.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Taman Bacaan
E-mail

REPUBLIKA, 11 OKTOBER 2008

MENYATUKAN GAYA HIDUP DALAM TOKO BUKU

Demi memanjakan pelanggannya, kini banyak toko buku menyediakan tempat duduk nyaman untuk membaca

Membaca buku tampaknya sudah menjadi bagian dari gaya hidup sebagian masyarakat Indonesia. Khususnya masyarakat perkotaan. Lihat saja ketika seri terakhir novel Harry Potter versi bahasa Indonesia berjudul Harry Potter dan Relikui Kematian diluncurkan. Pembaca setianya rela antre berjam-jam hanya untuk dapat memiliki novel karya Joanne K Rowling tersebut. Tidak sedikit pula yang sudah memesan buku tersebut sejak lama.

Pihak toko terbukti berperan besar dalam upaya menjadikan membaca sebagai gaya hidup. Bahkan kini di kota-kota besar telah hadirtoko buku model baru. Toko buku alter-natif. Karena di toko ini, buku ditawarkan dengan pulasan gaya hidup modern yang lebih kentai. Toko buku jenis ini lebih mirip galeri, bersentuhan langsung dengan budaya kafe, luks, bergengsi dengan pelayanan bersifat personal dan bercita rasa modern.

Sebut saja QB World di bilangan Kemang, Jakarta Selatan. QB World mengusung konsep yang menggabungkan toko-buku dengan perpustakaan dan kafe. Di sini, pengunjung bisa santai membaca buku sambil minum-minum dan bersosialisasi dengan berbagai komuni-tas yang terbentuk di sini. Pengunjung dimanjakan pula dengan fasilitas wifi yang dapat digunakan secara bebas.

Last Updated on Thursday, 01 March 2012 21:14 Read more...
 
E-mail

REPUBLIKA, 2 DESEMBER 2007

Menggalakan Taman Bacaan Masyarakat

Bermula dari kesenangannya mengoleksi buku. Kesenangan itu berbanding terbalik dengan rendahnya kebiasaan membaca masyarakat di sekitar kediamannya. Diam-diam tumbuh ke-inginan dalam dirinya untuk berbagi, menularkan bacaan miliknya kepada orang-orang di sekitarnya.

la lalu membuka waning di rumahnya. Buku-buku ditumpuk di sekitar barang jualan. Masyarakat yang datang berbelanja, tanpa di-sadari, ikut membuka-buka buku yang ada. Lambat laun, waning dengan banyak koleksi buku itu menyebar di masyarakat.

Kiswanti perempuan yang senang mengoleksi buku tersebut lalu membentuk Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Namanya Ta­man Bacaan Warabal, singkatan dari Waning Baca Lebak Wangi, terletak di Kampung Saja, Lebak Wangi, Pemegarsari, Parung, Bogor. la menyediakan sebuah ruang tempat tinggalnya sebagai taman bacaan yang penuhi sedikitnya 2.500 buku. Tak hanya menyedia­kan tempat, Kiswanti pun bersepeda keliling kampung membawa bahan baeaannya.

Last Updated on Thursday, 01 March 2012 21:13 Read more...
 
E-mail

KOMPAS, 13 DESEMBER 2009

PANGGILAN HATI

 

MENGAJAK SUKA MEMBACA

Kesukaan Fadli Zon membaca sudah sejak kecil dan kebiasaan mengoleksi buku, koran, dan majalah dia lakukan sejak masih di bangku SMA. Tidak semua orang paham kegemarannya itu, termasuk ibu-nya yang pernah membuang kumpulan korannya karena dikira tidak terpakai.

Fadli mengaku merasa ter-panggil ikut merawat warisan budaya Indonesia. Dia sudah "menyelamatkan" sejumlah naskah tua bernilai sejarah yang nyaris dijual ke luar negeri, antara lain beberapa naskah tulisan tangan Bung Karno serta foto-foto anak-anak Bung Karno sewaktu kecil.

"Saya hobi mendokumentasi sejak remaja, sementara kurang sekali minat masyarakat pada membaca, terutama tentang se­jarah, yang kalaupun membaca bukan dari sumber aslinya," kata Fadli.

Sejauh ini semua koleksi dan perawatan perpustakaan itu berasal dari uang pribadinya. Dia sudah memiliki pemasok dari berbagai daerah, tetapi perlahan-lahan semakin banyak orang memberikan buku koleksi mereka kepada Fadli, antara lain dari anak Mr Sumanang yang menyerahkan buku-buku koleksi ayahnya untuk dirawat di per­pustakaan Fadli.

Last Updated on Thursday, 01 March 2012 21:10 Read more...
 
E-mail

PIKIRAN RAKYAT, 15 MEI 2009

Mencerdaskan Masyarakat Desa Melalui Rumah Baca

SEBAGIAN besar penduduk In­donesia mendiami wilayah perdesaan. Mereka yang tinggal di perdesaan bukan hanya terpinggirkan secara geografis, tetapi terpinggirkan secara ekonomi, sosial-budaya, politik, kesehatan, dan lain-lain. Dengan demikian, walaupun secara kuantitas rngrupakan penduduk Indonesia terbanyak, tetapi dari segi kualitas, keberadaan mereka minoritas.

Fenomena masyarakat desa yang termarginalkan itu tentu sangat memprihatinkan saya (dan orang-orang yang sepikiran dengan saya). Keberadaan mereka baru dibutuhkan ketika ada pemilu dan pilkada sebagai basis dukungan yang mudah untuk digiring,

karena kemiskinan dan kebodohan mereka yang dibohohgi oknum politikus. Hal seperti ini sebetulnya tidak akan terjadi jika mereka memiliki ilmu pengetahuan dan kesejahteraan ekonomi.

Last Updated on Thursday, 01 March 2012 21:08 Read more...
 


Page 4 of 6

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 111
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9125240
DSCF8761.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC