.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      media indonesia, senin, 19 oktober 2009

      Pro-Social Skills

      BEBERAPA berita tentang diciduknya anak-anak sekolah oleh polisi ketika jam belajar sekolah sangat memprihatinkan Edu. Motif siswa ketika ditanya mengapa mereka membolos juga lebih memprihatinkan lagi. Alasan yang mengemuka di antaranya adalah rasa bosan karena guru mereka tak menarik dan kurang kreatif ketika mengajar. Mereka lebih senang menghabiskan waktu untuk bermain games, membangun imajinasi sendiri berdasarkan kisah-kisah yang direkayasa bukan berdasarkan kebutuhan nyata para siswa. Edu khawatir akhir dari problema ini akan berujung pada sikap antisosial anak-anak kita terhadap lingkungan sekitar mereka.

      Apa yang bisa dilakukan para guru untuk mengantisipasi munculnya sikap antisosial? Penting bagi mereka untuk memahami konsep kunci skillstreaming, sebuah bentuk intervensi psycho educational yang berakar pada ilmu psikologi dan pendidikan. Proses skill streaming menitikberatkan pada empat instruksi langsung prinsip pembelajaran, modeling, bermain peran, umpan balik, dan transfer. Keempat prosedur pembelajaran tersebut telah lama digunakan untuk mendidik berbagai jenis perilaku prososial murid di sekolah-sekolah yang memiliki kesadaran tentang pentingnya perilaku proso-sial siswa yang positif dan diinginkan.

       

      Empathic encouragement (memberi dorongan semangat dengan empati) adalah konsep kunci pertama dari mekanisme skillstreaming. Semua guru pasti sepakat bahwa memberi dorongan semangat dengan empati adalah sebuah strategi teramat penting. Seorang guru dapat menunjukkan bahwa ia memahami kesulitan yang dihadapi murid dan selanjutnya menyarankan murid untuk berpartisipasi seperti yang diperintahkan. Sering kali perhatian tambahan one-on-one akan mendorong anak untuk berpartisi­pasi dan mengikuti petunjuk guru.

      Threat reduction (mengurangi ancaman/gangguan) adalah mekanisme kedua yang juga penting untuk diketahui para guru. Teknik ini akan membantu untuk mengatasi kegelisahan murid. Anak yang menganggap bermain peran atau jenis partisipasi lain sebagai sebuah ancaman baginya mungkin akan bereaksi dengan sikap yang tidak pantas atau mengacau atau menarik diri dari proses pembelajaran. Untuk mengatasi masalah ini, guru semestinya menenangkan murid atau bahkan melalui kontak fisik (antara lain merangkul murid, tepukan pelan di panggung). Guru, dengan demikian, seharusnya juga mendorong anggota kelompok untuk mengekspresikan dukungan mereka untuk para pemain dalam permainan peran dan anggota kelompok lainnya yang telah partisipasi.

      Mekanisme ketiga dari mekanisme skillstreaming adalah prompting, yaitu sebuah upaya guru untuk menganjurkan/menyarankan sesuatu kepada siswa. Prompting dapat mencegah murid bersikap mengacau atau mengganggu yang disebabkan rasa takut gagal. Salah satu fungsi utama seorang guru adalah untuk me­ngantisipasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi murid selama dalam kelompok dan bersiap untuk menganjurkan tanggapan yang diharapkan. Sebagai contoh, selama bermain peran, para murid yang sedang mempraktikkan keterampilan baru, dapat saja lupa sebuah langkah atau beberapa langkah, atau mereka dapat saja tidak tahu bagaimana bersikap untuk menjalankan langkah tertentu. Sang guru dapat memberi komentar instruksional ("Sekarang kamu siap untuk..."), menawarkan petunjuk untuk menggambarkan perilaku murid atau melatih murid dari awal sampai akhir.

      Simplifying (penyederhanaan), adalah cara lain untuk meningkatkan kemungkinan murid berhasil sukses dalam kelompok skillstreaming. Para guru yang menyadari bahwa kemampuan murid untuk menyelesaikan beberapa tugas khusus berbeda-beda. Beberapa murid mungkin menghadapi kesulitan mengikuti serangkaian perintah, atau memahami perintah-perintah, atau mengetahui apa yang harus dikatakan dalam dan selama proses umpan balik. Karena itu, memanfaatkan saat-saat yang tepat untuk memberi pelajaran (capturing teachable moments) dengan menggunakan metode skillstreaming akan berguna untuk mengelola kelompok yang memiliki problem perilaku seperti penarikan diri, mengacau, membolos, mengancam (behav­ioral excess) dan sejenisnya. Pendekatan ini pa­ling tidak akan meminimalkan perilaku bermasalah siswa ketika belajar, dan guru dapat menggantikannya dengan perilaku yang me­reka inginkan. Catatannya adalah, seberapa bijak dan kreatif para guru mau belajar dan mencoba mekanisme ini. Ahmad Baedowi

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:27  

      Items details

      • Hits: 706 clicks
      • Average hits: 8.7 clicks / month
      • Number of words: 1686
      • Number of characters: 13435
      • Created 6 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 132
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091309
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC