.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Perbukuan
E-mail

Mimpi Kampung Buku di Bandung

Ada istilah biblioholism atau disebut juga A'teraiy adcfctz'on yang bisa diterjemahkan sebagai kecanduan buku. Ini agak berbeda dengan pembaca buku biasa, Mereka lebih ekstrem karena lebih tamak membeli, mengumpulkan, dan lebih rakus membaca buku. Semua itu menempatkan mereka dalam dunia eksotis yang disebut biblioholic (orangnya).


Pada abad ke-18 ada seorang pakar perundang-undangan Perancis, Boulard, yang begitu bernafsu mengoleksi buku sampai harus membeli rumah keenam untuk menampung semua koleksi bukunya. Namun, dia bibliomania; membeli buku tetapi belum tentu dibaca. Yang lebih masuk akal adalah bibliofil (bibliophile). Dia juga rakus membeli dan rakus memba­ca.

Ada istilah lain yang sejalan dengan itu, tetapi ada perbedaan yang melatar belakanginya, seperti bibliotaf (bibliothap), yaitu orang yang ingin buku-bukunya aman, sehingga buku-buku tersebut dikubur supaya awet. Ft Mocast adalah orang yang tak tahan ingin merobeknya bila melihat halaman buku yang baik. la bisa disebut penghancur buku. Lain lagi dengan biblionarsis. la membeli buku mahal yang kemudian dipajang dengan baik hanya untuk pamer dan mendapat pujian. Itulah pendapat Tom Raabe dalam bukunya Biblioholism, The Literary Addiction (Fulcrum Publishing, 1991).

Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 08:15 Read more...
 
E-mail

Merakyatkan Buku

HULA HARAHAP


Buku adalah kebutuhan semua orang, entah dari kelas masyarakat mana pun, meski kebutuhah akan jenis bu­ku berbeda-beda, Lalu, bagaimana agar buku dapat diperoleh dengan mudah bagi masyarakat kelas bawah atau kaum pinggiran? Mass markefi Demikian jawaban Mula Harahap, salah seorang pengamat dan penggiat di industri buku. Mula yang penggemar buku sejak kanak-kanak memimpikan masyarakat kelas bawah dapat dengan mudah memperoleh buku. Sekretaris Ikapi Jakarta ini mengakui bahwa banyak perspalan buku di In­donesia, tetapi menyediakan bu­ku bagi masyarakat luas bukan-lah hal yang mustahil.

Untuk menciptakan pasar lu­as terhadap produk tentu saja ada beberapa hal yang harus dipenuhi, seperti bukunya haruslah populer, isinya dibutuhkan orang banyak dan harus tersebar di mana-mana. Mula mencontohkan pengalamahnya ketika ke pasar tradisional di salah satu kabupaten di Sumatera. Di sana ada agen koran yang menjual buku-buku praktis tentang panduan shalat, model pakaian, dan kamus. "Ya, memang kamus sederhana yang hanya dua juta kata, tapi itu membuktikan bahwa masyarakat kelas bawah pun membutuhkan buku," ujar pemilik penerbit Mitra Utama ini. Mula menyadari bahwa tidak semua buku dapat dijual di sana, "Seperti filsafat eksistensialis ti­dak mungkin laku di jual di sa­na, tapi kumpulan surat, buku bahasa Inggris, atau petunjuk praktis mendidik anak-anak saya rasa bisa," ujar Mula menegaskan. Namun, paling tidak me­nyediakan jalur distribusi alternatif dari yang sudah mapan selama ini adalah hal yang sering dipikirkan Mula dan kawan-kawan penggiat buku. Memperbaiki isi dan pesan buku untuk kalangan masyarakat bawah dapat dilakukan meskipun tentu saja isinya harus tetap ringan dan mudah dipahami.

Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 08:14 Read more...
 
E-mail

SENIN, 26JULI 2010, MEDIA INDONESIA

Merayakan Kelahiran Penerbit Daring

Upaya menggairahkan dunia penerbitan buku di Indonesia melalui internet mulai dilakukan sejumlah start-up lokal. Sudah ada Evolitera, Nulls Buku, dan Papataka.


Sica Harum

RUANGAN yang disebut kantor itu terletak di atas wartel di bilangan Rawamangun, Jakarta Timur. Selasa (20/7), Dhiratara Widhya, salah satu pendiri dan direktur Evolitera menyapa ramah. Wajahnya sedikit berkeringat. "AMs ngepel," ujarnya lalu nyengir.

Dhira menunjukkan tangga ke lantai tiga. Di sana, tiga lelaki sudah menunggu. Semuanya masih muda, rata-rata baru seperempat abad. Dhira sendiri baru diwisuda menjadi sarjana ekonomi dari Universitas Indonesia. Umurnya baru 21 tahun. Mereka berempat, ditambah satu pemrogram, ialah otak di balik Evolitera, penerbit daring yang pertama di Indonesia.

"Awalnya, karena saya punya pacar yang juga penulis. Saya pikir, banyak orang punya bakat menulis tapi sulit menerbitkan buku-buku mereka," ujar Eduardus Christmas, pendiri sekaligus CEO Evolitera mengenang ide pada awal 2009.

Ide itu berbuah menjadi net publishing bernama Evolitera dan meraih Indigo Fellowship 2009 untuk kategori karya cipta kreatif. Lantas Eduardus melengkapi timnya dan mulai mengumpulkah modal. "Masih di bawah Rp 500 juta. Proporsi terbesar dialokasikan untuk pengembangan fitur," katanya.

Saat dirilis pada Februari 2009, laman Evolitera memuat sekitar 20 judul buku elektronik (e-book) yang bisa diunduh dalam format PDF. Semuanya merupakan buku-buku tanpa hak cipta alias public domain.

Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 08:13 Read more...
 
E-mail

MEDIA INDONESIA, 31 JULI 2009

Menyusuri Jejak 'Hantu' Hemingway

DARI sejumlah karya penulis tersohor Ernest Hemingway, novel berjudul A Moveable Feast cukup berkesan. Novel itu merupakan memoir He­mingway semasa ia menjadi penulis ekspatriat di Paris yang hidup bersahaja pada era 1920-an. Karena itu, A Moveable Feast menyuguhkan Kota Paris nan glamor dari pandangan seorang bohemian.

Sebagaimana ditulis He­mingway, "If you are lucky enough to have lived in Paris as a young man, then wherever you go for the rest of your life, it stays with you, for Paris is a moveaue feast."

Berikut daftar tempat yang pernah dijejaki Hemingway pada masa kini.

  • Rue Mouffetard

Mulailah perjalanan dari Censier Daubenton yang dilintasi metro atau kereta bawah tanah jalur 7 di distrik kelima (5th arrondisement) ke Rue Mouffetard.

Di jalan yang hanya muat dua mobil sedan itu, paduan aroma roti yang baru dibakar, keju, kopi, dan crepes silih berganti meruap. Jalan itu terus menanjak tatkala saya menuju La Place Contrescarpe. Di sinilah Cafe des Amateurs dulu berada. Hemingway menjulukinya, 'kandangnya Rue Mouffetard'. Kini kafe itu berganti menjadi restoran terbuka.

Berjalan singkat dari situ terletak apartemen nomor 74, tempat Hemingway dan istrinya, Hadley bermukim. Pada A MoveaUe Feast, Hemingway menggam-barkan kavvasan apartemennya sebagai daerah termiskin. Penu­lis yang meninggal dunia pada 2 Juli 1961 itu tidak menyusun karya-karyanya di apartemen. la justru mengurung diri di sebuah kamar di hotel yang berada di sudut Rue Descartes nomor 39.

Last Updated on Tuesday, 13 March 2012 08:13 Read more...
 
  • «
  •  Start 
  •  Prev 
  •  1 
  •  2 
  •  3 
  •  4 
  •  5 
  •  6 
  •  7 
  •  8 
  •  9 
  •  10 
  •  Next 
  •  End 
  • »


Page 1 of 24

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,788
  • Sedang Online 154
  • Anggota Terakhir Robertrab

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9091399
DSCF8761.jpg

Kalender & Agenda

November 2018
S M T W T F S
28 29 30 31 1 2 3
4 5 6 7 8 9 10
11 12 13 14 15 16 17
18 19 20 21 22 23 24
25 26 27 28 29 30 1

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC