang jalan iklan-iklan mereka berjejal memenuhi ruang yang sudah penuh sesak, restaurant, toko-toko, kios-kios, kedai-kedai, warung-warung, resto, kafe. pokoknya di mana ada ruang di situ pasti ada tempat mereka. Iklan di televisi hampir 95 persen semuanya menawarkan tentang mereka, sponsor acara-acara televisi hampir 100 persen adalah makanan, minuman , dan pakaian, “wisata kuliner” adalah salah satu acara yang paling disukai ibu-ibu. Dalam merayakan hari-hari tertentu mereka sibuk dijadikan hadiah ulang tahun, selamatan, parcel lebaran, dan lain-lain. Sampai-sampai Hernowo memberi judul bukunya harus menyinggung nama makanan, yaitu “Andai Buku Sepotong Pizza”. ( Kaifa: 2003). Atau Gede H. Cahyana memiliki sebuah khayalan yang agak aneh dan “gila”: Demi meluaskan cakrawala ilmu masyarakat, khususnya kaum Muslimin, bagaimana kalau ketupat dan opor lebaran itu diganti dengan buku, majalah, atau koran? (Pikiran Rakyat, 31 Oktober 2006)

      Makanya saya tidak begitu heran kalau Ahmad Tohari mengemukakan bahwa kebanyakan mahasiswa lebih mementingkan membeli pulsa HP daripada membeli saya. Bahkan mungkin lebih dari itu, banyak mahasiswa lebih mendahulukan rokok daripada kartu keanggotaan perpustakaan. Itu semua merupakan cermin atau duplikasi dari watak wanyarakat kita yang lebih suka yang segera bisa dinimakti daripada hal-hal yang baru membuahkan hasil di masa depan.(Republika, 3 Juli 2006)

      Di perpustakaan saya pun seperti hidup di dalam penjara. Ada sih pengunjung yang datang, tapi kebanyakan hanya datang untuk membezoek saya. Saya hanya dilihat dan disapa sebentar kemudian disimpan lagi, lalu pengunjung pulang lagi. Persis, persis sekali saya ini seperti narapidana, yang hanya boleh dibezoek dan tidak boleh dibawa pulang. Kemungkinan saya untuk disapa juga sangat kecil karena perpustakaan-perpustakaan di Indonesia memiliki jam buka yang pendek. Di tambah dengan penjaga perpustakaan (pustakwan) yang betul-betul seperti sipir penjara. Mereka hanya berperan sebagai penunggu dan perawat saya. Apabila saya berdebu meraka hanya membersihkannya, dan apabila jilid saya rusak mereka hanya memperbaiki ulang.Maka pantas apabila pustakawan menduduki “kasta” yang rendah dalam jabatan fungsional di instansi pemerintah. Memang tidak semua seperti itu, tapi kebanyakan mereka seperti, dalam istilah Sunda “monyet ngagugulung kalapa” ( hanya tahu bentuk luarnya, tapi tidak tahu isinya). Oleh karenanya, saya benar-benar terpenjara di perpustakaan. Tolong bebaskan saya !!!

      Saya betul-betul merasa sedih dan frustrasi selama berada di Indonesia. Oleh karena itu apabila orang Indoneisa masih tidak mau memperdulikan nasib saya, maka saya akan keluarkan kutukan: jadilah orang/bangsa yang bodoh, miskin, pecundang, bangsa yang layak jajah, bangsa yang tidak memiliki harga diri! Maafkan saya lahir dan bathin.

      Comments
      Hadi Sardini   |2009-11-01 17:50:45
      Artikel2 nya menarik sekali bwt bhn referensi diskusi
      edi sependi   |2009-12-12 21:52:00
      artikelnya memberi pengetahuan baru bagi saya, terimakasih.
      Sudia   |2010-03-23 16:36:54
      masih ada waktu, kami (bangsa Indonesia) sedang akan memperbaiki hubungan
      denganmu (buku)
      susilo   |2010-06-16 20:42:31
      Ah masak sih?
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 6488 clicks
      • Average hits: 51.9 clicks / month
      • Number of words: 2250
      • Number of characters: 16931
      • Created 11 years and 5 months ago at Tuesday, 02 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 60
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124916
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC