.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Quo Vadis Indonesia? (1)

      Bacharuddin Jusuf HabibieBaik Sutan Takdir Alisjahbana (STA) maupun Bacha­ruddin Jusuf Ha­bibie (BJH) memi-liki obsesi yang sa-ma, yaitu memajukan bangsa In­donesia menjadi bangsa yang se-jajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang sudah maju. Sutan Takdir Alisjahbana aktif dalam sastra dan kebudayaan sejak se-belum Sumpah Pemuda (1928) dan sebelum Proklamasi Kemer-dekaan Indonesia (1945), sampai embusan napas terakhir di usia 86 tahun pada 17 Juli 1994.

      Bacharuddin Jusuf Habibie ak­tif dalam ilmu pengetahuan dan teknologi setelah Proklamasi Ke-merdekaan Indonesia (1945) dan sebelum era Reformasi (1998), hingga sampai saat ini. Baik gene-rasi Sutan Takdir Alisjahbana maupun generasi Bacharuddin Jusuf Habibie meniperjuangkan dan mengembangkan segala usaha untuk meningkatkan peran sum­ber daya manusia (SDM) dalam memajukan Indonesia.

      Jika Sutan Takdir Alisjahbana bersama generasinya menitikbe-ratkan aktivitasnya pada pening-katan 'nasionalisme' dari suatu masyarakat plural dalam kebhi-nekaan Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie bersama'generasi selanjutnya menitikberatkan ak-tivitas pada peningkatan 'daya saing' sumber daya manusia Indo­nesia di tengah proses globalisasi yang sedang berjalan.

      Sasaran Sutan Takdir Alisjah­bana dan Bacharuddin Jusuf Ha­bibie sama, yaitu kesejahteraan dan keadilan yang merata, tanpa membedakan suku, agama, dan ras bagi sumber daya manusia yang hidup di benua maritim In­donesia. Namun, cara untuk men-capai sasaran tersebiit berbeda karena harus disesuaikan dengan keadaan. lingkungan, dan kondisi dunia masa mereka masing-ma-sing saat berperan dan berkarya.

      Ironi kesenjangan

      Wajah dunia pada masa gene­rasi Sutan Takdir Alisjahbana (sebelum 1945) dan sekarang sa-ngat berbeda. Dahulu tidak ada organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sebagian besar dunia masih dijajah oleh beberapa negara adikuasa. Mereka menjadi-kan daerah jajahannya sebagai modal tempat mengeruk sumber daya alam (SDA) terbarukan dan tidak terbarukan, yang sekaligus menjadi pasar bagi hasil produk nilai-tambah mereka. Pendapatan dari sumber daya alam dan sum­ber daya manusia yang hidup di negeri jajahannya. dimanfaatkan untuk membiayai pembangunan dan pengembangan prasarana ekonomi dan iptek serta proses industrialisasi di Eropa dan Amerika Utara, yang saat itu sedang berkembang.

      Sekarang wajah dunia telah berubah. Bangsa-bangsa yang pernah dijajah telah merdeka dan. bebas, bahkan menjadi anggota PBB. Mereka berlomba-lomba meningkatkan daya saing dan produktivitas sumber daya manu­sia masing-masing.

      Temyata batas negara dan jumlah penduduk suatu bangsa sangat dipengaruhi, direkayasa, bahkan ditentukan oleh penjajah dan bukan berdasarkan pertimbangan ras, etnik, agama, budaya, bahasa, kerajaan, dan suatu dinasti yang pernah berkuasa, Nasionalisme yang baru berkembang di Timur Tengah, Afrika, Asia, dan di Amerika Utara, Amerika Tengah, dan Amerika Selatan lebih berorientasi pada pragmatisme, seperti halnya pada terbentuknya India, Pakis­tan, Banglades, Malaysia, Singapura, Brunei, Indonesia, dan sebagainya. Apabila kesejahteraan dan keadilan yang merata bagi seluruh sumber daya manusia In­donesia yang menjadi sasaran per-juangan Sutan Takdir Alisjahbana dan generasi Bacharuddin Jusuf Habibie, untuk menilai seberapa jauh sasaran tersebut telah dica-pai, kita perlu melihat kemam-puan berkarya (kualitas) dari sum­ber daya manusia Indonesia, yang antara lain tecermin dalam profil lapangan kerja mereka.

      Temyata dari data yang kita peroleh menunjukkan adanya ke­senjangan yang cukup memprihatinkan. Usaha kecil dan usaha menengah menyediakan 99.46 persen lapangan kerja, sementara lapangan kerja yang disediakan oleh usaha besar hanya mencapai 0,54 persen. BPD dalam perekono-mian nasional disumbang oleh hasil usaha besar (44,9 persen) hasil usaha kecil dan menengah (55,1 persen). Perbandingan nilai tambah yang dihasilkan setiap lapangan kerja oleh UK: UM: UB adalah 1: 3: 170. Hal ini mencer-minkan adanya kesenjangan kua­litas sumber daya manusia, pen-didikan, produktivitas, dan penguasaan iptek.

      Kesenjangan tersebut harus dihindari karena akan mengaki-batkan peningkatan kesenjangan antara miskin dan kaya dan menghambat daya saing ekonomi nasional. Gambaran tentang ke­senjangan" tersebut juga meng-ingatkan kita bahwa masalah kualitas sumber daya manusia merupakan persoalan utama bangsa, yang harus menjadi per-hatian dan hendaknya menjadi 'tema sentral' dalam berbagai upaya kita untuk membangun masa depan secara konsisten dan berkesinambungan.

      Sejarah telah membuktikan bahwa hanya suatu masyarakat yang sumber daya rhanusianya merdeka dan bebas saja, yang da-pat meningkatkan produktivitas-nya dan akhirnya daya saing me­reka. Perilaku sumber daya manur sia dipengaruhi oleh budaya dan agama masyarakat bersangkutan, yang diperoleh dari kualitas proses pembudayaan. Keterampilan sum­ber daya manusia ditentukan oleh sistem pendidikan, penelitian. dan kesempatan bekelja masyarakat bersangkutan pula.

      Dalam proses 'globalisasi', per-hatian utama diberikan sekitar mekanisme 'jual-beli' bilateral, multilateral, dan global. Pasar nasional, regional, dan global de­ngan mata uang yang relatif stabil dan relatif kuat akair/mendapat perhatian utama.

      Mekanisme pasar yang tadinya didominasi sumber daya alam dan produk karya nilai tambah dan biaya tambah sumber daya manu­sia, sekarang diwarnai dengan komoditas baru yang kita kenal sebagai mata uang. Arus infonnasi .yang berlangsung cepat, tidak se-mua sempurna, dan rentan ter-hadap manipulasi sehingga akan sulit menghasilkan kebijakan yang tepat, cepat, dan berkualitas. Me­kanisme pasar dan teori ekonomi yang berlaku perlu disempurnakan!

      Dalam proses globalisasi, dengan cadangan valuta asing yang diperoleh dari ekspor sebagai hasil karya proses nilai tambah sumber daya manusia, dapat dimanfaat­kan untuk membeli modal perke-bunan dan pertambangan sumber daya alam di negara pengimpor.

      Beberapa masyarakat atau negara telah berhasil mengekspor produk karya dan kerja sumber daya manusianya, kemudian memanfaat-kan pendapatannya untuk mem­biayai pembangunan dan penyempurnaan pendidikan, penelitian, serta prasarana ekonomi dan industri nasionalnya. Akibatnya, proses peningkatan produktivitas dan daya saing negara tersebut meningkat dan demikian pula ca­dangan valuta asingnya.

      Sebagai penanam modal, melalui proses globalisasi setiap perusahaan nasional atau multinasional dapat menjadi pemilik perkebunan dan pertambangan atau modal sumber daya alam di nega­ra lain. Jaringan global para in­vestor tersebut akan terus berkem­bang dan dimanfaatkan untuk menjadikan cadangan valuta dolar AS atau euro yang dimilikinya, berubah menjadi modal sumber daya alam di mancanegara, Masyarakat akan menjadi konsumen produksi masyarakat lain, yang tanpa disadari telah menjual modal sumber daya alam perkebunan dan pertambangan yang dimiliki, yang dibayar dengan mengimpor produk yang tidak dibuat sendiri! Demikianlah, jaringan global penguasaan modal sumber daya alam oleh perusa-haan nasional dan multinasional akan berkembang terus.

      Masyarakat Indonesia secara tradisional tidak menghalangi in­vestor nasional atau global mem­bangun pusat keunggulan pro­duksi untuk pasar domestik, re­gional, dan global. Namun, tetap saja tidak ada pembinaan dan perhatian terhadap produksi ma-syarakatnya sendiri. Yang diper-hatikan adalah keuntungan yang cepat dan jangka pendek.

      Jika hanya neraca perdagangan.dan pembayaran yang diperhatikan dan keduanya dalam ke­adaan seimbang bahkan menguntungkan, tanpa memberikan gambaran mengenai neraca jam kerja, dalam era globalisasi sekarang ini sulit menghindari terjadinya dilema seperti yang dilukiskan di depan. Neraca perdagangan dan pembayaran bisa seimbang, bah­kan menguntungkan karena harga sumber daya alam meningkat Namun, bagaimana nasib bang­sa jika akhirnya pemilik kekayaan sumber daya alam Indonesia ada­lah perusahaan asing?

      Quo Vadis Indonesia? (2)

      Bacharuddin Jusuf Habibie

      Mantan Presiden Rl

      Bukan kebetulan dunia ekonomi makro hanya memperhatikan pengembangan neraca perdagangan dan neraca pembayaran antar-negara (Eropa, Amerika Utara, Timur Tengah, ASEAN, dan sebagainya). Masalah lapangan kerja terbatas pada kepentingan nasio-nal dan sudah tercermin tidak langsung pada neraca perdagangan dan neraca pembayaran.

      Bukankah sebagian besar negara berkembang sebelumnya adalah wilayah yang dijajah dan dikuasai untuk mengeruk sumber daya alam sekaligus berfungsi sebagai pasar domestik untuk mengonsumsi produk nilai tambah masyarakat penjajah? Bagaimana sekarang? Masyarakat yang dahulu dijajah sudah menjadi merdeka dan bebas. Mereka lebih sadar akan ketenteraman yang terkait pemerataan pendapatan dan kerja yang haras diselesaikan.

      Apalagi, dengan meningkatnya kemampuan memanufaktur pro­duk konsumsi yang tadinya diproduksi di Amerika Utara, Eropa, dan Asia Utara oleh masyarakat Cina dan India, produk-produk mereka mulai dan bahkan telah membanjiri pasar global! Produk konsumsi yang dahulu dikuasai oleh industri manuf aktur penjajah tak dapat bersaing dengan produksi negara berkembang, baik di pasar jajahannya dahulu dan Cina maupun di pasar domestik Amerika Utara, Eropa, dan Jepang.

      Akibatnya, terjadi ketidakseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran di beberapa masyara­kat Amerika Utara, Eropa, dan Jepang. Ini tercermin pada perbandingan utang terhadap ke­mampuan prestasi ekonomi (GDP) negara itu yang sudah mendekati 100 persen. Bahkan. Amerika Serikat (AS) telah melampaui 100 persen dan Jepang 200 persen GDP. Jikalau utang Jepang diperoleh dari masyarakatnya sendiri de­ngan suku bunga yang rendah, maka utang di AS diperoleh dari pasar global dengan suku bunga yang relatif tinggi. Mengapa demikian? Bagaimana dengan risiko dan jaminan pinjaman? Apa akibatnya? Masih banyak lagi per Mengapa demikian? Setelah Perang Dunia II pasar domestik AS berkembang menjadi pasar yang terbesar di dunia karena ekonomi Eropa, Jepang, dan Asia hampir hancur dan tidak ber­fungsi sesuai harapan. AS mem-beri bantuan pembangunan eko­nomi dan mata uangnya menjadi andalan bagi hampir semua mata uang mancanegara.

      Cadangan emas tidak lagi men­jadi satu-satunya andalan mata uang. Permintaan atas dolar AS meningkat dan melampaui kebutuhan pasar domestik AS. Anggaran untuk membiayai kehadiran AS sebagai adikuasa di dunia me­ningkat dan ekonomi Amerika Utara, Eropa, Jepang, dan negara berkembang lainnya mulai menyaingi produksi AS hampir dalam segala bidang dan sebagainya.

      Skenario yang telah diutarakan sebelumnya terjadi dan utang AS melampaui 100 persen kemampu­an GDP-nya, bahkan Jepang lebih besar lagi. Namun, demikian nilai dolar AS mata uang yang jadi andalan mata uang mancanegara tetap dicegah menurun. Karena jikalau nilainya menurun, maka nilai cadangan mancanegara seperti Cina, Jepang, dan Eropa akan turun pula dan merugikan semua.

      Duaekstrem

      Lain halnya dengan Jepang. Pasar domestik Jepang cukup be­sar, namun mata uang yen Jepang tidak dimanfaatkan sebagai an­dalan perdagangan dan cadangan mancanegara. Dengan insentif perpajakan dan insentif lain yang diberikan oleh Pemerintah Jepang dan bank yang mencetak mata uang Jepang, suku bunga yen dapat ditekan sehingga kurang menarik bagi investor global.

      Bagaimana dengan risiko dan jaminan pinjaman? Dengan undang-undang, regulasi pemerintah dan bank sentral Jepang, risiko dan jaminan direkayasa secara pragmatis. Dengan suku bunga yang rendah dan sistem perpajak­an yang terarah pada pem'ngkat-an 'jam kerja' atau lapangan kerja secara 'gotong royong',.pinjaman dari masyarakat sendiri dapat diperoleh dan diperhitungkan risikonya. Misalnya, pembiayaan proyek yang menciptakan lapang­an kerja dengan pemberian suku bunga yang sangat rendah dan jenjang pelunasan yang panjang dimungkinkan karena suku bunga memang sangat rendah dan dapat Lain halnya dengan kebijakan Pemerintah dan Bank Central AS yang mencetak dan mengeluarkan mata uang dolar AS. Mereka sa­ngat menyadari bahwa mancane­gara yang berhasil mengekspor komoditas ke pasar AS sangat berkepentingan memelihara pasar AS tetap sehat dan befungsi se­hingga lapangan kerja di manca­negara dapat dipertahankan.

      Mata uang dolar AS pun diper­tahankan stabilitasnya melalui mekanisme pasar komoditas uang untuk mencegah menurunnya ni­lai cadangan dolar AS mereka. Semua pemikiran dan kebijakan diarahkan pada pertumbuhan GDP, pengendalian inflasi, dan akhirnya penyediaan lapangan kerja. Mancanegara lainnya bergerak di antara dua skenario model Jepang dan AS.

      Apa akibatnya? Bursa yang tadinya berfungsi sebagai 'meka­nisme pengumpulan dana' yang cukup transparan dan dapat diandalkan berubah menjadi 'pusat keunggulan berspekulasi dan berjudi', Informasi diperluas de­ngan gosip akan sangat merugikan kreditibilitas bursa. Gosip adalah analisis yang belum tentu benar untuk diperhitungkan dan merupakan pemberitaan distortif yang cepat dan membingungkan.

      Kita dapat belajar dari tradisi masyarakat Jepang dan Jerman yang selalu memperkenalkan pro­duk barunya di dalam negeri sampai teruji dulu sebelum diekspor. Produk industri pangan walaupun karena globalisasi lebih murah jika diimpor, masyarakatnya ternyata masih tetap memilih pro­duksi dalam negeri.

      Sejak berdirinya EEC ada perubahan di Jerman terhadap impor dari masyarakat EEC lainnya. Masyarakat Jepang tetap memilih beras Jepang walaupun lebih mahal dari beras impor Thailand. Perilaku ini mencerminkan kesadaran bahwa dalam tiap produk tersembunyi jam kerja yang ter­kait dengan proses pemerataan dan kesejahteraan.

      VOCbaru?

      Bagaimana masa depan Anda jikalau pengeluaran Anda melam­paui pendapatan? Bagaimana ma­sa depan dunia jikalau pengeluar­an melampaui pendapatan dunia?

      Oleh karena itu, pada tanggal 1 Juni 2011 yang lalu, pada kesempatan yang diberikan oleh Pimpinan MPR untuk menyamcasila dalam forum Sidang Pa-ripurna MPR, saya memperingatkan agar jangan sampai proses globalisasi berkembang menjadi jaringan baru seperti terjadi pada era jajahan masa lalu! Hindari jaringan globalisasi berkembang menjadi 'jaringan neokolonialis-me' dengan adikuasa-adikuasa baru! (Jangan sampai terjadi 'VOC-baru' di Indonesia!)

      Perhatikan neraca jam kerja dan sadarlah bahwa membeli pro­duk apa pun yang dibuat di dalam negeri sama dengan mempertahankan dan mengembangkan la­pangan kerja untuk meningkatkan daya saing dan pemerataan kesejahteraan serta ketentraman masyarakat kita.

      Ketika nilai sumber daya alam dari benua maritim Indonesia,di pasar dunia khususnya di pasar Eropa meningkat, maka terjadi pendekatan para pedagang secara sistematik dan kekerasan yang melahirkan kolonialisme yang di-lawan bersama oleh masyarakat Indonesia. Walaupun demikian, ketenteraman dan kedamaian masyarakat yang pluraiistik ini tetap dipelihara karena sikap toleransi yang ada.

      Sejarah telah membuktikan bahwa hanya sumber daya manusia yang merdeka, bebas berpikir, dan bebas berkarya saja yang dapat meningkatkan produktivitas dan keunggulannya. Sejarah juga telah membuktikan bahwa semakin plurahstik masyarakat, semakin toler-an perilakunya, semakin tinggi da­ya saing dan kreativitasnya.

      Rakyat Indonesia telah mele-takkan jejak yang menentukan untuk menjadikan sumber daya manusia sebagai andalan masa depan, yaitu dengan adanya: Kebangkitan Nasional (1908), Sum-pah Pemuda (1928), juga Kebang-kitan Teknologi Nasional (1995). Ketiga kejadian tersebut telah berdampak pada proses-proses: Kemerdekaan pada 1945; Kebebasan pada 1998; dari masyarakat madani di Indonesia.

      Dengan demikian, prasyarat utama yang harus dipenuhi untuk mengembangkan produktivitas dan keunggulan sumber daya ma­nusia Indonesia yang merdeka dan bebas telah dipenuhi. Yang masih harus diperhatikan adalah prasarana dan konsep teruji proses 'pembudayaan', prasarana dan konsep teruji proses 'pendidikan dan penelitian', prasarana dan konsep teruji penyediaan lapangan kerja.

      Quo Vadis Indonesia? (3-Habis)

      Bacharuddin Jusuf Habibie

      Mantan Presiden Rl

      Ketika Presiden Soeharto lengser, maka sesuai dengan konstitusi, wakil presiden harus melanjutkan tugas presiden. Dalam waktu 24 jam, saya mengeluarkan kebijaksanaan sebagai berikut: Bebaskan semua tahanan politik di Indonesia; Bebaskan pemberian informasi dan pendapat yang bertanggung jawab, melalui media cetak dan elektronik yang bebas dan bertanggung jawab; Bebaskan masyarakat berdemonstrasi tanpa merusak dan merugikan modal pribadi atau negara.

      Dengan kebijakan tersebut, semuanya segera merijadi lebih transparaii dan lebih dapat diperhitungkan. Kebijakan itu berdampak positif pada pasar ekonomi dan pasar politik. Free fall nilai mata uang Rupiah segera dapat dihentikan dan secara tahap demi tahap nilai mata uang rupiah kembali ke nilai yang lebih stabil. Demikian pula pasar politik menjadi lebih transparan dan stabil. Semuanya ini penting untuk dipersiapkan sebelum pemilihan umum dilaksanakan dengan ke-adaan 'merdeka dan bebas ber­tanggung jawab', berdasarkan undang-undang dan peraturan pemerintah.

      Mekanisme pemerintahan pusat dan daerah perlu dikembang-kan dan disempurnakan yang disesuaikan dengan keadaan setelah otonomi daerah diberikan agar budaya setempat dipertahankan dan ketahanan budaya meningkat. Semua ini dilaksanakan dalam rangka peningkatan daya saing sumber daya manusia dalam menghadapi globalisasi.

      Mengapa dihentikan?

      Walaupun demikian, patut kita bertanya: (1) Apa pelaksanaannya sudah optimal bahkan maksimal? (2) Bagaimana kesadaran kita terhadap pengembangan dan pengamanan lapangan kerja? (3) Bagai­mana 'neraca jam kerja"? (4) Apakah dalam perilaku kita tiap hari sudah berorientasi pada produk dalam negeri?

      Tiap tanggal 17 AgustUs kita rayakan Proklamasi Kemerdeka-an. tiap tanggal 20 Mei kita pedana pesawat turboprop canggih N250 Gatotkaca rekayasa dan produksi sumber daya manu­sia Indonesia. (1) Dapatkah dibenarkan jika hasil semua perjuangan kita dalam mengembangkan potensi dan daya saing sumber daya manusia Indonesia selama lebih dari 50 tahun kita hentikan dan persulit pembinaan prestasi nyatanya dalam taidang teknologi canggih dirgantara, kelautan, dan transportasi darat yang sudah dimiliki? (2) Apakah kita biarkan para ahli Indonesia bekerja di mancanegara, baik di Eropa, Amerika, Timur Tengah, Asia Utara dan ASEAN dengan alasan makroekonomi?

      Memang, tenaga kerja Indone­sia yang pindah kerja ke luar ne­geri akan mendapat gaji dan upah yang lebih besar sehingga pendapatan pribadi mereka mening­kat. Nainun, kita ketahui juga bahwa yang bersangkutari tidak membayar pajak kepacla Pemerin-tah Indonesia dan karena berada di luar negeri, maka biaya kehidupan dlkeluarkan di luar negeri pula sehingga tidak berdampak positif pada pertumbuhan ekono­mi nasional. Apakah hal yang de­mikian itu kita biarkan saja?

      Teori apa pun. dalam ilmu pengetahuan harus didasarkan pada filsafat dan keadaan (realitas) alami yang diketahui, disadari dan diyakini oleh masyarakat dan lingkungan. Oleh karena itu, teori dibuat oleh manusia memiliki 'kendala awal' (initial condition) dan 'kendala batasan' (boundary condition) yang tergantuiig pada tempat dan waktu.

      Semua masyarakat di mana pun di dunia menghendaki adanya kesejahteraan, kualitas hidup, dan ketenteraman yang merata. Untuk mencapai hal tersebut, telah di­laksanakan beberapa pendekatan, seperti: (1) Pendekatan top down atau dari yang kaya ke yang mis-kin, yang juga dikenal sebagai sistem kapitalisme. (2) Pendekatan bottom up atau dari yang miskin (proletar) ke yang kaya, yang juga Hilopnal orientasi pada nilai-nilai sosial (soziale marktwirtschaft).

      Sejarah telah membuktikan bahwa pendekatan kedua diakhiri dengan bangkrutnya masyarakat yang menganut pendekatan terse­but. Sedangkan pendekatan per-tama, jika tidak diadakan koreksi yang mendasar, akan menuju.pro­ses kebangkrutan pula.

      Untuk mencapai tujuan yang kita cita-citakan bersama sebagai bangsa, sebagaimana tersebut da­lam Undang-Undang Dasar 1945. kita harus belajar dari kesalahan dan kekeliruan orang lain juga kekeliruan kita sendiri. Ingat bah­wa dari pendekatan-pendekatan pertama, kedua, dan ketiga oleh para ilmuwan mancanegara telah dikembangkan banyak teori, yang ternyata juga perlu ditinjau kem­bali.

      Uraian di atas menyadarkan kita bahwa yang harus kita perhatikan dan prioritaskan adalah kepentingan rakyat Indonesia sendi­ri. sebagai bangsa yang bermarta-bat yang sedang berjuang menuju cita-cita dengan berbagai keterbatasan yang ada. Terkait dengan masalah kepentingan tersebut, kita juga perlu bertanya: Mengapa kita biarkan pemakaian cadangan de-visa dari hasil penjualan sumber daya alam kita untuk mengem-bangan produk militer di luar ne­geri?

      Berbagai keadaan yang saya gambarkan sebelumnya dan di-tambah lagi dengan berbagai per-masalahan lain yang sedang me-nerpa bangsa kita, seolah telah melahirkan suatu keadaan para­doksal di Indonesia, yang dilukis-kan dengan: Kita kaya tapi miskin, rnerdeka tapi terjajah, kuat tapi lemah, indah tapi jelek. .

      Orientasi dan mentaiitas kasir

      Situasi paradoksal tersebut ter-jadi karena seolah-oleh kita menderita penyakit orientasi, yaitu wawasan, kebijakan, atau langkah yang sejatinya akan melemahkan produktivitas, daya saing, dan bahkan ekonomi kita yang pada oilirannva akan melemahkan dalkan sumber daya alam daripada sumber daya manusia. Selain itu, kita juga lebih berorientasi jangka pendek daripada jangka panjang (mentaiitas kasir).

      Kita lebih mengutamakan citra daripada karya nyata, lebih melirik makro daripada mikro ekono­mi, serta lebih mengandalkan cost added daripada value added (more comparative rather than competi­tive advantages). Kita juga lebih berorientasi pada neraca perdagangan dan pembayaran daripada neraca jam kerja, lebih menyukai 'jalan pintas' (korupsi, kolusi. penyelewengan) daripada kejujuran dan kebajikan. Kita lebih menganggap jabatan (power) sebagai tujuan daripada sebagai sarana untuk mencapai tujuan (power centered rather than accountable [amanah] orientation).

      Keadaan paradoksal tersebut amat berbahaya kalau tidak sege­ra kita sadari dan koreksi. Koreksi yang dapat kita lakukan ialah dengan 'penyembuhan' orentasi atau 'pelurusan' orientasi. Di samping upaya 'penyem­buhan' atau 'penyehatan' orientasi di atas, kita juga tidak henti-hentinya harus selalu menyegarkan kembali kesadaran sebagai warga bangsa yang berPancasila. beragania, dan mempunyai cita-cita luhur sebagai bangsa yang beradab dan terhomiat sebagaimana tersurat dan tersirat dalam Pem-bukaan UUD 1945.

      Kita juga harus menyadari akan betapa besar risiko yang kita hadapi sebagai suatu bangsa apabila keadaan paradoks bangsa ter­sebut terns berlanjut tanpa ada­nya kesadaran dan upaya koreksi yang berarti, serius, serta berke-sinambungan. Tidak mustahil, kita akan menjadi bangsa yang gagal. Memang, kita perlu memahami kesalahan (kolektif) bangsa yang diindikasikan dengan 'penyakit orientasi dan kesadaran serta kesungguhan kita untuk melakukan upaya 'penyembuhan' yang serius dan berkelanjutan.

      Kita mesti berkeyakinan bahwa masa depan bangsa ditentukan oleh keunggulan sumber daya ma­nusia Indonesia yang memiliki ni­lai-nilai budaya dan agama yang tinggi serta memahami dan menguasai mekanisme pengembangan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi secanggih apa pun. Prasyarat merdeka dan bebas telah kita raih bersama untuk masa depan yang lebih sejahtera, tenteram, dan cerah merata bagi kita. Namun. akankah kita da oat meraih kesejahteraan?

       

      Comments
      Sri yanti ahmad   |2012-05-24 21:09:45
      saya sangat tertarik setelah membaca artikel ini ..
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 15 May 2012 10:50  

      Items details

      • Hits: 1571 clicks
      • Average hits: 19.9 clicks / month
      • Number of words: 11670
      • Number of characters: 104501
      • Created 6 years and 7 months ago at Friday, 27 April 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 6 months ago at Tuesday, 15 May 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 182
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091491
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC