.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      MEDIA INDONESIA   I   SENIN, 21 DESEMBER 2009

      Program Penanggulangan Kemiskinan belum Efektif

      Jossy P. Moesis, Ph.d

      Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Ul

      ARTINYA, target MDGs untuk mengurangi separuh persentase jumlah penduduk miskin pada 2015 sudah tercapai bahkan terlampaui pada 2008. Namun, kita jangan cepat berbangga dahulu. Pasalnya, bila digunakan alat ukur dengan indikator berbeda, yaitu dengan patokan garis kemiskinan nasional yang ditetapkan oleh pemerintah, praktis hasil yang dicapai masih terlalu jauh dari target yang diharapkan.Pasalnya pemerintah harus mampu mengurangi separuh persentase penduduk miskin pada 1990 yang berjumlah 15,1% menjadi 7,5% pada 2015. Namun, persentase penduduk miskin pada 2008 masih sebesar 15,4%.

      Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FEUI) Jossy P Moeis PhD ditemui Media Indonesia baru-baru ini mengatakan jika dipakai alat ukur lain, dipastikan jumlah orang miskin di Indonesia bakal membesar. Dengan ukuran indikator garis kemiskinan yang digunakan Bank Dunia sebesar US$2 per hari misalnya, menghasilkan estimasi jumlah orang miskin hampir 109 juta (49%) dari total penduduk Indonesia.

      "Hendaknya penanggulangan kemiskinan jangan terpaku pada menurunkan besaran kuantitatif belaka, tetapi upaya yang ada harus memperhatikan kualitasnya termasuk di dalamnya pemerataan atau pengurangan kesenjangan antarwilayah," ujar Jossy mengingatkan.

      Memang tidak ada yang meragukan, pemerintah makin serius menjalankan penanggulangan kemiskinan. Hal ini terlihat dengan peningkatan jumlah anggaran untuk penanggulangan kemiskinan tiap tahunnya. Pada 2004 alokasi dana untuk penanggulangan kemiskinan adalah Rpl9 triliun, pada 2005 meningkat Rp21 triliun, dan 2008 Rp32 triliun. Namun, usaha pemerintah dalam penanggulangan kemiskinan belum membawa hasil yang maksimal. Kemiskinan malah semakin bertambah dan beban rakyat pun kian berat saja.

      Berdasarkan pengamatan di lapangan, Jossy mengidentifikasikan beberapa hal yang menyebabkan program penanggulangan kemiskinan tidak efektif. Antara lain kurang koordinasi antarinstitusi yang menangani masalah kemiskinan, adanyajcetidakseragaman indikator kemiskinan, tidak validnya data kemiskinan, serta masih ditemukannya indikasi KKN dalam penyaluran bantuan kemiskinan.

      Program BLT

      Beberapa program yang dipilih, dinilai Jossy, juga tidak tepat. Sebagai contoh adalah program Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang memberikan bantuan hibah RplOO ribu per bulan bagi setiap rumah tangga sangat miskin.

      Dia berpendapat, program bantuan yang penyalurannya bersifat langsung idealnya hanya tepat dilakukan pada negara yang telah memiliki sistem data kependudukan yang baik.

      Data akurat menjadi kunci utama agar penyaluran BLT tidak salah sasaran. Sayangnya, disamping tidak mengantongi data penduduk yang kuat, pemerintah dinilai gagal mendefinisikan kategori orang miskin. Bagi Jossy, 14 kriteria orang miskin yang diberlakukan secara standar di seluruh wilayah Indonesia adalah tindakan yang gegabah. Pasalnya, tiap daerah tentunya memiliki karakteristik kemiskinan berbeda.

      BLT hanya mendidik penerimanya jadi orang tidak berdaya lantaran hanya mengharap sedekah dari pemerintah. Dia menambahkan, paradigma kemiskinan hendaknya jangan dilihat berdasarkan faktor pendapatan (income) semata. Kemiskinan sejatinya dapat dilihat dari berbagai perspektif. Salah satu yang mendasar, menurut Jossy, kemiskinan yang disebabkan oleh struktur. Di perdesaan, banyak petani yang tidak memiliki lahan. Mereka hanya menjadi petani penggarap. Selama tidak memiliki tanah, niscaya mereka bakal miskin selamanya.

      Di sini, kata dia, haras ada perubahan struktur. Petani harus mempunyai lahan garapan. Tentunya pemberian lahan tidak harus seekstrem seperti program landreform seperti di negara komunis. Pemberian lahan pada petani bisa dilakukan dengan cara transmigrasi misalnya.

      Kendati peran negara signifikan, dia menekankan penanggulangan kemiskinan sejatinya bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, melainkan seluruh komponen masyarakat. Bahkan tindakan proaktif dari masyarakat miskin itu sendiri sangat diperlukan. Tekad yang kuat untuk keluar dari lingkaran kemiskinan diiringi usaha yang sungguh-sungguh sehingga akan memberikan hasil yang diharapkan. (S-25)


      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 916 clicks
      • Average hits: 11.6 clicks / month
      • Number of words: 2489
      • Number of characters: 21257
      • Created 6 years and 7 months ago at Saturday, 21 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 129
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091491
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC