.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS, 30 NOVEMBER  2009

       

      “Mitos-mitos”Ujian Nasional?


      oleh elin  driana

      Gugatan 58 warga negara terkait kebijakan ujian nasional kembali mendapat dukungan dengan ditolaknya kasasi pemerintah oleh Mahkamah Agung. Tidak berlebihan untnk memandang putusan itu sebagai tonggak penting dalam mendorong evaluasi berbagai kebijakan pendidikan selama ini. Sayang, pemerin­tah tampaknya berkeras menggunakan hasil ujian nasional (UN) sebagai salah satu penentu kelulusan melalui rencana peninjauan kembali. Beberapa argumen yang dilontarkan untuk mendukung UN sebenarnya masih terbantahkan.

      Penilaian guru tidak konsisten?

      Bagaimana menentukan kelulusan siswa dari suatu jenjang pendidikan bila tidak ada UN? Bukankah penOaian guru amat bervariasi dari satu sekolah ke sekolah lain, bahkan dari satu kelas ke kelas lain? Berbagai pertanyaan semacam itu muncul karena kekhawatiran yang bersumber dari ketidak percayaan terhadap penilaian yang diberikan guru.

       

      Sebenarnya, guru memilih lebih banyak kesempatan untuk menilai, dan pada saat yang sama, mengembangkan kemampuan siswa melalui beragam model penilaian dan aktivitas, seperti pekerjaan rumah, ulangan, proyek kelas, penulisan laporan, dan presentasi.

      Berbeda dengan UN yang dilakukan pada akhir masa belajar, berbagai penilai­an yang dilakukan guru berdampak pada perbaikan proses belajar siswa ka­rena ada umpan balik yang bisa segera dilakukan.

      Dengan meningkatkan kualitas pembelajaran maupun penilaian yang dilakukan oleh guru, yang dikaitkan de­ngan kehidupan sehari-hari serta berbagai tantangan pada masa depan, diharapkan siswa akan terlibat proses bel­ajar yang menumbuhkan motivasi intrinsik dari dalam diri siswa. Motivasi  belajar  yang bersifat intrinsik ini akan lebihkokoh tertanam ketimbang belajar karena dipicu oleh kekha­watiran tidak lulus UN, yang bersifat ekstrinsik. Jadi, argumentasi bahwa ketiadaan UN membuat siswa malas belajar pun terbantahkan.

      Berbagai penelitian seputar seleksi penerimaan mahasiswa baru yang pernah dOakukan di AS menunjukkan,  indeks prestasi kumulatif di SMA, yang merupakan akumulasi dari aneka penilaian yang diberikan oleh guru, memiliki ke­mampuan lebih besar dalam memprediksi prestasi akademis di perguruan tinggi dibandingkan dengan hasil-hasil tes stahdar yang didasarkan pada penguasaan materi di SMA, seperti Standardized Achieve­ment Test II dan American College Tes­ting, maupun yang didasarkan pada ke­mampuan umum dalam matematika dan bahasa, seperti Standardized Aptitude Test.

      Di Indonesia pun demikian. Meski masih membutuhkan studi lanjut, beberapa perguruan tinggi melaporkan,   prestasi  akademis mahasiswa yang dijaring melalui penilaian terhadap prestasi se­lama mengikuti pembelajaran di sekolah menengah atas sebagaimana tecermin pada nilai rapor ternyata lebih stabil ketimbang prestasi mahasiswa yang diterima melalui jalur-jalur lain (Kompas, 18/11/2009).

      UN dan kualitas pendidikan

      Asumsi bahwa ujian kelulusan dapat meningkatkan kualitas pendidikan perlu diuji karena kesimpulan hasil-hasil pe­nelitian kerap bertolak belakang. Phelps (2001), misalnya, menyimpulkan, ujian kelulusan dapat meningkatkan pres­tasi akademis siswa untuk mata pelajaran yang diujikan, tetapi Amrein dan Berliner (2003) menunjukkan tidak ada kontribusi positif yang signifikan. Sementara itu, Dee dan Jacob (2006) dan Zwick (2004) malah menunjukkan, ujian kelulusan hanya me­ningkatkan prestasi akademis bagi siswa yang berasal   dari keluarga dengan status sosial ekonomi lebih tinggi. Perlu diingat, siswa-siswi di Finlandia mampu mencatat prestasi gemilang dalam The Programme for International Student Assessment meski tak ada ujian kelulusan. Satu-satunya ujian berskala nasional yang dilaksanakan adalah ujian matrikulasi sebagai syarat untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi.

      Tes-tes standar yang berdampak besar terhadap masa depan siswa dan berbagai indikator prestasi siswa lainnya, termasuk tes-tes untuk tujuan pemetaan maupun indeks prestasi siswa di sekolah, terkait erat dengan status sosial ekonomi siswa dan kondisi sekolah (Zwick, 2004). Lani Guinier, profesor di Harvard University, bahkan menyatakan, SAT lebih tepat dipandang sebagai tes untuk mengukur tingkat kesejahteraan daripada prestasisiswa (Zwick, 2004).

      Keterkaitan antara status sosial ekono­mi orangtua dan kondisi sekolah dan prestasi akademik siswa telah mendapatkan dukungan empiris yang kokoh, bah­kan melalui penelitian yang menggunakan data dari berbagai negara (Willms, 2006 Fuchs, 2007). Keberpihakan sistem.pen­didikan pada kaum kaya juga tecermin pada tingginya angka putus sekolah di kalangan masyarakat tidak mampu, antara lain karena besarnya porsi biaya pen­didikan yang masih mereka tanggung (Kompas, 25/11/2009).

      UN pasca putusan MA

      UN masih dapat digunakan untuk pe­metaan mutu pendidikan di Tanah Air, tetapi bukan sebagai syarat kelulusan, sepanjang terdapat kejelasan dan konsistensi bantuan atau intervensi bagi sekolah-sekolah yang dianggap belum memenuhi standar mutu yang ditetapkan. Pemetaan mutu pendidikan tanpa keje­lasan umpan balik seperti teramati saat ini hanya merupakan pemborosan anggaran negara dan menjadi beban masyarakat.

      Karena itu, ketimbang mengajukan peninjauan kembali atas putusan Mahkamah Agung, akan lebih strategis bila pemerintah mengerahkan segala daya untuk menyelesaikan akar masalah kualitas pen­didikan. Caranya, dengan membenahi standar-standar nasional pendidikan lain­nya, termasuk meningkatkan kualitas gu­ru, sarana dan prasarana, dan akses informasi yang memadai, sebagaimana tercantum pada putusan pengadilan yang telah mendapatkan pengukuhan Mahka­mah Agung.

      ELIN DRIANA

      Mendalami Bidang Riset dan Evaluasi

      Pendidikan; Salah Seorang

      Koordinator Education Forum

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 27 February 2012 08:09  

      Items details

      • Hits: 16979 clicks
      • Average hits: 182.6 clicks / month
      • Number of words: 2548
      • Number of characters: 20758
      • Created 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 76
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9125284
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC