|
Written by Administrator
|
|
Thursday, 28 May 2009 11:14 |
|
Mukadimah Buku adalah jendela dunia, merupakan pusaka kemanusiaan yang memembuat peradaban berlangsung hingga hari ini. Di dalamnya terkandung jiwa zaman di sepanjang waktu. Ia adalah jendela dunia yang mangandung hikmah masa lalu. Penghargaan terhadapnya adalah pengagungan pada kemajuan bangsa. Buku adalah memori peradaban manusia. Thomas Carlyle mengatakan “In book lies the soul of the whole past time.” Hanya dengan buku kita dapat mengenggam dunia, menjelajahi seluruh pemikiran dan imajinasi yang terhampar di jagat raya. Buku bagaikan dunia yang dijilid, seluruh hasil cipta, karsa, dan karya manusia dapat dilestarikan.. Di dalam buku tersimpan rekaman-rekaman teori yang bisa melahirkan suatu teori baru. Bukankah setiap penemuan suatu teori baru selalu dilandasi oleh teori sebelumnya? Sebagaimana yang dikatakan Issac Newton, "Jika saya mampu melihat jauh, maka hal itu disebabkan karena saya berdiri di pundak para jenius terdahulu" Buku adalah guru yang paling baik karena buku tidak pernah jemu menggurui kita. Ia dengan sabar membimbing dan melayani pembacanya baik yang berkecepatan lamban maupun supercepat. Ia bisa menghampiri kita kapan pun, tidak terikat waktu dan tempat, dan yang pasti menjadikan orang lebih bijaksana. Buku adalah satu-satunya alat untuk mempelajari abad-abad yang sudah lewat. Buku adalah kunci terbaik untuk memahami bangsa-bangsa lain yang belum kita kunjungi. Akan tetapi, kini jendela dunia itu telah koyak di negeri kita! Maka rakyat pun tidak sanggup memandangi indahnya wajah dunia yang penuh pesona ini. Dunia yang dapat dilihat adalah dunia yang tersobek dan compang-camping. Belum cukup sampai disitu. Kekaburan melihat dunia juga diperparah oleh tingkat kerabunan bangsa kami karena dilanda gejala buta aksara di mana-mana. Kesedihanpun kian menjadi dengan melihat perpustakaan—yang merupakan taman para pencari hikmah—dikelola asa-asalan oleh para pustakawan yang hanya berperan sebagai penunggu buku, bukan sebagai garda ilmu pengetahuan.Keadaan tidak akan berubah dengan sendirinya. Perubahan adalah sebuah keniscayaan. Kami merasa terpanggil untuk menjalin serpihan-serpihan dan merekatnya menjadi sebuah jendela dunia yang kokoh supaya bangsa ini dapat melihat keindahan dunia. Dilandasi dengan rasa keterpanggilan itulah kami mendirikan perkumpulan lembaga swadaya masyarakat yang dinamai Masyarakat Literasi Indonesia (MLI), untuk mengajak rakyat Indonesia bersama-sama membuka jendela dunia. |
|
Last Updated on Thursday, 28 May 2009 11:21 |
nice artikel, mohon izin copy artikel...
Bu Ani yang baik, salut saya buat Ibu...
terima kasih... betul juga baru sadar...
kami sangat berharap perhatian Pemeri...
namanya juga jual produk.... pembeli...
saya sudah bekerja kurang lebih 27 ta...
Idealnya perpustakaan seperti artikel...
Suatu kehormatan tulisan saya bisa mu...
terima kasih atas artikelnya yang tel...
seandainya fenomena indramayu menjala...