.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 8 SEPTEMBER 2008

       

      Shenzhen

      Ini cerita lain soal kesulitan berbahasa yang dihadapi oleh siswa kita. Ketika mengantar para siswa Sekolah Sukma Bangsa ke Shenzhen, China, untuk mengikuti Asia Pacific Youth Art Festival hampir setahun yang lalu, Edu teringat betapa anak-anak kesulitan dalam mengisi ragam dan bentuk dokumen keimigrasian. Dengan riang gembira mereka bilang bahwa kata cus­tom berarti seragam, dan mereka memenuhi syarat untuk pergi ke luar negeri karena me­reka menggunakan pakaian seragam.

      Edu tersenyum ketika memberi mereka pengertian tentang makna custom sebenarnya. Ketika sampai di Hong Kong, seorang siswa bernama Ita Zahara bertanya kepada Edu. "Pak, ham itu artinya pedas kan? Lihat Pak, banyak sekali tulisan ham di restoran Hong Kong ini." Rasa bahasa Ita Zahara memang sedang bermain, mencoba mengartikan bahasa dalam konteks lingkungannya. Meskipun salah, Edu tetap menghargai dan mengapresiasi keberanian Ita Zahara dalam mengartikan kata yang baru ditemuinya itu. Sepenggal kisah perjalanan anak-anak Se­kolah Sukma Bangsa setahun lalu itu selalu menggelayuti benak pikiran Edu. Betapa tidak, perjalanan itu adalah perjalanan bersejarah di bulan baik bagi anak-anak yang baik. Anak-anak Sukma Bangsa tahun pertama adalah emosi para pengelolanya. Mereka sangat membanggakan begitu diberikan kepercayaan untuk mengikuti sebuah event internasional seperti AYAF, dan berhasil memukau audiens di Shenzhen dengan pesan yang kuat: silakan bergembira, tetapi jangan lupa bahwa kegembiraan selalu datang setelah kita mengalami perasaan sedih, duka cita, dan mimpi buruk. Anak-anak korban tsuna­mi, korban konflik, yatim piatu, dan fakir miskin mencoba merajut kembali mimpinya melalui sekolah Sukma Bangsa yang memberi mereka harapan tentang masa depan.

       

      Dengan modal tradisi keagamaan yang cukup, anak-anak Sekolah Sukma Bangsa seperti sedang menjajaki salah satu hadis Nabi yang populer, "uthlubu al-ilma walau hi alsiin, tuntutlah ilmu hingga ke negeri China. Dalam perjalanan ke Shenzen tak terhitung berapa kali mereka mengalami gegar budaya. Keluar dari Aceh adalah kali pertama bagi anak-anak untuk mengenali lingkungan lain. Belum lagi ketika naik ke dalam pesawat, sampai di Jakar­ta, bermalam di hotel berbintang, tahu bagaimana sebuah studio televisi beroperasi, dan perjalanan ke Shenzhen yang menyenangkan adalah contoh bagaimana anak-anak dengan tingkat pengalaman yang traumatis sekalipun dapat mengatasi persoalan gegar budaya yang pernah mereka alami. Edu mencatat bahwa perjalanan tersebut benar-benar menghapus perasaan traumatis anak-anak dengan masing-masing dukanya. Lingkungan yang kondusif dan positif untuk belajar adalah kata kuncinya. Hal ini hanya bisa didapati ketika para guru dan orang tua tahu bagaimana caranya berbagi dan memilihkan mereka sekolah yang me­menuhi kriteria kondusif dan positif itu.

      Kisah sukses perjalanan anak-anak Sukma Bangsa ke Shenzhen yang berhasil memperoleh Golden Award setahun lalu menyisakari banyak kesan dan pengalaman. Seorang siswi asal Banda Aceh bernama Risty berterus terang sukar menghapus kenangan indah per­jalanan tersebut dari benaknya. Apalagi ke­tika mereka berhasil meraih simpati para mahasiswa Universitas Shenzhen yang meminta mereka menampilkan tari dan kesenian Aceh. Edu bertanya kepada Risty, kenapa justru penampilan di Universitas Shenzhen yang paling berkesan buatnya. Jawaban Risty sungguh di luar dugaan Edu. Menurut Risty, fakta bahwa begitu banyak mahasiswa Shenzhen mempelajari bahasa asing sangat menggugah batinnya untuk memperdalam ilmu bahasa secara sungguh-sungguh. Risty tak menyangka bahwa mempelajari bahasa ternyata mempunyai landasan teologis yang sesuai dengan rasa keacehan dan keagamaan dirinya. Ba­gaimana ceritanya?

      Rupanya Risty berkenalan dengan seorang mahasiswa bernama Chen Kwa yang mengaku baru tiga bulan mempelajari bahasa Indo­nesia. Menurut Chen, ketika seseorang mem­pelajari suatu bahasa asing, dia tak pernah bisa menjawab pertanyaannya sendiri tentang siapa sebenarnya orang pertama yang menerjemahkan kata atau kalimat tertentu dalam bahasa China seperti kamsia atau xie-xie menjadi terima kasih ke dalam bahasa Indonesia. Chen tak mendapati buku ataupun catatan antropologis yang menyebutkan orang perta­ma yang melakukan proses penerjemahan tersebut.

      Bagi Chen, hanya Tuhan sajalah yang mampu menuntun seseorang memahami suatu makna dalam suatu bahasa melalui idiom atman dan anatta atau roh setiap diri manusia. Bahasa merupakan bentuk paling sahih dari kebesaran dan keberadaan Tuhan.

      (Ahmad Baedowi)

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 07:10  

      Items details

      • Hits: 875 clicks
      • Average hits: 10.8 clicks / month
      • Number of words: 1219
      • Number of characters: 9299
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 150
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091491
      DSCF8754.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC