.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Politik
E-mail

PIKIRAN RAKYAT, MEI  2009

Politik Pendidikan

Oleh CECEP DARMAWAN

POLITIK dan pendidik­an jarang dipertautkan. Begitu pula ranah pen­didikan, seolah lepas dari persoalan politik. Meski keduanya sulit diketemukan dalam tataran empiris, tetapi tidak berarti ke­duanya beraduhadapan atau saling menafikan. Proses politik yang berkembang saat ini, hampir tidak pernah diapresiasi dalam konteks pendidikan. Fenomena politik yang ada, sering hanya dilihat dari sudiit kepentingan politik sesaat. Hal ini sangat dirasakan, ketika kita meli­hat bagaimana kasus kisruhnya DPT dalam pemilihan legislatif 9 April lalu. Berbagai pihak, khususnya suara-suara dari kalangan politisi partai yang kalah, melihat kekisruhan dalam DPT ini dari sudut teori konspirasi. Mereka melihat dan seolah berkeyakinan penuh bahwa ke­kisruhan dalam DPT adalah hasil dari konspirasi KPU dengan pemerintah atau dengan partai berkuasa. Dengan asumsi-asumsi seperti ini, elite politik partai yang kalah, kemudian mengkristalkan masalah ini menjadi satu alasan untuk me­lakukan pemboikotan atau penolakan terhadap hasil-hasil pe­milu legislatif.

Kita sepakat, bila mengatakan bahwa ada ketidakakuratan DPT. Hal ini bukan saja mudah dibuktikan, tetapi dapat dira­sakan oleh sejumlah masyara­kat Indonesia. Hal yang akan sulit dipahami, yaitu bila kita menggunakan teori konspirasi, menganggap bahwa kekisruhan DPT ini adalah hasil konspirasi antara KPU dengan pemerin­tah, atau menyudutkan pemerintah. Sikap yang terakhir ini merupakan argumen lama un-ttik kasus baru. Disebut sebagai argumen lama, karena posisi dan tingkat tanggung jawab pe­merintah saat ini dalam pemilu (termasuk DPT), tidak sebesar kekuasaan pemerintah di zaman Orde Bam.

Read more...
 
E-mail

 

PIKIRAN RAKYAT, 27 JULI 2009

 

Pendidikan Antiteroris

Oleh TOTO SUHARYA

TERLEPAS dari sudut mana kita memandang, terorisme adalah gejala sosial, politik, dan agama yang terjadi di masyarakat global sekarang. Penulis setuju dengan pendapat Muhammadun A.S., dalam artikelnya "Meluraskan Tafsir Terorisme" bahwa teroris­me sangat berbau politis dan pragmatis demi kepentingan sepihak ("PR", 22/7). Sayang, penjelasannya terlalu filosofis sehingga sulit dicerna masyarakat awam.

Dari sudut agama, Muham­madun menyalahkan metode pemahaman ajaran agama yang dimiliki umat Islam saat ini. Kesalahan itu dimulai dari doktrin-doktrin agama yang dipahami secara literalistik dan reduksionis. Metode ini telah membentuk karakter Muslim yang arogan , dalam memahami teks.

Pendapat ini bisa kita pahami, jika kita baca karangan Rois Abu Syaukat (2009), pelaku penyerangan Reduces Australia Kuningan Jakarta tahun 2004, berjudul Apa Itu Jihad? Dalam buku itu, dia memahami makna ji­had secara leterlek. Dengan mengutip ayat Alquran, jihad menjadi wajib dilakukan dengan jiwa dan raga untuk membela agama Islam dari ancaman orang-orang yang mereka anggap kafir. Jadi, menurut pandangan mereka, apa yang dilakukan seperti bom bunuh diri, adalah perbuatan mulia karena sudah dilandasi dan dibenarkan ayat-ayat Alqu­ran. Metode pemahaman semacam inilah yang disebutkan oleh Muhammadun sebagai pembentuk karakter Muslim yang aro­gan.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:29 Read more...
 
E-mail

 

PIKIRAN RAKYAT, 03 DESEMBER 2009

Merevisi Lampiran Permendiknas 20/2007


Oleh MOHAMMAD CAHYA

UJIAN Nasional (UN) merupakan hasil pemikiran  pemerintah dengan tujuan untuk meningkatkan mutu SDM Indonesia. Pemerintah, dalam hal ini Mendiknas, mengeluarkan Permendiknas No. 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian Pendidikan.

Sebagai penyempurna dari Lampiran Permendiknas tersebut, Mendiknas mengeluarkan Permendiknas No. 78 Tahun 2009 yang mengatur penyelenggaraan UN 2008-2009. Dari Lampiran Permendiknas 20/2007 dan disempurnakan dengan Permendiknas 78/-2009, dapatlah dipahami, pe­merintah sangat peduli terhadap mutu pendidikan Indone­sia. Namun, bagi sekolah, kedua Permendiknas itu menjadi tanggung jawab berat karena aturan kelulusan (peserta didik di setiap satuan pendidikan di seluruh Indonesia) yang dijadikan pedoman baku adalah kriteria kelulusan UN dari menteri. Pendek kata, aturan kelulus­an siswa ditentukan pemerin­tah. Dengan adanya asumsi aturan itu, penulis menyesalkan pemerintah (Depdiknas) yang membiarkan aturan itu berkembang dan berlaku. Hal ini sebenarnya telah terdeteksi sejak Desember 2007 oleh Komisi X DPR RI periode 2004-2009. Namun, perjuangan DPR tidak membuahkan hasil signifikan.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 08:04 Read more...
 
E-mail

Media Indonesia 1 Agustus 2005

 

Menteri Pendidikan Nasional

BUDAYAliterasi bangsa ini masih minim, itu sih semua orang paham. Tapi, seberapa besar upaya yang telah dilakukan untuk mendongkrak budaya aksara di negeri ini, terutama oleh orang nomor satu di Departemen Pendidikan Nasional? Menumbuhkembangkan bu­daya membaca secara paralel mesti diimbangi pula dengan bu­daya menulis. Aktivitas menulis bisa memicu kebiasaan membaca. Dengan makin banyaknya bahan bacaan dan aktivitas membaca, seseorang perlu mengekspresikan pemikiran dan pendapatnya. Keduanya terbentuk secara otomatis dari aktivitas membaca tadi.

Medium untuk bisa menulis dan memublikasikan tulisan itu haruslah diperbanyak. Agar publik negeri ini terangsang meningkatkan kualitas tulisan, perlu ada standar tertentu dan pemicu.

Sayembara adalah cara strategis untuk memicu. Program itu bisa diawali dengan sayembara cerita pendek dan dilengkapi hadiah-hadiah menarik sebagai motivator. Memicu hasrat agar selahi ambil bagian pada kegiatan tersebut.

Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:30 Read more...
 


Page 3 of 11

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 69
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124402
DSCF8798.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC