.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Politik Pork Barrel dan Kemiskinan

      Oleh Teddy Lesmana

      Peneliti di Pusat Penelitian Ekonomi LIPI dan Forecast, Indonesia Scholar di University of Maryland at College Park, Amerika Serikat

      JAGAT politik Indonesia kembali digemparkan Partai Golkar dengan usulan dana aspirasi dengan setiap anggota DPR RI memperoleh Rp l5 miliar per daerah pemilihan. Sontak usul itu mengundang sejumlah reaksi dari berbagai kalangan di Indonesia, apalagi, rentetan drama politik yang dipertontonkan para legislator di Senayan.tak pernah sepi dari kontroversi. Belum lama energi publik tersedot oleh drama kasus Century yang berakhir dengan terbentuknya setgab koalisi partai politik. Tak lama kemudian muncullah usulan dana aspirasi yang dimotori Partai Golkar.

      Usulan dana aspirasi itu sebetulnya bukan hal yang baru. Di Amerika Serikat praktik ini dikenal sebagai pork barrel politics, Evans (2004) menyebutkan, "Istilah pork barrel berawal di bagian selatan Amerika sebelum Perang Sipil. Para pemilik budak memberikan gentong-gentong yang berisi daging babi yang telah diasinkan kepada para budak mereka yang kekurangan gizi di hari-hari raya, dan para budak tersebut berebutan memperoleh daging tersebut. Perilaku para legislator yang mencari subsidi pemerintah untuk kepentingan priba-di politik mereka bisa disamakan dengan perilaku para budak yang memperebutkan da­ging tersebut." Setelah perang sipil berakhir, istilah itu menjadi sesuatu yang mengandung konotasi yang negatif terkait dengan perilaku politisi yang menggunakan uang negara untuk kepentingan politiknya dan tidak semata-mata untuk kepentingan rakyat yang diwakilinya. Banyak kasus yang terjadi di Amerika Serikat sendiri dengan beberapa proyek memakan anggaran yang sebetulnya tidak wajar. Misalnya, ada usulan-usulan proyek pembuatan toilet di Gunung McKinley yang menghabiskan anggaran sebesar US$800.000, pembuat-an perahu kuno purba sebesar US$2 juta, dan studi bagaimana menyelidiki mengapa orang tidak bersepeda ke kantor yang dianggarkan sebesar US$1 juta, dan masih banyak lagi usul­an proyek-proyek 'aneh' yang untuk ukuran negara sekaliber AS sendiri dipandang tak wajar dibuat untuk melegalkan penggunaan anggaran yang disebut sebagai pork barrel tersebut. Bukan tidak mungkin hal yang sama akan terjadi di Indonesia jika benar-benar usulan dana aspirasi ini disahkan.

      Sementara itu, pengusul dana aspirasi di DPR tersebut mencoha mempergunakan logika bahwa itu merupakan bagian dari hak bujet DPR sehingga usulan itu dianggap oleh sang pengusul tidak menyalahi aturan main. Kemudian, dana aspirasi, masih menurut pengusul, diarahkan untuk kawasan-kawasan yang selama ini tertinggal dan tidak tersentuh pembangunan.

      Bahwa masih banyak daerah yang tertinggal sebagaimana klaim yang diajukan sebagian kalangan anggota DPR RI tersebut memang tak bisa dimungkiri. Meskipun begitu, apakah para anggota DPR RI tersebut juga perlu untuk ikut mengatur persoalan teknis alokasi anggaran hingga berhak menuntut dana aspirasi yang diatasnamakan untuk kepentingan rakyat? Apakah ada jaminan bahwa dana as­pirasi tersebut akan benar-benar sampai kepada rakyat yang berhak dan rakyat yang mana yang dimaksud? Masih banyak pertanyaan yang harus ditelusuri mengingat sejauh ini aspirasi rakyat masih banyak terabaikan dan hanya didekati mehjelang pemilihan umum.

      Sejauh ini kita masih mendengar betapa ba­nyak rakyat yang masih terhimpit kesulitan ekonomi. Tak jarang kita melihat kasus-kasus ada orang tua yang terpaksa menelantarkari anak-anak mereka yang masih kecil karena kesulitan ekonomi yang makin keras dirasakan mereka. Juga tidak terlalu sulit untuk melihat gedung-gedung sekolah yang hampir ambruk tak jauh dari pusat kekuasaan di republik ini.

      Untuk daerah tertinggal sendiri, Indonesia telah memiliki Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal dan berbagai program pem-bangunan yang coba dijalankan pemerintah yang tersebar di berbagai kementerian. Me­mang perlu diakui, efektivitas program-pro­gram pemerintah tersebut mulai dari tingkat pusat hingga daerah belum optimal dan bisa dirasakan semua kalangan anak bangsa di negeri ini. Praktik korupsi belum bisa sepenuhnya diberantas habis sehingga menyebabkan anggaran yang sedianya diarahkan untuk menyejahterakan rakyat dan memenuhi hak-hak dasar rakyat seperti pendidikan dan kesehatan tak menjangkau rakyat yang sejatinya sebagai pemegang kedaulatan di negeri ini.

      Demikian juga perencanaan pembangunan yang meski kini sudah ada upaya perbaikan dengan menggelar musrenbang dari daerah hingga ke pusat, masih banyak yang belum tepat sasaran dan sesuai dengan yang direncan akan.'Untuk itu, sejatinya para ang­gota DPR lebih baik memfokuskan dirinya memperjuangkan aspirasi rakyat dengan menyelesaikan berbagai aturan perundangan yang ditujukan untuk mendukung terciptanya kesejahteraan rakyat, ikut mengawasi secara aktif dalam penggunaan anggaran oleh eksekutif dalam berbagai pembangunan agar be­nar-benar tepat sasaran, ikut berkontribusi memberikan masukan yang konstruktif yang berasal benar-benar dari realitas lapangan dan bukan hanya untuk kepentingan politik sesaat. Negara ini memerlukan kerja yang ekstra keras mengingat masih banyak rakyat yang belum bisa menikrnati sepenuhnya dampak dari pembangunan. Oleh karena itu, kiranya ja-nganlah menambah polemik politik baru yang akan menguras energi dan pikiran kita dalam mengejar ketertinggalan bangsa ini. Masih banyak masalah substantial menyangkut ke­sejahteraan rakyat dan penanggulangan kemiskinan yang belum terselesaikan yang perlu bukti nyata dan bukan cuma janji apalagi hanya mengatasnamakan rakyat tanpa rakyat itu sendiri merasakan apa dampak dari keberadaan para wakil rakyat yang mewakili mereka.

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 4452 clicks
      • Average hits: 56.4 clicks / month
      • Number of words: 2151
      • Number of characters: 17968
      • Created 6 years and 7 months ago at Saturday, 21 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 145
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091399
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC