.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Republika, 4 Januari 2010

      Menyikapi buku Kontroversial

      M Bachrul llmi, Fitriyan Zamzami

      Ada dua peristiwa yang berkaitan dengan buku pada 23 Desember 2009. Pertama, Kejaksaan Agung mengumumkan pelarangan lima buku. Kedua, buku kontroversial berjudul Membongkar Gurita Cikeas; Di Balik Skandal Bank Century diluncurkan di Yogyakarta.

      Seperti buku-buku terdahulunya yang selalu menggedor 'ring I', Membongkar Gurita Cikeas (MGC) karangan George Junus Aditjondro kali ini juga membuat pihak Istana dan lingkar dalamnya 'kebakaran jenggot'. Apalagi, buku itu muncul saat Pantia Khusus (Pansus) Angket Bank Century sedang menyelidiki kisruh Bank Century.

      Anggota Pansus, Bambang Soesatyo, misalnya, langsung memborong 40 buku untuk dibagikan kepada koleganya di pansus. Dia juga menyatakan sebagian orang yang ditulis dalam buku itu, sudah masuk dalam tar­get Pansus untuk dipanggil.

      Beragam istilah yang digunakan pihak Istana untuk menyikapi buku itu: fitnah, infotainment ghibah, sinetron mistis, berdaya analisa rendah, dan lain-lain. Bahkan, Rabu pekan lalu, salah satu politisi Partai Demokrat (PD), Ramadhan Pohan, mendatangi launching buku itu di Doekoen Cafe, Jakarta Selatan, khusus untuk 'memberi pelajaran' kepada Aditjondro.

      Dan, di lokasi launching yang sempit dan penuh sesak, pendingin suhu udara tak lagi mampu mendinginkan aura panas yang merebak. Pohan.yang diberi kesempatan berbicara lima menit soal buku itu, tak urung membuat Aditjondro bereaksi mengayun buku ke arah Pohan.

       

      Aditjondro berdalih tindakannya untuk menghentikan halusi-nasi Pohan atas bukunya. Tapi, Pohan mengaku dipukul dengan buku oleh Aditjondro. Entah siapa yang benar, yang jelas kasus itu sudah bergulir ke ranah hukum, karena Pohan melaporkan Aditjondro ke Polda Metro Jaya.

      Tapi, kejadian tersebut justru membuat banyak orang kian penasaran pada isi MGC. Buku itu terus diburu. Tapi, dirak toko buku ternama dan berjaringan mapan sekalipun, buku itu laksana raib ditelan bumi!. Padahal, sehari setelah Natal, pihak Galang Press—yang menerbitkan buku itu—mengklaim mencetak 4.000 eksemplar dan melemparnya ke pasaran.

      Ke manakah buku-buku itu? Tak jelas. Kejaksaan belum melarang. Kejaksaan .masih memasukkan MGC Sebagai buku yang "dikaji", selevel dengan Sukarno File karangan Antonie CA Dake dan Aku Melawan Teroris karya Imam Samudra. Bisa jadi menghilangnya MGC karena permintaan jauh lebih besar dibanding buku yang ada. Tapi, ada pula yang menduga menghilangnya buku itu karena adanya campur tangan pihak tertentu. "Ada gaya Orde Baru yang bermain," kata anggota Komnas HAM, Yosef Adi Prasetyo.

      Komnas HAM memang telah turun memantau sejumlah toko buku dan mendapati mereka tak berani memajang MGC. "Ini selfcensorship dan merupakan bentuk kecil dari pelarangan peredaran buku," kata Ketua Komnas HAM, Ifdhal Kasim, kepada Republika, pekan lalu.

      Selfcensorship dinilai Ifdhal bisa dikategorikan sebagai pelanggaran HAM, terutama hak memperoleh . inforniasi dan mengeluarkan pendapat. Tapi, selfcensorship juga di latarbelakangi trauma pelarangan buku di masa silam.

      "Undang-undang pelarangan buku sampai saat ini masih eksis. dan punya potensi membuat takut toko buku menjual buku-buku kontroversial," kata Ifdhal.

      Meski demikian, bukan berarti MGC berhenti beredar. Buku itu terus beredar diam-diam, dengan harga yang terus melambung, hingga mencapai Rp 200 ribu per eksemplar. Menurut penjual buku di kawasan Senen, jual beli buku itu kini tak ubahnya transaksi narkoba.

      Dua kontroversi

      MGC bukan hanya melahirkan silang pendapat dari sisi isi, tapi juga dari penanganannya: dilarang, dibawa ke jalur hukum, dijawab dengan buku, dikonfrontasi dengan pihak-pihak yang dirugikan, atau dibiarkan.

      Soal pelarangan, banyak yang mewanti-wanti pemerintah tak melakukannya. Seruan, antara lain, disampaikan guru besar UGM, Amien Rais. Kendati UU memungkinkan, cara itu membuat pemerintahan bercitra tidak demokratis, bahkan otoriter.

      Persoalannya, GMC telanjur menjadi buah simalakama. Yang dirugikan, kata Amien, tetap perlu menjawabnya. Sikap diam, kata Amien, akan membuat masyarakat menganggap apa yang tertulis sebagai kebenaran. Dia mengusulkan buku itu dijawab dengan buku, atau membuat forum konfrontasi. Amien—juga sejumlah pengamat— menilai buku MGC mempunyai sejumlah kelema. AntaraJain, tidak mengandalkan data primer, tapi lebih banyak menggunakan data sekunder, kompilasi dari pemberitaan koran, majalah, internet, dan sebagainya. "Kurang berbobot secara akademis," kata Amien.

      Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), Mahfud MD, mendorong kasus itu dibawa ke jalur hukum. Dia mengatakan memidanakan buku yang dinilai mengandung fitnah tidak bertentangan dengan demokrasi, dan tidak membuat pemerintah menjadi otoriter. "Hukum merupakan alat kontrol terhadap kebebasan dan anarki," katanya.

      Tapi, Komnas HAM tak sependapat. Yosep Adi Prasetyo, mengatakan, di negara demokrasi yang menjunjung tinggi HAM, mestinya jalur perdata yang ditempuh, bukan pidana.

      Aditjondro sendiri sudah siap dengan berbagai konsekuensi atas bukunya. Dia sudah menyampaikan tantangan terbuka untuk berdebat tentang isi buku itu. Dia juga menegaskan penulisan MGC sudah menggunakan metode penelitian ilmiah.

      MGC, jelas Aditjondro, ditulis menggunakan metode kombinasi antara studi literatur dan investigasi lapangan. Investigasi, ungkapnya, antara lain, berupa wawancara sejumlah narasumber yang mengetahui konspirasi politik PD memenangkan pemilu presiden.

      "Saya mewawancara beberapa narasumber yang tidak bisa saya sebut identitasnya karena rahasia, dan mereka perlu dilindungi," kata Aditjondro kepada Republika, Kamis (31/12).

      Aditjondro berulang kali menyatakan kesiapannya menghadapi langkah hukum. Galang Press telah menyiapkan lawyer untuknya. Tapi, saat ditanya soal somasi Antara, dia berkata, "Saya untuk sementara tidak mau berkomentar dulu. Sudah terlalu banyak kontroversi.''

      Langkah Istana

      Apa langkah Istana? Dihubungi akhir pekan lalu, Juru Bicara Presiden, Julian Aldrin Pasha, mengatakan,"Presiden tidak komentar. Kami prihatin saja, dan tidak akan melakukan apa-apa, karena lebih fokus pada hal-hal lain yang lebih penting."

      Langkah hukum kepada Adi­tjondro pun, kata Pasha, kini tak lagi masuk dalam opsi. Selain untuk menghormati kebebasan berpendapat, Pasha mengatakan, ''Banyak pihak lain yang disebut di buku sudah mulai bersikap."

      Selain laporan polisi yang dis­ampaikan Pohan, Aditjondro juga telah mendapat somasi dari Kantor LKBN Antara. Aditjondro menulis adanya aliran dana dari Antara ke Bravo Media Center.

      Staf Ahli Presiden bidang hukum, Denny Indrayana, juga mengatakan, MGC tak perlu dilarang. "Tidak" ada*urirungnya melarang buku George Aditjondro," katanya.

      Belum aman

      Kendati belum ada larangan dan pihak Istana terkesan menghindari opsi itu, bukan berarti MGC akan aman dari pelarangan. Kejaksaan masih mungkin melarang MGC.

      Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan, Didiek Darmanto, berdalih pelarangan merupakan kemauan UU, yaitu UU No 4 PNPS/1963 tentang Pengamanan Terhadap Barang-barang Cetakan (lihat grafts), dan UU No 16/2004 tentang Kejak­saan. "Sebagai aparat penegak hukum, kami berkewajiban untuk melaksanakannya.''

      Menteri Hukum dan HAM, Patrialis Akbar, pun mengatakan, bila hasil kajian menyatakan MGC mengganggu, pihaknya akan merekomendasikan pelarangan buku itu kepada kejaksaan. "Penulisnya tidak mela­kukan check dan recheck. Tidak komprehensif," kata Patrialis.

      Jadi, akankah MGC bernasib seperti lima buku yang telah lebih dahulu dilarang?

      ed: harun

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 08:10  

      Items details

      • Hits: 387 clicks
      • Average hits: 4.2 clicks / month
      • Number of words: 3566
      • Number of characters: 31223
      • Created 7 years and 8 months ago at Tuesday, 13 March 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 8 months ago at Tuesday, 13 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 216
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124896
      Jantung_Sekolah1.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC