.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 1 SEPTEMBER 2008

       

      Puasa

      Akhirnya bulan Puasa datang lagi. Sebuah bulan kesadaran, bulan perenungan, bulan pembelajaran. Di tengah gemerlapnya budaya konsumerisme dan hedonisme aliran kehidupan, sebuah kurikulum tetap dari Yang Mahatetap kembali hadir dalam rutinitas manusia yang tak pernah berhenti. Melebihi muatan dalam kurikulum nasional maupun internasional, puasa diharapkan dan seharusnya mampu memberi kesadaran baru kepada kita tentang pentingnya semua keunggulan nilai-nilai puasa diadopsi, baik oleh orang tua maupun guru di sekolah, ke dalam perilaku sosial yang santun dan mencerahkan. Sebagai sebuah kurikulum multifungsi, puasa mengajarkan banyak hal kepada kita, karena di dalam puasa terdapat begitu banyak ranah dan mata ajar tentang kecerdasan sosial, ilmu kedokteran (sains) dan disiplin pribadi. Semua aspek kognitif, afektif, sekaligus psikomotorik terangkum secara sempurna dalam praktik berpuasa.

      Perasaan lapar dalam berpuasa, misalnya, secara kognitif akan menuntun kemampuan anak untuk mengingat, memahami, menerapkan, menganalisis, menyintesis, dan mengevaluasi setiap peristiwa yang dialaminya secara kritis. Selanjutnya secara afektif puasa juga dapat meningkatkan intuisi seorang anak untuk menerima, merespons, menilai, memaknai, sekaligus mengorganisasi setiap perilakunya berdasarkan pertimbangan nilai yang dianutnya. Sedangkan secara psikomotoris, puasa dapat meningkatkan pola pikir anak dalam mempersepsi dan mengadaptasi nilai-nilai puasa ke dalam tindakan nyata. Tetapi tanpa bantuan dan bimbingan orang tua dan para guru tentu anak kita akan kesulitan dalam menggali tanggung jawab sosial ibadah puasa. Para pendidik harus paham bahwa seperti Marian Wright Edelmeri, education is for improving the lives of others and for leaving your community and world better than you found it. Karena itu, momen berpuasa ini seyogianya dijadikan momentum oleh para pendidik untuk melakukan upaya perbaikan pada semua aspek penyelenggaraan pendidikan.

       

      Tak ada sebuah ibadah dari agama mana pun di dunia ini yang dilakukan dengan prinsip-prinsip yang sama selain puasa. Semua agama, Samawi maupun non-Samawi, memiliki laku spiritual puasa. Dari sudut ini, puasa merupakan titik temu sekaligus titik     singgung persamaan semua agama di dunia. Kesadaran ini perlu ditanamkan sejak dini kepada anak-anak kita agar konsep mereka untuk tumbuh, berkembang, dan hidup di Indonesia tidak terlepas dari kerangka Bhineka Tunggal Ika, menghargai keragaman dan memperkukuh rasa persamaan. Mengapa semua agama memiliki praktik berpuasa? Jawabnya sangat beragam dan pasti semuanya memiliki alasan pembenarannya sendiri-sendiri. Tetapi dari sudut tanggung jawab sosial, semua agama pasti akan mengamini kalau puasa sarat dengan nilai-nilai keseteraan sosial.

      Edu teringat cerita nakal Abunawas. Suatu ketika Abunawas kehilangan seekor keledainya karena mati. Saking sedihnya, Abuna­was menangis tiada henti, bahkan sudah hampir mencapai sepuluh hari tangisnya tak juga reda. Padahal beberapa waktu lalu Abunawas juga baru saja kehilangan istri tercintanya yang wafat karena sakit. Untuk istrinya, kesedihan dan tangisnya hanya tampak dua hari saja. Begitu mendapat laporan bahwa tangis Abunawas tak berhenti setelah sepuluh hari, dengan perasaan cemas Raja kemudian memanggil Abunawas. Raja bertanya mengapa Abunawas tak berhenti menangisi keledainya. Dengan sedu sedam Abunawas menjawab: "Tuanku Paduka Raja, ketika istri hamba wafat, di hari kedua ada tetangga yang membisiki saya untuk tidak terlalu bersedih karena ia berjanji akan memberikan anaknya untuk dijadikan istri saya. Tetapi ketika keledai saya mati, tak seorang pun mem­bisiki dan menjanjikan saya untuk memberikan keledai baru untuk saya." Sontak Raja tersenyum mencibir dan manggut-manggut memahami makna di balik ulah Abunawas ini.

      Cerita Abunawas ini hanyalah salah satu indikasi bahwa setiap orang pasti lebih mencintai hartanya sehingga enggan untuk berbagi. Nah, ibadah puasa sesungguhnya ingin menyadarkan sekaligus mengajarkan kita tentang pentingnya berbagi. Setelah sebelas bulan prinsip kebendaan menggelantungi pikiran dan hati kita, momentum puasa merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk melatih dan memberikan kesempatan kepada mata hati dan jiwa kita untuk memimpin perilaku kita. Marhaban ya Ramadhan. (Ahmad Baedowi)

       

       


       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 06:31  

      Items details

      • Hits: 785 clicks
      • Average hits: 9.7 clicks / month
      • Number of words: 1275
      • Number of characters: 10056
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 87
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091241
      bacalah.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC