.

  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size

    E-mail

      KOMPAS , JUMAT, 22 MEI 2009

      Ironi Sertifikasi Guru

      Oleh MARIA FK NAMANG

      Sebanyak 5.000 guru NTB sudah berharap Hardiknas 2009 yang lalu bakal menjadi momen berkah. Dengan ijazah S-l yang cepat diperoleh (hanya enam bulan), mereka sudah bisa "diperhitungkan" dalam proses sertifikasi.

      Sialnya, uang melayang, gelar pergi, dan penderitaan menghadang (Kompas, 4/5). Ada apa?

      Operator kurikulum

      Pendidikan lanjut untuk guru itu penting. Dengan tambahan ilmu, guru akan lebih efektif melaksanakan tugas. la menjadi subyek kreatif yang menularkan ide-ide pembaru.

      Namun, mengapa hal itu sulit tercapai? Menurut Gimeno J (1989) dalam Investigation en la Escuela, sasaran pendidikan bukan menjadikan guru sebagai subyek yang kreatif, tetapi sekadar operator kurikulum.

      Hashweh MZ (1996) dalam Ef­fects of Science Teachers' Epistemological Beliefs in Teaching, melihat lebih jauh praksis ini. Pemerintah sebagai penanggung jawab berasumsi, kurikulum yang dibuat bersifat tak tergantikan. Guru bisa berkreasi sebatas metodologis-pedagogis.

       

      Pola pelaksanaan ujian nasional (UN) bisa menjadi contoh. Dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), pemerintah mengharuskan tiap sekolah "meramu" kurikulumnya Namun, ia tidak akan melangkah jauh. Gertakan UN menanti. Yang diuji adalah kompetensi yang sudah ditetapkan.

      Kenyataan ini patut disayangkan. Sikap kritis yang seharusnya dimiliki guru dipinggirkan. Padahal, menurut Habermas dalam Conocimiento elnteres (1986), pemikiran kritis adalah roh pendi­dikan. Bila kita tidak memiliki roh itu, gebrakan yang dibuat hanya sebatas gertak sambal, terasa pedas, tetapi tak punya punya sumbangsih vitamin berarti untuk menyehatkan negeri yang sedang galau ini.

      Korban

      Guru di NTB dan puluhan ribu guru di negeri ini tidak bisa disalahkan oleh kepongahannya membiarkan diri ditipu tawaran mendapatkan ijazah sarjana. Bahkan, kehadiran lembaga pen­didikan tenaga kependidikan (LPTK) dianggap berkah. Peme­rintah disanjung karena tidak ha­nya menetapkan syarat sertifika­si, tetapi juga memfasilitasi para guru untuk bisa meraih gelar sarjana.

      Tidak hanya itu. Tawaran pen­didikan tambahan tidak dilihat sebagai proses kapasitasi demi menjadikan guru lebih kreatif. Guru tahu, ia terbelenggu keharusan melaksanakan kewajiban administratif-kurikuler. Karena itu, meski kenyataan di lapangan menunjukkan tindakan di kelas ditemui niutiara pedagogis, ia ha­nya bisa menerapkannya sebagai tambahan. Artinya, yang dicari dalam pendidikan tambahan bukan ilmu, tetapi pemenuhan sya­rat. Cara apa pun yang ditawarkan dilihat sebagai berkah.

      Kondisi seperti ini merupakan ironi. Guru harus memiliki ijazah sarjana, tetapi tidak difasilitasi. LPTK dadakan tidak bisa dipersalahkan. Program "akselerasi" yang ditawarkan adalah sindiran bagi pemerintah yang lebih mengutamakan idealisme pemerataan pendidikan, tetapi gagap membangun dasar yang kokoh.

      Benahi proses

      Ironi pendidikan perlu ditanggapi serius. Pertama, perlu membenahi proses. Sertifikasi guru, misalnya, hanya "ujian akhir" dari proses. la menilai apa yang sudah dibangun. Jelasnya, peme­rintah telah membumikan ide itu ke dalam kebijakan yang tepat sasar hingga menjangkau guru di pelosok Tetapi, yang terjadi lain. Pemerintah memprioritaskan lulusan sarjana dalam proses ser­tifikasi tanpa menyadari hal itu sulit dinikmati guru di pelosok Pendidikan lalu menjadi monopoli warga kota Karena itu, ta­waran LPTK adalah logis di tengah ketidaklogisan kebijakan pendidikan kita.

      Kedua, mengutamakan pemikiran kritis. Pendidikan tidak bisa disederhanakan, sekadar
      memberi sejumlah keterampilan operasionalistik. Jika ritme ini diambil (dan memang demikian), kita akan terus ketinggalan. Geografis kepulauan dan jangkauan komunikasi akan selalu membuat kita "ketinggalan zaman". Karena itu, tidak bisa meniru orang lain dalam penguasaan
      teknologi.

      Pendidikan kita seharusnya mengambil jalan kreatif. Pemikiran kreatif guru dan siswa harus diutamakan, bukan peme­nuhan target kurikuler. Guru di pedalaman yang menghabiskan waktu dalam narasi yang menggugah demi menanamkan nilai kehidupan harus dihargai, bukan yang memanipulasi data demi memenuhi kehendak pemerin­tah. Negeri ini lebih menyukai gelar daripada nalar. Lebih ingin sertifikasi portofolio, bukan mematerikan nilai kehidupan.

      MARIA FK NAMANG

      Lulusan Facolta di Scienze

      dell'Educazione dell'Universita

      Pontificia Salesiana, Roma

      Comments
      Only registered users can write comments!

      3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

      Last Updated on Friday, 02 March 2012 05:47  

      Items details

      • Hits: 301 clicks
      • Average hits: 3.3 clicks / month
      • Number of words: 2869
      • Number of characters: 25746
      • Created 7 years and 8 months ago at Friday, 02 March 2012 by Administrator
      • Modified 7 years and 8 months ago at Friday, 02 March 2012 by Administrator

      Tecox component by www.teglo.info






      Selamat Datang Sahabat ^_^
      Dapatkan Segera Buku PUSTAKAWAN 1/2 GILA

      Kemiskinan

      Literasi Sains & Teknologi

      Artikel Pilihan


      Artikel Utama

      Statistik Anggota

      • Total Anggota 10,797
      • Sedang Online 133
      • Anggota Terakhir Suwardi

      Statistik Pengunjung

      mod_vvisit_counterTotal9124672
      DSCF8798.jpg

      Kalender & Agenda

      November 2019
      S M T W T F S
      27 28 29 30 31 1 2
      3 4 5 6 7 8 9
      10 11 12 13 14 15 16
      17 18 19 20 21 22 23
      24 25 26 27 28 29 30

      Contoh Proposal

      Contoh Proposal

      Google+ Facebook Twitter mail SC