.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Taman Bacaan
E-mail

Taman Bacaan Cegah Perdagangan Anak

Membaca, memberi banyak pilihan untuk bertahan hidup bagi anak dari kalangan marjinal, termasuk saat menghadapi perangkap trafficking


Kartono

Prita Hendriana Wijayanti

ANAK dikonsepkan sebagai pelengkap kehidupan berumah tangga secara universal. Sosoknya sering diasumsikan sebagai bagian dari kaum lemah. Karena itu, ia rentan disakiti ataupun dimanfaatkan orang yang merasa lebih kuat, baik fisik maupun kuasanya.

Kini, anak pun terjamah dan hak-haknya terampas. Padahal, hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi manusia, termuat dalam UUD 45 dan Konvensi PBB tentang hak-hak anak.

Komitmen itu tentu perlu didukung oleh aksi yang nyata untuk menunjukkan keseriusan lebih lanjut. Tumbuhnya taman baca masyarakat atas inisiatif individu yang masih memiliki kepedulian terhadap pendidikan anak bangsa seharusnya dapat menjadi hawa segar. Sebab terjerumusnya para korban perdagangan orang, khususnya anak-anak, banyak diakibatkan oleh minimnya pengetahuan yang dimiliki. Keberadaan sebuah taman baca atau per-pustakaan independen dapat menjadi jembatan transformasi pengetahuan. Taman baca masyarakat dalam konteks kekiniannya dapat diasumsikan lebih dari sekadar menyediakan bahan bacaan.

Last Updated on Friday, 02 March 2012 05:17 Read more...
 
E-mail

MEDIA INDONESIA, 20 DESEMBER 2009

SEANDAINYA AKU Wali Kota


Surabaya Sadar Baca


Ida Royani Diana Dwijayanti

DI tengah derasnya hujan informasi, tidak ada jaminan hal terse­but tidak memberikan dampak pada alam pikir masyarakat. Informasi-informasi yang selalu membawa pesan dan kepentingan tertentu yang datang dari berbagai sisi, tentunya perlu disikapi dengan arif dan bijak oleh masyarakat.

Untuk menghadapi hal ini, kemauan dan kemampuan un­tuk dapat membaca, memilih, menangkap serta mengevaluasi informasi yang diterima menjadi suatu hal yang penting untuk dimiliki masyarakat.

Lantas, bagaimana jika masya­rakat tidak atau kurang memiliki kemampuan tersebut jangankan kemampuan, kemauan dan semangat untuk membaca saja masih perlu dipompa dengan sekuat tenaga?

Pertanyaan itu nampaknya masih cocok jika dikontekskan dalam kehidupan kita. Sebagai warga masyarakat sebuah negara yang diduga berbudaya baca minim, bahkan masuk rangking terendah di Asia Timur.

Last Updated on Friday, 02 March 2012 05:16 Read more...
 
E-mail

REPUBLIKA, 22 OKTOBER 2006

 

Remaja Arjasari Adakan Karnaval Buku

BANDUNG — Sekitar 300 orang mengikuti karnaval menyusuri jalan kampung sepanjang tiga kilometer. Mereka melewati pasar, terminal, dan perkampungan. Ini bukan karnaval 17 Agustusan, melainkan karnaval buku.

Rombongan paling awal adalah kendaraan delman yang dihias dengan buku. Anak-anak dari usia SO hingga remaja antusias mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Taman Bacaan Masyarakat (IBM) Arjasari, Kabupaten Bandung ini. Arjasari terletak di perbukit-an di Kabupaten Bandung, jaraknya sekitar 35 km dari kota Bandung.

"Tujuan kami mengadakan kegiatan ini adalah untuk mengampanyekan pentingnya membaca ke semua lapisan masyarakat, mendekatkan buku dengan masyarakat," jelas Ketua IBM Arjasari, Agus Munawar.

Kegiatan karnaval ini diadakan di awal bulan Ramadhan lalu. "Agar masyarakat, terutama anak-anak, ngabuburit (menunggu waktu berbuka puasa) dengan membaca," kata Agus.

Last Updated on Friday, 02 March 2012 05:15 Read more...
 
E-mail

KOMPAS, 8 JANUARI 2007

PENERBITAN

"One Stop Learning" di Rumah Buku Alebene


Toko buku yang dilengkapi fasilitas pusat jajanan atau kafe sudah biasa. Begitu juga dengan tambahan fasilitas ruang diskusi. Namun, masih jarangyang sekaligus menyediakan lembaga pembelajaran semacam kursus, pe-latihan, hingga kelompok bermain.

Konsep pembelajaran satu atap (one stop learning) itulahyangdi-usung Rumah BukuAlebene. Berbeda dengan paradigma ritel di pu­sat perbelanjaan, keberadaan kon-sep satu atap tidak semata diarahkan pada unsur komersial, tetapi jugaedukasi.

Taman buku yang memiliki se-kitar 3.000 eksemplar buku dari puluhan penerbit ini dilengkapi tempat kursus, pelatihan, dan ke­lompok bermain semacam ELTI, Sanggar Canvas Rumah Kuning, Kelompok Bermain Vita Iswara, dan Klab Bennain Bumi Limas. Sedikitnya ada 17 lembaga pendidik-anyang menempati lokasi seluas 1.600 meter persegi itu.

Di antara sekian banyak lemba­ga pendidikan, KB Vita Iswara adalah salah satunya, dan telah beroperasi sej ak November 2006. Menurut Anastasia (39), guru KB Vita Iswara, keberadaan one stop learning iid tidak menganggu murid-muridnya, tetapi justru mem-perkaya wawasan.

Last Updated on Thursday, 01 March 2012 21:22 Read more...
 


Page 2 of 6

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 98
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124475
DSCF8754.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC