.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Siswa
E-mail

 

Pikiran Rakyat 2-6-2008

 

 

Proses Belajar Masih Jauh dari Tujuan Pendidikan

 

BANDUNG,(PR).-

Proses belajar di Indonesia masih tidak lebih dari mendengar, mencatat, menghafel, dan menjawab soal berbentuk pilihan ganda seperti dalam Ujian Nasional. Hal ini mengakibatkan tidak terwujudnya pembudayaan berbagai kemampuan, nilai, dan sikap dalam diri pelajar di Indonesia yang menjadi tujuan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (PP-ISPI), Prof. Dr.H. Soedijarto, MA, dalam Seminar Nasio­nal dan Temu Karya Pendidik­an ISPI dengan tema "Strategi Penyelenggaraan Pendidikan untuk Mencapai Tujuan Pendi­dikan Nasional". Acara ini diikuti oleh anggota ISPrdari ber­bagai daerah di Indonesia dan berlangsung di Gedung JICA Universitas Pendidikan Indone­sia, Jln. Setiabudhi No. 229 Bandung, Sabtu (31/5).

Last Updated on Friday, 24 February 2012 10:26 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS RABU, 18 JUNI 2008

 

Menumbuhkan Semangat Kooperatif Anak

Oleh   Sitta R Muslimah

kerasan, bunuhdiri, konflik, dan praktik korupsi dibirokrasi adalah aktualisasi dari bangsa yang miskin empati atau tidak punya kepekaan terhadap orang lain. Ini merupakan tamparan keras bagi lembaga pendidikan untuk membenahi ketidak berhasilan menanamkan kebersamaan kepada setiap anak didiknya.

Kasus bunuh diri, umpamanya, mengindikasikan bahwa kebanyakan masyarakat kita telah menanggalkan solidaritas sosial dan bukti nyata dari ketidak pedulian lembaga pemerintah terhadap rakyat miskin. Akar penyebab munculnya kasus bunuh diri terletak pada tumpulnya implementasi untuk saling asah, saling asih, dan saling asuh ke­pada masyarakat modern yang cenderung individualistis.

Oleh sebab itu, mehciptakan generasi yang memiliki kepekaan so­sial yang kokoh, tangguh, dan kuat dalam jiwanya adalah misi utama dari lembaga pendidikan prasekolah. Sebab, lembaga ini bagaikan adonan yang menentukan kualitas rasa dari sebuah produk makanan. Dalam merealisasikan misi ideal tersebut, diperlukan sebuah lem­baga pendidikan yang sejak dini mendidik anak-anak untuk peka terhadap kondisi sekitar. Tujuannya guna menciptakan kepekaan diri secara permanen ketika kelak di sekitamya ada orang yang membutuhkan pertolongan.

Last Updated on Friday, 24 February 2012 10:16 Read more...
 
E-mail

 

KORAN TEMPO SABTU, 10 MEI 2008

Masalah Bawaan dalam Ujian Nasional

Asep Purnama Bahtiar

DOSEN FAI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

"Sekali lancung ke ujian, seu-mur hidup orang tak percaya." Peribahasa ini tampaknya pas untuk diangkat kembali ketika kasus kecurangan dan kebocoran soal dalam ujian nasional (UN), baik di tingkat SMA maupun SMP, terulang lagi pada 2008. Dalam konteks ujian nasional, peribahasa tersebut juga mencerrninkan ironi dan tragedi.

Dikatakan ironi, karena bagaimana bisa dalam ujian—sebagai tahap evaluasi, tes, dan pengukuran kompetensi, kualitas akademik, serta integritas warga didik— yang mestinya berlangsung teratur, tertib; dan jujur, justru diwarnai oleh kecurangan dan tindakan yang tidak patut. Karena itu, kecurangan dan ketidak jujuran dalam uji­an seperti ini menjadi sebuah tragedi da­lam dunia peadidikan. Bisakah hasil ujian nasional itu dipercaya dan dijadikan tolok ukur atas kompetensi warga didik SMP dan SMA secara komprehensif, sebagaimana amanat Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional 2003?

Jika diamati, sejak ujian nasional diberlakukan pada 2003, kecurangan dan praktek-praktek sejenisnya dalam UN itu sepertinya telah menjadi paket tambahan yang sengaja disisipkan di daerah, rayon, subrayon, atau sebagai "muatan lokal" Sebab, kecurangan dan kebocoran itu terjadi ketika paket soal ujian sudah tiba di ' lokasi atau pada waktu ujian sedang dan telah berlangsung.

Last Updated on Friday, 24 February 2012 10:08 Read more...
 
E-mail

 

Media Indonesia 13 Mei 2008

 

Kemalasan dan Kemiskinan Intelektual Kampus

TIDAK seperti dulu, kemalasan merupakan gejala umum yang menjangkiti dunia kampus saat ini. Mahasiswa yang digadang-gadang menjadi generasi penerus bangsa kini makin jauh dari harapan. Kultur akademik bukan menjadi ciri khas kampus. Tidak mudah kita menjumpai komunitas mahasiswa yang masih hobi berdiskusi, bereksperimen dan mencoba hal-hal baru yang positif. Seakan kehilangan jiwa, kritisisme mahasis­wa tidak begitu tampak.Ada pergeseran gaya hidup dalam kehidupan kampus. Hedonis, pragmatis, dan ingin serbainstan. Tidak ada lagi upaya-upaya intelektual untuk mencapai cita-cita bersama. Kalaupun ada, jumlahnya tidak signifikan. Semua berjalan apa adanya. Tanpa rencana.

Kuliah bukan menjadi kebutuhan mahasiswa, hanya keinginan sesaat untuk menjalani hidup. Ti­dak ada semangat mengubah ketimpangan struktur sosial kehi­dupan. Individualistis. Tak mengherankan jika kampus bukan lagi menjadi pusat gerakan sosial sebagaimana yang pernah ada sebelumnya, seperti saat reformasi. Ya, kemalasan menggejala di seluruh kampus. Mengapa hal itu terjadi?"Itu adalah akibat kehancuran nilai-nilai lama yang masih po­sitif. Reformasi itu kan mengakibatkan apa yang disebut Weber dengan anomi, nilai-nilai lama hancur dan belum muncul nilai-nilai baru sebagai pengganti," ujar Muhsin Jamil MA, dosen peneliti di Pusat Penelitian LAIN Walisongo.

Last Updated on Friday, 24 February 2012 09:56 Read more...
 


Page 3 of 5

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,798
  • Sedang Online 122
  • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9125316
Dialog_Peradaban.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC