.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      KOMPAS, SENIN, 20 FEBRUARI 2006

      Sarjana Fakultatif Lulusan Universitas

      Semakin tua, saya makin mengalami kegagapan komunikasi bahkan kegagalan komunikasi. Kita mendengarkan pidato pejabat, mendengarkan presentasi pemakalah dalam suatu diskusi, lalu lintas perdebatan dalam talk shows, ustadz-ustadz kasih pengajian, pasti kita juga sering berada bersama orang-orang yang mengobrol di warung atau di gardu.

       

      Oleh EMHA AINUN NAD JIB

      Sering kali terasa, kita seakan dua orang tuli yang berpapasan di jalan dan saling menyapa.

      "Mau ke mana, Kang? Mancing ya?"

      "O enggak Saya mau mancing kok."

      "O ya udah. Saya kira mau mancing..."

      Mungkin saja sekian persen dari kekacauan pembangunan dan kebobrokan keadaan negeri ini bersumber pada mekanisme dan dialektika ketulian masal seperti itu.

      Banyak sekali kejadian dimana orang memperbincangkan "mancing" dan merasa lega telah berbincang, padahal mancing yang dimaksudkan oleh seseorang sama sekali berbeda dengan mancingnya orang yang berbiricang dengannya.

      Terkadang orang mempertengkarkan, bermusuhan serius, sampai terjadi tawur massal, padahal masing-masing pihak sebenarnya sama-sama tidak pergi "mancing". Berbagai situasi dalam perpolitikan elite atau perkehidupan budaya pada skala bangsa, sebagian tidak kecil mungkin juga sesungguhnya bertemakan "mancing". Bisa puluhan tahun kelompok ini ber­musuhan dengan kelompok itu. Tema permusuhan rhereka adalah mancing. Padahal, tak ada yang mancing, dan sesudah pertengkaran yang sangat akut dan bertele-tele, toh tak ada yang memperoleh ikan di antara me­reka yang bermusuhan.

       

      Kekacauan epistemologis

      alah satu sumber dialektika tuli dan mancing adalah kekacau-balauan epistemologi. Nahdlatul Ulama dan Ikatan Cendekiawan Muslim tak pernah terlihat akur dalam tata pergaulan budaya politik nasional, pa­dahal bahasa Arabnya Ikatan Cendekiawan adalah Nahdlatul Ulama, dan bahasa Indonesia-nya Nahdlatul Ulama adalah Ikatan Cendekiawan.

      Orang pintar dari universitas Islam disebut Cendekiawan Muslim, orang pintar dari pesantren disebut ulama Padahal, bahasa Arabnya Cendekiawan Muslim adalah ulama, dan ba­hasa Indonesianya ulama adalah cendekiawan Muslim.

      Bank alternatif Islam disebut tyank syariah sehingga bank konvensional disebut bukan syariah. Padahal, keduanya sama-sama syariah. Syariah (syari), sebagaimana thariqah (thariq) dan sabil artinya 'jalan', meslci konotasi penggunaannya berbeda.

      Maka, bank umum konvensional juga bank syariah. Berdampingan dengan bank syariah, ia sama-sama syariah: jalan, cara, metode, manajemen, desain, strategi menuju suatu goal tertentu. Bedanya, bank konvensional adalah syariatunnas bank syariah adalah syariatullah.

      Subyeknya bank syariatunnas adalah manusia dan akal pikiran, sedangkan syariatullah berbekal manusia, akal pikiran dan fir­man.

      Yang syariatunnas atau bank konvensional tidak otqnjatis boleh disebut "bukan jalari "funan" atau bukan "sabilillah" karena manusia dan akal pikiran juga suatu jenis firman. Hanya saja, bank konvensional sscara resmi tidak mengacu kepada firman literer, yakni ayat-ayat Kitab Suci.

      Tercetus, berdiri, dan berlangsungnya bank konvensional hasil akal pikiran manusia bisa saja terkategorikan sebagai upaya religiositas: upaya manusia untuk mencapai kebenaran dan kesejahteraan sejati.

      la juga bisa menjadi suatu je­nis ijtihad (jihad atau perjuangan intelektual), sebagaimana bank syariatullah juga suatu mo­del ijtihad. Hanya saja, ijtihad bank syariatullah mengacu pada religi, bukan sekadar ikhtlar religiousitas. Salah satu bukti empiris bahwa keduanya bisa merupakan upaya ijtihad adalah bahwa bank-bank konvensional yang menyelenggarakan sayap syariah: tidak semata-mata langsung melakukan konversi total dengan membubarkan sistem konvensionalnya dan mengantinya dengan sistem syaria­tullah. Syariatunnas dan syariatullah berjalan beriring dalam satu institusi bank

      Paguyuban fakultas

      Terdapat ribuan contoh kekacauan epistemologis. Ada ribuan lembaga pendidikan yang menyebut dirinya universitas, tetapi yang diproduknya seratus persen sarjana-sarjana fakultatif, bukan sarjana universal. Memang nanti di S-2 dan S-3 dibuka peluang komprehensif antar bidang keilmuan sehingga merupakan tabungan universitas keilmuan pelakunya.

      Namun, di pihak lain, yang berkembang pesat justru spesialisasi keilmuan. Semakin spesialis, semakin tidak universal. Karena itu, tepatnya jangan sebut uni­versitas, melainkan paguyuban fakultas-fakultas dan jurusan-jurusan.

      Fakultas-fakultas berpapasan dan bersapaan satu sama lain: "Mau mancing ya?", "Enggak, orang aku mau mancing kok", "0, ya udah, kupikir pergi mancing."

      Para mahasiswa pergi kuliah, padahal yang mereka maksudkan adalah juz'iyyah. Kuliah berasal dari kata kulllyyah, kata dasarnya kullun, artinya 'setiap'.

      Meskipun setiap mirip dengan semua, mereka amat berbeda. Setiap maupun semua menyangkut dan melibatkan setiap dan semua subyek, tetapi masing-masing berbeda dengan kebersamaan, ke-setiapan berbeda bahkan bertentangan dengan ke-semuaan. Aku plus aku plus aku tidak pasti sama dengan kita Karena dalam "kita", ke-akuan direlakan untuk tidak menjadi faktor utama

      Pergi kuliah artinya berangkat mencari ilmu universal-komprehensif. Para sarjana fakultatif ti­dak pernah pergi kuliah, yang mereka lakukan di kampus adalah juz'iyyah: mencari ilmu fakulatif spesialistis. Salah satu tugas akademis mereka adalah berseminar dan menulis makalah.

      Entah bagaimana asal usul ka­ta itu. Jika sumbernya bahasa Swahili atau Visayan, saya kurang tahu. Namun, jenis bunyi dan pilihan huruf dari makalah sepertinya dari bahasa Arab. Kalau benar demikian, mungkin yang dimaksud adalah maqala, artinya 'sesuatu yang dikatakan'. Kalau sesuatu yang dituliskan, bahasa Arabnya: ma kutiba.

      Saya yang dasarnya pemalas dalam hal tulis-menulis selalu mendapat keuntungan kalau di-undang seminar. Sebab, panitia selalu minta makalah. Maka sa­ya tinggal datang ke acara dan langsung mempersembahkan maqala, hal-hal yang dikatakan. Jangan sampai ada panitia yang minta ma kutiba, nanti saya terpaksa menuliskannya.

      EMHA AINUN NADJIB Budayawan


       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:35  

      Items details

      • Hits: 773 clicks
      • Average hits: 9.5 clicks / month
      • Number of words: 1855
      • Number of characters: 15165
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 155
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091495
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC