.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Persilangan Diskursus Kemiskinan

      Kompas kamis 15 Juli 2010

      Oleh IVANOVICH AGUSTA


      Kapankah kemiskinan berakhir? Pertanyaan pokok pembangunan ini tidak bersifat Utopia seandainya wajah ganda kemiskinan di Indonesia dapat dipahami. Sayangnya, yang digandakan selama ini berupa kajian multidisipliner hingga pengarusutamaan penanganan melalui beragam kementerian dan lembaga Wajah kemiskinan tetap dikenali secara tunggal kemiskinan produksi. Padahal, anomali wajah ganda kemiskinan telah terbentuk ketika masyarakat adat di 4.800 desa menolak identitas miskin bagi dirinya. Di desa-desa lain pernyataan miskin oleh warga desa ditolak oleh panitia proyek bantuan langsung tunai.

      Enam diskursus

      Saya mendeteksi di Indonesia muncul enam diskursus kemis­kinan. Pertama, diskursus pembagian kelebihan. Dalam suatu komunitas, orang yang berkelebihan berbagi kepada sesama yang kekurangan. Barang dan jasa yang dibagi relatif  berkualitas sama, bukan barang jelek untuk recehan. Di desa-desa di Sulawesi Tengah, kelapa yang jatuh sendiri ke tanah dimiliki siapa saja yang hendak mengambilnya. Kelapa itu dapat dijual di pasar sehingga orang-orang tua tetap mendapatkan uang dan makanan melalui pengumpulan kelapa jatuh.

      Kedua, diskursus kemiskinan rasial dan etnis. Pada awal abad ke-20 Pemerintah Hindia Belanda memandang keturunan Indo di wilayah kota menyesaki golongan miskin. Posisi rasial yang tak jelas akhirnya diikuti ketakjelasan akses kekuasaan ekonomi. Bukan berarti tak ada kemis­kinan di kalangan pribumi, tetapi pribumi dipandang bukan manusia utuh. Persoalan dengan pribumi bukanlah kemiskinan, melainkan upaya penjinakan agar mereka tak liar. Bandingkan warisan ini dengan saat memastikan kemiskinan di Papua, Badui, Samin, Anak Dalam sekalipun mereka sendiri menyangkalnya.

      Ketiga, diskursus kemiskinan sosialis. Kemiskinan merupakan akibat logis hubungan orang miskin dengan kapitalis. Melalui diskusi partisipatoris, Barisan Tani Indonesia mencatat pernyataan pada tahun 1950-an bahwa ke­miskinan di desa merupakan hasil relasi pengisapan orang miskin oleh tujuh setan desa.

      Keempat, diskursus kemiskin­an produksi. Saya kira yang didiskusikan oleh pemerintah, do­nor, dan swasta di Indonesia sepenuhnya berada dalam diskur­sus ini. la muncul bersamaan dengan laju Revolusi Industri. Proletariat yang muncul semula dipandang sebagai masalah ke­miskinan dan hendak diatasi de­ngan tindakan karitatif. Bantuan karitatif kemudian diorganisasikan dan, setelah Perang Dunia II, teratama dilakukan oleh Bretton Woods (Bank Dunia dan IMF).

      Pola bantuan dan program penanggulangan kemiskinan tetap sama jangan sampai lapisan terbawah jatuh sakit dan meninggal (karena menjadi persoalan ter-sendiri), tetapi dibantu sampai pada batas bisa berproduksi, atau tepatnya menunjang sistem pro­duksi industrial (kini batasan itu berupa garis kemiskinan atau upah minimum buruh).

      Kelima, diskursus potensi orang miskin sejak dekade 1970-an. Kelompok dikembang-kan untuk meningkatkan potensi atau kapasitas. Orang miskin tak tepat didefinisikan sebagai "orang yang tak memiliki", tetapi paling tepat sebagai "orang yang memiliki potensi".

      Pada pernyataan ekstrem, petani dan orang miskin merupakan pihak yang mengetahui ma­salah dan peluang jalan keluarnya sendiri. Pihak luar menjadi diperlukan (penyuluh, pendamping), terutama demi mewujudkan potensi itu menjadi kekuatan atau kekuasaan nyata. Mubyarto, Sajogyo, Masri, LSM Bina Swadaya, dan Bina Desa ada di sini. Keenam, diskursus kemiskin­an yang diharapkan. Zuhud atau asketisme dipandang sebagai ja­lan lempang menuju ketinggian derajat manusia dalam aspek rohani dan intelektualitas. Sayup-sayup di Indonesia terdengar asketisme pertapa untuk meningkatkan ilmu.

      Persilangan diskursus

      Tindakan ke depan yang penting adalah menemukan persentuhan beragam diskursus itu. Ke­miskinan rasialis, misalnya, mampu menegakkan kolonialisme dengan memandang pribumi sebagai orang malas (mitos ini muncul pada dekade 1920-an, padahal seabad sebelumnya dimitoskan garang seiring Perang Di-ponegoro). Persilangan diskursus ini dengan diskursus kemiskinan produksi menghasilkan pelainan kepada orang miskin yang dipan­dang liar. Program kemiskinan di Papua dan suku terasing lain di­pandang punya kekhususan, tetapi tanpa harapan tinggi be hasil menanggulanginya.

      Persilangan diskursus pemb gian kelebihan dan kemiskim produksi menghasilkan mekanisme pemerataan proyek meskipun aturan Bank Dunia men haruskan persaingan. Di Salati§ Ponorogo, Jombang, progra pemberdayaan yang mengharu kan persaingan antar desa disertai lobi di luar ruangan, saling bantu desa yang belum pernah mendapat proyek.

      Persentuhan diskursus potensi orang miskin dengan diskursi kemiskinan produksi terlihat dari pengembangan kelompok. Ada pengembangan potensi di sana walau sejatinya bertarung pengembangan potensi tanpa batas dengan pengembangan potensi terbatas untuk berproduksi.

      Pertarungan kekuasaan anta diskursus kemiskinan berakhir jelas. Donor internasional unggul dalam inovasi teori modal sosial pemberdayaan, kelembagaan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, Komite Penan gulangan Kemiskinan, hinggs mengganti pendamping masyrakat dari LSM menjadi koi sultan swasta.

      IVANOVICH AGUST Sosiolog Pedesaan IPB Bogi

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

       

      Items details

      • Hits: 951 clicks
      • Average hits: 12 clicks / month
      • Number of words: 2833
      • Number of characters: 24147
      • Created 6 years and 7 months ago at Tuesday, 10 April 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 134
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091401
      DSCF8803.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC