.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      SEPUTAR INDONESIA, 17 JULI 2008

       

      Sastra yang Mencerdaskan

      Oleh Aprinus Salam,

      Dosen Fakultas llmu Budaya UGM Yogyakarta

      Beberapa tahun lalu Taufiq Ismail pernah mengeluhkan rendahnya minat baca para pelajar terhadap karya sastra. Bahkan, beliau mensinyalir, minat baca pelajar Jakarta terhadap karya sastra nyaris nol. Temuan Taufiq Ismail itu seperti melaporkan rendahnya peradaban nasional yang melanda bangsa Indonesia.

      Itulah sebabnya, kemudian beliau menggalakan sastra masuk sekolah. Walaupun masih prematur, barangkali program penggalakan yang dikerjakan Taufiq Ismail dan ka-wankawan itu sudah perlu ditinjau kembali seberapa jauh hasil dan pengaruhnya.

      Saya mendukung sepenuhnya program itu sejauh dimaksudkan bahwa para pelajar perlu dan penting membaca karya-karya sastra yang memberi pengetahuan dan cerita berbagai kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, dan perkembangan bu­daya teknologi di Indonesia.

      Karya sastra yang mencerdaskan adalah karya yang memberi informasi, mengayakan pengalaman, memberikan pemahaman-pemahaman baru, memperbaiki kesadaran yang tidak benar (kesadaran palsu), dan secara keseluruhan mampu mengeksplorasi persoalan kemanusiaan.

       

      Dalam konteks Indonesia, karya sastra yang mencerdaskan adalah kar­ya yang mampu memberikan pemahaman dan pencerahan terkait hal-hal yang dihadapi bangsa dan negara ini. Karya sastra itu harus jeli mengangkat persoalan masyarakat seperti masalah kriminalitas, kekerasan, atau lemahnya kesadaran hukum.

      Pada awal sastra modern Indonesia, seperti terlihat dalam beberapa novel yang dinilai sebagai kanon, misalnya Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Azab dan Sengsara, Layar Terkembang. hingga Belenggu, karya-karya sastra itu dengan jeli mengungkap persoal­an sosial, politik, dan budayamasyarakat. Pembaca akhirnya sadar bahwa terdapat sejumlah masalah yang perlu dipikirkan bersama.

      Di sini, tidak seluruh karya sastra dibicarakan. Saya ingin meloncat pada generasi sastra (khususnya novel) pada 1980-an hingga 1990-an. Pada periode ini terdapat sejumlah karya sastra yang memang sangat layak dibaca masyarakat Indonesia, misalnya novel-novel tetralogi Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer, trilogi Dukuh Paruk, dan Bekisar Merah karya Ahmad Tohari, Canting karya Arswendo Atmowiloto, Para Priyayi karya Umar Kayam, Burung-Burung Manyar karya Manungwijaya, Pengakuan Pariyem karya Linus Suryadi AG, dan lain-lain.

      Novel-novel tersebut secara tidak langsung dan simbolis mencoba mengeksplorasi masalah-masalah kekuasaan dan politik yang keruh, mandulnya kreativitas budaya, proses-proses perubahan sosial, sebab-sebab kemiskinan, korupsi, jual beli hukum, dan sejumlah persoalan lain yang di­hadapi masyarakat.

      Beberapa novel mutakhir yang sangat layak dan perlu dibaca karena akan memberikan pencerdasan, antara lain, Jalan Menikungkung Umar Kayam, Ketika Lampu Berwarna Merah karya Hamsad Rangkuti, Ular Keempat kar­ya Gus TF Sakai, Mantra Penjinak Ular, serta Wasripin dan Satinah karya Kunto wijoyo, atau Kitab Omong Kosong karya Seno Gemira Ajidarma dan be­berapa novel lain. Dengan membaca karya sastra di atas, pembaca akan mendapatkan pengalaman yang lebih substansial berkaitan dengan persoalan yang dihadapi bangsa dan masyarakat Indonesia.

      Saat ini, karena kemajuan teknologi, karya sastra dapat diterbitkan de­ngan cepat dan banyak. Kira-kira 10 tahun terakhir ini, karya sastra, baik novel, puisi, maupun kumpulan cerpen, terbit dalam ratusan dan mungkin mendekati ribuan judul. Masalahnya, tidak seraua karya sastra dapat dimasukkan ke kategori mencerdaskan. Banyak karya sastra mutakhir diterbitkan karena mengikuti tren pasar. Para penerbit berlomba-lomba menerbitkan novel atau cerita ringan-ringan karena semata-mata ingin mengeruk keuntungan.

      Setahun yang lampau, seorang mahasiswi meminta bantuan saya untuk menerbitkan novelnya. Novel itu secara serius mempersoalkan kegelisahan seorang wanita yang berusaha mencari identitas, berusaha mengatasi persoalan ekonomi hidupnya kare­na orangtuanya miskin, dan digarap dengan teknik narasi yang kaya dan sangat informatif

      Beberapa penerbit saya hubungi dan beberapa hari kemudian penerbit tersebut memberi informasi bahwa novel terebut tidak bisa diterbitkan dengan alasan terlalu serius, membuat pembaca mengerutkan kening. Menurut perkiraan penerbit tersebut, novel itu tidak akan laku dan penerbit tidak berani mengambil risiko rugi.

      Tulisan ini memang mempersoal­kan novel. Namun, fenomena seni sas­tra sebetulnya melingkupi pengertian yang luas jika hal tersebut dimaksudkan sebagai cerita. Di dalamnya termasuk film dan sinetron. Jika kita memasuki persoalan ini, masalahnya menjadi lebih runyam.

      Karya sinetron kita, misalnya, jauh lebih menyedihkan karena tidak mampu menggarap masalah pendidikan, masalah politik, hukum, dan masalah perarian teknologi. Sinetron kita hanya menggarap dunia samar-samar yang kita sama-sama tidak tahu. Jadi, tidak bisa dipersoalkan selain hanya berefek sensasional, yakni dunia klenik, mistik, hantu, tuyul, dan sebagainya.

      Alasan para pekerja sinetron lagi-lagi karena alasan pasar (dan ini sa­ngat membodohi masyarakat). Kare­na mereka menganggap cerita itulah yarig disenangi dan terbukti sinetron itu memiliki rating tinggi. Yang pasti, setelah menonton sinetron, penonton nyaris tidak mendapatkan apa-apa. Apalagi, jika hal itu dimaksudkan sebagai pengetahuan atau terbentuknya kesadaran baru dalam memahami persoalan bangsa Indonesia.

      Seperti halnya karya sastra yang tidak memberikan pengetahuan apa-apa, untuk seni sastra sinetron pun saya ingin mengatakan bahwa jika perlu, (sinetron) tidak usah ditonton saja". Masyarakat Indonesia jangan mau terus-menerus dianggap berselera rendah dan dianggap bodoh. Kita harus memilih karya seni sastra yang mencerdaskan, yang memberi penge­tahuan, inspirasi, pemahaman, dan informasi tentang realitas bangsa Indonesia.

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:39  

      Items details

      • Hits: 836 clicks
      • Average hits: 10.3 clicks / month
      • Number of words: 4017
      • Number of characters: 32190
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 149
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091307
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC