.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Media Indonesia 5 Mei 2008

       

      Ujian Nasional dan Budaya Belajar Siswa

      Oleh Syamsir Alam

      Peneliti Pada lndonesian Institute for Society Empowerment (INSEP) dan Praktisi Pendidikan Sekolah Sukma Bangsa -NAD

      KONTROVERSI soal pemanfaatan standardized test pada sistem pendidikan dasar dan menengah merupakan fenomena umum yang selalu menjadi bahan kajian dan perdebatan para pakar dan praktisi pendidikan. Hal itu bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di banyak negara terkemuka termasuk Amerika Serikat yang merupakan negara terdepan dalam pengembangan ilmu pengukuran pendidikan dan memelopori penggunaan tes standar atau commercial test pada sistem pendidikan, dunia kerja, dan korporasi.

      Beberapa penolakan terhadap penerapan ujian nasional (UN) pada siswa sebagai alat untuk menentukan kelulusan (certifica­tion) sebenarnya memiliki dasar keilmuan, pertimbangan psikologis dan ekonomis yang cukup mendasar dan sahih. Namun, Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) selalu mengesampingkan semua pemikiran kritis terhadap UN dan memilih untuk terus maju dengan program tahunan yang biayanya diperkirakan lebih dari Rp250 miliar.

      Secara teknis, UN yang sekarang diterapkan mengandung sejumlah kelemahan, khususnya bila dikaji dari konsep unified validity, yaitu pemanfaatan dan penafsiran hasil/skor ujian untuk kepentingan penentuan kelulusan dan konsep keadilan (test fairness) serta potensi terjadinya bias pada tes karena masih lebarnya diskrepansi kualitas guru, sarana, dan fasilitas belajar pada sistem pendidikan di Tanah Air. Hasil ujian nasional juga memiliki kendala teknis untuk diperbandingkan karena soal tes yang digunakan tidak dikalibrasi sehingga belum memiliki skala yang sama. Karena itu, untuk mengatakan hasil ujian nasional tahun ini lebih baik daripada tahun sebelumnya juga sulit dilakukan (baseless).

       

      UN tampaknya lebih merupakan kebutuhan politik jangka pendek pemerintah ketimbang kepentingan pembangunan pendidikan jangka panjang. Depdiknas le­bih mengutamakan kepentingan akuntabilitas sekolah (assessment of learning) da­ripada kebutuhan untuk melakukan pembenahan pendidikan secara sisternik dan konsepsional termasuk menumbuhkan ra­sa tanggungjawab dan kemandirian pada siswa dalam belajar. Karakter birokrasi pendidikan kita selalu ingin rnenghasilkan sesuatu yang instan, kuantitatif, dan dapat dijadikan indikator keberhasilah politik sehingga mudah dijual pada setiap pemilu. Bila pendidik menginginkan tumbuhnya kemampuan dan keterampilan belajar siswa secara genuine, sebaliknya birokrasi lebih mengutamakan hasil seketika, kuantitatif meskipun gambaran yang akan diperoleh bersifat artificial. Perdebatan dan resistensi terhadap pemanfaatan tes standar pada sistem pendidikan dasar dan mene-ngah di banyak negara termasuk Indonesia mengindikasikan ke arah itu.

      Permasalahan lain dari UN adalah sulitnya menemukan bukti empirik bahwa tujuan yang dijadikan landasan kebijakan penerapan ujian nasional itu sudah tercapai. Sebagaimana dipahami, UN di samping digunakan untuk menentukan kelulusan siswa, instrumen pendidikan ini juga dipakai un­tuk meningkatkan mutu pendidikan serta memperbaiki kualitas

      dan keterampilan sis­wa dalam pembelajaran. Depdiknas dengan proyek ujian akhir ini meminta pertanggung jawaban sekolah atas program pendidikan yang su­dah dilaksanakan. Selain itu, UN diharapkan dapat mendorong dan meningkatkan kualitas pembelajaran siswa. Depdiknas berkeyakinan, dengan menggunakan ins­trumen UN, rkedua pekerjaan besar itu akan dapat diraihsecara, bersamaan. Pandangari dan keyakinan semacam ini tentu saja baik, tetapi haruslah dicerna secara kritis sebab dapat menyesatkan (misleading). Bukankah terlalu sim-plistis bila mengukur perubahan dan pe-ningkatan mutu pendidikan hanya dengan kacamata UN (large-scale summative assess­ments)?

      Lebih dari itu, UN sebagai instrumen ke­bijakan untuk meningkatkan mutu pendi­dikan juga masih belum memadai karena standar mutu nasional soal tes (cut-off score) yang dijadikan kriteria masih sangat rendah, kompromistis, dan menunjukkan keraguan serta kurang percaya diri (inferiority complex) terhadap potensi bangsa ini. Ku­alitas instrumen UN belum dapat digolongkan sebagai rigorous test, terutama apabila hasilnya hendak digunakan sebagai acuan standar pendidikan nasional. Sebagian be­sar materi ujian nasional masih mengolah pertanyaan-pertanyaan superfisial (rote learning), yang hanya mengukur kemampu-an berpikir rendah (low-order thinking skills).

      Skor 10 (maksimal) yang mungkin diperoleh siswa pada UN sebenarnya belum banyak dapat menjelaskan kemampuan dan kompetensi siswa terhadap mata pelajaran yang ditempuh, apalagi siswa sebelum menempuh ujian nasional pada umumnya diharuskan mengikuti berbagai kegiatan bimbingan 'pendalaman materi', latihah soal (drilling), dan mungkin melakukan kecurangan (dishonesty) pada saat ujian berlangsung.


      Kebijakan penilaian nasional yang masih menekan pada kompetensi dasar minimum (minimum basic competence) yang di banyak negara sejak 1990-an sudah mulai ditinggalkan juga dapat menghambat sejumlah siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata untuk memaksimalkan proses pembelajaran mereka. Selain itu, guru sering kehilangan banyak

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 10:40  

      Items details

      • Hits: 503 clicks
      • Average hits: 5.4 clicks / month
      • Number of words: 1754
      • Number of characters: 14165
      • Created 7 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 122
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9125312
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC