.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Mimpi Kampung Buku di Bandung

      Ada istilah biblioholism atau disebut juga A'teraiy adcfctz'on yang bisa diterjemahkan sebagai kecanduan buku. Ini agak berbeda dengan pembaca buku biasa, Mereka lebih ekstrem karena lebih tamak membeli, mengumpulkan, dan lebih rakus membaca buku. Semua itu menempatkan mereka dalam dunia eksotis yang disebut biblioholic (orangnya).


      Pada abad ke-18 ada seorang pakar perundang-undangan Perancis, Boulard, yang begitu bernafsu mengoleksi buku sampai harus membeli rumah keenam untuk menampung semua koleksi bukunya. Namun, dia bibliomania; membeli buku tetapi belum tentu dibaca. Yang lebih masuk akal adalah bibliofil (bibliophile). Dia juga rakus membeli dan rakus memba­ca.

      Ada istilah lain yang sejalan dengan itu, tetapi ada perbedaan yang melatar belakanginya, seperti bibliotaf (bibliothap), yaitu orang yang ingin buku-bukunya aman, sehingga buku-buku tersebut dikubur supaya awet. Ft Mocast adalah orang yang tak tahan ingin merobeknya bila melihat halaman buku yang baik. la bisa disebut penghancur buku. Lain lagi dengan biblionarsis. la membeli buku mahal yang kemudian dipajang dengan baik hanya untuk pamer dan mendapat pujian. Itulah pendapat Tom Raabe dalam bukunya Biblioholism, The Literary Addiction (Fulcrum Publishing, 1991).

       

      Di sisi lain ternyata Indonesia berada di urutan ke-21 sebagai negara yang mempunyai kampung buku (book village) kedua di Asia Tenggara setelah Malaysia. Kam­pung buku di dunia ini awalnya digagas oleh Richard Booth dengan membuat book town di Wales, Inggris, yang disebut Hay-On-Wye. Selanjutnya diikuti beberapa negara, di antaranya Redu Village du Livre (Belgia), Bredevoot (Belanda), Miyagawa (Jepang), dan Kam­pung Buku Langkawi (Malaysia). Di Indonesia, kampung buku dise­but Desa Buku Taman Kyai Langgeng yang terletak di kawasan obyek wisata Taman Kyai Langgeng, Kota Magelang, Jawa Tengah.

      Konsep kampung buku merupakan pengembangan dari taman bacaan yang banyak bermunculan di setiap kota Buku yang disediakan bisa buku baru, bekas, sampai buku yang tergolong antikuariat. Peminat buku bisa membeli atau sekadar membaca.

      Bandung

      Bagaimana kalau kita bermimpi di Kota Bandung ada sebuah kam­pung buku dengan konsep yang agak berbeda dengan kampung bu­ku yang sudah ada. Konsepnya mirip dengan Cibaduyut yang terkenal dengan sepatu; Cihampelas yang terkenal dengan jins; Gang Tamim dan Cigondewah yang ter­kenal dengan kain kiloan; dan Cibuntu yang terkenal dengan tahunya. Memang benar sudah ada Pa-lasari yang terkenal dengan pasar buku, entah buku baru ataupun bu­ku bekas. Namun, yang dimaksud dengan kampung buku bukan se­perti itu. Kampung buku juga bu­kan ditempatkan di sebuah kawas­an wisata, seperti Desa Buku Ta­man Kyai Langgeng atau Langkawi di Malaysia, tetapi di perumahan biasa.

      Sebelum nienuju ke sana harus ada kegiatan rutin yang mengawalinya. Misalnya, mengadakan pameran atau bazar buku di se­buah perumahan, memanfaatkan ruang terbuka atau taman di kompleks perumahan selama musim kemarau supaya tidak terganggu hujan.

      Penyelenggara bisa dari IKAPI atau organisasi perbukuan lainnya yang bekerja sama dengan RT/RW setempat. Bukankah pelaksanaan pameran buku tidak selalu harus di gedung? Penggiat perbukuan bisa mendatangi warga, tidak harus selalu warga atau peminat buku yang mendatangi gedung tempat diselenggarakannya pameran bu­ku.

      Kegiatan ini harus rutin dilaksanakan dengan tempat yang tetap sehingga bisa merangsang penghuni sekitarnya untuk turut berpartisipasi. Walaupun dilaksanakan kegiatan demikian, kenyamanan kompleks hunian tetap tidak ditinggalkan.

      Di Bandung banyak perumahan yang memungkinkan untuk dise­lenggarakannya kegiatan seperti itu. Ada ruang terbuka yang dipergunakan untuk ruang publik. Misalnya, di taman perumahan, jalan relatif lebar sehingga dapat dilalui kendaraan dua arah dengan leluasa dan penghuni relatif lebih teratur. Dengan kegiatan rutin seperti itu diharapkan ada keikutsertaan masyarakat sekitar, entah langsung berkecimpung dengan dunia per­bukuan atau hanya ikut-ikutan. Namun, setidaknya ada rangsangan ke arah itu.

      Bisa dibayangkan sebuah kom­pleks hunian menjadi sentra penjualan buku, tetapi kenyamanan lingkungan hunian tidak terganggu. Apabila mulai mengarah pada kesemrawutan, ketegasan dari ketua RT/RW setempat diperlukan. Pembeli berlalu lalang dari rumah ke rumah, disuguhi katalog buku, menatap dan membuka buku. Setiap keluarga berjualan buku se­hingga ada kegiatan bisnis tanpa meninggalkan rumah. Katakanlah ada sekitar 100 rumah yang melakukan kegiatan itu. Jumlah itu pun sudah cukup menjadi kampung buku dan pembeli akan datang de­ngan sendirinya.

      Wisata buku

      Yang menjadi latar belakang mimpi ini adalah Bandung sebagai kota besar, tetapi belum ada tempat wisata buku yang memadai. Padahal, Bandung menjadi tujuan belajar bagi segenap pemuda dari seluruh Indonesia. Begitu banyak perguruan tinggi, ilmuwan, budayawan, seniman, orang cerdas yang hidupnya tidak lepas dari bu­ku.

      Dengan konsep kampung buku, kekosongan dialog diharapkan menjadi risi. Antara penyedia dan pe.i^at dapat berdialog, sekaligus berdiskusi tentang isi buku. Bisa juga terjadi dialog antar peminat buku sehingga ada kehangatan tersendiri.

      Kenapa selama ini kegiatan, umpamanya, bedah buku atau peluncuran buku seolah-olah harus sela­lu di gedung ternama atau di kampus. Alangkah menariknya apabila dilaksanakan di sekitar hunian. Pengarang dan penerbit menda­tangi peminat. Pengarang dan pe­nerbit jangan merasa menjadi rendah apabila harus berhubungan dengan pejabat setingkat RT/RW. Bukankah pembaca sebenarnya ada di sana? Memang pemilihan tempat kompleks hunian harus menjadi pertimbangan.

      Lomba minat baca, bazar, dan pameran buku yang digagas Perpustakaan dan Arsip Daerah Kota Bandung untuk tahun berikutnya sebaiknya dicoba di permukiittan. Tidak harus selalu di sekitar" perkantoran pemerintah daerah, se­perti yang sudah diselenggarakan pada pertengahan Agustus lalu. Kegiatan minat baca seperti itu ada sebaiknya melibatkan langsung masyarakat, sekaligus mendekatkan diri antara penggagas dan tar­get.

      Masyarakat sebagai target ja­ngan selalu dipaksa untuk mendekat. Bandung Cerdas 2008 barangkali bisa dicapai dengan cara itu. Bandung jangan hanya terkenal dengan wisata kuliner, wisata pakaian jadi. Harusnya Bandung bisa menjadi tujuan wisata buku, wisata yang mencerdaskan, bukan melulu wisata bebal.

      Di Bandung diyakini banyak tokoh atau inohong, budayawan, se­niman terkenal, pejabat, mantan pejabat yang memiliki banyak bu­ku. Ada baiknya mereka membuka diri. Koleksi bukunya bisa dibaca oleh umum, entah menjadi rumah baca atau apa pun namanya. Risikonya hanya satu, yaitu rumah menjadi kagiridig ku batur. Namun, bukankah di situ ada hikmahnya, yaitu menjalin silaturahim de­ngan siapa saja? Adakah yang akan ikut mimpi ini?

      MAMAT SASMITA Penggiat Rumah Baca Buku Sunda

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 08:15  

      Items details

      • Hits: 670 clicks
      • Average hits: 7.3 clicks / month
      • Number of words: 3334
      • Number of characters: 28715
      • Created 7 years and 8 months ago at Tuesday, 13 March 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 8 months ago at Tuesday, 13 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 116
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124312
      DSCF8761.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC