.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail
      Article Index
      PENGEMBANGAN PROGRAM PERPUSTAKAAN: Didasarkan Pada Pengalaman Mengelola Perpustakaan Lembaga Pengembangan Potensi Pendidikan Adaro & Partner (LP3AP)
      Page 2
      Page 3
      Page 4
      All Pages

      PENGEMBANGAN PROGRAM PERPUSTAKAAN:

      Didasarkan Pada Pengalaman Mengelola Perpustakaan Lembaga Pengembangan Potensi Pendidikan Adaro & Partner (LP3AP)

      Misi perpustakaan adalah:

      Memperkaya pengetahuan masyarakat dengan:

      • Menyediakan sumber informasi

      • Melayani kebutuhan informasi

      • Membangun budaya literasi informasi

      Setelah melewati masa dua tahun sebagai tahun pengokohan dan pembelajaran, saatnya sekarang perpustkaan lebih meningkatkan pelayanannnya pada masyarakat. Hanya dalam waktu kurang dari dua tahun perpustakaan dipercaya menjadi sumber informasi oleh lebih dari 3066 orang, hal ini menjadikan perpustakaan LP3AP merupakan perpustakaan terbanyak jumlah anggotanya untuk kategori perpustakaan umum tingkat Kabupaten se Kalimantan Selatan. Demikain juga, dengan koleksi yang berjumlah 5436 judul ( 10703 eksemplar) buku, perputakaan LP3AP juga menjadi perpustakaan paling lengkap koleksinya se-Kalimantan Selatan.

      Perpusatakaan LP3AP kini menjadi salah satu infrastruktur sosial dan komunitas masyarakat Tabalong yang sangat penting. Dengan kehadirannya, perpustakaan telah berhasil membantu kreativitas masyarakat dan keterampilan hidup (life skills) untuk terus bertahan dalam situasi yang terus berubah. Perpustakaan membantu memfasilitas dalam menumbuhkan keaksaraan (literacy) masyarakat, merangsang imajinasi, memperluas cakrawala berpikir, serta ikut serta dalam pemberdayaan masyarakat. Pendek kata, perpustakaan kini berperan sebagai kontributor penting untuk membangun modal sosial (social capital) yang dapat meningkatkan masyarakat bersama-sama menggapai hidup yang berbasis pengetahuan.

      Arah Baru Perpustakaan ini dirancang untuk menawarkan fokus kegiatan yang lebih signifikan serta dalam rangka merespon dinamika perkembangan masyarakat dan transformasi dunia informasi yang kian akseleratif.

      Arah Baru

      Meningkatkan daya dukung perpustakaan yang sudah ada untuk pemenuhan kebutuhan pengguna dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya melalui perluasan fasilitas, koleksi dan pembaruan sistem informasi. Pada sisi yang lain dukungan itu dapat diperluas dengan menjawab sebuah pertanyaan: “Bagaimana membuat penyandang kebutuhan khusus, orang buta aksara, kesulitas membaca, ibu hamil, lansia, anak-anak pra sekolah, atau siapapun yang selama ini tidak menjadi prioritas sasaran layanan pustaka dapat menikmati layanan?”

      Pertanyaan di atas akan kami jawab dengan mengembangkan fungsi baru perpustakaan LP3AP yaitu menjadi Rumah Belajar. Apa yang tak dapat dilakukan di perpustakaan, dapat di rancang untuk bisa diselenggarakan di Rumah Belajar. Apa yang membuat orang enggan datang ke perpustakaan, dapat diubah menjadi daya tarik Rumah Belajar. Rumah Belajar tak harus sunyi. Jika diperlukan Rumah Belajar dapat ceria, penuh kegembiraan, terbuka—selaras denyut kehidupan warga sekitarnya.

      Pada dasarnya perustakaan itu sendiri adalah Rumah Belajar. Hanya saja selama ini belum banyak yang mengetahuinya, karena terbatasnya bentuk layanan perpustakaan. Oleh karena itu yang terpenting bukanlah mengubah, tetapi mengembangkan layanan perpustakaan, sehingga ia mampu memenuhi kebutuhan warga setempat menjadi seorang menusia pembelajar—makhluk yang harus selalu belajar.

      Di masa depan Perpustakaan LP3AP akan lebih mendorong masyarakat menuju masyarakat yang berbasis ilmu pengetahuan dengan memancangkan fungsi dan peran baru sebagai berikut:

      1. Perpustakaan menjadi wahana baru penyaluran prakarsa masyarakat

      Perpustakaan dapat dijadikan sebagai tempat berkumpul masyarakat. Selain tempat meminjam dan membaca buku, diadakan juga layanan tambahan untuk berbagai macam mata pelajaran, misalnya menyelenggarakan les tambahan matematika dan bahasa Inggris. Perpustakaan akan terus mengembangkan aktifitas dan layanan sesuai kebutuhan pengguna yang rata-rata murid sekolah.

      Perpustakaan juga akan dilengkapi dengan peminjaman Alat Permainan Edukatif (APE) bagi anak usia dini.

       

      1. Melakukan pembaruan aktivitas yang sudah ada

      Pengalaman menunjukkan bahwa mereka yang mencintai buku sejak awal akan mengerti semahal apapun buku, tak pernah lebih mahal dari kandungan rahasia yang terbungkus di dalamnya. Semakin seseorang mencintai dunia baca semakin mereka merasa haus. Kehausan yang justru sungguh menyenangkan. Perlu upaya yang cukup mendasar unuk kembali memperemukan sikpa masyarakat yang terlanjur terpuruk menuju arah yang keliru dengan daya tarik buku yang sessungguhnya tak pernah lengkang dimakan waktu.

      Dengan cara-cara baru, perpustakaan sesungguhnya dapat secara kreatif memupuk kencintaan pada buku. Jika dunia bisnis mengenal istilah promosi, perpustakaan dapat mengupayakan sesuatu yang disebut “promosi cinta buku”, yaitu kegiatan mendorong warga untuk mencintai dan membaca buku. Kegitan itu misalnya kuesioner usulan jenis buku, lomba resensi buku, lomba perpustakaan sekolah, edaran rutin daftar buku baru, dll.

      Secara jujur dapat dikatakan bahwa perpustakaan yang ada saat ini masih terbatas hanya dinikmati oleh pengguna dari kalangan tertentu. Maka pastilah orang-orang yang datang ke perpustakaan itu sebenarnya bukanlah orang “sembarangan”. Mereka sebenarnya dapat menjadi sumber ilmu yang mungkin jauh lebih baik daripada buku itu sendiri. Pola pikir yang menempatkan perpustakaan dan buku sebagai sumber ilmu tidak keliru, sampai kita menyadari kenyataan baru bahwa sebenarnya perpustakaan telah menjadi tempat bertemunya orang-orang yang berilmu dan haus akan ilmu baru. Dari sini dapat digagas berbagai kegiatan yang dapat difasilitasi perpustkaan untuk berlangsungnya interaksi atar pengguna.


       

      1. Mendukung capaian prestasi belajar sekolah

      Setiap sekolah yang baik hampir dapat dipastikan memiliki perpustakaan. Dapatkah perpustakaan itu memberikan pelayanan yang maksimal? Tidakkah dari total waktu anak berada di sekolah sebagian besar dihabiskan untuk belajar di kelas? Perpustakaan bisa jadi hanya memberikan pelayanannya pada jam-jam istirahat dan pulang sekolah. Tentu saja seperti itu. Bukankah anak-anak bersekolah untuk belajar di kelas dan bukan di perpustakaan?

      Apa yang tidak bisa dilakukan oleh perpustakaan sekolah sebenarnya dapat dilakukan oleh perpustakaan LP3AP. Perpustakaan LP3AP letaknya di tengah-tengah komunitas dan dapat dibuka sesuai jam yang diperlukan oleh para pengguna.

      Juga bila disadari bahwa tidak semua rumah memiliki perpustakaan keluarga serta ruang yang cukup bagi anak untuk belajar dengan tenang, maka fungsi ini dapat dilakukan oleh perpustakaan LP3AP.

      Rumah Belajar merupakan tempat bertanya dan tempat segal pertanyaan. Dengan demikian perpustakaan tak harus sunyai. Perpustakaan dipenuhi oleh arus lalu lintas pencarian dan keingintahuan para pemakainya.

      1. Perpustakaan menjadi wahana pengembangan psikomotorik

      Dunia pendidikan modern mengenal ranah sasaran pembelajaran berupa kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk menjelaskan aspek pengetahuan, perasaan, dan ketrampilan. Bangsa kitapun secara tradisional memiliki ranah cipta-rasa-karsa. Tidaklah cukup seseorang punya pengetahuan, perasaan, dan keterampilan. Itu semua harus berakhir dengan proses penciptaan. Mencipta karena ada rasa dan karsa, yaitu kehendak.

      Seperti halnya pelukis menciptakan lukisan, koreografer menciptakan tarian, komposer mencipta lagu, kitapun orang awam dapat mencipta setiap saat. Menciptakan sikap yang baik, menciptakan kegembiraan, menciptakan harapan, dsb.

      Di sekolah anak-anak diperkenalkan kepada teori, dan teori itu mesti diwujudkan. Mewujudkan itu memerlukan latihan. Sebagai contoah, kita dapat menjelaskan cara berang dalam dua menit, tetapi menerapkan yang dua menit itu diperlukan latihan berjam-jam, dan mungkin berhari-hari. Rumah Belajar dapat menjadi sarana yang mendukung latihan semacam itu.

      1. Perpustakaan menjadi wahana Pengembangan nilai dan afeksi

      Secara tidak langsung ada hubungan antara moral sebuah cerita dengan perilaku anak-anak. Kalau kita cermati buku-buku best seller di bidang pengambangan diri dan motivasi, kita akan jumpai kesamaan tentang perlunya orang mempunyai mimpi, pikiran positif, pembangkitkan kemampuan bawah sadar, yang lalu terwujud dalam tindakan.

      Dengan melalui kegiatan mendongeng (storytelling) yang baik, benar, dan tidak menggurui, anak-anak dapat terdorong untuk berimajinasi, mengidentifikasi dirinya sebagai tokoh dalam dongeng, termasuk melakukan hal-hal yang menjadi pesan dari dongeng itu.

      Pada zaman sekarang dongeng bisa disampaikan bukan saja dengan penuturan tapi bisa memlaui perangkat audiovisual (VCD). Dengan memutar film kartun seperti Finding Nemo, misalnya anak-anak akan belajar mengenai bagaimana kasih seorang ayah kepada anaknya. Atau dengan memutar cuplikan film My Dream para pemirsa akan termotivasi semangat dan daya juangnya dalam menempuh kehidupan ini. Serial pembelajaran VCD Harun Yahya juga sangan baik untuk membawa pamahaman nilai religiusitas secara rasional. Pada setiap pemutaran film harus dadampingi oleh seorang pemandu untuk membimbing anak-anak mengenal nilai dan afeksi.

      1. Perpustakaan menjadi sentra pengembangan hobi dan karir

      Hobi itu bukan sekedar makan makanan kesukaan, mendengarkan musik, apalagi shopping, dll. Hobi adalah kegiatan yang membuat pelakunya fokus, mencurahkan segenap kemampuan dan ketrampilan. Karena itu hobi mampu memotivasi yang bersangkutan larut dan menciptakan waktunya sendiri bersama hobi itu.

      Kita sering mendapat gambaran yang salah tentang hobi ini. Juga karena adanya kecenderungan yang disengaja, misalnya ekspose hobi para selebriti yang terkesan mahal dan mengada-ada. Lalu hobi itu menjadi lebih mirip penghaburan uang secara tidak pantas dan berlebihan. Tentu saja itu adalah sangat pantas untuk disesalkan, apalagi kalau sudah tertanam dalam diri masyarakat.Sejatinya hobi adalah sebuah aktivitas yang dapat membangun daya hidup, memperluas budi, dan juga secara ekonomis menguntungakan.

      Perpustakaan LP3AP dapat berperan penting dalam ’meluruskan’ hobi ke arah yang lebih produktif dan bermakna. Jika misalnya ada komunitas punya hobi memelihara burung, ikan, dan binatang eksotis, mereka dapat dipancing untuk memahami secara lebih mendalam lewat buku-buku bacaan. Mereka bisa didorong menciptakan kiat-kiat baru untuk lebih memberikan kenyamanan, dan daya hidup yang lebih tinggi kepada hewan peliharaannya. Mereka bisa lebih didorong untuk semakin mencintai dengan lebih mendalam, dan puncaknya ketika timbul kesadaran bahwa kecintaan kepada satwa tak dapat dipisahkan dengan kemerdekaan, hak hidup, hak berkembang biak dari satwa itu sendiri. Lalu pada momen Hari Lingkungan Hidup, Rumah Belajar menggelar acara melapas satwa ke habitat, melepas anak-anak ikan ke sungai, dsb.

      Perpustakaan LP3AP dapat mendorong dan mewadahi anggota untuk menekuni hobi yang secara ekonomis menguntungkan dan mungkin di kemudian hari dapat menjadi profesi andalan.


      1. Perpustakaan menjadi sentra Layanan rekreatif

      Sebenarnya permainan interaktif atau bahkan permainan tradisional yang berkembang pada masa lalu adalah media pembelajaran yang diciptakan untuk melakukan proses pendidikan. Permainan monpoli misalnya, adalah permainan yang diciptakan untuk memberikan pemahaman terhadap aktifitas ekonomi, baik tentang perederan uang, hingga pengelolaan aset. Permainan ular tangga adalah permainan yang memberikan pemahaman tentang peluang, dan permainan congklak mengajarkan pola berpikir matematis, dan masih banyak lagi. Kesemuanya itu merupaka produk dari pemahaman yang mendalam tentang mentalitas anak untuk bekal di kemudian hari.

      Momentum yang tepat untuk menyelenggarakan layanan ini adalah pada saat bulan puasa. Pada bulan ini ada sebuah budaya yang populer disetiap daerah yaitu ngabuburit. Perpustakaan dapat dijadikan pusat ngabuburit masyarakat, dimana pada saat-saat menunggu buka puasa, anak-anak dan remaja khususnya, dapat mengisinya dengan bermain congklak, ular tangga, monopoli, karambol, dll. Sesekali mereka dikondisikan untuk membaca buku-buku tentang permainan Nusantara tempo dulu dan mempraktekannya. Menjelang buka puasa mereka mengakhiri permainan, mengembalikan peralatan ke tempat penyimpanan dan lalu pulang ke rumah masing-masing. Momentum yang tepat lainnya adalah pada saat liburan sekolah.

      Di perpustakaan LP3AP permainan bisa dikemas menjadi sesuatu yang lebih berarti. Setiap permainan selesai ada seorang dari komunitas perpustakaan yang memimpin diskusi kecil yang memberikan kesempatan anak-anak untuk mengungkapkan kesannya terhadap permainan tadi. Pola aktifitas iinilah yang akan menjadikan orang-orang yang aktif di perpustakaan (Rumah Belajar) memiliki benih-benih kemandirian dalam bertindak.

      1. Perpustakaan Sebagai Pusat Kegiatan Masyarakat.

      Apabila Perpustakaan LP3AP menyesuaikan diri dengan memperhatikan siklus hidup harian masyarakat, sesungguhnya perpustakaan tak akan sepi. Kebutuhan komunitas yang berbeda yang diselenggarakan pada pembagian waktu dalam sehari ini harus jeli dikelola.

      Pagi hari semua sibuk, inilah saat Rumah Belajar untuk berbenah. Usai masak, para ibu mempunyai waktu, inilah waktu yang baik untuk membuka kegiatan di perpustakaan bagi komunitas kaum ibu. Demikian juga halnya dengan balita. Biasanya balita tak dapat dipisahkan dengan para ibu.

      Siang hari usai dzuhur anak-anak pulang sekolah. Ini waktu yang tepat untuk jasa pelayanan pinjaman buku, bimbingan pembuatan PR. Sore antara ashar dan maghrib anak-anak juga punya waktu luang, ini baik untuk kegiatan kolektif, rekreatif, hobi dan sebagainya. Sore saat anak-anak belajar, perpustakaan juga bisa menyediakan ruangan untuk bimbingan pembuatan PR. Malam sekitar isya anak-anak remaja mendapat giliran dengan berbagai aktifitas.


      Peran

      Perpustakaan LP3AP akan senantiasa memonitor munculnya berbagai kecenderungan yang terjadi dalam masyarakat yang berpengaruh terhadap layanan perpustakaan dan dunia perpustakaan pada umunya. Kami akan senantiasa menginformasikan, mengedukasi, serta manyadarkan masyarakat tentang perkembangan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi.

       

      Kemitraan

      Membangun jejaring (networking) suatu keniscayaan pada zaman sekarang ini. Karena, memang tidak ada sebuah organisasipun yang dapat bertahan hidup sendirian. Kemitraan yang akan kami bangun bersifat simbiosa mutualisme. Nota kesepahaman akan kami bangun antara Perpustakaan LP3AP dengan berbagai institusi informasi yang ada di Tabalong bahakan Pronpinsi Kalimantan Selatan seperti dengan perpustkaan umum, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah, perpustakaan khusus (perusahaan), dan taman bacaan masyarakat. Langkah awal untuk mewujudkan program kemitraan ini adalah dengan membuat “Buku Katalog Bersama

      Tidak akan ada perpustakaan yang dapat memenuhi kebutuhan informasi penggunanya, di mana dan kapapun. Dengan demikian, membangun sinergi antar pusat informasi merupakan keniscayaan. Mengacu kepada koleksi yang dimilikinya, Perpustkaan LP3AP dapat dijadikan Pusat Informasi atau Pusat Referensi bersama untuk masyarakat yang ada di daerah Kabupaten Tabalong dan sekitarnya..

       

       

      Comments
      sugi  - materi     |2009-08-02 20:56:36
      materi download sudah lumayan, tetapi akses bandwidhnya digedein dong.
      terima
      kasih buat diknas.
      edi   |2009-12-12 21:59:37
      artikelnya bermanfaat bagi saya
      endhita   |2011-04-15 15:05:31
      mkch bgt pokoknya, tp prlu diprbnyak....okey
      Mukhlis, S.Th.I  - mantab   |2011-09-10 20:01:22
      terima kasih artikelnya...isinya telah membuat saya terinspirasi dalam
      mengembangkan perpustakaan di sekolah saya..
      SYAIFUL  - salam kenal   |2012-04-08 07:28:16
      salam kenal untuk semua...
      saya anggota baru..saya lagi kuliah jurusan
      perpustakaan..ada banyak hal yang bisa saya dapat di sini khususnya dalam bidang
      perpustakaan untuk memperdalam lagi materi tentang perpustakaan yang sedang saya
      pelajari...untuk selanjutnya saya mohon bantuan dari semua..
      amel bogor   |2012-07-12 19:54:45
      terima kasih, artikelnya bermanfaat untuk kami mengembangkan pola rumah belajar
      dengan perpustakaan sebagai motor pengeraknya...
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Tuesday, 02 June 2009 13:22  

      Items details

      • Hits: 18708 clicks
      • Average hits: 149.7 clicks / month
      • Number of words: 2753
      • Number of characters: 21559
      • Created 11 years and 5 months ago at Tuesday, 02 June 2009 by Administrator
      • Modified 11 years and 5 months ago at Tuesday, 02 June 2009 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,798
      • Sedang Online 79
      • Anggota Terakhir ulmama vila nurruva

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9125026
      DSCF8794.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC