.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

Pendidik
E-mail

 

MEDIA INDONESIA, 11 AGUSTUS 2008

 

Membangun Universitas Riset

Oleh Amich Alhumami

Peneliti Sosial dan Pemerhati Pendidikan Kandidat Doktor pada Department of Social Anthropology, University of Sussex, United Kingdom

Para pemerhati pendidikan kini semakin menyadari bahwa perguruan tinggi (PT) di Indonesia perlu memperluas peran konvensionalnya yakni bukan sekadar sebagai lembaga pencetak tenaga ahli dan kaum terpelajar semata. PT perlu dikembangkan menjadi institusi produsen ilmu pengetahuan, pelopor inovasi teknologi, pemecah masalah atas kompleksitas persoalan sosial-kemasyarakatan, penyedia layanan publik, dan pusat pengkajian bagi kemajuan dan keunggulan bangsa. Untuk itu, membangun universitas riset bukan saja merupakan kebutuhan mendesak, melainkan juga sangat penting guna menjaga daya tahan dan keberlanjutan PT bersangkutan.

Urgensi membangun universitas riset harus diletakkan dalam konteks, paling kurang, tiga tantangan utama. Pertama, perkembangan ilmu pengetahuan dan tekno­logi (iptek) yang berlangsung sangat cepat dan dinamis. Bahkan lembaga-lembaga riset di luar PT, terutama divisi R&D yang dikelola dunia industri, acap kali menjadi pelopor bagi penemuan-penemuan baru dan inovasi teknologi mutakhir, yang menggerakkan revolusi teknologi secara spektakuler. Kedua, iptek kian menunjukkan kedigdayaannya sebagai instrumen utama penggerak pembangunan ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy). Perkernbangan ekonomi suatu negara kini tidak lagi hanya bertumpu pada pertanian dan industri manufaktur semata. Banyak negara mengalami kemajuan pesat dengan memperkuat ekonomi berbasis iptek seperti Jepang, Korsel, China, Hong Kong, dan Malaysia. Ketiga, globalisasi sudah menja­di fenomena mondial yang membawa pengaruh dahsyat pada pendidikan tinggi. Dampak paling nyata adalah interaksi an­tara FT asing dan FT domestik yang ber­langsung makin intensif. Hal itu terwujud dalam berbagai bentuk kerja sama kelembagaan seperti professorial fellowships, pertukaran dosen, penelitian, atau penyelenggaraan kegiatan ilmiah (simposium, konferensi). Bahkan beberapa universitas asing sudah mulai merintis jalan untuk beroperasi di Indonesia dalam skema kemitraan dengan universitas di dalam negeri.

Last Updated on Thursday, 23 February 2012 08:14 Read more...
 
E-mail

MEDIA INDONESIA, 14 AGUSTUS 2008

 

Membangun Kolaborasi Lembaga Litbang dan Industri

Oleh Santosa Yudo

Kementerian Negara Riset dan Teknologi

Perkembangan media informasi yang begitu cepat seperti media cetak, televisi, radio memungkinkan kita untuk mendapatkan berbagai macam informasi ekonomi dan politik dalam waktu yang relatif singkat dan bahkan sering kali kita bisa mendapatkan infor­masi secara real time peristiwa-peristiwa penting di berbagai daerah dan belahan dunia, Lalu mengapa kita jarang mendengar berita tentang kolaborasi antara lembaga litbang dan industri untuk menghasilkan inovasi yang membanggakan?

Kalau kita tengok database yang ada di berbagai lembaga litbang, banyak sekali informasi hasil-hasil penelitian yang masih tersimpan di berbagai lem­baga litbang atau perguruan tinggi. Dalam Direktori Teknologi BPPT pada 2007, tercatat tidak kurang 200 informa­si hasil riset, dalam Directory Agrotech IPB edisi 2007, tidak kurang terdapat 60 informasi hasil riset berbasis paten siap penetrasi pasar. Prestasi mereka dalam mengembangkan penelitian di berbagai bidang tersebut seharusnya mampu memberikan nilai tambah bagi setiap rantai produksi dalam menghasilkan produk-produk yang inovatif.

Last Updated on Thursday, 23 February 2012 08:13 Read more...
 
E-mail

SEPUTAR INDONESIA, 5 SEPTEMBER 2008

 

Kualitas Dosen

Setara Guru SD

JAKARTA (SINDO) - Kualitas dosen-dosen di Indonesia dinilai masih jauh di bawah standar. Bahkan, kualitasnya disejajarkan dengan guru SD.

Penilaian itu disampaikan pakar pendidikan dan guru besar Universitas Negeri Ja­karta (UNJ) Prof Dr Hartilaar. Menurut dia, dalam Undang-Undang (UU) 14/2005 tentang Guru danDosen disebutkan bahwa para pendidik jenjang pendidikan dasar dan menengah harus memiliki pendidikan minimal sarjana (S-l). Sementara untuk pendi­dik di jenjang pendidikan akademis S-1 sekurang-kurangnya bergelar magister (S-2). "Begitu pun bagi program pascasarjana, pengajarnya harus bergelar doktor (S-3) dan profesor," ujar Tilaar di Jakarta kemarin.

Namun, yang terjadi di Indonesia justru pengajar di perguruan tinggi hanya me­miliki gelar sarjana saja. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa pemerintah dan pengelola perguruan tinggi telah melanggar UU.

Pendapat ini didukung survei Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) pada Desember 2007 - Februari 2008. Dalam surveinya, APTISI menemukan bahwa 67% dosen hanya lulusan sarjana dengan kompetensi mengajar terbatas. Ketua APTISI Suharyadi mengatakan, kualitas dosen memang jauh di bawah stan­dar. "Pada 2009 nanti, ketika anggaran pendidikan sudah 20%, kita ingin ada perhatian lebih. Pemerintah harus bertanggung jawab dan konsisten dalam menjalankan UU Guru dan Dosen," tandasnya.

Last Updated on Thursday, 23 February 2012 07:53 Read more...
 
E-mail

 

SEPUTAR INDONESIA, 4 SEPTEMBER 2008

 

60.000 Dosen Tak Layak

 

JAKARTA (SINDO) – Depdiknas menyatakan, 60.000 dari 120.000 atau 50,65% dosen tidak memenuhi syarat pendidikan minimal pengajar universitas.Direktur Ketenagaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Depdik­nas Muchlas Samani mengaku, dari 120.000 dosen yang ada saat ini, sekitar 60.000 di antaranya tidak memenuhi kualifikasi pendidikan merigajar. Lebih dari separuh do­sen yang ada hanya memiliki pendidikan setingkat sarjana (S-1). Padahal, standar untuk menjadi pengajar di perguruan tinggi harus memiliki pen­didikan setingkat magister (S-2). "Dari 120.000 dosen tetap di Indonesia, 50,65% atau sekitar 60.000 di antaranya belum berpendidikan S-2," tandas Muchlas di Jakarta kemarin.

Menurut dia, untuk menuju perguruan tinggi kelas dunia, dibutuhkan dosen yang berkualitas tinggi. "Di sinilah pentingnya sekolah pascasarjana meningkatkan mutunya sehingga menjadi berkelas dunia," kata dia. Untuk me­ningkatkan kualitas dosen, Depdiknas mulai tahun ini akan menggelar uji sertifikasi profesi. Seluruh dosen yang berjumlah 120.000 itu akan mu­lai mengikuti uji sertifikasi profesi ini. Uji sertifikasi ini akan dilakukan secara bertahap hingga 10 tahun ke depan. Direktur Jenderal Pendi­dikan Tinggi Depdiknas Fasli Jalal mengatakan, sertifikasi akan dilakukan terhadap 10% dari total jumlah dosen setiap tahun.

Last Updated on Wednesday, 22 February 2012 10:32 Read more...
 


Page 7 of 8

Selamat Datang Sahabat ^_^
Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

Kemiskinan

Literasi Sains & Teknologi

Artikel Pilihan


Artikel Utama

Statistik Anggota

  • Total Anggota 10,797
  • Sedang Online 126
  • Anggota Terakhir Suwardi

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_counterTotal9124671
DSCF8761.jpg

Kalender & Agenda

November 2019
S M T W T F S
27 28 29 30 31 1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29 30

Contoh Proposal

Contoh Proposal

Google+ Facebook Twitter mail SC