.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      Media Indonesia 2 juni 2008

       

      CALAK EDU

      Pramugari

      “Kesabaran seorang pramugari ternyata melebihi ke­sabaran seorang kepala sekolah”, kata Ibu RA Krisniati, seorang Kepala Sekolah Dasar Negeri 05 Cipinang kepada para pramugari dalam sebuahkunjungankepusatpelatihan Garuda Indonesia beberapa hari lalu. Edu terkesiap mendengar pengakuan jujur seorang kepala sekolah ini. Bagi Edu, pemyataan Ibu RA Krisniati tersebut sangat genuine, apa adanya, apalagi dia mengungkapkan itu denganperbandinganbagaimana sikap pramu­gari jika sedang bertugas di dalam pesawat dan pengalamannva mengajar di sekolah. Bagi Ibu Kusdiyanti, cara pramugari tersenyum, melangkah, rnenyapa, dan memberi instruksi kepada pe-numpang patut diacungi jempol. Kesabaran mereka sangat teruji, sekalipun terkadang ada di antara para penumpang memiliki ulah tak menyenangkan, egois, dan sesekali jail.

      Seorang pendidik memang perlu memiliki ketangguhan kesabaran yang super untuk melakukan misi pengajaran yang mahaberat

      Bayangkanlah jika kesabaran menjadi 'attitude' yang tak pernah pudar dan menjadi milik guru dan kepala sekolah. Para guru dan kepala sekolah pasti akan mengajar, mendidik, menyapa, tersenyum, dan merekonstruksi rencana pembelajaran dengan niat dan kesabaran yang merata dirasakan oleh para siswa. Hasil akhirnya pasti sebuah kualitas pendidikan yang menjadi harapan kita semua. 'Dalam kesabaran, ada kesadaran'. Itulah kalimat ajaib yang pernah Edu baca dalam kolom Cede Prama, seorang penggugah rasa yang artikulatif melebihi seorang filosof, psikolog, bahkan kiai. Antara kesabaran dan kesadaran ada perilaku, interaksi, proses belajar-rnengajar, ada waktu, dan berujung pada keberhasilan. Kesa­daran terpenting dari kesabaran adalah ketekunan dan keikhlasan, sesuatu yang mutlak diperlukan para pendidik dan siswa dalam mengarungi bahtera pembelajaran di kelas, di rumah, dan di kehidupan itu sendiri. Sebab, ketidak sabaran dalam menjalani proses pendidikan bisa berakibat fatal, yaitu kegagalan besesrta efek-efek negatif lain yang akan menyertainya.

       

      Seberapa sabar perliaku  para pendidik dan pengambil kebijakan otoritas pendidikan di Indonesia? Seperti ada paradoks yang sedangberlaku dalam dunia pendidikan kita, antara sifat sabar yang konon menjadi bagian dari periiaku rakyat bangsa ini dan praktik ketidak sabaran, serba instan, ingin cepat sampai, dan melawan hukum alam seperti praktik evatuasi kinerja para siswa dalam UN yang menjadikaii hubungan guru-rnurid terganggu karena tak ada kesadaran akan proses.

      Jika definisi sabar adalah sebuah gendang yang dipukul dengan satu tangan, tangan yang lain akan tetap memperhatikan irama dan bunyi lantunan suara gendang dengan kesabaran yang tetap terjaga. Kesabaran adalah senjata hati untuk merekayasa kesadaran agar tak terlepas dari periiaku, interaksi, proses belajar-mengajar, waktu, dan ketekunan. Karena kesabaran adalah hak fundamental setiap pendidik, kesadaran tentangnya haruslah tidak berbatas, menjadi motivator, serta pengontrol misi seorang pendidik.

      Dengan siapa lagi kita dapat belajar kesabaran selain d ari seorang pramugari? Mungkin petani, para buruh, tukang ojek, penarik becak, atau bahkan seorang pemulung yang menjalani rutinitas keseharian mereka dengan kesabaran yang tak pasti. Tetapi dalam konteks pembelajaran, kesabaran seorang guru dan kepala sekolah harus dibangun berdasarkan resapan hati mereka terhadap kondisi dan perasaan anak didik setiap saat. Contoh inilah yang Edu lihat dan saksikan dalam setiap kali proses pembelajaran berlangsung di kelas Guru Sarmili.

      Setiap pagi, Guru Sarmili selalu mengecek 'papan perasaan' murid-muridnya yang terpampang persis di depan pintu masuk kelasnya. Dengan mudah Guru Sarmili dapat mengetahui perasaan anak didiknya hari itu, karena setiap siswa diwajibkan 'menancapkan' perasaannya pada kolom rasa sedih, gembira, dan biasa saja. Guru Sarmili selalu memulai pembelajaran dengan dialog interaktif dan mendeteksi perasaan siswanya hari itu agar dia dapat dengan mudah memetakan kondisi psikologis siswanya, serta memilih metode yang pas untuk proses pembelajaran hari itu. Sungguh, pekerjaan yang mahaberat dan butuh kesabaran tingkat Nabi untuk melakukannya. Guru Sarmili sepertinya paham benar, bahwa seperti ungkapan Ralph Waldo Emerson, 'he man who can make hard things easy is the educators'. Seorang pendidik memang perlu memiliki ketangguhan kesabaran yang super untuk melakukan misi pengajaran yang mahaberat.

      Ahmad Baedowi

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:33  

      Items details

      • Hits: 1286 clicks
      • Average hits: 15.9 clicks / month
      • Number of words: 1328
      • Number of characters: 10578
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 158
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091307
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC