.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Siswa
E-mail

800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

SABTU, 2 MEI 2009 MEDIA INDONESIA

Ciptakan Generasi Berkualitas

Bagaimana nasib bangsa Indonesia di masa depan? Pertanyaan itu kerap dilontarkan berbagai kalangan.

Deri Dahuri

Sebenarnya untuk mendapat jawaban tersebut tidaklah terlalu rumit. Pasalnya, jawabannya bisa dilihat sejauh mana kualitas generasi muda Indonesia sekarang.

Oleh sebab itu, agar bangsa Indonesia bisa sejajar dengan negara maju, Indonesia tentunya harus memiliki gen­erasi muda berkualitas. Kaum mudanya sudah sepatutnya memiliki karakter yang disiplin, mandiri, dan berwawasan ke depan. Untuk menciptakan generasi yang sesuai harapan itu, tentunya semua pihak harus turut serta memberikan dukungan.

Terkait dengan menyiapkan masa depan bangsa, para pemuda Indonesia harus memiliki bekal berupa pendidikan. Pendidikan sendiri tak semata yang bersifat formal. Itu termasuk pula pendidikan nonformal yang menyangkut semua kondisi yang dapat membentuk generasi muda yang berkarakter.

Oleh karena itu, pendidik­an harus dapat mendorong intelektual, emosional, dan spiritual kaum muda. Pen­didikan juga harus mampu menanamkan hard skills dan soft skills secara seimbang. Dengan pendidikan terse­but, diharapkan lahir calon pemikir dan pemimpin ideal masa mendatang.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:38 Read more...
 
E-mail

 

media indonesia, senin, 19 oktober 2009

Pro-Social Skills

BEBERAPA berita tentang diciduknya anak-anak sekolah oleh polisi ketika jam belajar sekolah sangat memprihatinkan Edu. Motif siswa ketika ditanya mengapa mereka membolos juga lebih memprihatinkan lagi. Alasan yang mengemuka di antaranya adalah rasa bosan karena guru mereka tak menarik dan kurang kreatif ketika mengajar. Mereka lebih senang menghabiskan waktu untuk bermain games, membangun imajinasi sendiri berdasarkan kisah-kisah yang direkayasa bukan berdasarkan kebutuhan nyata para siswa. Edu khawatir akhir dari problema ini akan berujung pada sikap antisosial anak-anak kita terhadap lingkungan sekitar mereka.

Apa yang bisa dilakukan para guru untuk mengantisipasi munculnya sikap antisosial? Penting bagi mereka untuk memahami konsep kunci skillstreaming, sebuah bentuk intervensi psycho educational yang berakar pada ilmu psikologi dan pendidikan. Proses skill streaming menitikberatkan pada empat instruksi langsung prinsip pembelajaran, modeling, bermain peran, umpan balik, dan transfer. Keempat prosedur pembelajaran tersebut telah lama digunakan untuk mendidik berbagai jenis perilaku prososial murid di sekolah-sekolah yang memiliki kesadaran tentang pentingnya perilaku proso-sial siswa yang positif dan diinginkan.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:27 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS, 30 NOVEMBER  2009

 

“Mitos-mitos”Ujian Nasional?


oleh elin  driana

Gugatan 58 warga negara terkait kebijakan ujian nasional kembali mendapat dukungan dengan ditolaknya kasasi pemerintah oleh Mahkamah Agung. Tidak berlebihan untnk memandang putusan itu sebagai tonggak penting dalam mendorong evaluasi berbagai kebijakan pendidikan selama ini. Sayang, pemerin­tah tampaknya berkeras menggunakan hasil ujian nasional (UN) sebagai salah satu penentu kelulusan melalui rencana peninjauan kembali. Beberapa argumen yang dilontarkan untuk mendukung UN sebenarnya masih terbantahkan.

Penilaian guru tidak konsisten?

Bagaimana menentukan kelulusan siswa dari suatu jenjang pendidikan bila tidak ada UN? Bukankah penOaian guru amat bervariasi dari satu sekolah ke sekolah lain, bahkan dari satu kelas ke kelas lain? Berbagai pertanyaan semacam itu muncul karena kekhawatiran yang bersumber dari ketidak percayaan terhadap penilaian yang diberikan guru.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 08:09 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS, 25 JUNI 2009

 

Dilema Wajib Belajar

Oleh   SUTRYO SOEMANTRI BRODJONEGORO

Pendidikan dasar 9 tahun (compulsory education) akan meningkatkan jumlah calon siswa yang harus ditampung SMA/SMK/MA.

Tekanan tidak berhenti di situ, tetapi berlanjut ke perguruan tinggi untuk menampung lulusan SMA/SMK/MA Dari perguruan tinggi, tekanan mengarah ke pemerintah untuk penyediaan lapangan kerja. Kini, tidak kurang dari satu juta lulusan perguruan tinggi masih menganggur. Berarti pemerintah mengalami dilema, di satu sisi harus mengadakan pendidikan wajib bagi masyarakat sebagai salah satu fungsi sosial, di sisi lain pemerintah juga harus memberikan lapangan ker­ja bagi mereka yang diwajibkan mengikuti pendidikan.

Hakikat pendidikan

Hakikat pendidikan bukan un­tuk menjadikan masyarakat tidak berdaya dan hanya menggantungkan dirinya kepada peme­rintah (social security), tetapi me-rupakan pemberdayaan masya­rakat untuk meningkatkan taraf hidup. Pendidikan wajib saja belum menjamin adanya pember­dayaan masyarakat. Yang diperlukan adaiah pendidikan wajib bermutu. Jika masyarakat ber­daya, pemerintah akan terbantu. Bagaimana memulai pendidikan wajib bermutu?

Last Updated on Monday, 27 February 2012 06:18 Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 5

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,788
  • Sedang Online 138
  • Anggota Terakhir Robertrab

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9091401
DSCF8794.jpg

Kalender & Agenda

November 2018
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC