.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Siswa Miskin di Sekolah Kaya

      Oleh SIDHARTA SUSILA


      Sudah jatuh, tertimpa tangga. Begitukah nasib siswa miskin di negeri ini?

      Inilah ironinya. Kue pendidikan siswa miskin demikian kecil dibandingkan kue pendidikan siswa kaya di rintisan sekolah bertaraf internasional/sekolah bertaraf internasional (RSBI/SBI). Sepotongkecil itulah yang masih harus diperebutkan sehingga siswa miskin harus berusaha ekstra untuk memperjuangkan nasib mereka.

      Realitas ini terasa dalam porsi pendanaan RSBI/SBI oleh negara. Pada tahun 2011, pemerintah mengalokasikan dana sebesar Rp 289 miliar untuk RSBI/SBI. Se-dangkan untuk sekolah standar nasional atau umum yang jumlahnya lebih banyak hanya Rp 250 miliar (Kompas, 17/2). Peme­rintah tetap mengalokasikan da­na atau subsidi bagi RSBI/SBI meski sekolah itu sudah bagus, bergedung mewah, dan sarananya lengkap pula.

      Kuota saja tak cukup

      Seperti ditegaskan Mendiknas Mohanlmad Nuh, kesan eksklusif bahwa RSBI hanya untuk orang-orang kaya memang harus dihapus. RSBI harus menyediakan kuota 20 persen untuk siswa miskin berprestasi karena eksklusivitas RSBI hanya secara akademis, bukan secara sosial.

      Sepertinya negara telah memperjuangkan keadilan kesempatan belajar bagi siswa miskin. Namun, realitasnya tidaklah demi­kian. Praktiknya, sejak tahap seleksi, pihak RSBI/SBI sudah menimbang kemampuan finansial orangtua siswa. Mereka masih memungut biaya tambahan, seperti uang pangkal, gedung, dan bulanan. Bahkan, untuk meng-ikuti ujian bertaraf internasional (standar Cambridge), siswa harus membayar sekitar Rp 1 juta per mata pelajaran.

      Maka, meski berkemampuan intelektual tinggi, siswa miskin akan kesulitan untuk bisa belajar di RSBI/SBI. Target minimal 20 persen pun sulit dipenuhi. Tentu sekarang ini ada anak miskin di RSBI/SBI, tetapi fakta dinamika pendanaan RSBI/SBI menyiratkan bahwa proses pembelajaran mereka didominasi siswa mampu / kaya.

      Dominasi akan menentukan pola relasi sosial. Siswa kaya memiliki pola komunikasi dan ber-pengetahuan. Ekspresi gaya hidup, cara berbahasa, berpikir, berbicara, atau bertindak mereka akan mewarnai habitus belajar. Siswa miskin sebagai yang minoritas, yang terdominasi, tunduk pada habitus siswa kaya. Domi­nasi habitus pembelajaran siswa kaya terekspresikan dalam dina­mika pembelajaran di kelas, pen­danaan, hingga pilihan studi lapangan, juga pernik-pernik aktivitas siswa, seperti seragam atau kegiatan keakraban.

      Siswa miskin bakal terengah-engah mengikuti habitus siswa kaya. Niat baik negara memberikan ruang belajar berkualitas di RSBI/SBI bagi siswa miskin menjadi kemustahilan. Sama mustahilnya dengan memenuhi aturan kuota 20 persen itu bagi siswa miskin.

      Komitmen tegas

      Jujur saja, mengurus siswa ka­ya jauh lebih menyenangkan ketimbang siswa miskin. Apalagi jika bisa memuaskan keinginan dan harapan orangtua-siswa. Gizi dan tradisi studi yang baik serta didukung finansial orangtua sis­wa yang melimpah memungkinkan proses pembelajaran yang progresif.

      Lain halnya jika mengurusi siswa miskin. Penulis pernah bekerja di sekolah yang mayoritas siswanya dari keluarga menengah dan kaya. Di sekolah semacam itu, komitmen guru/sekolah untuk memperjuangkan nasib siswa miskin diuji. Bering kali siswa miskin terbenam dalam ragam inferioritas. Akibatnya, prestasinya tidak optimal. Beberapa malah dikenal sebagai siswa bandel. Godaan untuk mengabaikan siswa miskin (lagi bandel) pun besar.

      Syukurlah, yayasan berkomitmen memperhatikan siswa miskin. Sejumlah guru menunjukkan dedikasinya dengan tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap siswa. Sekolah pun memikirkan dengan serius dinamika bela­jar dan nasib siswa-siswa miskin itu. Bentuknya dalam bimbingan konseling, kunjungan rumah, dan mencarikan bantuan dana untuk mereka.

      Rasanya sikap demikian juga dilakukan banyak yayasan dan sekolah swasta lain yang sejak awal berkomitmen memperhati­kan yang miskin. Komitmen awal ini merupakan penoreh nurani. Guru dan pengelola sekolah memiliki ruang, kepekaan, dan spontanitas untuk memperju­angkan siswa miskin, di sekolah kaya sekalipun. Di sekolah semacam ini, siswa miskin menemukan ruang ekspresi meski ada di antara siswa kaya.

      Apakah sekolah-sekolah RSBI/SBI (yang kaya itu) sejak awal juga berkomitmen dan diabdikan bagi siswa miskin? Apa­kah guru dan pengelola sekolah itu juga disiapkan untuk berkomitmen memperhatikan siswa miskin di antara siswa kaya? Tersediakah sarana dan cara memperjuangkan siswa miskin bagi para guru dan pengelola sekolah itu? Atau waktunya habis untuk mempertahankan pamor dan kasta sekolah?

      SIDHARTA SUSILA

      Pendidik di Yayasan Pangudi

      Luhur di Muntilan, Magelang


      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 1515 clicks
      • Average hits: 19.2 clicks / month
      • Number of words: 2497
      • Number of characters: 21135
      • Created 6 years and 7 months ago at Saturday, 21 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 136
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091492
      DSCF8798.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC