.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS RABU, 18 JUNI 2008

       

      Menumbuhkan Semangat Kooperatif Anak

      Oleh   Sitta R Muslimah

      kerasan, bunuhdiri, konflik, dan praktik korupsi dibirokrasi adalah aktualisasi dari bangsa yang miskin empati atau tidak punya kepekaan terhadap orang lain. Ini merupakan tamparan keras bagi lembaga pendidikan untuk membenahi ketidak berhasilan menanamkan kebersamaan kepada setiap anak didiknya.

      Kasus bunuh diri, umpamanya, mengindikasikan bahwa kebanyakan masyarakat kita telah menanggalkan solidaritas sosial dan bukti nyata dari ketidak pedulian lembaga pemerintah terhadap rakyat miskin. Akar penyebab munculnya kasus bunuh diri terletak pada tumpulnya implementasi untuk saling asah, saling asih, dan saling asuh ke­pada masyarakat modern yang cenderung individualistis.

      Oleh sebab itu, mehciptakan generasi yang memiliki kepekaan so­sial yang kokoh, tangguh, dan kuat dalam jiwanya adalah misi utama dari lembaga pendidikan prasekolah. Sebab, lembaga ini bagaikan adonan yang menentukan kualitas rasa dari sebuah produk makanan. Dalam merealisasikan misi ideal tersebut, diperlukan sebuah lem­baga pendidikan yang sejak dini mendidik anak-anak untuk peka terhadap kondisi sekitar. Tujuannya guna menciptakan kepekaan diri secara permanen ketika kelak di sekitamya ada orang yang membutuhkan pertolongan.

       

      Maka, lembaga pendidikan prasekolah semestinya menerapkan model pembelajaran moral dengan bentuk metode yang meng asyikkan sesuai dengan perkembangan jiwa anak-anak. Misalnya, memanfaatkan media permainan yang tidak hanya mengasah kecerdasan intelektual saja, tetapi dapat juga meng­asah kecerdasan sosial anak sejak dini.

      Menggagas permainan kooperatif

      Prinsip bermain sambil belajar sangat berpengaruh pada perkem­bangan jiwa anak usia prasekolah. Permainan yang melibatkan anak-anak secara kolektif dimaksudkan untuk menguatkan kecerdasan so­sial. Setelah mereka telah terbiasa dengan permainan yang dilakukan, bersama, itu akan berimplikasi po­sitif terhadap kemantapan perkembangan psikososial anak

      Maka, untuk menciptakan se­buah kondisi psikososial yang martap pada anak usia dini, taman kanak-kanak (TK) atau playgroup semestinya mengikuti prinsip berma­in kooperatif suatu ke­giatan bermain yang dilakukan anak-anak se­cara berkelompok dan di dalamnya terjadi interaksi sosial yang ku­at.

      Darisinilah, seorang anak akan belajar menghargai dan mengakui eksistensi anak-anak sepermainan lainnya. Me­reka akan memiliki soli­daritas dan empati sosial yang kuat ketika menginjak usia dewasa karena telah terbiasa berinteraksi secara harmonis   melalui   kegiatan bermain bersama

      Di dalam permainan koope­ratif juga, seorang anak semestinya diajarkan untuk tidak sekali-kali merendahkan orang lain. Jika saja mereka masih berbuat demikian, tentu saja masa dewasanya akan dipenuhi tindakan yang mementingkan diri sendiri. Mungkin juga ketika mereka berkeluarga, kasus bunuh diri seperti yang di­lakukan warga di daerah Malang akan merebak menjadi fakta social. Bahkan, tidak mehutup kemungkinan ketika mereka menjadi pemimpin di sebuah ihstansi pemerintahan akan melakukan praktik kejahatan (korupsi) karena tumbuhnya empati sosial.

      Oleh sebab itu, lembaga pendidikan prasekolah, dalam hal ini TK dan playgroup, dianjurkan untuk memberikan pembelajaran moral secara atraktif dan mengasyikkan sehingga membekas di kedalaman rasa. Misalnya, dengan cara membangun rumah-rumahan bersama, menyusun balok-balok hingga membentuk sebuah bangunan, mengekspresikan bahasa cinta kasih kepada temannya, bernyanyi bersama, dan lain sebagainya De­ngan permainan kooperatif seperti ini, niscaya benih-benih kebersamaan akan tumbuh dalam jiwanya sehingga membentuk karakter positif di masa mendatang.

      Dalam permainan lokal, seperti galah porog, terdapat manfaat yang positif karena dapat menciptakan kebersamaan dan sikap legawa dalam diri anak usia dini.  Sebab itulah, menyandingkan prinsip-prinsip bermain dalam setiap aktivitas belajar-mengajar anak sangat mutlak diperlukan. Hal ini akan menjadi modal besar dalam menumbuhkan semangat koopera­tif dalam dirinya sehingga ketika dewasa nanti, mereka akan menjelma menjadi generasi yang menghargai perbedaan dan bersikap le­gawa ketika di lingkungannya terhampar perbedaan.

      Solidaritas sosial

      Kita semestinya tahu bahwa ma­sa usia 4-6 tahun adalah masa un­tuk bermain dan bercanda ria. Oleh sebab itu, untuk menanamkan solidaritas sosial kepada anak usia dini, bijaksana rasanya jika menggunakan melode pembelajaran yang mendidik dan menghibur. Pokoknya harus sesuai dengan karakter psikologis seorang anak. Maka, nilai-nilai sosial (untuk merasakan penderitaan orang lain) tatkala ma­sa usia dewasa tiba akan menguat, mengarakter, dan implementatif dalam keseharian. Itulah manusia yang dapat mempribadikan dan menyatukan diri dengan dunia so­sial karena mereka merasakan penderitaan sesama.

      Sebetulnya perkembahgan anak-anak dipengaruhi oleh apa yang dimainkannya semenjak kecil. Bermain juga merupakan salah satu kegiatan yang dapat menstimulasi perkembangan kognitif, psikososial, psikomotorik, dan model komunikasi positif jika dikreasikan secara mengasyikkan oleh lembaga pendidikan prasekolah. Jadi, jelas bahwa model pembelajaran yang diberikan kepada anak usia dini mesti berpijak pada prinsip bermain.

      Mengasingkan anak-anak dari dunia sosial adalah kesalahan pertama yang akan berdampak pada melemahnya rasa sosial di da­lam dirinya.Tidaklah mengherankan jika setelah usianya menginjak remaja, mereka tidak peka lagi terhadap persoalan yang sedang dihadapi orang lain. Ketika terjadi kondisi seperti ini, saya pikir pantas jika negara ini disebut dengan negara yang kehilangan generasi dan coreng-moreng dengan tingkah  laku patologis yang dipraktikkan penduduk negeri ini. Andai saja tertancap kuat solidaritas dan empati sosial dalam masyarakat menda­tang, kasus bunuh diri akibat tidak kuat menanggung beban ekonomi dapat dihindari.

      Ke depan, tempat berturnpimya harapan seperti ini terletak pada pundak anak-anak Jadi, sekarang, memperkokoh dan menanamkan solidaritas sosial dalam dirinya ada­lah kemutlakan. Hal itu tentunya dengan menerapkan metode yang atraktif, mengasyikkan, dan tidak menjenuhkan lewat permainan da­lam menurnbuhkan jiwa kooperatif dalam diri anak usia dini.

      SITTA R MOSLIMAH Petnerhati

      Masalah PerkembanganAnak, tinggal di Bandung


       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 10:16  

      Items details

      • Hits: 780 clicks
      • Average hits: 8.3 clicks / month
      • Number of words: 4046
      • Number of characters: 32683
      • Created 7 years and 10 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 81
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9126536
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC