.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Pilpres dan Kemiskinan

      Akhirnya, terjawab sudah teka-teki siapa yang akan bertanding pada Pemilihan Presiden 2009. Sebanyak tiga pasangan capres-cawapres telah mendeklarasikan diri untuk maju dan sudah mendaftarkan diri ke KPU, yaitu SBY-Boediono, JK-Wiranto, dan Mega-Prabowo. Terlepas dari kelebihan dan kelemahan masing-masing, kita berharap melalui proses pemilihan langsung, jujur, dan adil dihasilkan pa­sangan presiden dan wakil presiden yang memiliki keberpihakan kuat terhadap kepentingan rakyat dan bangsa, mengingat tantangan yang dihadapi akan semakin berat ke depannya. Di antara persoalan krusial yang dihadapi bangsa ini adalah kemiskinan dan kesenjangan pendapatan yang semakin meningkat antara kelompok kaya dan kelompok miskin.

      Berdasarkan data BPS . (2008), jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai angka 34,96 juta orang atau 15,42 persen dari total penduduk. Memang, terdapat penurunan bila dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai angka 37,17 juta orang. Namun, sejumlah kalangan mengkritik validitas indikator yang digunakan BPS dalam menentukan garis kemiskinan tersebut. Sementara itu, menurut Mudrajad Kuncoro (2007), pertumbuhan ekonomi Indonesia sejak tahun 2000 hanya dinikmati oleh 40 persen golongan menengah dan 20 persen golongan terkaya. Sisanya, 40 persen kelompok penduduk yang berpendapatan terendah semakin tersisih. Kelompok penduduk ini hanya menikmati porsi pertumbuhan ekonomi 19,2 persen pada 2006, lebih kecil bila dibandingkan tahun 2000 yang mencapai 20,92 persen. Sebaliknya, 20   persen   kelompok   penduduk terkaya makin menikmati pertum­buhan ekonomi, dari 42,19 persen menjadi 45,72 persen.

      Untuk mengatasi persoalan-persoalan tersebut, dalam APBN 2009 ini, telah digariskan bahwa kebijakan ekonomi pemerintah didesain untuk lebih pro growth (memacu pertumounan ekonomi), pro.job (memperluas lapangan kerja), dan pro poor (mengurangi kemiskinan). Hal ini juga sebagai upaya untuk mencapai target yang telah ditetapkan dalam Millenium Summit tahun 2000 lalu di mana Indonesia diharapkan dapat mengurangi separuh penduduk miskinnya pada tahun 2015. Persoalannya sekarang, apa-kah kebijakan pro growth dan pro poor ini dapat berjalan simultan atau tidak karena fakta di lapangan seolah-olah menunjukkan adanya kontradiksi. Di sinilah letak pentingnya penggunaan instrumen dan strategi distribusi pendapatan dan kekayaan yang bersifat efektif dan tepat sasaran.

      Dua pendekatan

      Selama ini, konsep distribusi pen­dapatan dalam aliran ekonomi kon-vensional didominasi oleh dua mazhab, yaitu mazhab ortodoks (klasik) dan mazhab strukturalis. Mazhab yang pertama lebih menekankan pada konsep keseimbangan alokasi sumber daya dan konsep pasar bebas. Perbedaan kondisi antarsektor dalam perekonomian akan menyebabkan pertukaran dan alokasi sumber daya secara efisien tanpa ada campur tangan pemerintah hingga mencapai kondisi pareto optimal. Pertukaran tersebut pada hakikatnya merupakan proses pembangunan.

      Sedangkan, mazhab strukturalis lebih menitikberatkan pada peran dan fungsi negara dalam pembangunan ekonomi. Sehingga, jika intervensi pemerintah ini ditiadakan, distribusi pendapatan dan pemerataan akan sangat sulit terjadi. Dalam praktiknya, mazhab ini, menu-rut Susilowati et al (2007), menggunakan dua pendekatan, yaitu ekstrem kanan yang berbasis paham kapitalis dan ekstrem kiri yang cenderung sosialis. Ekstrem kanan menggunakan prinsip grow first then redistribute, yaitu mengutamakan pertumbuhan ekonomi, kemudian melakukan redistribusi. Sementara itu, aliran ekstrem kiri menggunakan prinsip sebaliknya, yaitu redistribute first then grow.

      Yang menjadi masalah, ternyata kedua mazhab tersebut beserta pendekatannya telah gagal dalam mewujudkan kesejahteraan dunia yang lebih adil dan merata. Berdasarkan World of Work Report 2008 yang diterbitkan ILO (International Labor Organization), ditemukan fakta bahwa kesempatan kerja sepanjang kurun waktu 1990-2007 mengalami peningkatan sebesar 30 persen akibat pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Namun demikian, kesenjang-an pendapatan dunia pun semakin meningkat. Sebagai contoh, share atau kontribusi buruh berpendapatan rendah terhadap Produk Domestik Bruto mengalami penurunan, masing-masing sebesar 13 persen di Amerika Latin dan Karibia, 10 persen di Asia Pasifik, dan sembilan persen di negara-negara maju. Masih dalam kurun waktu yang sama, 70 persen negara-negara di dunia juga mengalami hal yang sama, yaitu pe­ningkatan kesenjangan pendapatan yang sangat signifikan.

      Ini menunjukkan bahwa sistem ekonomi konvensional global beserta instrumennya tidak mampu menekan laju kesenjangan yang semakin meningkat dari waktu ke waktu. Fakta ini pun diperkuat oleh riset KA Ishaq (2003) yang dalam disertasinya di Oregon University AS mampu menunjukkan kegagalan strategi pendekatan lembaga-lembaga internasional dalam memerangi kemiskinan dan kesenjangan global. Salah satu penyebab utamanya ada­lah diabaikannya instrumen eko­nomi berbasis agama dan budaya lokal yang sesungguhnya lebih dekat dengan kondisi aktual masyarakat sebuah komunitas atau bangsa.

      Ekonomi syariah

      Dengan kondisi di atas, sudah saatnya para pemimpin negeri ini mengubah paradigma pengentasan kemiskinan. Ada sebuah kisah menarik dari cerita Kungfu Boy yang pernah meledak di era 1990-an. Alkisah, Chin Mi sang pendekar berhadapan dengan Shie Fan yang merupakan jagoan ilmu tongkat. Chin Mi pun berguru kepada Shie Fan dan berusaha untuk mengalahkannya. Meski telah mengcopi strategi dan pola latihan Shie Fan, Chin Mi tetap tidak bisa mengalahkannya. Akhirnya, Shie Fan pun memberikan tips. Jika Chin Mi ingin mengalahkannya, yang harus dilakukan adalah berpikir out of the boxdengan menggunakan pola dan stra­tegi baru yang lebih sesuai dengankarakter Chin Mi.

      Yang bisa diambil dari cerita itu adalah saatnya Indonesia menggu­nakan pendekatan dan strategi baru aaiam membangun perekonomian dan mengentaskan kemiskinan. Salah satu konsep yang sangat dekat dengan kultur masyarakat Indonesia adalah ekonomi syariah. Instrumen bagi hasil, sebagai contoh, telah dipraktikkan selama bertahun-tahun oleh masyarakat Indonesia dalam bentuk sistem maro dalam tanaman pangan, sistem gaduhan dalam peternakan, dan sistem bagi hasil dalam perikanan tangkap.

      Demikian pula dengan instrumen-instrumen lain, seperti zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Sudah saatnya pemerintah memberikan fokus lebih besar kepada ZIS untuk dapat berkembang dan berperan dalam mengentaskan kemiskinan. Dalam praktiknya selama ini, berbagai program berbasis ZIS telah dilak-sanakan, seperti rumah sakit gratis, beasiswa pendidikan, dan bantuan modal usaha. Penelitian Beik (2009) menunjukkan bahwa program kesehatan dan rumah sakit gratis berba­sis zakat di Jakarta ternyata mampu mengurangi kemiskinan mustahik sebesar 10 persen. Jika saja potensi ZIS bisa direalisasikan sepenuhnya, pasti dampaknya pun akan semakin besar.

      Instrumen lain yang dapat digunakan adalah wakaf, termasuk wakaf tunai. Riset Cizakca (2004) menunjukkan, ternyata wakaf tunai mampu memainkan peran yang sangat signifikan dalam perekonomian Khilaf ah Turki Usmani, terutama dalam periode 1555-1823 M. Dengan menggunakan akad murabahah (margin profit 10-11 persen) dan mudarabah, wakaf tunai saat itu mampu memberi akses pembiayaan kepada dunia usaha, sekaligus mem­berikan manf aat bagi kaum dhuafa. Karena, margin profit tersebut digunakan sepenuhnya untuk kepentingan kelompok miskin dan tujuan-tujuan sosial lainnya.

      Selain itu, pemerintah juga dapat memanfaatkan institusi perbankan syariah, termasuk BPRS, BMT, koperasi syariah, hingga sukuk, dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Inilah yang harus kita bedah dari figur capres dan cawapres yang ada. Jika mereka hanya menawarkan pendekatan konven­sional sebagai satu-satunya pilihan kebijakan, kebangkitan ekonomi bangsa akan semakin berat. Karena itu, optimalkanlah sistem ekonomi syariah. Wallahu'alam.

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 705 clicks
      • Average hits: 8.9 clicks / month
      • Number of words: 3318
      • Number of characters: 28058
      • Created 6 years and 7 months ago at Saturday, 21 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 138
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091401
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC