.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Pendidik
E-mail

 

Pikiran Rakyat, 25 November 2009

Meningkatkan Wibawa Guru

Oleh OONG KOMAR

TANGGAL 25 Novem­ber diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Semestinya guru bersukacita karena selain selling peringatan Hari Guru Nasional, pemerintah membuat program untuk meningkatkan perhatian terhadap guru, seperti alokasi anggaran pendidikan 20% dari APBN/APBD serta program sertifikasi guru untuk mening­katkan kesejahteraannya.

Antusiasme guru melaksanakan sertifikasi harus jadi pertanda serius akan menjadi gu­ru profesional guna memantapkan kinerjanya. Bahkan dengan meningkatkan kesejahteraan guru diharapkan akan mening­katkan kualitas mengajar, yang pada gilirannya kinerja pendi­dikan nasional akan semakin mantap.

Namun mengamati kondisi nyata, kiranya kita harus berkata jujur danbelum dapat mengelak, yaitu masih dijumpai guru yang kurang kompeten, kurang bertanggung jawab, kurang wawasan, dan kurang komitmen terhadap dunia pendidikan. Kekurangan tersebut berimbas pada lemahnya wibawa guru. Jidak dapat diandalkan dalam mendidik siswanya. Bahkan usaha mendidik siswa cenderung menggunakan kekuasaan dan/atau kamuflase.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 07:52 Read more...
 
E-mail

 

MEDIA INDONESIA, 05  MEI   2009

Mengapresiasi Guru bagi Pendidikan

Oleh KiSupriyoko

Pamong Taman Siswa, Pembina Sekolah Unggulan Insan Cendekia Yogyakarta, mantan Sekretaris Komisi Nasional (Komnas) Pendidikan Indonesia

SIAPA pun tentu sependapat bahwa guru sangat menentukan kemajuan suatu bangsa. Logikanya, kemajuan bangsa sangat ditentukan mutu pendidikan dan mutu pendidikan sangat ditentukan guru. Sarana dan prasarana pendidikan itu penting, fasilitas belajar juga penting, kurikulum pendi­dikan pun sangat penting, begitu juga dengan pengelolaan pendidikan dan sistem penilaian yang tak bisa dikesampingkan. Namun, itu semua tidak ada artinya kalau tidak ada guru yang baik.

Di Indonesia, kesadaran akan pentingnya guru dalam penentuan mutu pendidikan sesungguhnya sudah terjadi sejak lama, tapi aksi nyata atas kesadaran tersebut belumlah lama. Dengan diberlakukannya Undang-Undang No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, atau yang lazim disebut UU Guru, merupakan salah satu bentuk aksi nyata atas kesadaran terse­but.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 07:47 Read more...
 
E-mail

 

MEDIA INDONESIA, SENIN, 25 MEI 2009

Lemahnya Tradisi Penelitian Guru

Oleh Aan Hasanah

Peneliti Insep, Mahasiswa Pascasarjana UIN Bandung

TRADISI penelitian di kalangan guru amat memprihatinkan, bukan hanya disebabkan kurangnya fasilitas pendukung, tetapi juga lemahnya pemahaman dan daya dorong intrinsik yang bisa menggerakkan guru untuk melakukan pene­litian sebagai bagian penting dari professional development. Lemahnya tradisi penelitian ini berimplikasi pada rendahnya produktivitas penelitian. Menurut Suroso (2009) Indonesia termasuk negara yang produktivitas ilmiahnya paling rendah dibanding negara-negara tetangga lainnya. Rendahnya produktivitas ilmiah terlihat dari kecilnya publikasi ilmiah dalam skala internasional. Indonesia hanya menyumbang 0,012 % dari total publikasi ilmiah. Kalah oleh Thailand (0,086%), Malaysia (0,064), Singapura (0,179%), dan Filipina (0,035%). Penyumbang terbesar publikasi ilmiah masih dipegang oleh Amerika Serikat (30,8%).

Last Updated on Monday, 27 February 2012 07:22 Read more...
 
E-mail

KOMPAS, 25  NOVEMBER  2009

Ilmuan yang Guru, Masihkah Diperjuangkan?

AGUS SUWIGNYO Pedagog FIB UGM

Sekitar 20 tahun lalu, cita-cita melahirkan ilmuwan guru dicetuskan melalui sebuah kebijakan dramatis, yakni menghapus Sekolah Pendidikan Guru.Sekolah kejuruan menengah untuk calon guru sekolah dasar ini dinilai tidak dapat lagi menjawab kebutuhan akan guru profesional. Guru SD disyaratkan berpendidikan setidaknya diplo­ma dua, lebih disukai sarjana. Namun, persyaratan itu tidak berlaku lama. Sekitar tahun 1993, cita-cita melahirkan ilmuwan berjiwa guru diperkuat oleh kebijakan pemerintah mentransformasi Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi universitas. Sejak itu, guru diharapkan tidak hanya berpendidik­an sarjana. Guru harus lahir dari proses pendidikan keilmuan di universitas yang dipungkasi penguasaan ilmu keguruan. Transformasi IKIP ke universitas mempertegas syarat bahwa guru pertama-tama adalah ilmuwan.

Kini, 20 tahun setelah cita-cita itu dicanangkan, kita belum menyaksikan hadirnya sosok ilmu­wan yang guru. Memang ada sejumlah kemajuan kebijakan pe­merintah untuk memprofesionalkan kompetensi guru sesuai amanah Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen (UU GD). Namun, belum tampak karakteristik keunggulan profesional guru yang diinginkan itu.

Last Updated on Monday, 27 February 2012 06:36 Read more...
 


Page 2 of 8

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 105
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124510
DSCF8754.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC