.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      STRATEGI INDUK KAMPANYE NASIONAL " INDONESIA MEMBACA "
      Page 2
      Page 3
      Page 4
      Page 5
      Page 6
      All Pages

      STRATEGI INDUK KAMPANYE NASIONAL

      " INDONESIA MEMBACA "

      Oleh :

      Firdaus Oemar

       

      lngin selamat di dunia, milikilah ILMU,

      lngin selamat di akhirat milikilah ILMU,

      lngin selamat di dunia dan di akhirat, milikilah ILMU.

      ILMU ada dalam BUKU, MEMBACA………KUNCl-nya

      Buku dapat berperan sebagai sarana pembangunan manusia Indonesia seutuh- nya dalam peri kehidupan kebangsaan yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Karena itu adalah kewajiban kita semua untuk meningkatkan peran buku sebagai sarana mencerdaskan dan mensejahterakan masyarakat Indonesia. 

      Kegiatan gemar membaca perlu mendapat dukungan semua pihak karena program tersebut dalam rangka membina kader-kader bangsa yang berkualitas, beriman dan bertaqwa, berbudi luhur, berkepribadian, mandiri, maju, tangguh, cerdas, kreatif, terampil, berdisiplin, beretos kerja, professional, bertanggung jawab dan produktif, serta sehat lahir batin. Salah satu upaya untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan. menimba ilmu dari buku serta meningkatkan kegemaran membaca. 

      Bangsa Indonesia telah menjadikan bulan Mei sebagai bulan Buku Nasional serta Bulan September sebagai bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustaka- an, yang telah dicanangkan oleh Presiden R.l. pada tahun 1995. Dalam kegiatan- nya kedua peristiwa itu saling menopang satu sama lainnya, sebab kegemaran membaca sulit berkembang tanpa adanya bahan bacaan. 

      Dicanangkannya Bulan Buku Nasional serta Bulan Gemar Membaca dan Hari Kunjung Perpustakaan, Pemerintah bermaksud untuk membangkitkan minat baca masyarakat, karena disadari bahwa minat baca bangsa Indonesia masih perlu ditingkatkan apabila dibandingkan dengan minat baca bangsa di beberapa negara lain di Asia. Apabila bangsa Indonesia sudah memiliki kegemaran membaca niscaya akan menjadikan membaca sebagai kebutuhan, sehingga industri per- bukuan di Indonesia akan lebih maju dan berkembang. Dengan bangkitnya bangsa Indonesia dari budaya lisan menjadi budaya membaca akan timbul kesadaran betapa pentingnya arti membaca selain akan memiliki keluasan pengetahuan juga akan mengantar bangsa Indonesia dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain yang sudah maju. 

      Pernah dilangsungkan pencanangan ”Gerakan Membaca Nasional" pada tahun 2003 oleh Presiden R.l, tetapi tidak diimplementasikan di lapangan, sehingga setelah acara bubar, selesailah pencanangan itu, tapi masyarakat tidak bisa mengambil manfaat. 

      Pemerintah Republik Indonesia periode 2005 - 2009 dibawah pimpinan Presiden R.I Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden R.I. Muhammad Yusuf Kalla, diharapkan punya kepedulian terhadap minat baca bangsa, karenanya diharapkan dalam masa kepemimpinannya terdapat bukti keberpihakan dan kepedulian pemerintah terhadap budaya baca bangsa, kita semua butuh perubahan........ 'Bersama kita maju'. 

       

      Kondisi Objektif

      Ada beberapa kondisi yang menjadi dasar pertimbangan mengapa masalah kampanye nasional untuk membangkitkan minat baca perlu diselenggarakan:

      Pertama,  HDI (Human Development Index) Indonesia termasuk nomor urut 110 untuk tingkat dunia. Sementara negara Thailand no 70, Malaysia 59, Philipina 77, Cina 96, dan Vietnam 109, dibanding 177 negara di dunia. Jelas sekali bahwa kita masih sangat jauh tertinggal dari berbagai negara berkembang. ( Sumber UNDP).

      Kedua, sasaran pendidikan kita untuk umur 7 s/d 24 tahun adalah 78.203.400 orang..Yang terlaksana terdidik sebanyak 39.770.490, yang masih harus ditingkatkan pendidikannya (yang tidak terlayani oleh pemerintah) 38.432.910 orang, artinya 49,14%. Jumlah untuk umur 0 - 6 tahun, dari jumlah 104.376.163 anak, terlayani 46.929.690 anak, dan yang belum terlayani 57.446.473 anak atau 55,04%. Ini semua menjadi lahan bagi masyarakat untuk turut mengatasi problem pendidikan di Indonesia umumnya, khususnya di Sumatera Barat. (Sumber data dari Balitbang Diknas).

      Ketiga, keadaan anak dini usia yang memerlukan perhatian kita bersama ada 26,17 juta anak. Yang terlayani baru 7,16 juta anak, jadi 19,01 juta anak atau 72,64% masih memerlukan perhatian masyarakat. ( data dari Balitbang Diknas ).

      Keempat, penduduk BUTA AKSARA ada 200.000 orang (data 2003), Sebagian dari mereka ada di Sumatera Barat.

      Kelima, Masyarakat Perbukuan di Indonesia:a) naskah atau hasil karya cipta seseorang, agar dapat dinikmati dan dibaca oleh khalayak ramai, maka perlu dijadikan buku. Kumpulan (organisasi) dari para penulis/pengarang buku di Indonesia kita kenail dengan nama AKSARA dan WPI (Wanita Penulis Indonesia). b) buku berbahasa asing diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh seorang atau lebih penterjemah. Organisasi Penterjemah di Indonesia adalah HPI (Himpunan Penterjemah Indonesia). c) naskah oleh seorang penulis dikirim ke sebuah penerbit untuk dapat diterbitkan menjadi buku. Penerbit di Indonesia berjumlah lebih dari 300 penerbit, yang terorganisir dalam IKAPI (Ikatan Penerbit Indonesia). d) naskah setelah diedit oleh editor diserahkan ke sebuah percetakan untuk dijadikan buku. Organisasi percetakan dinamakan PPGI (Perhimpunan Pengusaha Grafika Indonesia).e) setelah dicetak menjadi buku, maka penerbit mendistribusikan dan menjual buku-buku tersebut kepada toko buku atau agen. Ikatan para pengusaha Toko Buku dinamakan GATBI (Gabungan Toko Buku Indonesia). f) di toko buku u masyarakat dapat membeli buku-buku sesuai dengan kebutuhannya. BUKU juga dapat dibaca dan dipinjam di prpustakaan . Organisasi Pustakawan di Indonesia kita kenail IPI (Ikatan Pustakawan Indonesia) dan KPI (Klub Pustakawan Indonesia). g) dalam masyarakat dikenal berbagai organisasi yang peduli pada minat baca masyarakat. Antara lain, Dewan Buku Nasionl, JENDELA DUNIA. PMGM (Perhimpunan Masyarakat Gemar Membaca), GPMB (Gerakan Pemasyarakatan Minat Baca), MGM ( Masyarakat Gemar Membaca), Kelompok Cinta Baca, Rumah Buku, TBM-TBM dan lain-lain.


      Enam, masalah minat baca. Masalah minat baca bangsa Indonesia sering dikatakan belum ada minat baca. Padahal jumlah anak didik usia SD – Universitas ada 78.203.400 anak/pelajar, diluar anak usia dini sebanyak 26.172.76 anak. Bukankah mereka sudah mempergunakan Buku di seluruh jenjang pendidikannya?. Mustahil mereka tidak membaca buku. Yang mungkin adalah sebagian besar dari para pelajar itu, lebih membaca buku pelajaran ketimbang buku bacaan dan buku-buku pengetahuan umum lainnya. Artinya kebiasaan membaca buku bacaan harus ditumbuhkan, agar budaya baca bisa tumbuh dikalangan para pelajar Indonesia.

      Minat Baca sering dikaitkan kepada harga buku yang dianggap tinggi?. Padahal kalau kita perhatikan harga buku-buku di Indonesia jauh lebih murah dibanding negara-negara lainnya termasuk negara tetangga kita Malaysia. Kalau begitu adalah buku belum dianggap sebagai "bahan pokok yang ke 10" yang diperlukan dalam mengisi arti kehidupan?. Atau daya beli masyarakat yang tidak ada, karena mereka berpenghasilan rendah. Jangankan untuk membeli buku, untuk mengatasi kebutuhan hidup yang utama (sandang, papan, dan pangan) saja belum mencukupi.

      Minat Baca sering dikaitkan dengan mutu buku. Padahal buku-buku terjemahan, buku-buku berbahasa asing pun saat ini telah banyak beredar di Indonesia. Kalau dulu memang penerbitan buku di Indonesia hanya 5.000 judul per tahun, tapi saat sekarang ini telah hampir 10.000 judul per tahun.

      Kita menyadari bahwa kurikulum kita sudah sarat dengan berbagai mata pelajaran. Tapi mengapa Departemen Pendidikan tidak mewajibkan kepada "murid" untuk membaca satu buku saja dalam satu minggu, dan si murid diminta untuk menuliskan sinopsis dari buku yang dibacanya. Hal ini dilakukan di Malaysia beberapa tahun lalu, sehingga satu anak dalam satu tahun harus membaca 54 buku bacaan. Akibatnya bukan mustahil penulis remaja akan tumbuh dimasa yang akan datang.

      Ketujuh, permasalahan penerbit buku di Indonesia. Penerbit menghadapi kesulitan penjualan. Oplag sebuah buku untuk mencapai "break event" adalah 3.000 exemplar untuk hitam putih, dan 5.000 exemplar untuk buku-buku berwarna. Sementara penerbit menghadapi kendala dalam hal menjual bukunya. Hanya beberapa judul buku yang laris dijual per tahun lebih dari 3.000 exemplar, sementara , sering terjadi menjual 1.000 buku saja per tahun belum tentu laku.

      Penerbit menghadapi kesulitan permodalan. Pada saat ini penerbit tidak bisa menjaminkan stok buku sebagai agunan bila penerbit meminjam ke bank. Perhatian dari pihak bank untuk membrikan kredit tanpa agunan belum ada. Kita mendengar ada UKM (Usaha Kecil Menengah), yang konon pemerintah meminta pihak bank agar pinjaman lunak tanpa agunan dapat diberlakukan. Tapi apakah penerbit bisa mendapat kesempatan?. Pemberian kredit kepada penerbit, bukan berdasarkan SPK (Surat Perintah Kerja) dari pemerintah, karena penerbit menjual buku langsung ke konsumen lewat toko buku.

      Untuk memperkenalkan buku kepada masyarakat adalah melalui toko buku, sementara di Indonesia hanya di ibu-kota propinsi yang ada toko buku yang besar, sementara di kabupaten/kota apalagi di kecamatan belum ada toko buku. Bagaimana masyarakat dapat mengetahui informasi buku baru dan bisa membeli buku.

      Jarak yang jauh dari Jakarta sebagai pusat buku pada seluruh propinsi, membuat harga ongkos kirim sangat tinggi, berujung harga buku di luar propinsi lebih mahal.

      Pemerintah membeli buku bacaan sekali setahun itupun tidak semua judul buku yang dibeli, sementara hampir setiap hari judul buku baru terbit dari berbagai penerbit. Artinya agar masyarakat tidak ketinggalan untuk mendapatkan buku baru, apakah tidak sebaiknya pembelian buku oleh pemerintah dilakukan dua atau tiga kali dalam setahun?.

      Kedelapan, masalah pameran buku. Pameran buku adalah salah satu cara mendekatkan buku kepada masyarakat. IKAPI Pusat dan IKAPI Jaya menyelenggarakan pameran buku empat atau lima kali setahun di Jakarta. Sementara di Bandung satu kali setahun, di Surabaya satu kali setahun.  

      Indonesia yang terdiri dari 32 propinsi, 470 kabupaten, di luar ketiga kota tersebut hampir dipastikan tidak pernah menyelenggarakan pameran buku. Bagaimana masyarakat akan tertarik untuk membaca buku, untuk mengetahui buku baru saja mereka tidak pernah tahu. 

      Luasnya daerah yang harus dijangkau. Tidak adanya tempat luas untuk berpameran. Tidak adanya tenaga ahli untuk menyelenggarakan pameran. Semua itu telah membuat minat baca bangsa Indonesia diurutan terbawah dari deretan bangsa-­bangsa dunia.  

      Penduduk Indonesia yang 220 juta jiwa tersebar di 32 propinsi, 470 Kabupaten/Kota, 4.000 Kecamatan, dan 70.000 desa, adalah warga masyarakat yang harus dipacu kecerdasannya, untuk dapat ditingkatkan kualitas kehidupannya, agar dapat bersaing di era globalisasi dan mampu mencapai target dalam Millenium Development Goal 2015, menjadi bangsa yang diperhitungkan oleh bangsa-bangsa di dunia.


      Kesembilan, masalah perpustakaan. Sebenarnya pemerintah melalui proyek Inpres sejak tahun 1975 telah mengadakan pembelian buku bacaan untuk tingkat SD/SLTP/SLTA. Untuk tingkat SD dalam rangka menggalakan Perpustakaan Sekolah yang berjumlah 165.000 sekolah itu, setiap tahun membeli 200 judul buku. Sehingga kalaulah benar dikelola dengan baik, tentu saat ini masing-­masing SD sudah mempunyai koleksi sebanyak 6.000 judul. Pertanyaan timbul, jangankan setiap sekolah punya koleksi 6.000 judul, punya Perpustakaan saja di sekolahnya masih jadi pertanyaan besar. Karena fakta di lapangan, ribuan sekolah yang tidak memiliki Perpustakaan.

      Banyak yang menyalahkan karena tidak ada yang mengelola perpustakaan sekolah. Ada pula yang mengatakan murid-murid malas untuk membaca buku-buku yang sudah "kuno" dan dekil. Atau juga tidak ada sarana yang baik, tidak ada bangku atau lemari buku, sehingga buku sering hanya terletak dalam dos atau di rumah kepala sekolahnya saja.

       Perpustakaan umum hanya dimiliki satu di propinsi dan belum tentu ada di tingkat kabupaten/kota. Dapat dibayangkan jauhnya letak perpustakaan dari lingkungan masyarakat, sehingga pengunjung perpustakaan dapat dihitung dengan jari?

      Kita mengetahui di Indonesia ada 600.000 mesjid, mushola, dan langgar. Padahal kalaulah Departemen Agama bertekad menjadikan mesjid bukan hanya sebagai tempat "beribadah" semata, tapi juga menjadi "tempat menambah ilmu", maka kehadiran perpustakaan mesjid dapat diwujudkan. Kita juga mengetahui bahwa Departemen Agama setiap tahun mempunyai "uang lebih" dari adanya peserta jemaah haji. Mengapa tidak "sisa uang" itu sebagian besar jadikan untuk perpustakaan mesjid.

      Kesepuluh,  permasalahan Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Prasarana TBM banyak yang tidak layak/memadai dan ditata secara tidak baik pula, koleksinya tidak ada yang menarik (buku-buku terbitan lama), sehingga berdampak pada rendahnya keinginan masyarakat untuk memanfaatkan TBM sebagai tempat menambah ilmu.

      Tidak adanya pengelola TBM Mereka diminta untuk cuma-cuma tidak dibayar. Letak TBM jauh dari jangkauan masyarakat (rumah penduduk).

      Pemerintah daerah, belum sepenuhnya menggalakan TBM. Disamping masyarakat belum diajak serta berpartisipasi atau mereka tidak hirau, dengan alasan memikirkan untuk keluarganya saja sudah susah, bagaimana mungkin memikirkan untuk orang lain.

      Kesebelas, permasalahan masyarakat. Masyarakat masih disibuki dengan mengurus kebutuhan hidup keluarganya, sehingga seluruh potensi keluarga lebih difokuskan kepada mencari sesuap nasi, daripada belajar di TBM.

       Belum adanya Tutor/Penyuluh/Pengelola TBM, disamping masyarakat tidak mengerti bagaimana harus melaksanakan program TBM tersebut.

      Belum terpanggilnya nurani masyarakat tentang pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Begitu juga kehadiran BUMN di daerahnya belum dapat dioptimalkan kepeduliannya terhadap pendidikan masyarakat di sekitarnya.

      Keduabelas, perhatian Pemerintah Pusat dan Daerah. Perhatian Kepala Daerah baik yang di propinsi maupun kabupaten/kota terasakan belum memadai, seakan-akan suksesnya seorang bupati atau kepala daerah lebih sering diartikan dengan pembangunan fisik (hadirnya jalan raya,dan pembangunan pasar, kantor dan lain-lain), sehingga pembangunan mental dan spiritual dan menggali potensi masyarakatnya ternomor duakan.

      Pemerintah Pusat dikarenakan anggaran yang kurang (-20%)  sehingga urusan "buku" atau "baca" seakan dijadikan nomor dua saja. Padahal sebenarnya kalau saja ada political will dari Pemerintah, sebenarnya masalah Minat Baca, Perpustakaan, perbukuan bisa diatasi secara bersama-sama dengan masyarakat. Artinya Pemerintah menjadi katalisator untuk memajukan dunia pendidikan (dalam hal ini minat baca, buku dan perpustakaan ). 

      Membaca masalah minat baca dan masyarakat perbukuan, seperti yang kami sampaikan diatas tampak bagaikan "benang kusut". Dan kalau ada kehendaik untuk memperbaiki- nya, timbul pertanyaan "Dari mana hendak memulainya?", atau bagaikan "Telur dan Ayam?". 



      Untuk Apa ?

      Dunia sudah mencanangkan Millenium Development Goal 2015. Ada 8 "goals" yang diharapkan dapat dicapai dalam MDG 2015 tesebut. Antara lain: Kesejahteraan, Pendidikan, Kesehatan, Kesetaraan, Lingkungan, dan Kemitraan Global.  

      Menyelenggarakan "Kampanye Nasional Indoneisa Membaca” harus serentak diimplementasikan di seluruh Indonesia, oleh Pemerintah, Pengusaha/BUMN, masyarakat perbukuan dan masyarakat secara serentak berkesinambungan di seluruh Indonesia menggalakan hadirnya:

      a.     Perpustakaan keluarga

      b.     Perpustakaan masyarakat

      c.     Perpustakaan desa

      d.     Perpustakaan kecamatan

      e.     Perpustakaan kabupaten/kota

      f.      Perpustakaan keliling

      g.     Perpustakaan sekolah ( SD/MI/SLTP/MTS/SLTA/MA)

      h.     Perpustakaan perguruan tinggi

      i.      Perpustakaan  rumah ibadah/masjid, dll.

       

      Kampanye Nasional Indonesia Membaca ini harus serentak melibatkan masyarakat dengan berbagai lomba-lomba :

      a.      Lomba PUTRI & PANGERAN BUKU (Tingkat SD/SLTP/SLTA)

      b.      Lomba RAJA & RATU BUKU ( Tingkat Perguruan Tinggi ).

      c.      Lomba "KELUARGA MEMBACA".

      d.      Lomba PERPUSTAKAAN KELUARGA

      e.      Lomba PUSTAKAWAN TELADAN

      f.       Lomba PENGUNJUNG PERPUSTAKAAN TELADAN. 

      Kampanye Nasional Indonesia Membaca ini dibarengi dengan program pameran buku serentak di seluruh Indonesia, melalui “mobil buku multifungsi.”

      Itu semua kita lakukan dengan tujuan agar tahun 2015 Bangsa Indonesia bebas buta huruf, meningkatkan kualitas bangsa, dan mensukseskan program MDG 2015.

       

      Solusi Tentang Minat Baca Bangsa

      a.  Hidupkan kembali Perpustakaan Sekolah, dengan program "Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah dalam Proses Belajar Mengajar”. Biasakan agar murid diberi tugas membaca buku di perpustakaan sekolah (bila tidak ada, buku disimpan di lemari kelas saja) sebelum guru menjelaskan materi pelajarannya. Hal ini akan menghadirkan "siswa dan guru aktif"

      b.  Tugaskan murid untuk membaca 1 buku dalam satu minggu, kemudian diminta kepadanya untuk menulis sinopsis atas buku yang dibacanya. Hal ini akan menghadirkan penulis/peneliti muda

      c.  Beri kesempatan kepada guru yang mau menjadi pengelola Perpustakaan Sekolah agar mereka mendapat tambahan honorarium. Beri pelatihan singkat bagaimana mengelola perpustakaan sekolah. Hal ini akan menghadirkan pustakawan-pustakawan.

      d.  Setiap tahun adakan Lomba Putri dan Pangeran Bukuuntuk pelajar SD/SLTP/SLTA, dan Raja dan Ratu Buku untuk tingkat mahasiswa. Dan untuk dewasa Keluarga Membaca dilombakan melalui TBM ( Taman Bacaan Masyarakat ) atau PKBM ( Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat).

      e.  Lomba Putri dan Pangeran Buku memperebutkan Piala Presiden Lontar Utama Nugraha untuk semua jenjang pendidikan SD/SLTP/SLTA. Lomba Raja dan Ratu Buku untuk tingkat Mahasiswa, dan Keluarga Membaca mungkin bisa dilaksanakan kerjasama BKKBN dan DEPDIKNAS.

      f.   Membaca bukan saja mencerdaskan kehidupan bangsa, juga dapat memperbaiki moral bangsa, dan juga menggali potensi bangsa, menjadi bangsa yang kreatif..

      g.  Membaca di rumah tahanan, melalui hadirnya perpustakaan rumah tahanan akan menghadirkan perbaikan moral, sehingga bila tahanan telah bebas kembali ke tengah-tengah masyarakat, dia tak perlu menjadi penjahat kembali, tapi mereka sudah terdidik, dengan keterampilan dari buku-buku yang dibacanya. Mereka bisa memulai "hidup baru" menjadi mandiri untuk mampu menghidupi dirinya dan keluarganya.

      h.  Puskesmas dilengkapi dengan Buku-buku Kesehatan Masyarakat, maka sambil masyarakat memeriksakan kesehatannya di Puskesmas, membaca buku dan informasi kesehatan, membuat masyarakat mengerti secara dini tentang berbagai kerawan penyakit. Dengan demikian hadir Perpustakaan Puskesmas.

      i.   Menghadirkan "donor buku" melalui gerakan "voucher buku” bekerjasama dengan bank/BUMN dan toko buku. Dimana misalnya melalui voucher buku, si dermawan menyumbangkan buku senilai Rp.1.000.000,- dan Voucher ini bisa dibawa ke toko buku dibelikan buku­-buku yang sesuai dengan kebutuhan si penerima voucher. Kalau saja gerakan " voucher buku” ini diawali oleh Presiden RI di Istana Negara dengan menggaet bank-bank membuka voucher buku”, dan meminta perhatian Pengusaha/BUMN untuk membeli voucher dan menyerahkan kepada Perpustakaan Sekolah/TBM dan lain-lain, maka gerakan seperti ini akan menjadikan Gerakan Indonesia Membaca.  



      Solusi Untuk Menghadirkan Toko Buku di Indonesia 

      1.  Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, 32 propinsi 470 kabupaten/kota, 4.000 kecamatan, 70.000 desa, memiliki 220 juta penduduk yang merupakan target untuk "dicerdaskan", maka bukanlah sebuah pekerjaan mudah.

      2.  Toko buku yang besar hanya ada di ibu kota propinsi saja, itupun belum seluruh propinsi memilikinya. Kalaupun ada toko buku kecil, manalah mungkin memajang ribuan judul buku di toko bukunya. Padahal "pajangan buku" adalah daya tarik untuk orang mau membeli dan membaca buku.

      3.  Penduduk yang tersebar, membuat toko buku sulit dijangkau dari rumah penduduk, dan karenanya ”Toko Buku Berjalan” bisa menjadi sebuah solusi untuk mengatasi kebutuhan akan kurangnya toko buku di Indonesia.

      4.  SMEA/Sekolah Kejuruan hampir 300 Sekolah tersebar di Indonesia. Dalam rangka meningkatkan kualitas anak didik dan kerja praktek, maka program Toko Buku Mobil dapat dikerjasamakan dengan SMEA tersebut.( Setiap SMEA diharapkan dapat memiliki/mengelola satu toko buku bergerak ).

      5.  Hadirkan kerjasama dengan bank dan perusahaan otomotif untuk memberikan kredit lunak dengan jaminan dari mobilnya itu sendiri.

      6.  Dengan ”Toko Buku Berjalan” ini si pemilik bisa memilih tempat dimana saja mereka mau berjualan. Program ini mendekatkan buku kepada masyarakat. 

       

      Solusi Menghadirkan Berbagai Jenis Perpustakaan 

      Pemberdayaan potensi perpustakaan dalam meningkatkan kualitas bangsa adalah visi dari Perpustakaan Nasional. Terselenggaranya perpustakaan dalam wadah sistem nasional yang layanannya menjangkau seluruh lapisan dan golongan masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya akan informasi dan bahan pustaka adalah misi dari perpustakaan. 

      Sesuai dengan visi dan misi tersebut, maka kehadiran perpustakaan adalah mutlak diperlukan. Dan kehadiran mobil buku multifungsi adalah mutlak diperlukan untuk menjangkau lapisan yang paling bawah, agar kualitas pendidikan masyarakat dapat ditingkatkan, sehingga hadirlah masyarakat yang cerdas, terampil dan mandiri. 

      Kondisi Objektif Keperpustakaan di Indonesia                               

      1.  Kurangnya dukungan pemerintah terhadap keberadaan perpustakaan.

      2.  Mobil Buku Keliling yang sekarang ada sudah banyak yang tidak layak pakai.

      3.  Masih rendahnya minat baca masyarakat

      4.  Keragaman Kelembagaan ditingkat Propinsi, Kabupaten/Kota.

      5.  Keterbatasan SDM dari segi kuantitas dan kualitas.

      6.  Terbatasnya jumlah sarana dan prasarana perpustakaan serta Taman Bacaan Masyarakat/Desa. Tidak semua desa memiliki Perpustakaan Desa, bahkan Perpustakaan Kelurahan dan Kecamatan.

      7.  Keterbatasan penerbit dan toko buku di daerah.

      8.  Pesatnya perkembangan teknologi informasi.

      9.  Distribusi buku tidak merata.

      10. Rendahnya daya beli masyarakat.

      11. Perpustakaan tidak memiliki pengelola yang tangkas, cerdas dan kreatif, terlebih bila dikaitkan dengan  pengetahuan tentang perpustakaan.   

      12.Tidak ada biaya bagi pengadaan sarana perpustakaan desa dan perpustakaan keliling baik untuk perlengkapannya (lemari, meja baca, dll ), maupun untuk koleksinya.

      13.Tidak adanya dana (honor) bagi penyelenggara perpustakaan, sehingga walaupun sudah disediakan tempatnya, sudah diisediakan koleksinya buku- nya, tapi karena tidak ada honor, maka timbul malas untuk mengelolanya.

      14. Informasi tentang buku baru tidak dimiliki, sehingga koleksinya tidak pernah bertambah. Koleksi yang hanya dibeli sekali saja, tidak dibina berkesinam- bungan membuat malasnya orang datang ke Perpustakaan Desa dan malas mengelola.

      15. Salah memilih lokasi perpustakaan sehingga masyarakat tidak mudah mendatangi tempat tersebut, dan informasi tentang kehadiran Perpustakaan Desa tidak tersosialisasikan dengan baik.

      16. Banyak terjadi bila perpustakaan diberikan sejumlah uang tunai, maka karena tidak adanya toko buku di daerah itu, maka mereka membeli buku seadanya (buku paket) yang membuat masyarakat malas untuk membacanya, karena koleksinya tidak menarik.

      17. Tidak semua desa atau bahkan kabupaten memiliki. perpustakaan desa apalagi perpustakaan keliling.

      18. Kalaulah dulu kita mengenal Perpustakaan Kelurahan, maka pada kenyataan- nya tidak banyak kelurahan yang memiliki perpustakaan. Bahkan ada yang koleksi bukunya sampai sekarang masih dalam dus belum dibuka, dengan alasan tak ada yang mengerti tentang mengelola perpustakaan, atau kalaupun ada maka bukunya tersimpan dalam sebuah lemari sebagai pajangan saja. 

       

      Perpustakaan Sekolah

      Kehadiran institusi pendidikan dengan seluruh jalur dan jenjangnya merupakan faktor yang sangat menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia dimasa depan. Dalam konteks ini, maka tinggi rendahnya kualitas SDM untuk sebagian ditentukan oleh kualitas input dan output pendidikan itu sendiri. Sebab, melalui sekolah setiap peserta didik belajar bersosialisasi, mendapat informasi keilmuan, mengetahui perkembangan dunia, dan memahami berbagai masalah kehidupan. 

      Di sekolah mereka juga mendapat berbagai nilai dan etika pergaulan, meneratas jaringan informasi, dan membangun cita-cita untuk kehidupan masa depan. Dengan fungsi dan urgensi seperti itu, maka penanganan institusi pendidikan perlu dilakukan secara serius dan optimal, dengan mempertimbangkan berbagai media dan informasi keilmuan untuk mendapatkan hasil yang prima. 

      Diakui bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih sangat memprihatinkan. Berbagai keluhan tentang fakta ini telah diungkap oleh beberapa kelompok kepentingan, baik dunia usaha, instansi pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, pemerhati pendidikan, dari kalangan orang tua siswa. Secara umum, keluhan dan kekecewaan itu bermuara pada kurangnya daya pakai lulusan, rendahnya motivasi untuk maju dan berusaha, terbatasnya daya inovasi, terbatasnya penguasaan informasi, dan berbagai masalah lainnya, termasuk kemampuan anak didik untuk bekerja tekun, rajin, dan professional. Tidak kurang pentingnya adalah keluhan akan rendahnya komitment nilai dan perilaku keseharian siswa dalam keluarga dan masyarakat.  

      Berbagai persoalan yang masih dapat ditambahkan ini antara lain disebabkan oleh tidak maksimalnya institusi pendidikan dalam melakukan manajemen pembelajaran. Berbagai keluhan tentang ini dapat dilihat dari terlampau gemuknya kurikulum, rendahnya kualitas guru, tingginya beban akademik siswa, masih dominannya guru dalam kegiatan belajar mengajar, terbatasnya sarana dan prasarana, serta berbagai persoalan lainnya. Karena itu diperlukan suatu terobosan baru untuk mengantisipasi berbagai permasalahan ini, agar institusi pendidikan dapat berfungsi secara lebih optimal.  

      Salah satu usaha penting ke arah itu adalah menjadikan perpustakaan sekolah sebagai sumber belajar. Sebagai sumber informasi yang sampai saat ini belum tergantikan, buku tentunya memiliki pengaruh yang amat besar, dan karenanya dapat menjadi indikasi dari wajah peradaban dan kebudayaan suatu bangsa.  Kita memang sudah memasuki era teknologi internet yang secara langsung dapat menyajikan pelbagai informasi, termasuk tulisan-tulisan keagamaan. Akan tetapi, untuk bangsa Indonesia yang masih berkembang, akses terhadap media ini masih sangat terbatas untuk kalangan tertentu. Sementara sebagian terbesar masyarakat masih belum sempat menikmatinya, baik karena rendahnya kemampuan ekonomi maupun lemahnya penguasaan terhadap teknologi modern. 

      Akan tetapi, di tengah semaraknya berbagai penemuan ilmiah dan penerbitan buku serta media informasi keilmuan lainnya, lembaga pendidikan nampaknya masih mengandalkan kemampuan guru dalam menyampaikan ilmu. Ditengah masih terbatasnya kualitas keilmuan dan ketidak-sesuaian bidang studi yang diajarkan ( miss­match ), sistem pembelajaran yang meng- andalkan ruang kelas ini tentunya mengandung kelemahan yang akut.  

      Karena itu usaha pemerintah menghadirkan perpustakaan sekolah harus disikapi dengan bijak, menjadikan perpustakaan sebagai sumber belajar meng- ajar, yang merupakan usaha penting dan strategis dalam meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.  


      Usaha ini tentunya akan mengubah strategi pembelajaran dan manajemen pendidikan di sekolah. Dengan menjadikan perpustakaan sebagai sumber belajar siswa, berarti ruang kelas yang semula menjadi tempat utama proses transmissi keilmuan hanya akan berfungsi sebagai forum untuk mendiskusikan berbagai hasil bacaan siswa. Karena itu, guru yang semula menjadi sumber utama siswa dalam memperoleh ilmu, tidak lebih dari sekadar fasilitator yang memberikan bimbingan keilmuan dan konsultasi pendidikan. Akan tetapi, usaha ke arah itu tentunya perlu mempertimbangkan berbagai factor riil yang dihadapi institusi pendidikan kita. Kita harus mulai dengan membangun strategi pembelajaran melalui perpustakaan sekolah sumber belajar yang bertujuan untuk:

      1. Membangun strategi pembelajaran yang relevan dengan perkembangan ilmu dan media informasi.

      2. Mengoptimalkan Perpustakaan Sekolah sebagai wahana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

      3. Menjadikan Perpustakaan Sekolah sebagai media untuk membangun tradisi keilmuan di sekolah.

       

      Memprihatinkan memang, kondisi Perpustakaan Sekolah yang kita miliki, jauh dari sempurna. Oleh karena itu, mari kita galakan kembali hadirnya perpustakaan sekolah untuk seluruh jenjang pendidikan di seluruh Indonesia. 

       

      Pameran dengan Mobil Buku Keliling

       

      Pameran buku adalah salah satu cara mendekatkan buku kepada masyarakat. lKAPI Pusat dan lKAPI Jaya menyelenggarakan Pameran Buku empat atau lima kali setahun di Jakarta. Sementara di Bandung satu kali setahun, di Surabaya satu kali setahun. 

      Indonesia yang terdiri lebih dari 35 propinsi, 475 kabupaten, di luar ketiga kota tersebut hampir dipastikan tidak pernah menyelenggarakan Pameran Buku. Bagaimana masyarakat akan tertarik untuk membaca buku, untuk mengetahui buku baru saja mereka tidak pernah tahu. 

      Luasnya daerah yang harus dijangkau, tidak adanya tempat luas untuk berpameran, dan tidak adanya tenaga ahli untuk menyelenggarakan pameran. Semua itu telah membuat minat baca bangsa Indonesia diurutan terbawah dari deretan bangsa­-bangsa dunia. 

      Salah satu solusi yang dapat di tawarkan adalah dengan menghadirkan pameran buku dengan mobil buku keliling. Dengan penjelasan sebagi berikut :

      Indonesia kita bagi menjadi:

      1.  Seluruh Pulau Sumatera : Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Palembang, dan Lampung. Kita namakan DIVISI INDONESIA BARAT.

      2.  Seluruh Pulau Jawa dan Bali, mulai dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Kita namakan DIVISI INDONESI TENGAH.

      3.  Seluruh NTB, NTT, Kalimantan, Sulawesi, sampai ke Irian. Kita namakan DIVISI INDONESIA TIMUR. 

       

      Setiap divisi, menyelenggarakan pameran selama satu tahun non-stop. Setiap minggu dipakai dua hari berjalan, 5 hari pameran. Setiap kota kita harus :

      a.  Bekerjasama dengan pemerintah setempat.

      b.  Meminta bantuannya untuk meminjam lapangan untuk berpameran, termasuk surat izin dan keamanan.

      c.  Meminta bantuan Dinas Pendidikan setempat untuk bisa menganggarkan pembelian bukunya pada waktu kita berpameran disana.

      d.  Meminta bantuan pihak Kepolisian setempat untuk pengamanan "KAS" dari gangguan "pencopet, penjarah, penodong, perampok"

      e.  Meminta bantuan PLN untuk penerangan Pameran dan lapangan agar ruang pameran bisa terang benderang.

      f.   Bekerjasama dengan Kepala Sekolah SMEA, agar anak murid SMEA menjadi "penjaga pameran" dan ini adalah bagian "praktek kerja".

      g.  Dirikan Perwakilan Yayasan Gemar Membaca di seluruh kab/kota yang kita lalui, sehingga kita bisa mempunyai "basis masa peduli pendidikan". Hal ini berguna untuk masa depan.

      h.  Bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Nasional dan Kanwil Depag, agar menggiring masa untuk hadir ke pameran, agar memberi kesempatan kepada para pelajar untuk mengenal buku-buku baru dari dekat, juga agar pengunjungnya banyak.

      i.   Bekerjasama dengan organisasi masyarakat setempat untuk mereka juga turut sebagai peserta pameran, dengan tenda-tenda yang khusus telah kita sediakan. Sehingga pameran kita akan terasa menjadi pameran mereka.

      j.   Bekerjasama dengan artis-artis lokal untuk meramaikan acara pameran selama 5 hari.

      k.  Bekerjasama untuk mencari sponsor acara, untuk menambah pemasukan bagi pelaksanaan pameran.

      l.   Meminta Pemda setempat, minimal bisa membeli satu buah Mobil Buku Multifungsi untuk setiap kabupaten/kota. Karena hak paten dari Mobil Buku Multifungsi ini ada pada Yayasan Gemar Membaca.

      Comments
      Budi Purnomo  - Pendiri/Mantan Ketua Umum     |2009-08-13 21:41:35
      Salam,
      Dari dari Jaringan Epistoholik Jakarta (JEJAK) atau Komunitas Penulis
      Surat Pembaca, ingin berpartisipasi dalam kegiatan Kampanye Nasional Indonesia
      Membaca. Adapun partisipasi yang dapat kami lakukan adalah dengan melakukan
      sosialisasi kampanye tersebut melalui Surat Pembaca di berbagai media
      cetak.
      Demikianlah harapan kami, mudah-mudahan kegiatan yang dilakukan sukses
      selalu.(Budi Purnomo, HP/SMS : 081388277788).
      suryadi  - harapan     |2010-04-15 14:40:59
      mudah-mudahan bukan sekedar slogan..... yang terpenting langkah nyata......
      di
      sekolah dasar sangat menanti uluran tangan, gagasan n langkah nyata para inohong
      untuk tingkatkan budaya baca.
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 121424 clicks
      • Average hits: 971.4 clicks / month
      • Number of words: 6418
      • Number of characters: 50222
      • Created 11 years and 5 months ago at Thursday, 04 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 131
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124544
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC