.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

       

      PIKIRAN RAKYAT, 27 JULI 2009

       

      Pendidikan Antiteroris

      Oleh TOTO SUHARYA

      TERLEPAS dari sudut mana kita memandang, terorisme adalah gejala sosial, politik, dan agama yang terjadi di masyarakat global sekarang. Penulis setuju dengan pendapat Muhammadun A.S., dalam artikelnya "Meluraskan Tafsir Terorisme" bahwa teroris­me sangat berbau politis dan pragmatis demi kepentingan sepihak ("PR", 22/7). Sayang, penjelasannya terlalu filosofis sehingga sulit dicerna masyarakat awam.

      Dari sudut agama, Muham­madun menyalahkan metode pemahaman ajaran agama yang dimiliki umat Islam saat ini. Kesalahan itu dimulai dari doktrin-doktrin agama yang dipahami secara literalistik dan reduksionis. Metode ini telah membentuk karakter Muslim yang arogan , dalam memahami teks.

      Pendapat ini bisa kita pahami, jika kita baca karangan Rois Abu Syaukat (2009), pelaku penyerangan Reduces Australia Kuningan Jakarta tahun 2004, berjudul Apa Itu Jihad? Dalam buku itu, dia memahami makna ji­had secara leterlek. Dengan mengutip ayat Alquran, jihad menjadi wajib dilakukan dengan jiwa dan raga untuk membela agama Islam dari ancaman orang-orang yang mereka anggap kafir. Jadi, menurut pandangan mereka, apa yang dilakukan seperti bom bunuh diri, adalah perbuatan mulia karena sudah dilandasi dan dibenarkan ayat-ayat Alqu­ran. Metode pemahaman semacam inilah yang disebutkan oleh Muhammadun sebagai pembentuk karakter Muslim yang aro­gan.

       

      Fakta lain bisa kita saksikan, tatkala eksekusi mati mengancam Amrozi c.s., mereka tidak terlihat murung, menyesal, dan cemas sekalipun. Padahal menurut kita, mereka telah melakukan suatu pelanggaran kemanusiaan berat. Pernyataan-pernyataan Amrozi c.s. yang sering kita dengar di media masa, nadanya se­lalu yakin bahwa apa yang mere­ka lakukan adalah sebagai bentuk perjuangan membela agama. Rupanya, motivasi agama te­lah melandasi perbuatan mereka sehingga mereka tidak merasa bersalah di hadapan manusia lainnya. Untuk itulah, Muham­madun menyarankan agar masyarakat melakukan transforma-si sosial melalui perubahan nalar dan wacana berpikir ke arah yang lebih progresif di mana doktrin-doktrin agama dipahami sebagai cahaya yang membebas-kan bukan mencekam.

      Berangkat dari realitas di atas, sebagai umat beragama. kita harus berpikir ulang, apakan Tuhan memerintahkan kita untuk membela agama dengan melanggar hak-hak hidup orang lain? Betapa sangat disayangkan, jika tindakan-tindakan yang di­landasi kekuatan (motivasi) spi­ritual tinggi, ternyata tidak bisa diterima sepenuhnya oleh ma­syarakat nasional maupun internasional yang semuanya menginginkan hidup damai di muka bumi ini.

      Menurut Weber, motivasi spi­ritual dapat menjadi dorongan dalam segala aspek kehidupan. Misalnya, atas nama agama sejumlah orang Protestan giat me­lakukan penelitian ilmiah. Kegiatan ini mereka lakukan dengan sungguh-sungguh karena dianggap sebagai alat untuk menemukan kebijaksanaan dan kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas. Di Amerika Serikat, rangsangan awal adanya pendidikan umum yang universal merupakan keinginan golongan penganut aga­ma Protestan yang menginginkan anak-anak mereka mampu membaca kitab suci. Demikian juga bagi orang-orang Protestan, kegiatan ekonomi sehari-hari diartikan sebagai sesuatu yang mempunyai arti religius (John­son, 1986). Kesimpulannya, ke­giatan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang dilakukan orang AS, sebenarnya berawal dari dorongan-dorongan spiritual ajaran agama Protes­tan.

      Para ahli psikologi agama berpendapat, agama dapat berfungsi sebagai motif intrinsik (dalam diri) dan motif ekstrinsik (luar diri). Motif yang didorong keyakinan agama dinilai memilih keliatan yang mengagumkan dan sulit barengi keyaikinan nonagama, baik doktrin maupun ideologi yang bersifat profan (Jalalludin, 2002).

      Mohon maaf, bukannya penulis memuji keberanian atau membenarkan perbuatan yang dilakukan pelaku bom bunuh di­ri, tetapi secara realitas, kekuat­an agama bisa mendorong seseorang untuk melakukan apa pun, sekalipun nyawa taruhannya. Inilah mungkin alasan mengapa para pelaku bom bu­nuh diri selalu merasakan kemenangan dalam dirinya.

      Kedudukan agama layaknya seperti senjata, setiap orang bisa menggunakannya. Penggunaan senjata itu bergantung kepada orang yang memahaminya. Berdasarkan hasil identifikasi T.H.H. Muhammad (1983), dalam Alquran, ada 80 ayat mengandung kata ilmu, 63 ayat mengandung ajalcan berpikir, 45 mengajak untuk melakukan penalaran (mengamati, memikirkan, menyelidiki dengan saksama), 24, ayat memberikan lampu merah terhadap kebodohan. Berdasarkan data diatas, agama Islam sangat menganjurkan umatnya menjadi manusia cerdas dan berilmu agar bisa meningkatkan keimananya.

      Oleh karena itu, perlu ada pro­ses pendidikan yang mengajarkan agama, dengan mengedepankan kemampuan nalar, emosional, dan spiritual secara seimbang. Sebut saja pendidikan antiteroris. Pendidikan semacam ini bisa didapatkan dengan menggabungkan antara agama dan ilmu pengetahuan. Sekulerisme adalah metode usang yang harus kita tinggalkan karena sekulerisme hanya menciptakan konflik aliran antar agama serta mengerdilkan masyarakat dalam memahami ajaran agama. Untuk itu, bagaimana kalau kita tiru motivasi-motivasi spiri­tual berjihad (berkorban dengan jiwa raga) memberantas kebodohan dan mengembangkan il­mu pengetahuan, melalui membaca, berpikir, serta terus mengamati dan meneliti berbagai fenomena alam sebagaimana Al-quran memerintahkannya. Dapat dibayangkan jika umat Islam memiliki motivasi ini, mungkin kita akan melihat orang-orang Islam, dengan giat siang dan malam bejihad mengembangkan ilmu pengetahuan walaupun nyawa taruhannya. Mungkin dalam tempo yang singkat, umat Islam (bangsa Indonesia) akan mengalami kebangkitan dengan cepat mengalahkan negara-negara maju sekalipun. Wallahu 'alam.

      Penulis, staf pengajar Sosiologi dan Politik Universitas Widyatama Bandung dan penasihat Pesantren Nurul Huda, Cibinong, Cianjur Selatan.

       

       

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Thursday, 30 May 2013 17:29  

      Items details

      • Hits: 733 clicks
      • Average hits: 9 clicks / month
      • Number of words: 3757
      • Number of characters: 31793
      • Created 6 years and 9 months ago at Monday, 27 February 2012 by Administrator
      • Modified 5 years and 6 months ago at Thursday, 30 May 2013 by Suherman

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,788
      • Sedang Online 133
      • Anggota Terakhir Robertrab

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9091398
      Dialog_Peradaban.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2018
      S M T W T F S
      28 29 30 31 1 2 3
      4 5 6 7 8 9 10
      11 12 13 14 15 16 17
      18 19 20 21 22 23 24
      25 26 27 28 29 30 1

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC