.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Kompas 09 September 2009

      Setelah Garis Kemiskinan Sajogyo

      Seusai memperoleh penghargaan sebagai cendekiawan berkomitmen dari harian Kom­pas tahun 2008, pada pertengahan tahun ini Sajog­yo kembali dianugerahi Achmad Bakrie Award dalam pemikiran sosial. Penghargaan dipersembahkan atas karya monumentalnya, yaitu garis kemiskinan Sajogyo.Garis kemiskinan itu digunakan secara luas sejak tahun 1977, sebelum akhirnya pemerintah secara resmi menggunakan garis kemiskinan Badan Pusat Statistik (EPS) mulai tahun 1984.

      Namun, kelebihan karya Sa­jogyo yang hingga kini tetap diakui ialah kepraktisan penggunaannya untuk kehidupan sehari-hari. Seorang petani gurem dengan mudah menyatakan dirinya miskin saat tidak mampu makan lebih dari sekali dalam sehari.Meski memiliki sejarah emas, tidak banyak yang menyadari se­cara mendalam kelebihan garis kemiskinan Sajogyo ini. Konsekuensinya amat jauh sehingga sampai tiga dekade pun belum ada pihak yang (mampu) merevitalisasi garis kemiskinan tersebut.

      Garis Sajogyo

      Setelah melakukan survei gizi dan pangan rumah tangga pada awal 1970-an, Sajogyo menemukan artikel pengukuran garis ke­miskinan berbasis gizi dari Schikele. Di kemudian dari survei gizi itu merekomendasikan program monumental taman gizi dan usaha peningkatan gizi keluarga. Dan ide Schikele dioperasionalkan ke dalam garis kemiskinan Sajogyo.

      Dari sejarah kelahiran terlihat kaitan erat antara nilai gizi terendah dan. garis kemiskinan. Nilai gizi minimal setara 2.100 Kkal per orang dalam sehari berlaku untuk penduduk Indonesia menurut susunan umur, jenis ke-lamin, perkiraan tingkat kegiatan (fisik), berat badan, dan perkira­an status fisiologis. Yang penting diperhatikan, pada saat data dikumpulkan lebih luas daripada satuan rumah tang­ga, maka ciri-ciri kebutuhan gizi manusia Indonesia semakin menjauh. Simpangan datanya menurun hingga dua deviasi standar sehingga masih bisa ditoleransi hingga 1.900 Kkal per orang per hari.

      Adapun proses pengumpulan data gizi dengan menggunakan pendekatan ingatan (recall) sering kali terlapor lebih rendah (under reporting) hingga 20 persen. Atas dasar pengalaman ini, maka garis kemiskinan terbawah dapat ditoleransi hingga 1.700 Kkal per orang per hari.

      Dengan memerhatikan peng­alaman lapangan ini, garis ke­miskinan Sajogyo menjadi lebih relevan bagi warga miskin di In­donesia. Misalnya, jika dibandingkan dengan (hanya satu) ga­ris kemiskinan EPS senilai 2.100 Kkal per orang per hari, yang melebihi kebutuhan minimal gizi dan pangan nil.

      Tiga garis

      Lain pula dari pendirian EPS, Sajogyo perlu menyusun garis kemiskinan lebih dari satu agar kian tajam mengukur kemajuan golongan bawah. Dirumuskannya garis melarat (destitute), miskin sekali (very poof), dan miskin (poor).

      Berdasarkan nilai tukar beras, dibedakan pula garis kemiskinan pedesaan dan perkotaan. Di desa dipancang garis 180 kg, 240 kg, dan 320 kg setara beras per orang per tahun. Untuk kota nilainya 270 kg, 360 kg, dan 480 kg setara beras per orang per tahun.

      Setelah ditemukan hubungan regresif antara pengeluaran ru­mah tangga dan pangan, sejak tahun 1979 garis terbawah dihilangkan. Dan garis "miskin sekali" diganti menjadi "nyaris miskin" yang setara dengan data 1.700 Kkal per orang per hari (harap di-mark up 20 persen). Artinya, garis nyaris miskin berfungsi sebagai lampu merah karena di bawah garis itu pastilah tidak mencukupi untuk hidup.

      Untuk mengoperasionalkan garis kemiskinan, nilai kalori di-konversi ke nilai rupiah. Dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), misalnya, Sajogyo me-nemukan bagi golongan miskin tahun 1976 nilainya Rp 32,16 per 1.000 Kkal, kemudian meningkat menjadi Rp 77,15 per 1.000 Kkal pada tahun 1984. Inilah inflasi riil bagi orang miskin.

      Demi kepraktisan, nilai rupiah bagi kalori lalu dipertukarkan de­ngan nilai beras. Beras mudah dipahami sebagai sumber kalori dan harganya tidak fluktuatif. Sajogyo lebih memercayai rekaman harga beras dalam Suse­nas daripada rata-rata harga beras di pasar yang pernah diacu EPS. Susenas lebih masuk akal di mana harga beras di pedesaan lebih rendah daripada di perko­taan.

      Setelah garis kemiskinan

      Saat ini seluruh konsep garis kemiskinan, baik dari Sajogyo, EPS, maupun konsultan asing, habis dikritik karena tidak mem-beri alamat pasti, di manakah penduduk miskin dapat ditemu­kan. Sebagai gantinya dikem-bangkan sensus rumah tangga miskin yang mengandung data nama sekaligus  alamat rumah mereka.

      Namun, sensus segera menuai kritik tajam lantaran tokoh masyarakat cenderung memasukkan sebanyak mungkin warganya agar turut mencicipi kue pembangunan.

      Sajogyo sendiri sejak awal me­nyadari bahwa penemuan aspek kuantitatif barulah tahap awal pendalaman pengetahuan kemis­kinan di Indonesia. Untuk memutakhirkan garis kemiskinan Sajogyo, kita cukup menghitung "Rupiah Kkal per orang per hari dalam periode lima tahunan. Setelah garis kemiskinan ditemukan, yang lebih dibutuhkan ialah studi kualitatif guna menggali jeratan akar struktur kemis­kinan. Penemuan beragam di­agram sebab-akibat kemiskinan di setiap daerah menjadi pisau yang lebih tajam guna memotong akar kemiskinan Indonesia.

      IVANOVICH AGUSTA

      Dosen Sosiologi Kemiskinan

      dan Pemberdayaan Sosial,

      Sekolah Pascasarjana IPB,

      Bogor

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 1656 clicks
      • Average hits: 21 clicks / month
      • Number of words: 2828
      • Number of characters: 24022
      • Created 6 years and 7 months ago at Saturday, 21 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 160
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091307
      DSCF8754.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC