.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      Menurunkan Harga Buku

      Oleh S SAHALA TUA SARAGIH


      Ini kisah nyata Pada awal Mei lalu, sepasang suami istri sempat cekcok soal anggaran belanja keluarga Sang istri yang berprofesi ibu rumah tangga sejak beberapa bulan lalu selalu mengeluh tiap kali pulang dari pasar. Uang Rp 50.000, katanya, nyaris tak berartilagi. Harga berbagai kebutuhan pokok secarabertahap terus meroket

      Sejak awal Mei lalu giliran sang suami mengeluh karena harga semua jenis media massa cetak dan buku naik lebih kurang 30 persen. ; Alasan penerbit, harga kertas di pa­sar internasional terus naik, sedangkan sebagian besar konsumsi kertas nasional berasal dari luar negeri. Padahal, Indonesia terkenal sebagai negara besar di bidang ekspor kayu gelondongan. Sungguh ironis!

      Kebutuhan primer bernama ke­butuhan pokok jauh lebih penting dan mendesak daripada bahan bacaan. Inilah penyebab pertengkaran mereka selama berhari-hari pada awal Mei lalu. Dari dahulu kelu­arga tersebut berlangganan empat-lima koran harian, tiga majalah mingguan dan bulanan, serta dua-tiga buku teks per bulan. Pengeluaran keluarga tersebut untuk ba­han bacaan saja lebih dari Rp 500.000 per bulan.

       

      Padahal, gaji sang suami yang berstatus pegawai negeri sipil cuma Rp 3.000.000 per bulan. Cukup tak cukup, inilah biaya hidup pasangan suami istri itu plus dua anak mereka yang masih kuliah.

      Kisah nyata tersebut mencerminkan situasi umum keluarga di Tanah Air sekarang. Bila pegawai yang bergaji tetap saja sempat cek­cok berhari-hari dengan sang istri, bagaimana dengan mereka yang sama sekali tidak berpenghasilan tetap? Bagaimana dengan mereka (pegawai) yang berpenghasilan rendah (di bawah Rp 1,5 juta per bulan) untuk biaya hidup empat-li- !

      Tak tersangkal, dalam situasi ekonomi separah apa pun, media massa cetak dan buku pastilah te­tap sangat dibutuhkan. Tak terbayangkan negara ini bisa hidup terus bila rakyatnya tak mengonsumsi informasi penting lewat media massa cetak dan buku-buku. Akan tetapi, tak termungkiri pula, rakyat pasti bersikap dan bertindak realistis dan pragmatis, seperti sang is­tri dalam kisah keluarga dosen ter­sebut. Kebutuhan pokok atau mi­nimal beras, garam, dan bahan bakar memang harus tersedia. Ini merupakan kebutuhan sangat mutlak bagi kita bila ingin bertahan hidup walaupun sekadar hidup alias hidup-hidupan.

      Membaca informasi

      Agar negara ini tetap hidup, syukur kalau bisa maju pelan-pelan, mayoritas rakyat, termasuk golongan miskin, harus memperoleh atau membaca informasi bagus dan penting melalui media massa cetak dan buku-buku. Untuk mengatasi kekurangmampuan atau ketakmampuan mayoritas rakyat untuk membeli buku dan media massa cetak, pertama dan terutama, pemerintah pusat dan daerah harus membuktikan diri se­bagai pemerintah yang propencerdasan, bukan antipencerdasan.

      Artinya, pemerintah harus menunjukkan kemauan politik yang besar untuk mewujudkan salah satu tujuan Indonesia merdeka, yaitu mencerdaskan bangsa. Bila peme­rintah sungguh-sungguh memiliki kemauan politik untuk mencer­daskan segenap rakyat negeri ini, pemerintah dapat membuat ber­bagai aturan di tingkat nasional dan daerah untuk menurunkan harga buku dan media massa cetak.

      Pertama, mengenolkan atau menghapuskan semua pajak yang bersangkut paut dengan kertas, bu­ku, media massa cetak, dan penulisan. Sesungguhnya sejak tahun 1970-an sudah banyak pihak mengusulkan dan mendesak pe merintah untuk meniru banyak negara lain, seperti Singapura, yang mengenolkan pajak impor kertas, pajak pertambahan nilai, serta pajak penjualan buku dan media massa cetak. Selain itu, pe­merintah juga diminta untuk me­ngenolkan pajak penghasilan (PPh) penulis buku dan penulis di media massa cetak.

      Kedua, hasil hutan (kayu) kita seharusnya lebih diutamakan un­tuk produksi kertas dalam negeri sehingga kita tidak terlalu tergantung pada kertas impor.

      Ketiga, pemerintah pusat dan daerah (provinsi; kota, dan kabupaten) perlu segera membuat undang-undang atau peraturan tentang pasar tetap buku murah di : kampus-kampus dan pusat-pusat pertokoan. Misalnya, minimal 5 persen dari luas sebuah pusat pertokoan harus dialokasikan untuk pasar permanen buku murah. Artinya, pedagang buku di lokasi yang minimal 5 persen itu tidak dikenai biaya apa pun, termasuk biaya listrik, kebersihan, dan keamanan.

      Mereka berhak memakai ruang tersebut dengan syarat harus menjual buku dengan potongan harga diatas angka potongan harga di pafear buku murah konvensional. Sebagai contoh, pembeli buku di Pator Buku Palasari, Bandung, biasa menikmati potongan harga sebesar 25-35 persen. Nah, di pasar buku murah di pusat-pusat pertokoan tersebut potongan harganya bisa mencapai 35-50 persen.

      Hal yang sama bisa dilakukan di kampus-kampus perguruan tinggi Contohnya, di kawasan pendidikan tinggi Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Di wilayah itu belajar dan mengajar lebih dari 50.000 mahasiswa dan dosen Universitas Padjadjaran, Institut Manajemen Koperasi Indonesia, Universitas Wiyana Mukti, dan Institut pemerintahan Dalam Negeri. Dilihat da­ri luas lahan kosong yang mereka miliki, tiap perguruan tinggi terse­but pasti sanggup membangun pa­sar tetap buku murah di kampus masing-masing.

      Kita juga yakin mereka memiliki dana untuk membangun pasar buku murah yang permanen, terma­suk sarana lain yang dibutuhkani Media massa cetak di pasar tetap buku murah di kampus-kampus dan pusat-pusat pertokoan pun tentu dapat dijual dengan harga promosi atau harga mahasiswa, seperti yang sudah biasa dilakukan selama ini.

      Insentif

      Di samping berbagai upaya menurunkan harga bahan bacaan, pe­merintah pusat dan daerah juga perlu merangsang para penulis de­ngan memberikan uang insentif. Misalnya, tiap menulis sebuah bu­ku bagus, baik buku ajar maupun non-ajar, sang penulis diberi insen­tif sebesar Rp 10 juta-Rp 25 juta (tanpa dikenai PPh). Demikian ju­ga penulis di media massa cetak, untuk tiap tulisan yang dimuat perlu diberi insentif sebesar Rp 100.000-Rp 1 juta (tanpa dikenai PPh).

      Berbagai upaya realistis harus segera dilakukan pemeriritah dan masyarakat, terutama masyarakat perguruan tinggi, agar mayoritas rakyat berpenghasilan rendah dan sedang dapat menikmati informasi berharga melalui media massa ce­tak dan buku, baik membeli de­ngan harga murah maupun membacanya dengan gratis di perpustakaan kampus, sekolah, dan umum dimanapun.

      Sejarah dunia telah lama membuktikan, tak satu negara pun bisa memajukan diri tanpa-buku dan media massa cetak. Mochtar Lubis (almarhum), sastrawan dan wartawan besar waktu itu, pernah berkata, "Buku: senjata yang kukuh dan berdaya hebat untuk melakukan serangan dan pertahanan terhadap perubahan sosial, termasuk perubahan dalam nilai-nilai manusia dan kemasyarakatan" (Alfons Taryadi, Buku dalam Indonesia Bam, 1999).

      Apakah pemerintah pusat dan daerah kita propencerdasan atau antipencerdasan bangsa?

      S SAHALATUASARAGIH

      Dosen Jurusan Jumalistik FikomUnpad

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 08:10  

      Items details

      • Hits: 1718 clicks
      • Average hits: 18.7 clicks / month
      • Number of words: 3312
      • Number of characters: 28715
      • Created 7 years and 8 months ago at Tuesday, 13 March 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 8 months ago at Tuesday, 13 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 129
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124359
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC