.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      MEDIA INDONESIA, SENIN, 11 JANUARI 2010

       

      Pendidikan sebagai Medium Enkulturasi

      Oleh Amich Alhumami

      Peneliti Sosial, Department of Anthropology University of Sussex, United Kingdom

      MASYARAKAT adalah suatu kumpulan individu yang memiliki karakteristik khas dengan aneka ragam etnik, ras, budaya, dan agama. Setiap kelompok masyarakat mempunyai pola hidup berlainan, bahkan orientasi dalam menjalani kehidupan pun tidak sama. Sebagai suatu unit sosial, setiap kelompok masyarakat saling berinteraksi yang memungkinkan terjadinya pertukaran budaya. Dalam proses interaksi itu, setiap kelompok masyarakat saling mempelajari, menyerap, dan mengadopsi budaya kelompok masyarakat lain yang kemudian melahirkan sintesis budaya baru. Dalam kajian antropologi, ada tiga istilah untuk menjelaskan peristiwa interaksi sosial budaya, yakni sosialisasi, akulturasi, dan enkulturasi. Ketiganya saling terkait, namun masih tetap bisa dibe-dakan antara satu dan yang lain.

      Para ahli antropologi mengemukakan, sosial­isasi adalah suatu proses sosial melalui mana manusia sebagai suatu organisme yang hidup dengan manusia lain membangun suatu jalinan sosial dan berinteraksi satu sama lain, untuk belajar memainkan peran dan menjalankan fungsi, serta mengembangkan relasi sosial di dalam masyarakat. Rumusan singkatnya adalah, "Socialization implicates those interactive processes through which one learns to be an actor, to engage in interaction, to occupy statues, to act roles, and to forge social relationships in community life" (Peter-Poole 2002). Akulturasi adalah suatu proses perubahan budaya yang lahir melalui relasi sosial antar kelompok masyarakat, yang ditandai oleh penyerapan dan pengadopsian suatu kebudayaan baru, yang berkonsekuensi hilangnya kekhasan kebudayaan lama. Penjelasan umumnya adalah, "Cultural change brought by contact between people with different cultures indicated by the loss of tradi­tional culture when members of small-scale cultures adopt elements of global-scale cultures " Qohn Bodley 1994). Enkulturasi adalah suatu proses sosial melalui mana manusia sebagai makhluk yang bernalar, punya daya refleksi dan inteligensia, belajar memahami dan mengadaptasi pola pikir, pengetahuan, dan kebudayaan sekelompok manusia lain. Definisi sederhananya adalah, "' Enculturation refers to the process of learning a culture consisting in socially distributed and shared knowledge manifested in those perceptions, under­standings, feelings, intentions, and orientations that inform and shape the imagination and pragmatics of social life" (Peter-Poole, 2002).

       

      Proses sosialisasi, akulturasi, dan enkulturasi selalu berlangsung secara dinamis. Wahana terbaik dan paling efektif untuk mengernbangkan ketiga proses sosial budaya tersebut adalah pendidikan, yang terlembaga melalui sistem persekolahan. Sekolah merupakan wahana strategis yang memungkinkan setiap anak didik dengan latar belakang sosial budaya yang beragam, untuk saling berinteraksi di antara sesama, saling menyerap nilai-nilai budaya yang berlainan, dan beradaptasi sosial. Dapat dikatakan, sistem persekolahan adalah salah satu pilar penting yang menjadi tiang penyangga sistem sosial yang lebih besar dalam suatu tatanan ke­hidupan masyara­kat, untuk mewujudkan cita-cita kolektif. Maka, pen­didikan yang diselenggarakan melalui meskipun tidak hanya terbatas pada sistem per­sekolahan semestinya dimaknai seba­gai sebuah strategi kebudayaan (lihat artikel Media Indone­sia, 9111/2009). Da­lam hal ini, pendidikan merupakan medium transfermasi nilai-nilai budaya, penguatan ikatan-ikatan sosial antar warga masyarakat, dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk mengukuhkan peradaban umat manusia. Pa­ling kurang ada tiga argumen  pokok            
      yang dapat dikemukakan.

      Pertama, melalui pendidikan, kemampuan kognitif dan daya intelektual individu dapat ditumbuhkembangkan dengan baik. Kemampuan kognitif dan daya intelektual ini sangat penting bagi individu untuk mengenali dan memahami konsep kebudayaan suatu masyarakat yang demikian beragam, unik, dan bersifat partikular. Pengenalan dan pemaharaan itu diharapkan dapat menumbuhkan apresiasi terhadap perbedaan budaya yang ada dalam masyarakat. Instrumen yang relevan untuk menumbuhkan apresiasi atas keanekaragaman budaya, antara lain melalui mata pelajaran ke-susastraan dan kesenian. Sebab, keduanya merefleksikan dinamika kebudayaan dan mengambarkan kekayaan khazanah budaya dan aneka jenis kesenian di Nusantara. Di sekolah semua siswa dapat mempelajari kesusastraan Melayu, kesusastraan Jawa, atau kesusastraan Bugis-Makassar. Mereka juga dapat mempelajari kesenian Aceh, kesenian Minangkabau, atau kesenian Sunda. Dengan mempelajari kesusas­traan dan kesenian lintas etnik dan multikultur itu diharapkan dapat tumbuh kesadaran kolektif sebagai sesama anak bangsa, meskipun mereka mempunyai latar belakang etnik, budaya, dan agama yang berbeda, sehingga pada akhirnya akan memperkuat kohesi so­sial dan integrasi nasional.

      Kedua, melalui sistem persekolahan setiap anak dikenalkan sejak dini mengenai pentingnya membangun tatanan hidup bermasyarakat, yang di dalamnya terdapat berbagai macam entitas sosial. Sekolah adalah miniatur masyarakat, karena di dalamnya ada struktur, status, fungsi, peran, norma dan nilai. Sekolah menjadi sarana bagi setiap anak didik untuk belajar memainkan peran dan menjalankan fungsi menurut posisi dan status di dalam struktur sekolah itu.

      Dalam menjalankan peran dan fungsi, setiap anak didik juga diajarkan mengenai makna tanggung jawab sosial. Dalam konteks ini, mata pelajaran yang relevan antara lain pendidikan kewargaan (civic education), karena setiap anak didik dibekali pengetahuan dan pemahaman bagaimana menjadi warga negara yang baik. Dalam filsafat pendidikan klasik dikemukakan, the ultimate goal of education is how to fa­cilitate students to be a good citizen. Di dalam sistem persekolahan, pendidikan merupakan aspek yang sangat penting untuk bersosialisasi dan sekaligus menjadi sarana proses transmisi norma-norma dan nilai-nilai budaya di dalam masyarakat. Schaefer & Lamm (1992) menegaskan mengenai fungsi transmisi kebudayaan sebuah sistem persekolahan, "As a social institu­tion, education perfofms a rather conservative function trasmitting the dominant culture; through schooling, each generation of young people is exposed to the existing beliefs, norms, and values of the culture." Pendidikan juga dapat menumbuhkan inovasi kebudayaan, karena sekolah dapat menstimulasi intellectual inquiry dan menumbuhkan critical thinking yang menjadi basis bagi pengembangan gagasan-gagasan baru. Dalam suasana persekolahan yang de­mikian, kebudayaan suatu masyarakat dapat berkembang dinamis.

      Ketiga, pendidikan merupakan wahana pa­ling efektif untuk memperkuat integrasi sosial politik. Para penganut paham struktural-fungsionalis meyakini bahwa melalui proses sosialisasi dan enkulturasi, pendidikan memberi kontribusi besar terhadap upaya merawat stabilitas sosial dan konsensus politik. Di dalam sistem persekolahan, pendidikan dapat merangsang tumbuhnya kesadaran sosial di kalangan anak-anak didik, bahwa mereka adalah bagian integral sebagai warga bangsa dengan latar belakang sosial budaya yang berlainan. Touraine (1974) menulis, "Education serves the latent function of promoting social and political integration by transforming people composed of diverse racial, ethnic, and religious groups into a society whose members share a common identity." Sarana paling efektif untuk memperkuat integrasi sosial poli­tik adalah melalui mata pelajaran bahasa Indonesia.

      Penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional merupakan warisan paling berharga dari para tokoh pergerakan nasional, seperti Boedi Oetomo pada zaman sebelum kemerdekaan. Karena kesadaran menjaga integrasi sosial politik itulah, maka pada Kongres Pemuda para pelopor gerakan nasional yang kebanyakan berasal dari suku Jawa, justru lebih memilih bahasa Indonesia, dan bukan bahasa Jawa, sebagai bahasa nasional.

      Argumen-argumen yang dikemukakan di atas sesungguhnya sejalan dengan pandangan dan pemikiran para filosof sosial klasik, seperti Ernile Durkheim, Jean-Jacques Rousseau, Johann Pesta-lozzi, atau John Dewey. Para pemikir klasik iru bahkan menulis khusus mengenai tema-tema penting di bidang pendidikan, yang kemudian menjadi rujukan standar bagi para pemikir ge-nerasi selanjutnya. Tema-tema penting itu, antara lain, mengenai pendidikan moral, pendidikan dan tanggung jawab sosial, pendidikan dan demokrasi, pendidikan dan pembangunan masyarakat berpengetahuan, serta banyak lagi yang lain. Para pemikir klasik itu pada dasarnya meyakini bahwa pendidikan merupakan bentuk strategi kebudayaan yang paling efektif untuk membangun tatanan sosial dan mewujudkan masyarakat yang baik serta membangun peradaban umat manusia selaras dengan cita-cita kemanusiaan paling asasi.


       

       

      Comments
      SIMEON HATTA  - mahasiswa     |2012-06-15 03:09:42
      saya sangat membutuhkan informasinya??
      wiwin winarsih 63   |2012-06-27 20:45:00
      Materinya bagus banget, mohon ijin copas, trim's
      abdul  - enkulturasi     |2013-05-04 20:49:11
      bagus, izin copy
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:27  

      Items details

      • Hits: 9745 clicks
      • Average hits: 120.3 clicks / month
      • Number of words: 3879
      • Number of characters: 32226
      • Created 6 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 149
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091399
      DSCF8790.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC