.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Politik
E-mail

 

KOMPAS, RABU, 24 September 2008

 

Lonceng Kematian Sekolah Swasta

Oleh S. BELEN

 

Tahun 2009, anggaran pendidikan mendapat tambahan Rp 46,15 triliun hingga menjadi Rp 224 triliun (20 persen APBN). Penghasilan guru dan dosen PNS terendah minimal Rp 2 juta, belum termasuk kenaikan kesejahteraan sekitar 14-15 persen gaji pokok.

Kabar menggembirakan bagi guru dan dosen PNS itu ternyata tak dinikmati guru sekolah swasta. Bagi mereka, ketentuan itu hanya menjadi pelipur lara. Guru non-sarjana hanya mendapat subsidi tunjangan Rp 50.000 dan guru S-l Rp 100.000 per bulan (Kompas, 10-12/9/2008).

Tambahan ini akan digunakan uatuk menaikkan dana bantuan operasional se­kolah (BOS), menambah guru madrasah, rehabilitasi sekolah, peningkatan sarana sekolah, peningkatan kualitas pendidikan nonformal, dan penelitian pendidikan.

Last Updated on Thursday, 23 February 2012 07:55 Read more...
 
E-mail

 

PIKIRAN RAKYAT, 7 Oktober 2008

 

Jangan Katakan, "Pendidikan Gratis"

Oleh H. MOHAMAD SURYA

 

Dalam hiruk pikuk kampanye pemilu atau pilkada, bahkan dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, pendidikan senantiasa menjadi "komoditas" kampanye  yang  paling  banyak ditampilkan. Para kontestan, baik calonnya langsung  maupun  melalui  juru kampanyenya, dengan fasih menyampaikan visi dan misinya melalui pendidikan. Tidak tanggung-tanggung ada yang menjanjikan pendidikan gratis, bebas SPP, menaikkan  gaji guru, menaikkan anggaran pendidik­an, memberikan beasiswa, dan berbagai janji lainnya mengenai pendidikan untuk menarik para pemilih. Jargon itu sangat manis dan enak didengar serta biasanya disambut dengan tepuk tangan dan sorak-sorai yang meriah. Karena pendidikan menyangkut kebutuhan setiap warga negara, tentunya boleh-boleh saja dan sah-sah saja menyampaikan sesuatu untuk menarik para pemilih.

Akan tetapi, apakah mungkin yang dijanjikan itu akan dipenuhi nanti ? Ya, semoga saja demikian karena itulah kebutuhan nyata dan setiap warga negara. Namun, kalau dikaji lebih jauh, mungkin janji itu sangat mudah dan fasih disampaikan, apalagi dalam situasi besarnya motivasi untuk meraih suara sebanyak-banyaknya. Bagi mereka yang memahami benar makna pendidikan, rasanya janji itu lebih banyak emosional ketimbang konsepsional. Janji itu lebih banyak berbasis penasaran ketimbang penalaran, lebih banyak kulit permukaan ke­timbang makna isinya. Para calon, baik langsung atau melalui tim suksesnya, cukup gigih menawarkan "pendidikan" sebagai salah satu komoditas kampanye. Semua pasti mengharapkan apa yang mereka tawarkan mampu diwujudkan demi  perbaikan masa depan bangsa.

Last Updated on Thursday, 23 February 2012 06:56 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS, SENIN, 8 SEPTEMBER 2008

 

Cara Unik Menggugat Pendidikan

 

Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Begitu bunyi Pasal 31 Ayat 2 Amandemen Undang-Undang Dasar 1945. Namun, hingga saat ini, amanat itu belum sepenuhnya terlaksana.

Ade Pujiati (41) adalah guru piano jebolan Fakultas Sastra Inggris Universitas Indonesia semester IV. Tahun 2005, Ade gelisah dan marah dengan pendidikan nasional. Itu gara-gara anak asuhnya, Intan yang duduk di bangku sekolah dasar, dibebani pungutan liar di sekolah untuk pelajaran tambahan. Karena tidak bersedia membayar, Intan diancam tidak lulus dan dicopot dari anggota Paskibraka

"Saya nangis sampai berhari-hari, setelah itu saya bertekad mendirikan sekolah sendiri," ujar Ade di rumahnya, Jalan Pancoran Timur VIII Nomor 48, Kompleks Perdatam, Jakarta Selatan, akhir Agustus lalu. Ade lalu mendirikan SMP Gratis Ibu Pertiwi di teras rumahnya.

Last Updated on Wednesday, 22 February 2012 11:58 Read more...
 
E-mail

 

KOMPAS, 11 SEPTEMBER 2008

 

AR Baswedan, 1908-1976

Oleh Utomo Dananjaya

 

Setelah proklamasi kemerdekaan, Jepang masih menguasai beberapa daerah. Belanda menduduki Jakarta dan beberapa kota besar, seperti Bandung dan Surabaya. Pemerintah mengobarkan perlawanan di daerah pendudukan Belanda. Belanda memblokir Republik Indonesia, berhubungan dengan dunia luar, menghalangi tamu yang datang. Indonesia belum punya perwakilan.

Namun, Konferensi Liga Arab di Cairo, 18 November 1946, menyerukan agar negara-negara Arab memberikan pengakuan kepada RI. Sementara Pemerintah India mengundang RI menghadiri Inter Asian Conference.

Liga Arab mengirim Mohammad Abdul Mun’im untnk menyampaikan sikap itu kepada Presiden Soekarno. Sampai Singapura Konsul Belanda tidak mau meniberi visa. Untung Abdul Mun'im mendapat bantuan Miss Ktut Tantri, wanita Amerika yang bersama Bung Tomo menyiarkan pidato radio di Surabaya. Ktut Tantri mencarter pesawat, menembus blokade Belanda, terbang langsung ke Yogyakarta.

Last Updated on Wednesday, 22 February 2012 10:48 Read more...
 


Page 8 of 11

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 111
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124398
DSCF8798.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC