.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      KOMPAS, 20 Januari 2010

       

      Presiden, Ilmuwan, dan Iptek

      NINOKLEKSONO

      "Dihadapkan pada tantangan yang belum ada sebelumnya, kemajyan teknologi bisa memberi mesin kuat untuk memajukan pertumbuhan ekonomi dan kesempatan membutuhkan kepemimpinan politik yang memahami kekuatan mengubah (trans-formatif) besar dari teknologi dan inovasi."

      (Kantor Kebijakan Sains dan Teknologi AS)

      Hari ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan bertemu dengan para ilmuwan Indonesia yang tergabung dalam Akademi Ilmu Pangetahuan Indonesia (AIPI), Dewan Riset Nasional (DRN), dan Tim Inovasi 2025 di Puspiptek, Serpong. Di tengah hiruk-pikuk permasalahan yang melilit, boleh jadi ini bisa menjadi momen langka yang penting karena betapa pun menyerapnya urusan politik, di luar itu bangsa masih punya urusan lain yang tidak kalah penting, yang harus dipikirkan pula oleh pimpinan nasional.

      Seyogianya, momen langka ini bisa men­jadi forum dialog antara Presiden dan komunitas ilmiah dari beragam latar belakang keahlian. Pertama-tama tentu komunitas ilmiah Tanah Air ingin mendengar apa visi Presiden tentang pengembangan sains dan teknologi, apa strategi yang ditempuh pemerintah untuk menerapkan sains dan tek­nologi bagi kemajuan bangsa dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

      Soal-soal di atas sebenarnya bukan saja ingin didengar oleh para ilmuwan, tetapi juga oleh rakyat Indonesia pada umumnya. Maklum saja, di tengah ingar-bingar isu politik dan ekonomi, sains dan teknologi, atau untuk ringkasnya Iptek, seperti jatuh dalam skala nonprioritas. Dicerminkan oleh rendahnya dana riset, yang masih di bawah 0,1 persen pendapatan domestik bruto pada 2009, dunia ilmiah Indonesia masih belum bisa bersinar terang di kancah dunia.

       

      Padahal, di sisi lain, kalau mau, Indonesia bisa menghasilkan penelitian top. Dalam kendala, dalam keterbelakangan, Indonesia hanya bisa melihat negara-negara tetangganya melesat jauh. Jangan berbicara tentang China yang sudah punya riset ambisius ruang angkasa, Singapura pun mencatat kemajuan besar dalam riset tentang geno­me.

      Pada masa pemerintahan Presiden Soeharto, Indonesia sempat memiliki program Iptek yang tersosialisasikan dengan luas dan gencar. Selain ada program yang jadi sorotan masyarakat lepas dari penilaian atas hasil dan efisiensinya era itu juga ditandai dengan tampilnya sosok pembawa bendera, baik presidennya maupun menteri risteknya.

      Selain sosok pembawa bendera yang perlu kita kembangkan sekarang ini, perangkat-perangkat kelembagaan yang memang menurut fungsinya membantu Presiden/pemerintah dalam penetapan prioritas riset juga sudah semestinya proaktif. Dimengerti, bahwa untuk ini Presiden pun perlu meluangkan lebih banyak waktu untuk berkomunikasi dengan badan-badan ilmiah, baik AIPI, DRN, Komite Inovasi 2025, maupun lembaga-lembaga penelitian nonkementerian, seperti LAPAN.

      Bagaimanapun juga, di tengah kompleksnya permasalahan dan tantangan yang ada di bidang Iptek dan isu-isu terkait, Presiden membutuhkan dewan penasihat, sebagaimana presiden AS memiliki President's Council of Advisors on Science and Technology (PCAST).

      Selain PCAST, di AS juga ada Office of Science and Technology Policy (OSTP), yang merupakan badan di luar pemerintahan, te­tapi di sini boleh jadi punya fungsi seperti Kementerian Ristek. OSTP inilah yang mem­bantu menggerakkan pembuatan kebijakan Iptek Amerika. Kantor ini membantu mendorong inovasi AS dengan menciptakan ke­bijakan praktis yang ditujukan untuk memperkuat perusahaan Iptek Amerika.

      Bersama Presiden Obama, OSTP bertekad memulihkan sains ke kedudukan yang benar di AS, sebagai alat untuk menciptakan kebi­jakan cerdas yang bisa memperkuat negara. Tekad itu diwujudkan dengan mendapatkan materi terbaik bagi pembuat keputusan dan bekerja sama sepenuhnya dengan PCAST.

      Agenda penting

      Di Amerika, dan semestinya juga di Indo­nesia, kemajuan Iptek memainkan peran yang semakin penting dalam kehidupan bangsa. Ia membantu menumbuhkan eko­nomi dan meningkatkan daya saing. Kema­juan Iptek juga membantu rakyat hidup lebih panjang dan lebih sehat, memberi kemampuan untuk merespons tantangan iklim dan energi, serta bisa melindungi bangsa dari ancaman alam dan ancaman buatan manusia.

      Sebagaimana terjadi di Indonesia, di AS pun visi presiden menjadi panduan utama Dalam sidang paripurna DRN di Serpong, Desember lalu, penetapan agenda riset nasi­onal masih didasarkan pada panduan umum, seperti arahan Presiden di depan peserta Lemhanas atau visi Kabinet Indonesia Bersatu II. Adapun Visi Iptek 2010-2014 baru disebut sebagai "Iptek untuk Kesejahteraan dan Peradaban". Sumber lain diperoleh dari daftar prioritas nasional, di mana kreativitas dan inovasi teknologi terbaca pada urutan ke-11 atau yang terakhir.

      Apabila mengikuti AS, sekarang ini tata bisa mengetahui visi Presiden Obama mengenai sains di AS di antaranya adalah peningkatan pendanaan secara dramatik untuk riset biomedik, juga untuk sains fisikal dan rekayasa Dukungan bagi riset berisiko tinggi yang punya potensi menghasilkan terobosan juga diberikan, demikian pula insentif perpajakan bagi litbang. Dukungan juga diberi­kan kepada perusahaan UKM dan perusa­haan pemula (start-up). Semua ditempuh agar investasi terus mengalir karena itu krusial dalam melahirkan pekerjaan yang baik dan kemajuan perintisan (situs OSTP).

      Sebagai bangsa pembelajar, kita juga tidak ingin larut dalam kerawetan dan semakin tertinggal. Kita ingin belajar dari bangsa-bangsa lain yang lebih maju dan, khususnya mengenai Iptek, komitmen perlu diwujudkan dalam kebijakan konkret. Kebijakan itu pun kelak yang dapat diukur hasilnya.

      Dari sistem itulah diharapkan adanya anak bangsa yang siap menghadapi tantangan abad ini dan berkomitmen untuk mewariskan ke­pada anak-anak mereka ekonomi yang lebih kuat, lebih hijau, dan lebih berkelanjutan.

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:28  

      Items details

      • Hits: 765 clicks
      • Average hits: 9.4 clicks / month
      • Number of words: 2520
      • Number of characters: 20422
      • Created 6 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 136
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091398
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC