.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, SELASA, 2 SEPTEMBER 2008

       

      Potret Buram Pendidikan Indonesia

      MASALAH dunia pendidikan di Indonesia seakan tidak ada habisnya. Ibarat benang kusut, sejumlah permasalahan klasik masih saja melingkupi dunia pen­didikan kita. Tidak hanya pemerataan kesempatan pendidikan, tingginya biaya pendidikan yang bermutu, peningkatan kualitas dan fasilitas, tapi juga rendahnya tingkat relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.

      Kakunya kurikulum dan celakanya harus ditambah dengan perubahan-perubahan kuriku­lum yang sering terjadi, namun tanpa dibarengi dengan perbaikan mutu pendidikan sendiri. Perubahan kurikulum justru dijadikan ajang bisnis, beda kuriku­lum berarti beda buku pedoman. Amanat undang-undang dasar untuk menganggarkan dana 20% dari APBN belum mampu dipenuhi pemerintah.

      Di satu bagian wilayah Indo­nesia, dekat perbatasan Indonesia dan Malaysia, ada satu sekolah yang hanya diajar oleh satu guru. Tiga ruang yang saling berhubungan dan tiap ruang diisi oleh gabungan dua kelas. Hal tersebut menjadi salah satu dari sekian banyak potret suram pendidikan di Indonesia. Pendidikan untuk semua juga masih dalam batas tataran janji.

       

      Hingga sekarang di era pascareformasi, biaya sekolah tak ada yang gratis. Komitmen pemerin­tah memang masih dalam batas lip service.Hal yang lain menyangkut sarana dan prasarana belajar. Persoalan buku, ini juga menjadi masalah yang akhirnya menjadi beban masyarakat,

      Tiap tahun buku pelajaran berganti, biaya sekolah menjadi sangat mahal, yang akhirnya menyulitkan bagi orang tua. Berbeda dengan zaman dulu, saat pemerintah punya kepedulian terhadap pengadaan buku pe­lajaran.Anak-anak didik mendapat buku tersebut secara cuma-cuma, atau sekurang-kurangnya men­dapat pinjaman. Tiap sekolah memiliki perpustakaan yang lengkap sehingga murid-murid dapat memanfaatkan dan membaca buku di perpustakaan.

      Realisasinya, tidak semua se­kolah di negeri ini memiliki sara­na laboratorium yang memadai. Yang prinsip atau yang primer saja, persoalan sarana ini belum semua dapat terealisasi.

      Apalagi sarana lain yang merupakan penunjang, seperti halnya sarana olahraga, kesenian, dan sebagainya, tidak semua lembaga pendidikan di Indonesia dapat melengkapinya.. Intan/T-1

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 06:26  

      Items details

      • Hits: 1014 clicks
      • Average hits: 10.8 clicks / month
      • Number of words: 1517
      • Number of characters: 12530
      • Created 7 years and 10 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 10 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 120
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9127232
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      December 2019
      S M T W T F S
      1 2 3 4 5 6 7
      8 9 10 11 12 13 14
      15 16 17 18 19 20 21
      22 23 24 25 26 27 28
      29 30 31 1 2 3 4

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC