.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 30  november  2009

      Derita UN

      HARUSKAH sebuah kesadaran sosial selalu bermula dari sebuah kontroversi yuridis? Jika ya, bukankah ini berarti suatu bentuk kejanggalan dari produk dan proses pendidikan kita, saat seharusnya sebuah kesadaran moral harusnya ber­mula dan tumbuh? Atau jangan-jangan akan ada lagi gelombang protes dari masyarakat yang menolak ujian nasional (UN) seperti penolakan terhadap kriminalisasi KPK?

      Para punggawa pendidikan di kementerian pendidikan harus mau diuji, dikritik, sekaligus dievaluasi bahwa keluarnya putusan Mahkamah Agung yang melarang pelaksanaan ujian na­sional (UN) merupakan bentuk peniegasan legal bahwa sistem evaluasi akhir pendidikan di In­donesia masih banyak masalah. Untuk memperbaikinya, perlu dilakukan evaluasi total terhadap model dan sistem pelaksanaan UN. Tidak bisa diragukan, bahwa angka kelulusan siswa secara nasional yang pertahunnya di atas 90% tidak serta-merta mengindikasikan kesuksesan pemerintah. Karena, praktik UN sendi ri banyak sekali terjadi kecurangan berjemaah dilakukan, baik oleh birokrat yang ingin daerah nya diang-gap paling tinggi angka kelulusannya, para guru yang tidak ingin disalahkan karena kompetensinya rendah, hingga orang tua yang tidak ingin anaknya tidak lulus. Bagi orang tua, ketidaklulusan anaknya dapat mengganggu ekonomi keluarga, selain rasa malu.

       

      Edu mencatat banyak sekali sisi gelap dari pelaksanaan UN ketimbang sisi terangnya. Contoh kecilnya adalah tiga sekolah Sukma Bangsa di Aceh yang Edu kelola, dan tahun kemarin menjadi 'korban' ujian nasional yang salah kaprah. Mengapa demikian? Ketika sekolah Sukma menerapkan budaya untuk tidak mencontek dan mencuri, budaya yang sama tidak diterapkan di sekolah lain. Buktinya ketika UN berlangsung, guru-guru Sukma Bangsti yang menjadi pengawas ujian di sekolah lain malah mendapat intimidasi, baik dari guru maupun siswa di sekolah tersebut. Guru Sukma Bangsa dianggap tidak toleran, karena dalam mengawas sangat 'kejam' dan tidak mau berbagi soal jawaban. Akhirnya, ketika pulang mengawas, tidak jarang guru-guru Sukma dicaci maki, bahkan dilernpari batu segala oleh para siswa dan guru mereka. Ini kekonyolan luar biasa.

      Sebaliknya, ketika siswa kami diawasi oleh guru dari sekolah negeri yang bahkan katanya sekolah teladan, praktik member jawaban soal disaksikan oleh para siswa kami. Beberapa orang siswa bahkan mengaku kecewa karena pengawas ujian dari sekolah negeri tersebut 'memaksa' anak-anak untuk mau menerima jawaban yang memang sudah dikerjakan sebelumnya. Tentu saja kekonyolan semacam ini sangat masih ter­jadi, bahkan di seluruh Indonesia. Mereka bilang memberi jawaban merupakan perintah langsung kepala dinas agar angka kelulusan daerahnya tinggi dan dianggap berparestasi.

      Namun lihatlah fakta-fakta yang terjadi setelah UN berlangsung. Anak-anak Sukma Bangsa, dari total 116 siswa yang mengikuti UN, tercatat hanya 22 yang lulus UN. Itu artinya hanya sekitar 22%-24% yang memiliki angka kelulusan sesuai standar UN. Sekolah-sekolah lain di Aceh memiliki angka kelulusan rata-rata di atas 80%, sebuah ironi yang patut dipertanyakan karena Aceh baru siuman dari konflik dan tsunami yang menggerogoti sistem pendidikan mereka secara material maupun mental.

      Selang kurang lebih 3 bulan kemudian, fakta lain terungkap. Meski sekolah Sukma hanya meluluskan 22 orang siswa, angka anak yang diterima di perguruan tinggi ternyata di luar dugaan, yaitu 66%, jauh jika dibandingkan dengan angka rata-rata sekolah di Aceh yang hanya 12% lulus ke perguruan tinggi. Lo kok bisa? Ternyata anak Sukma Bangsa memiliki sikap mental dan percaya diri yang jauh lebih baik daripada teman-teman mereka dari sekolah lainnya. Mereka diterima di perguruan tinggi ternama seperti UGM, ITS, ITB, UIN, Unsyiah, USU, Ar-Raniry, Malkuis Sahaleh dan sebagainya. Dengan fakta ini, barulah kemudian sebagian masyarakat Aceh tersadar, bahkan kepala dinas mengakui bahwa Sukma Bangsa telah melakukan proses pendidikan dengan baik dan benar.

      Harap dicatat bahwa anak-anak Sukma Bang­sa yang lulus tahun kemarin adalah anak-anak korban tsunami dan korban konflik, yang ketika masuk ke sekolah Sukma, kualifikasi akademis mereka sangat memprihatinkan. Namun kerja keras para guru Sukma yang konsisten dengan budaya sekolah no cheating, no smoking, and no fighting menjadikan anak-anak korban tsunami dan korban konflik memiliki kesempatan yang cukup untuk mengatasi ketertinggalan mereka selama ini.

      Ahmad Baedowi

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Monday, 27 February 2012 06:15  

      Items details

      • Hits: 162 clicks
      • Average hits: 1.7 clicks / month
      • Number of words: 1719
      • Number of characters: 13540
      • Created 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 120
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124428
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC