.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

      KOMPAS, SELASA, 28 JULI 2009

      "Pembunuhan" Sekolah Swasta

      Oleh KI SUPRIYOKO

      Bertempat di ruang sidang PP Muham­madiyah, Jakarta, pada 14 Juli 2009, dilakukan diskusi tentang peran pendidikan swasta di Indonesia.

      Diskusi terbatas yang dibuka oleh mantan Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin ini menarik karena diikuti para pakar, pejabat, mantan pejabat, dan pengambil keputusan negeri ini.

      Diskusi itu antara lain dihadiri mantan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Indrajati Sidhi, mantan Dirjen Pen­didikan Luar Sekolah Pemuda dan Olahraga (Diklusepora) Soedijarto, mantan Dirjen Pendidik­an Agama Islam Departemen Agama (Pendais Depag) Yahya Umar, mantan Direktur Profesi Pendidik Zamroni, Direktur SMA Soengkowo, Rektor UIN Malang Imam Suprayogo, dan saya.

      Diskusi menghangat saat membicarakan sekolah swasta dalam situasi dan kondisi pemerintah yang memberlakukan kebijakan sekolah gratis. Kebi­jakan itu cepat diserap masyarakat karena gencar disosialisasikan Depdiknas melalui iklan di televisi.

       

      Membunuh swasta

      Peran sekolah swasta di In­donesia jelas tidak diragukan. Hal ini antara lain ditunjukkan sejak RI berdiri, pendidikan swasta sudah hadir dan berperan. Bahkan, ada yang sudah berkiprah di masyarakat sebelum republik ini berdiri. Sebut saja Tamansiswa, Muhammadiyah, Ma'arif NU, Katolik, dan Kristen.

      Para penyelenggara sekolah swasta umumnya tidak happy-happy amat, bahkan ada yang mengungkapkan rasa sedih, saat pemerintah menjalankan kebi­jakan sekolah gratis. Bagaimana bisa happy kalau calon siswanya banyak tersedot ke sekolah ne­geri sehingga banyak sekolah swasta terancam gulung tikar ka­rena kekurangan siswa.

      Keadaan itu benar-benar terjadi dan dirasakan para penye­lenggara sekolah swasta, khususnya di pedesaan atau daerah berpenduduk miskin.

      Mengapa hal itu terjadi?

      Ternyata tidak semua warga negara berorientasi pada mutu (quality orientation), tetapi pada ekonomi (economical orientati­on). Hal terakhir ini banyak ter­jadi dan hinggap pada masyarakat miskin, rakyat bawah, atau kaum duafa.

      Itu sebabnya saat mendengar pemerintah menyediakan seko­lah gratis—notabene hanya ber-laku pada sekolah negeri—ma-syarakat "menyerbu" sekolah yang tidak membayar dengan meninggalkan sekolah swasta yang harus membayar.

      Alhasil sekolah swasta keku­rangan siswa, dan jika kekurang­an siswa akan menjadi sulit bagi pengelola untuk mempertahankan keberadaannya. Jika kebi­jakan sekolah gratis itu dipertahankan, dalam beberapa tahun ke depan akan banyak sekolah swasta tutup buku.

      Kebijakan sekolah gratis pada dasarnya bagus, tetapi jika dampaknya membuat sekolah swasta gulung tikar, hal ini merupakan suatu kebijakan yang tidak patut dilanjutkan. Jangan sampai muncul anggapan, kebijakan sekolah gratis dimaksudkan untuk membunuh sekolah swasta.

      Kejelasan kebijakan

      Terkait masa depan sekolah swasta, diperlukan kejelasan kebijakan pemerintah, apakah pengelolaan pendidikan difokuskan kepada pemerintah atau diserahkan kepada masyarakat.

      Pengalaman Inggris dalam mengelola pendidikan, pemerin­tah langsung menanganinya dan sekolah swasta yang diizinkan berkiprah hanya yang bermutu di atas standar. Sekolah gratis berjalan relatif mulus dan hasilnya bagus. Banyak sekolah (negeri) di Inggris yang digandrungi penduduk dunia.

      Sebaliknya pengelolaan seko­lah di AS lebih diserahkan kepadamasyarakat. Di negeri ini, sekolah swasta diberi kebebasan untuk berperan, bahkan diberi subsidi finansial secara signifikan. Boleh dikata, tak ada sekolah gratis di AS dan bermutu bagus sehingga banyak sekolah (swasta) di AS digandrungi penduduk dunia.

      Hingga kini, kebijakan Peme­rintah Indonesia tidak pernah jelas dalam mengelola pendidik­an. Akan mengikuti pola Inggris atau AS. Tak mengherankan bila banyak kebijakan pendidikan pe­merintah yang sering mengejutkah masyarakat, di antaranya ke­bijakan sekolah gratis.

      Jika mengacu ke Inggris, yaitu pengelolaan pendidikan ditangani langsung oleh pemerin­tah, masih banyak masalah yang harus dijawab. Dalam jangka panjang, mampukah anggaran pendidikan kita menggratiskan siswa? Apakah hanya pendidikan dasar yang digratiskan? Bagaimana nasib sekolah swasta yang sudah mengabdi sejak negeri ini belum merdeka seperti Taman­siswa, Muhammadiyah, Ma'arif, Kristen, Katolik, dan lainnya?

      Jika mengacu ke AS, yaitu pe­ngelolaan pendidikan diserahkan kepada masyarakat alias swasta, juga banyak masalah yang harus dicari jawabnya. Mengapa kebi­jakan sekolah gratis hanya diberlakukan bagi sekolah negeri? Mengapa organisasi pendidikan swasta tak pernah diajak berembuk untuk menentukan kebijak­an ini? Mengapa subsidi peme­rintah hanya cenderung mengalir ke sekolah negeri? Dan banyak pertanyaan lain.

      Tanpa kejelasan kebijakan pe­merintah terkait pendidikan pa-da masa mendatang, sulit mem-perhitungkan masa depan pen­didikan swasta ,di Indonesia.

      KI SUPRIYOKO

      Pamong Tamansiswa; Direktur Program Pascasarjana Universitas Tamansiswa, Yogyakarta

      Comments
      alfian rohman rosyid  - kawin     |2012-05-18 01:25:30
      sekolah swasta harus diperhatikan oleh negara. tidak boleh ada diskriminasi.
      anak didik yang ada disekolah swasta juga rakyat indonesia yang juga harus
      mendapatkan pelayanan yang sama dengan sekolah negeri.
      alfian rohman rosyid     |2012-05-18 01:27:09
      sekolah swasta harus dapat keadilan.
      alfian rohman rosyid     |2012-05-18 01:27:54
      perjuangkan keadilan untuk sekolah swasta
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:23  

      Items details

      • Hits: 2875 clicks
      • Average hits: 35.9 clicks / month
      • Number of words: 1125
      • Number of characters: 9446
      • Created 6 years and 8 months ago at Friday, 02 March 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 145
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091307
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC