.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS 11-05-2008

       

      Setahun Setelah Kesaksian Itu

      Bibir mereka belum juga kelu. Setelah setahun lalu melakukannya, para guru muda yang tergabung dalam Komunitas Air Mata Guru kembali mengungkap kecurangan ujian nasional 2008.

      Tahun lalu, mereka menyaksikan kecurangan UN dengan kasatmata saat bertugas sebagai pengawas. Kesaksian jujur para guru berbalas kenyataan pahit Alih-alih disebut pahlawan, mereka malah menjadi pecundang. Sebanyak 12 guru diberhentikan dari tempat mereka mengajar dan 15 guru dikurangi jam kerjanya.

      Kini nasib mereka beragam. Dewan Pembina KAMG Denni Saragih mengatakan, untuk mewadahi guru yang diberhen­tikan, KAMG—dengan dana sendiri—mendirikan bimbingan belajar. Bimbingan belajar itu bernama C4 Solution (dibaca see for solution) itu cukup membantu guru yang kehilangan pendapatan.

      "Lembaga ini sementara bisa mempekerjakan 12 guru privat, tiga guru bimbingan, dan seorang pegawai kantor," kata Denni. Sayangnya, hingga kini biaya operasional lembaga itu masih belum sebanding dengan pendapatan para guru. Mereka yang kehilangan banyak jam mengajar sebagian masih bertahan di sekolahnya. Sebagian yang lain memutuskan pindah sekolah karena tidak tahan perlakuan rekan kerja yang menganggap mereka "musuh dalam selimut".

      Hal itu yang dilakukan Rohani Sirait, guru SMA Teladan Sumatera Utara, yang memutuskan keluar dari sekolahnya. Pasca pengungkapan kecurangan UN, pihak sekolah hanya memberikan kesempatan Rohani mengajar 21 jam setiap minggu. Sebelum melaporkan kecurangan UN, dia merupakan guru favorit yang mengajar di kelas favorit selama 40 jam per minggu. Kini Rohani mengajar tenpa sekolah, dia mengajar les privat dengan pendapatan yang tidak pasti.

      Patar Tambunan, guru Sekolah Menengah Negeri (SMAN) 17 Medan, tetap saja berstatus sebagai guru piket. Dia sudan mengajar dua tahun di sekolah itu, tetapi tetap belum mendapat jam mengajar. Meski begitu, dia malah mendapat gelar baru sebagai guru piket teladan lantaran rajin hadir di sekolah. Neni W Tarigan yang sebelumnya mengajar di SMA Nasrani 3 Medan harus pindah mengajar karena pihak yayasan tidak melanjutkan kontrak. Kini Neni mengajar di SMA Harapan Bangsa Medan.

      Tak Menyesal

      Tidak ada yang menyesal de­ngan kesaksian tahun silam. Mereka tahu, kejujuran tak selamanya berbalas baik. Tahun ini pun mereka kembali melakukan hal yang sama. Meski banyak yang tak lagi menjadi pengawas, pengungkapan itu bisa mereka lakukan dengan membentuk tim investigasi independen. Hasil temuan itu telah mereka sampaikan ke Dinas Pendidikan Sumut.

      Kini mereka semakin percaya diri. Temuan kecurangan UN bu-kan saja dari mereka, melainkan juga dari kepolisian. Tertangkapnya para guru di SMA 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang, oleh polisi menguatkan temuan mereka selama ini: kecurangan UN memang ada. "Saya tidak menyesal, biarlah semua terbuka dengan sendirinya nanti," tutur Rohani yang juga lulusan FMIPA Universitas Negeri Medan (Unimed).

      Rohani bertekad tetap akan meneruskan sikapnya sampai ada perubahan dari pemerintah. Begitupun dengan sikap para guru lain dalam KAMG. Mereka yang masih berusia rata-rata tidak lebih dari 35 tahun itu sudah tidak tahan melihat kecurangan UN.

      Belakangan, perempuan lajang asal Porsea, Kabupaten Toba Samosir, itu meluangkan waktunya pada sore hari di markas KAMG di Jalan Sei Merah Nomor 6, Medan. Di rumah kontrakan itu, dia bersama guru lain berkoordinasi memantau jalannya UN. Mereka satu kata bahwa ada yang salah dalam pendidikan kita selama ini.

      Sekolah Untuk Belajar

      SeKoIah" seb'agai tempat belajar lambat laun semakin luntur. Semangat belajar siswa menurun. Dia sendiri mengaku ke-sulitan menghadapi siswa belakangan. Keinginan siswa, tutur dia, cenderung pragmatis. Mereka hanya akan belajar pada saat ujian akan berlangsung. Mereka ingin tahu bagaimana kiat agar lolos UN. Kondisi ini terjadi lantaran UN menjadi syarat mutlak kelulusan siswa,yang melemahkan otonomi sekolah.

      Lama-lama sekolah hanya menjadi tempat ujian, bukan untuk belajar. Padahal, sekolah mestinya tempat untuk belajar., Kenyataannya, siswa lebih ingin lolos menghadapi ujiani daripada menerima materi pelajaran gurunya," katanya.

      Pemahaman itu tertanam baik di benak para guru muda itu. Denni paham gejolak kawan-kawannya hingga akhirriya me­reka meneteskan air mata saat diskusi pendidikan. Kejadian itu kemudian mengilhami pendirian Komunitas Air Mata Guru. Usaha keras guru selama proses belajar, kata dia, sepertinya tak berarti apa-apa pada tahun terakhir belajar siswa.

      "Semua proses belajar hanya bertumpuk pada satu tahun terakhir. Mereka berkonsentrasi menghadapi ujian yang me-nentukan kelulusan," katanya. Mestinya proses belajar dinilai mulai dari awal sekolah sampai akhir. Model seperti ini menuntut peningkatan kompetensi guru. Lantaran itu, pe-kerjaan rumah terbesar dunia pendidikan saat ini adalah meningkatkan kualitas pendidik. Kepintaran siswa tidak bisa diukur jika hanya menggelar UN, sementara kualitas guru dan sarana masih jauh berbeda antara sekolah satu dan lainnya.

      Jerit hati para guru itu juga dirasakan Eka, siswa SMAN 2 Lubuk Pakam, Deli Serdang. Dia memahami kemampuan siswa satu daerah dengan daerah lain berbeda karena faktor guru dan sarana. Dia meminta pemerintah meninjau ulang UN. Lantaran UN, guru-gurunya terpaksa membantu siswa menjawab soal ujian yang dinilai terlalu sulit “Kalau_begini, apa gunanya kami belajar tiga tahun," katanya

      Para perrufnpin: "dengar kata-kata siswa itu!

      (ANDY RIZA HIDAYAT)

       

       

      Comments
      Kim  - Re     |2012-04-02 08:36:02
      Great article..keep up the good work.
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:34  

      Items details

      • Hits: 1239 clicks
      • Average hits: 15.3 clicks / month
      • Number of words: 2014
      • Number of characters: 16845
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 101
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091241
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC