.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      800x600 Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4

      MEDIA INDONESIA, 22 JUNI 2009

      CALAKEDU

      Pendidikan Damai

      SEORANG peserta asal Nigeria bertanya kepada publik seminar forum tentang pendidikan damai di Aceh yang diselenggarakan Hiroshima University, 12 Juni lalu. "Has and how peacebuilding process through education contributed to the peace dividend in Aceh?" Sebuah pertanyaan yang menantang sekaligus agak sulit dijawab dalam konteks perdamaian di Aceh secara keseluruhan. Tetapi Edu memberi keyakinan kepada penanya tersebut dengan memberinya gambaran tentang visi dan misi sekolah, termasuk praktik budaya sekolah (school culture) yang sudah berjalan sejauh ini.

      Dengan mengedepankan pembentukan lingkungan pendidikan yang positif, Sekolah Sukma Bangsa sesungguhnya sedang berusaha mencari model pendekatan yang possible sekaligus prob­able untuk mendidik anak-anak korban konflik sekaligus korban tsunami. Dan secara integratif Edu memercayai pendekatan Willam De Jong dari Harvard School of Public Health, yang mengatakan bahwa the best school-based violence prevention programs seek to do more than reach the individual child. They instead try to change the total school environment, to create a safe community that lives by a credo of non-violence.

      Dengan praktik tak ada kekerasan di sekolah, baik guru maupun siswa harus berusaha menghindarkan diri dari kebiasaan buruk berlaku kasar pada saat mengajar maupun di lingkungan sekolah lainnya. Kredo tentang asas nir-kekerasan ini merupakan disiplin serius yang ingin ditegakkan oleh Sekolah Sukma Bangsa mengingat masa lalu dan kondisi psikologis anak-anak di Aceh yang mengalami trauma konflik dan tsunami. Dari sekolah inilah kemudian manajemen sekolah menebarkan kredo non-violence ke masyarakat Aceh secara luas, dari mulut ke mulut terutama melalui penuturan berbasis pengalaman anak-anak di sekolah.

       

      Ada pelajaran berharga lain yang Edu dapati ketika mengunjungi Hiroshima Memorial Park beberapa waktu lalu, berkaitan dengan pendi­dikan damai. Di dalam museum, ada beberapa episode menarik yang dituturkan melalui foto, gambar, dan kesaksian para korban bom Hiroshima. Pertama soal kemandirian, saat 3 jam setelah bom meledak, polisi dan para guru, dengan luka-luka yang masih belum mengering, telah bekerja bahu-membahu mendata jumlah

      korban terutama anak-anak. Tiga hari sesudahnya mereka telah membuka sekolah tenda bagi anak-anak korban bom atom.

      Kedua, hanya dalam waktu tiga hari, sarana transportasi dan penerangan sudah mulai pulih dan akses masyarakat untuk berhubungan satu sama lain dengan sanak famili di luar Hiroshima menjadi terbuka. Ini lagi-lagi menandakan bahwa mentalitas masyarakat Hiro­shima sebagai korban (victim of bombing) tak mereka pelihara, bahkan menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah orang yang kuat dan bangga dengan ikatan budaya yang .mere­ka miliki, yaitu kepedulian dan saling tolong. Saat itu hampir tak ada satu negara pun yang ingin membantu Hiroshima karena negara lain menganggap Jepang sebagai penjahat perang yang tak layak dibantu. Ini yang membedakannya dengan Aceh pasca tsunami, ketika puluhan, negara secara spontan datang memberikan simpati dan bantuan. Karena bantuan tak ada yang datang, bahkan badan dunia seperti PBB pun enggan untuk membantu, sebulan kemu­dian otoritas pemerintahan di Hiroshima mengajukan sebuah proposal baru ke PBB, yaitu ingin mengubah image tentang Hiroshima dari sebelumnya sebagai kota militer tempat persiapan seluruh kekuatan armada laut Jepang menjadi kota damai (peace city) yang akan mengingatkan negara mana pun di dunia tentang akibat perang.

      Switching mentality inilah yang kemudian diamini oleh seluruh rakyat Jepang sehingga Hiroshima saat ini dikenal sebagai kota yang menjadi pusat perayaan perdamaian dunia. Tak kurang dari 2,4 juta wisatawan asing datang mengunjunginya setiap tahun. Sekolah Sukma Bangsa ingin menjadi pionir dalam melakukan switching mentality masyarakat Aceh dari korban menjadi pemenang, tentu melalui proses pen­didikan damai yang berkesinambungan.

      Di dalam Memorial Park ada bel perdamaian sebagai simbol bahwa perdamaian merupakan kata sakti yang harus terus menggema di hati setiap manusia. We dedicate this bell, as a symbol of Hiroshima aspiration: Let all nuclear arms and wars, and the nation lives in true peace. May it ring to all corners of the earth, to meet the ear of every • man, for in it throb and palpitate, the hearts of its peace - loving donors. So may you, too, friends, step forward, and toll this bell for peace!

      Ahmad Baedowi

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:23  

      Items details

      • Hits: 810 clicks
      • Average hits: 10.1 clicks / month
      • Number of words: 877
      • Number of characters: 6737
      • Created 6 years and 8 months ago at Saturday, 03 March 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 146
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091311
      bacalah.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC