.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, 13 MEI 2008

       

      Perguruan Tinggi di Indonesia

      Adu Kreatif Menuju Puncak

      PERKEMBANGAN PERGURUAN TINGGI DI INDONESIA KINI MENUNJUKKAN FAKTA CUKUP MENGGEMBIRAKAN. MESKIPUN JUMLAH ORANG YANG MELANJUTKAN PENDIDIKAN KE PERGURUAN TINGGI MASIH SEDIKIT, JUMLAH PENDAFTAR KE PERGURUAN TINGGI SEMAKIN MENINGKAT, SETIDAKNYA DALAM TIGA TAHUN TERAKHIR.


      Departemen Pendidikan Nasional mengungkap pada tahun akademik 2004/2005, 1,512 juta orang mendaftar ke perguruan tinggi. Dua tahun kemudian, 2006/2007, jumlahnya mengalami peningkatan hingga mencapai 1,563 juta pendaftar. Itu menunjukkan minat masyarakat semakin besar untuk bersekolah setinggi-tingginya. Minat itu tentu disambut para pelaku pendidikan tinggi. Hal itu tampak dari meningkamya jumlah pergu­ruan tinggi yang beroperasi di Tanah Air. Menurut Depdiknas, pada 2006/2007, jumlah perguruan tinggi mencapai 2.638 lembaga. Angka itu meningkat dari dua ta­hun sebelumnya, 2004/2005, yang baru mencapai 2.516 lembaga. Berarti, hanya dalam waktu dua tahun, sebanyak 100 perguruan tinggi tumbuh di Indonesia. Per­guruan tinggi tersebut terdiri dari berbagai bentuk, yaitu univerrsitas, institut, sekolah tinggi, akademi, dan politeknik.

      Di antara banyaknya perguruan tinggi tersebut, ada beberapa perguruan tinggi yang menjadi favorit calon mahasiswa. Di jajaran perguruan tinggi negeri (PTN), lima perguruan tinggi fa­vorit adalah Universitas Indone­sia (UI), Institut Teknologi Ban­dung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair), dan Institut Pertanian Bogor (IPB).

       

      Di jajaran perguruan tinggi swasta (PTS), nama-nama besar seperti Universitas Trisakti, Uni­versitas Muhammadiyah Surakarta, Universitas Katolik (Urika) Atma Jaya, Universitas Surabaya (Ubaya), STT Telkom, Universitas Bina Nusantara (Binus), dan Universitas Pelita Harapan (UPH) selalu dibanjiri pen­daftar pada tahun ajaran baru. PTS-PTS tersebut bahkan tercatat dalam 50 besar kampus yang menjanjikan menurut Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti).

      Kerja sama internasional

      Untuk bisa menarik sebanyak-banyaknya peminat, kampus-kampus tersebut juga menjadi semakin kreatif. Salah satu upaya yang dilakukan untuk memenangi persaingan adalah menjalin kerja sama, tidak hanya dengan dunia usaha untuk menyalurkan lulusan, tetapi juga dengan perguruan tinggi di luar ne­geri. Kerja sama tersebut terdiri dari berbagai bentuk. Dahulu, kerja sama masih terbatas dalam hal tukar-menukar dosen dan mahasiswa, atau riset bersama. Kini, kerja sama internasional yang tengah menjamur adalah pembukaan program kembaran dan program gelar ganda. Pro­gram kembaran adalah penyelenggaraan program studi yang sama di kampus Indonesia dan kampus luar negeri. Lulusannya mendapat ijazah dari kampus di Indonesia dan dapat memperoleh ijazah dari kampus di luar negeri. Penyelenggaraan pro­gram gelar ganda tidak harus dari program studi yang sama antara kampus Indonesia dan kampus luar negeri.

      Beberapa kampus yang telah melakukan kerja sama semacam ini antara lain adalah Fakultas Psikologi Universitas Indonesia yartg menggandeng Faculty of Psychology University of Queensland Australia dan Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti yang menggandeng Edith Co­wan University, Perth, Australia. Selain kedua kampus tersebut, beberapa kampus lain juga me­lakukan langkah serupa untuk meningkatkan mutu dan menarik minat calon mahasiswa.

      Menjamurnya kerja sama in­ternasional semacam itu kemu­dian diakomodasi pemerintah. Pemerintah mengeluarkan payung hukum berupa Peraturan Mendiknas No 26/2007 tentang Kerja Sama Perguraan Tinggi di Indonesia dengan Perguruan Tinggi atau Lembaga Lain di Luar Negeri. Perguruan tinggi kita memang diperbolehkan un­tuk menjalin kerja sama seluas-luasnya dengan perguruan tinggi atau lembaga lain di luar negeri sesuai dengan ketentuan. Tujuannya tentu meningkatkan muru pendidikan tinggi di Indonesia yang harus diakui masih belum bisa dikatakan memuaskan.

      Berdasarkan berbagai pemeringkatan perguruan tinggi in­ternasional, kampus-kampus favorit Indonesia memang masih harus berjuang keras untuk bisa 'naik kelas' dan sejajar dengan kampus-kampus favorit dunia. Di Asia Tenggara pun, Indonesia masih harus bekerja keras me­ningkatkan mutu pendidikan tingginya karena harus bersaing dengan kampus-kampus ternama seperti National University of Singapore (terbaik di Singapura), University of The Philippines Diliman (terbaik Filipina), University Sains Malaysia (terbaik Malaysia), dan Ho Chi Mirth City University of Natural Sciences (terbaik di Vietnam) (menurut Times Higher Education Supple­ment /THES pada akhir 2007).

      Indikator

      Apa yang membedakan kam­pus-kampus favorit itu dengan kampus biasa? Menurut pemerhati pendidikan tinggi, Tata Sutabri, setidaknya ada delapan indikator yang harus dipenuhi dengan baik oleh kampus jika ingin dikatakan bagus. Pertama, kualifikasi dosen. Semakin ting­gi pendidikan minimal dosen, semakin bagus kualitas perguruan tinggi tersebut. Selain itu, dosen-dosen praktisi yang ternama juga bisa ikut melambungkan nama sebuah kampus.

      Kedua, status dosen di perguruan tinggi tersebut. Biasanya, di sebuah kampus ada dosen tetap dan ada dosen tidak tetap. Banyaknya dosen tetap mengindikasikan kampus tersebut sudah mapan. Sebaliknya, banyaknya dosen tidak tetap menunjukkan kampus tersebut belum mapan.

      Ketiga, kuantitas perkuliahan. Sudah menjadi rahasia umum bahwa ada kampus-kampus yang menyelenggarakan kuliah instan. Dengan hanya mengikuti kuliah seminggu dua kali di akhir minggu, mahasiswa sudah bisa memperoleh gelar sarjana. Kampus semacam itu tentu bukan kampus yang bagus. Kam­pus-kampus berkualitas prima memiliki jadwal kuliah yang padat karena memang untuk mencetak seorang sarjana butuh waktu lama.

      Keempat, jumlah buku di perpustakaan. Buku adalah sumber ilmu yang utama di perguruan tinggi. Oleh karena itu, kampus-kampus yang memiliki koleksi buku terbanyak dari tahun-tahun terbaru berarti lebih serius menyelenggarakan pendidikan. Mereka peduli akan 'isi kepala' para mahasiswa mereka.

      Kelima, kualitas penyajian kuliah; Kampus-kampus berkua­litas prima tampak dari kualitas kurikulum serta bagaimana dan oleh siapa materi kuliah disampaikan. Kurikulum yang baik tentu disusun secara cerdas dan memiliki tujuan jelas. Itu membuat mahasiswa tahu apa yang akan ia peroleh dan keahlian apa yang ia punyai setelah kuliah. Akan tetapi, kurikulum bagus saja tidak cukup. Cara penyampaian juga penting. Semakin menarik, semakin bagus. Semakin berisi, semakin baik.

      Keenam, proses penilaian prestasi belajar. Perguruan tinggi ber­kualitas dapat dilihat dari bagai­mana ia mengevaluasi prestasi belajar mahasiswanya. Proses itu menentukan kualitas lulusan da­ri perguruan tinggi tersebut. Se­makin ketat prosesnya, semakin bagus lulusannya.

      Ketujuh, keberadaan alumni. Meski sudah tidak mengikuti proses perkuliahan, peran alum­ni juga turut menentukan kuali­tas sebuah perguruan tinggi. Alumni yang solid dan masih memerhatikan kampus mereka menunjukkan kampus tersebut bagus. Selain itu, alumni turut memberi jaringan kepada calon lulusan, terutama untuk menyalurkan lulusan ke bidang pekerjaan yang sesuai.

      Kedelapan, sarana pendukung lain. Tentu saja kampus yang ba­gus ditandai fasilitas fisik dan nonfisiknya. Semakin lengkap, semakin baik. Misalnya, internet, jurnal daring (online), fasilitas olahraga, fasilitas kesehatan, pusat informasi, hubungan dengan kampus luar negeri, dan penyediaan beasiswa.

      Tentu saja untuk memenuhi semua kualifikasi tersebut tidaklah mudah. Butuh dana yang besar untuk melengkapinya. Oleh ka­rena itu, masyarakat dan pemerintah harus bahu-membahu meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia. Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan pendidikan tingginya menjadi lebih baik lagi. Alangkah sayangnya jika potensi ini tidak dimanfaatkan dengan baik. Apalagi, peningkatan kualitas pendi­dikan tinggi berarti pula pe­ningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Generasi yang berkualitas tentu amat didambakan untuk memajukan In­donesia. (Rizka Halida/Litbang Media Group)

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 24 February 2012 06:13  

      Items details

      • Hits: 744 clicks
      • Average hits: 9.2 clicks / month
      • Number of words: 3055
      • Number of characters: 24564
      • Created 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator
      • Modified 6 years and 9 months ago at Friday, 24 February 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 133
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091494
      DSCF8768.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC